Rafting Sabah – Kadamaian River

Pengen ngisi liburan dengan kegiatan yang seru, banyak ketawa, bisa dilakukan beramai-ramai dan tidak membutuhkan waktu berhari-hari. Rafting jawabannya. Bisa basah-basahan, ketawa-ketawa sampai tegang-tegang sebelum masuk jeram. Gue bakalan cerita pengalaman seru rafting di sungai Kadamaian, Sabah.

Pinneng, me and Abek our leader from Indonesia

Sabah memang cukup serius menggarap wisata alamnya. Sebut saja Gunung Kinabalu yang terkenal dengan keindahannya. Gunung berpuncak marmer yang mengharuskan para pendaki mendaftar 6 bulan sebelumnya untuk menjajal punggungnya yang indah (intip-intip cerita kami mendaki gunung Kinabalu disini ).

Belum lagi nama Sipadan yang seakan sudah menjadi jaminan mutu bagi para penyelam. Hmmm, belum pernah melihat dengan mata kepala sendiri sih, semoga kesempatan itu bakal datang.

Nah, ternyata gunung Kinabalu bisa dinikmati tidak saja dengan cara didaki, tapi dari jarak jauh sembari rafting. Tuh, kurang seru apalagi coba. Asal lokasi raftingnya di sungai Kadamaian yaaa..

Letaknya ga jauh dari Kota belud (kok jadi laper ya denger nama kotanya). Dengan suasana yang asri dan bersih, rafting sungai Kadamaian yang memiliki grade 2-3, cocok untuk liburan keluarga. Jeramnya lebih santai dibanding sungai Padas, bisalah lah melewatinya sambil teriak-teriak seru.

Tips untuk menikmati rafting :

  • Gunakan pakaian yang ringan tidak menyerap air seperti rashvest, celana boardshort (yang biasa dipakai surfing) atau legging berbahan lycra, baik panjang maupun pendek.
  • Topi bisa disimpan dulu karena kita wajib menggunakan helm, nanti malah ribet kalau terhalang topi. Oya, pastikan helm yang dipakai berukuran pas ya, kalau kebesaran bakalan ribet kerena merosot melulu.
  • Pakai alas kaki yang masalah kalau kena basah, seperti booties atau sendal gunung. Jangan pakai sepatu kanvas atau wedges 😀 kalau perlu ga usah pakai sepatu juga oke.
  • meskipun main air dan rasanya pasti dingin, sunblock ga boleh dilupakan yaaaa. Nggak pengen kan kelar rafting muka malahperih-perih.
  • Bawa kamera waterproof, lebih enak sih yang actioncam dipakein housing karena kecil, bisa dipakein stick jadi bisa diselipin ke life jacket kalau lagi perlu dua tangan.
  • Barang-barang kecil yang harus dibawa misalnya handphone atau cemilan, bisa dititip ke skipper yang bertanggung jawab mengendalikan raft.

 

Nah, air sungai Kamadamaian ini lumayan dingin (mungkin itu karena gue aja yang terlalu tropis), tapi seger banget. Pemandangan sepanjang pengarungan juga sangat menyenangkan. Kalau cuaca cerah, kita bisa melihat puncak Kinabalu sembari ber-rafting ria.

Tonton keseruan kita rafting Kadamaian river disini

 

Kalau berminat mampir kesini ceki-ceki operatornya deh

Xtreme Paddlers

1st floor, Kompleks Sukan Tun Adnan, Yayasan Sabah HQ

kota Kinabalu 88450

+60 11-1010 7262

www.travelritetours.com

Diving Rote – Nusa Tenggara Timur

Diving Rote mungkin belum banyak dikenal orang. Nama pulau Rote sendiri  identik dengan destinasi surfing. Ombak pulau Rote sudah sejak 40 tahun lalu menjadi favorit peselancar luar yang datang pertama kalinya sekitar tahun 70 an. Dan semenjak itu popularitasnya terus beranjak naik seiring dengan kekuatan words of mouth.

Karena itu juga yang bikin gue penasaran dengan Rote, dan memutuskan untuk menjajal ombaknya. Cek cerita-cerita awal gue explore Rote disini dan disini deh. Dan karena trip-trip pertama itu juga, episode awal Wet Traveler lahir. Cek videonya dibawah.

Oke, nuff about surfing. I’d like to share story about diving in Rote.

Tidak banyak lokasi surfing yang juga memiliki lokasi diving. Kenapa? Simply karena surfing itu butuh ombak (kalo flat jadinya acara ngambang doang dong), sementara diving lebih nyaman di air tenang. Nah trip diving kami di Rote mengunjungi beberapa site yang unik:

Hiliana

Site ini terletak lebih Ke selatan pulau Rote, hampir mendekati pulau Ndana, pulau terselatan Indonesia yang juga menjadi basecamp marinir penjaga perbatasan. Salah satu site wajib diselami kalau datang ke Rote. Boomies2 gemesin dan kalau beruntung bisa ketemu manta. Cek cerita gue juga tentang spot Hiliana ini disini.

Pic by Pinneng – Wet Traveler
Pic by Pinneng – Wet Traveler

 

Besialu point

Nama Besialu sendiri merupakan nama lokal dari spot surfing t-land yang berada di desa Nemberala. Bisa ketebak dong, kalau namanya sama berarti lokasinya juga disekitaran situ, meaning : lo nyelam dibawah lokasi surfing!

Well, not exactly beneath the impact zone, sonoan dikit sih tapi ga jauh-jauh amat. Itu juga artinya suasana dibawah bakalan terayun-ayun seru dengan surge – gerakan air yang mengalun bolak balik tanpa henti.

Hal ini juga yang membentuk parit-parit berdasar pasir diantara karang-karang yang ditumbuhi soft coral.

Laut Mati

Namanya mungkin terdengar seram. Nggak aneh kalau banyak bermunculan cerita mistis berkaitan danau air payau ini. Dan jangan bayangkan laut mati ala Yordania yang super asin, sehingga ngambang sambil ngupi jadi gampang.

This is not a glowing jellyfish 🤣It get's it lights from the torch i hold. . Well, maybe you already know Indonesia has several lake that become a habitat for stingless jellyfish (kakaban, togean, misool) .. but we found this little fella at : Laut Mati – Rote. . This Laut Mati or Dead Sea, is not like the on in Jordan with high salinity level. This lake is an isolated sea in the middle of the island. . So, we decided to dive here, and apparently, we were the first person who dive there. . Thank to our dive master Mike from @surfdiverote who took us there 🙏🏼🙏🏼 . And thank for the amazing photo bu @dwilaisono 😘😘 (you guys seriously need to check her amazing page too) . #wettraveler #divingrote #stinglessjellyfish #divingindonesia #amazingplaces #scubadiving #explorentt

A post shared by Gemala Hanafiah (@g_hanafiah) on

Kejadian terbentuknya sih sebenarnya nggak jauh-jauh dari Kakaban dan Togean. Serunya kami ketemu stingless jellyfish juga disini. Jadi bertanya-tanya, ada berapa ya sebenarnya danau stingless jellyfish di Indonesia?

Explore Kinabatangan – Sandakan

Nama Kinabatangan yang berada di wilayah Sandakan ini mungkin masih asing untuk sebagian besar kalangan pejalan dibandingkan dengan Kinabalu atau Sipadan untuk wilayah Sabah.

Kinabalu Sudah kami jajal ketika mengunjungi Saah tepat setahun yang lalu, baca deh ceritanya disini.

Tahun lalu selain Kinabalu, kami juga sempet melipir manis ke Kudat, satu wilayah terletak di paling utara Borneo dan pada musim-musim tertentu terdeapat ombak-ombak di sepanjang pantainya. OMBAK! Sekarang kalian ngerti kenapa gw tertarik dengan daerah ini yekaan? videonya bisa ditonton dibawah ini, kali aja penasaran seperti apa surfing di Borneo

Ok balik lagi ke kunjungan kami kali ini. Nama Sipadan menjadi pemikat di awal perjalanan. Nama yang penuh daya tarik di dunia diving, ditambah dengan fakta sejarah yang menyatakan wilayah ini sebelumnya sempat menjadi rebutan antara dua negara, Indonesia dan Malaysia, sejak tahun 1969. Namun ICJ ( International Court of Justise) memutuskan Malaysia lah yang berhak pada tahun 2002.

Ok, singkat kata Sipadan menjadi salah satu dream destination gw.

Namun  rupanya Sipadan harus kami relakan juga berganti destinasi menjadi Lankayan, tetangganya karena nggak kebagian tempat. FYI beberapa tempat wisata di Sabah ini memang sangat memperhatikan caring capacity, jadi kudu registrasi jauh-jauh hari sebelumnya, misalnya di untuk pendakian Kinabalu. Dan titik bertolak kami dari Sandakan.

Enjoying Sandakan view from the pool

Setelah menghabiskan satu malam di Sandakan setelah perjalanan yang lumayan panjang dari Jakarta menuju Kuala Lumpur (tadinya ada penerbangan langusng dari CKG – KK tapi dihilangkan, dengar-dengar sih bakal ada lagi pertahun 2018) dilanjutkan menuju Sandakan, Abek sang induk semang menyampaikan kabar tak terduga

“Kita tak bisa menyeberang ke Lankayan, cuaca buruk.”

Hiks.. Hilang harapan diving.

“Sebagai gantinya kita ke Kinabatangan.”

Kami berpandang-pandangan. Beberapa mulai browsing di smartphone masing-masing. Rupanya kami akan susur sungai melihat kehidupan monyet-monyet dan burung. Lah, di Indonesia kan banyak.

Perjalanan 2 jam hampir tak terasa.

MYNE. Terbaca plang resort ketika kami memasuki halamannya yang terletak di Tengah hutan. Sungai Kinabatangan yang luas terhampar di halaman belakang resort. Kesan yang langsung terasa : mewah.

Bungalow-bungalow kayu berjajar disatukan jembatan kayu yang rapi, diselingi pepohonan yang tinggi. Semua menghadap ke sungai.

Sungai Kinabatangan sendiri merupakan sungai kedua terpanjang di Sabah dengan panjang 565 km.

 

Senjata Pinneng saat mengabadikan wildlife di Kinabatangan

AM-PM Cruise

Sesuai namanya, arung sungai bisa dilakukan siang dan malam hari. Siang Hari merupakan waktu yang wajar, dan meskipun tadinya tidak terlalu berharap akan melihat kehidupan liar yang ada, namun pada trip pertama kami.. PROBOSCIS MONGKEY, CROCODILE, PIG TAILED MONGKEY, EAGLES, atau nama kerennya RAJA UDANG… semua hadir bagaikan menyambut romongan kami (ge er dikit ga papa)

Pengarungan selama dua jam benar-benar diluar dugaan! Semua sibuk dengan kamera masing-masing. Mana mereka pada nggak takut dengan manusia karena tak pernah diburu.

Buat gw, highlite dari perjalanan ini : disamperin buaya sebelum akhirnya ia menyelam kembali. Buaya beneran loh ini! Pantes dilarang celup-celup kaki disini.

Pengarungan malam tak kalah serunya. Raja Udang berjaket biru yang cantik benar-benar bertengger anteng di sebuah dahan berjarak hanya satu meter dari lensa.

Sementata itu burung hantu yang kami temui tampaknya agak kesal melihat kami sibuk merekamnya.

Belum lagi rombongan keluarga babi hutan jangkung berjanggut panjang khas babi Borneo setia mengunjungi halaman resort di malam hari. Mereka juga tak lari ketika kami dekati. Gemas!

Tapi ada satu cerita konyol. Karena lupa mengunci jendela kamar, hari kedua kamar kami sempet kedatangan tamu para monyet-monyet pemburu camilan. Berawal dari keheranan melihat barang-barang kami yang berceceran di lantai, bubuk kopi yang bertebaran, tempat sampah yang tergeletak hingga tube krim mata yang ada bekas gigitan.

Rupanya mereka mencari apapun yang bisa dikunnyah, termasuk tiga butir obat flu celup gw ikutan jadi korban.

Menara pandang yang bikin betah para pecinta burung
Aerial view Kinabatangan river

Ternyata Kinabatangan merupakan surga bagi para pecinta wildlife. Keberadaan mereka benar-benar dijaga dan dijamin kelestariannya. Para pengunjung yang datang pun bakalan senang melihat mereka di habitat aslinya tanpa rasa terancam.

Bagi yang penasaran bisa intip-intip Myne resort disini

Ceki2 juga video kita selama keseruan disana yaaaaa

 

Diving Maumere

the underwater of Maumere

Maumere punya sejarah yang cukup kelam 25 tahun yang lalu saat gelombang tsunami mendera pesisirnya. Salah satu lokasi yang menderita karenanya adalah Pulau Babi, yang menjadi salah satu spot diving terbaik di Maumere saat ini.

Pic by @chiku_uw
Me and @neyu_dolphin

Pulau Babi memiliki kontur penyelaman ‘wall’ dan memiliki retakan yang fotogenic yang terletak di kedalaman sekitar 5 meteran. karang-karang yang sehat serta seafan yang bertebaran dimana-mana, memanjakan para diver.

pic by @pinneng

Seperti daerah penyelaman lain di Nusa Tenggara Timur, misalnya Alor, Komodo, ataupun Flores Timur, Maumere juga memiliki keunikan tersendiri. Soft coral yang sehat juga tersebar dimana-mana, digemari para ikan dan tentunya cantik untuk difoto.

Satu kejadian lucu saat melakukan penyelaman, tim saya barengan Pinneng dan juga Om Arbain Rambey. Di bibir jurang alias wall (beda bahasa doang ini sih), Pinneng mendadak celingak-celinguk.

“Mana satu lagi?” tanyanya dengan hand sign ke arah dive guide.

Sang dive guide pun ikutan celingak celinguk. Saya masih bengong, telat nyadar.

Setelah beberapa saat, Pinneng memutuskan untuk naik kembali.. dan ternyata, Om Arbain asyik masyuk diving di lokasi dangkal … dengan scubanya 😀

Continue reading “Diving Maumere”