Terjebak di Rote

Prolog – terjebak di Rote

“Kapal cepat tidak jalan, Kakak. Ferry lambat juga.”

Satu kalimat keluar dari mulut Yos, si hitam manis yang bertugas mengurusi
tamu di penginapan kami, yang berada pada sebuah desa kecil di tepi pantai
Nembrala, Rote.

Saya yang tadi sibuk berkutat dengan handphone, perlahan-lahan
mengangkat kepala. Berharap salah dengar. Berharap saya saja yang kurang
menangkap kalimat singkat yang diucapkan dengan logat Rote yang kental.

Pinneng tampak terdiam di sudut mata. Keningnya sedikit berkerut. Ups,
rupanya saya nggak salah dengar ya. Kami terjebak di pulau Ini.

“Berapa lama biasanya badai begini, Yos?”
“Tidak tentu, Kakak, bisa hanya dua hari, atau dua minggu.”

Sulit rasanya percaya kalau ini benar-benar terjadi. Rasanya seperti
membaca buku petualangan Lima Sekawan. Ini tidak benar-benar terjadi di
kehidupan nyata. Saya menyapu pandangan ke sekeliling. Mereka bilang
cuaca sedang jelek. Angin kencang menyulitkan kapal untuk menyebrang.
Dimana tanda-tanda keberadaan angin itu? Ah, kelihatannya baik-baik saja.

Pucuk-pucuk daun kelapa bergoyang malas tertiup semilir angin. Begitu juga
gonggongan anjing di kejauhan yang melihat ibu babi memasuki teritorinya.
Ombak masih bergulung tanpa cela di point surfing yang tepat berada di
depan Anugerah, penginapan yang kami tempati ini.

Mana badainya?

Pikiran serasa buntu, atau tepatnya menyangkal. Tanpa disadari tangan saya
memainkan potongan wax bekas pakai yang ada atas meja, memijit-mijitnya
hingga gepeng.Pinneng masih tampak tenang. Tapi memang ia selalu
berusaha tampak tenang di saat-saat seperti ini. Hanya matanya yang
berubah menjadi serius dengan bibir menipis, tanda pikirannya sedang
bekerja.

“Sudah pernah ada kejadian seperti ini? Ada yang pernah bisa
menyebrang?”
“Coba nanti beta cari tau”.  Yos tampak prihatin melihat kegelisahan kami,
yang pastinya terlihat nyata meskipun kami berusaha menutupinya.

Saya hanya menatap punggung Yos yang menjauh. Beberapa surfer tampak
hilir mudik di depan kamar kami sembari menenteng surfboardnya atau hanya
sekedar melenggang ke arah pantai untuk menikmati suasana sore yang
tampak damai ini.

Di kejauhan saya melihat perahu-perahu nelayan rumput
laut tampak tersebar di antara bentukan botol-botol plastik tempat mengikat
rumput laut. Sinar matahari sore di belakang mereka memberikan bentuk
siluet di atas riak air laut yang memantulkan sinar kemerahan.

“Tenang aja ya. Pasti ada jalan kok. Mumpung masih ada matahari, mau
surfing aja?”  Saya mengalihkan pandangan dari laut ke Pinneng yang
berusaha menenangkan. Nggak ada apapun yang bisa saya lakukan saat itu.

Ide untuk surfing sebelum matahari terbenam yang sebelumnya ada dan
kemudian pupus akibat berita buruk tadi, mulai menyeruak kembali di benak
saya. Kenapa nggak?

“Kamu ikut?” Saya sibuk mencari wax yang tadi siang sempat saya gunakan
sebelum surfing. Sepertinya masih ada sedikit yang tersisa, tapi saya lupa
dimana menaruhnya.

“Ayo deh” Squiliz adalah spot yang cukup ramah untuk
belajar. Bisa dicapai dengan berjalan kaki, tapi akan memakan waktu cukup
lama, sementara waktu yang kami punyai tak banyak lagi. Paling hanya
sejam setengah lagi sebelum matahari menyentuh cakrawala.

Ah, akhirnya wax itu ketemu juga dibalik tumpukan sarung surfboard yang
saya taruh sembarangan di pojok teras. Surfboard saya berdiri tegak di
bagian penyimpanan surfboard yang memang ada di tiap samping bangunan
bungalow.

“Kita coba tanya penerbangan nanti. Kayanya ada deh penerbangan tapi
bukan regular. Mungkin kalau kapal nggak ada yang jalan seperti sekarang
ini, mereka akan terbang karena banyak permintaan”, Pinneng juga ikut
memoleskan wax ke surfboardnya setelah saya selesai. Ia juga membawa
surfboardnya yang panjang, hampir menyerupai minimalibu.

Surfboard jenis malibu itu jenis yang nanggung, tidak terlalu panjang hingga menjadi sebuah longboard, tidak juga terlalu pendek seperti shortboard, sedang-sedang saja.

Saya memincingkan mata, berusaha melihat di kejauhan. Ombak squiliz
tampak bergelung teratur beberapa kilometer di arah utara, Lumayan jauh.
Kami memutuskan menggunakan taxi air untuk menghemat waktu. Berjalan
kaki dari penginapan ke lokasi dimana taxi air berjajar menunggu penumpang
cukup menguras tenaga.

Saya terbiasa jogging di jalanan beraspal, kalau berjalan di pasir yang langsung masuk begitu terinjak itu beda lagi ceritanya. Setiap langkah membutuhkan kinerja otot ekstra rasanya.

Pinneng tampak melangkah dengan enteng di sebelah saya. Curang, kakinya
panjang banget, ya nggak heran dengan sedikit melangkah gemulai posisinya
sudah jauh di depan. Huh, tungguin kek.

Ombak squiliz itu bisa nikmat bin sexy kalau ukurannya besar. Saat ini
memang ombak lagi besar-besarnya. Di lokasi surfing utamanya sih ombak
sudah terlalu besar. Cukup besar untuk mematahkan 5 surfboard dalam
sehari. Terimakasih, saya nggak berminat uji nyali disana.

Sore hari itu kami benar-benar menikmati Squiliz. Kata orang-orang , surfing itu menghilangkan masalah. Mereka benar. Tapi hanya untuk sesaat. Begitu saya melangkah keluar dari laut, masalah tadi kembali menghantui saya.

Matahari perlahan lenyap di ufuk, meninggalkan semburat oranye kemerahan
yang luar biasa indah. Terlalu indah untuk menjadi background kegundahan
hati. Mubazir rasanya.

“Gimana Yos?” Kami sudah duduk manis di meja makan. Tamu-tamu lain
belum kelihatan batang hidungnya. Pinneng terlihat lelah setelah sesorean
tadi surfing. Kulit wajah kami kemerahan dari paparan sinar matahari yang
dengan senang hati kami serap selama surfing dalam beberapa hari ini.

“Masih belum sampai kapan ini, kakak. Belum ada kejelasan kapan kapal
cepat datang.”
“Perahu body itu gimana?” Saya nggak kuat menahan diri untuk tidak
mengungkit tentang perahu kecil itu.
“Itu perahu nelayan yang bisa mereka sewakan. Pernah ada yang berhasil
nyebrang ke Kupang, tapi pastinya basah. Air gampang masuk.” Waduh, saya
kan bawa laptop.
Keraguan mulai terasa. Sepertinya ini bukan ide baik.
“Pernah ada kejadian tenggelam?” Pinneng terdengar santai saat
menanyakan hal itu.
“Empat bulan yang lalu, ada turis surfer yang tenggelam perahunya waktu
mau coba nyebrang kembali ke Kupang.” Lha, serem dong.
“Trus..?”
“Untung di bawa papan selancar sih.”
“Trus?” Duh, ini Yos kenapa nggak cerita langsung lengkap sih, pakai
dipotong-potong segala.
“Trus dia paddle kembali ke Rote..”
“Haaah!” Saya dan Pinneng kompak menganga.
“…Empat jam.” Oke, forget it!

Lebih baik ketinggalan pesawat dibandingkan harus paddle empat jam di
tengah lautan. Iya kalau cuma empat jam, kalau lebih gimana? Kalau terbawa
arus gimana?

Harapan satu-satunya tinggal jalan udara. Kami harus mencari tahu apakah
pesawat-pesawat perintis itu beroprasi, dan kalaupun beroprasi, apakah kami
masih punya tempat, mengingat semua orang pasti berpikiran sama.

“Coba saya cek dulu untuk penerbangan.” Yos pamit, berlalu sembari menyapa beberapa tamu saat berpapasan.

Masih ada harapan.

Pikiran saya kembali pada perahu body yang sempat ditawarkan tadi. Perahu
nelayam kecil sebatas badan satu orang yang akan penuh dengan surfboards
kami dan tas-tas ransel berisi laptop, terombang ambing melawan gelombang, sementara awan hitam dan kilat sudah bergantung membayangin perjalanan pulang kami. Imajinasi saya sudah membentuk satu situasi yang buruk. Huh, nggak deh.

Makan malam berjalan akrab seperti biasa. Penginapan Anugerah yang
berkarakter surf camp ini memang unik. Waktu makan disini layaknya waktu
makan di asrama. Semua tamu akan berkumpul di 5 meja panjang yang
masing masing berisi enam kursi. Semua saling berbincang akrab, saling
menanyakan cerita dari negara asal. Dan ketika makan malam berakhir, saya
kembali melihat Yos mendekati kami.

“Bagaimana Yos?”
“Tidak ada kakak…” Kami duduk mematung. Duh, akan berapa lama kami
tertahan di Rote?
“Beta bercanda, ada pesawat kakak.” Sambungnya sembari memamerkan
senyum cemerlangnya. Sempat-sempatnya dia bercanda! Tapi lega juga
rasanya masih ada yang bisa bercanda, artinya situasi tidak segawat yang
saya pikirkan. Rasanya ada beban yang terangkat dari bahu ini.

“Kita pasti bisa pulang.” Pinneng tersenyum lega.

Ya, kami akan pulang besok.
Tapi kejadian di luar perhitungan seperti ini pasti sering kami alami selama
traveling. Ini bukan kali pertama saya mengalami seperti ini. Pinneng juga
begitu. Sometimes shit happens. Dan ketika itu terjadi, pada akhirnya semua
itu menjadi pelajaran yang berharga bagi kita.

Leave a Reply