Terdampar di Mentawai – Part 5 (end)

“Gimana, bang? Bisa nggak telpon satelitnya?” Putri secara berkala selalu mengecek bang Yudi.

“Nggak bisa, Put.” 

“Orang kantor taunya liputan ini hanya seminggu. Kalau lebih dari semingu dan belum bisa mengirim kabar mereka pasti kawatir.”

Waktu seminggu yang diperkirakan memang sepertinya tak mungkin kami penuhi. Waktu menjadi molor karena kesulitan medan yang dilalui. Belum lagi kami harus banyak berhenti untuk mengambil bahan liputan. Dengan kamera super besar seperti ini, tak mudah untuk bergerak cepat.

Tak terasa beberapa hari telah lewat di desa Sapoka di Simatalu  ini. Saya semakin ahli dan semakin ketagihan mandi di sungai. Padahal saat pertama kali saya danPutri harus mandi, kami kebingungan luar biasa. Meskipun tuan rumah kami berbusana super minim, bukan berarti kami merasa nyaman untuk tampil minim di depan mereka. 

Maka, kami selalu menunggu matahari bergerak turun dan cahaya semakin temaram sebelum memutuskan mandi. Saat semua orang telah kembali ke Uma, dan babi-babi bergeletakan malas di bawah rumah, saya dan Putri akan mindik-mindik menuju sungai membawa kain sarung kami. 

Sungai yang mengalir di depan rumah memang tak sejernih kolam renang. Sedikit kecoklatan tapi saya masih bisa melihat dasarnya yang berlumpur dan berbatu. Lumpur inilah yang membuatnya tak bisa terlalu jernih, tapi saya tau kalau sungai ini pasti bersih. Tak banyak kampung yang dilaluinya. Kalau pun ada perkampungan, tak akan terlalu padat rumah-rumanya.

Beberapa hari ini kami isi dengan kegiatan syuting mengenai kehidupan sehari-hari mereka. Berburu, masak, melihat proses membuat tattoo. Dan selama itu pula saya semakin kagum akan cara hidup  mereka. Seperti inilah manusia pada jaman dahulu hidup, semua bergantung pada alam. Dan itu juga yang membuat mereka sangat menghargai alam. 

Penduduk pedalaman ini hampir tak pernah lepas dari rokok. Baik pria maupun wanitanya. Rokok yang banyak mereka isap biasanya dilinting sendiri menggunakan daun jagung yang dikeringkan. Tapi mereka juga nggak menolak rokok modern, terutama rokok kretek. Maka, bang Mochtar pasti membawakan beberapa kotak rokok bagi mereka, sebagai hadiah.

Selain merokok, saya juga memperhatikan kalau tattoo di badan mereka mempunyai motif yang khas, dibuat menyambung dari muka hingga ke punggung kaki. Baik pria maupun wanitanya juga. Tiap motif memiliki arti khusus. Lucunya, mereka memang sangat jarang menggunakan kaos layaknya kita yang hidup di dunia modern. 

Dan kalau mereka menggunakan kaos, itupun kebanyakan kaos partai yang dibagi-bagikan dan dibawa pulang oleh saudara mereka. Satu kaos dapat dipakai hingga berhari-hari, mungkin bisa lebih dari seminggu. Tak ada rasa keharusan untuk berganti baju atau berbau wangi di dalam hutan. Semua berjalan sealami mungkin. 

Sementara itu saya dan para kru lainnya berusaha menutupi kulit sebisa mungkin saat masuk ke hutan. Bentol-bentol akibat digigit nyamuk mulai tampak menghiasi tangan saya. Iri rasanya melihat mereka tak terganggu sama sekali dengan serangga-serangga yang mengitari kami dengan rakusnya. Berjalan menembus hutan dengan busana minim pasti nikmat. Nggak gerah.

Hingga tiba saatnya kami meninggalkan Sapoka.

“Sura ai”, kata bang Mochtar pada kepala suku. Terima kasih. Mereka saling bersalaman, diikuti seluruh tim. Alangkah luar biasanya pengalaman kami ini. Pengalaman yang sulit dibayangkan akan bisa terulang kembali. Pengalaman yang menggabungkan rasa lelah, kagum, kawatir, ketidakpastian dan kepuasan. 

Kami memanggul tas masing-masing dan mengulang kembali perjalanan berjam-jam mengarungi sungai dan hutan seperti saat kami datang. Rasa lelah mendera semakin parah. Stamina saya yang cukup terkuras membuat rasa perih di perut semakin tak tertahankan. Mungkin lapar? Atau terlalu lelah? Ah, saya merindukan kasur. Sekeras apapun kasur itu.

Akhirnya kami sampai di kedai kembali. Besok kami akan angkat sauh kembali untuk menyusuri Siberut barat menuju muara Siberut. Rasa semangat kembali terasa, menggelitik perut dan menarik otot pipi tanpa disuruh. Rasanya ingin tersenyum terus.

“Kantor pasti sudah sangat kawatir . Sudah 14 hari kita pergi tanpa kabar.” Putri dengan muram mengemukakan apa yang menggangu pikirannya selama ini.

“Entah apa yang mereka pikirkan,”

“Mungkin kita disangka hilang dalam tugas.” Kata Daus.

“Orang tua kita pasti kawatir.”

“Iya, mereka mungkin berpikiran kita hilang kena badai.” Bang Yudi yang selalu tampak cuek akhirnya memperlihatkan kekawatirannya.

“Duh, semoga besok kita bisa pulang.” Saya memilin-milih ujung penutup kantong celana cargo. Gelisah rasanya membayangkan apa yang dipikirkan saudara-saudara saya, terutama sekali ibu. Jangan sampai berita buruk yang tak pasti ini mengusik ketenangannya.

“Amin..”

Sayang sekali  keesokan harinya ombak tinggi kembali mendera. Dengan tidak adanya dermaga, lepas landas dari bibir pantai dan menerjang ombak untuk meluncurkan perahu, mustahil rasanya. Kami membawa terlalu banyak peralatan elektronik yang harus dipertanggungjawabkan.

Mau nggak mau, semua kembali berdiam diri menunggu ombak mereda esok hari. Tak ada yang dapat dikerjakan. Ruang gerak yang hanya sebatas teras berkursi kayu, bilik tempat kami tidur dan hutan yang mengelilingi kami. Tak ada yang bisa dikerjakan. Jenuh.

Badai tak hanya berlangsung sehari. Keesokan harinya kejadian terulang kembali. Kejenuhan dan kekawatiran yang sama dari hari ke hari.  Saya sampai hafal corak bulu beberapa ayam jantan dan betina yang berkeliaran di sekitar kedai. 

Saat malam tiba, saatnya  orang-orang kampung berkumpul dan menonton sinetron bersama-sama. Hm, apa yang mereka nikmati ya kalau bahasa Indonesia pun mereka tak paham. Mungkin mereka hanya suka melihat wajah-wajah mulus penuh ekspresi dengan mata melotot dan mulut bergincu yang dimonyong-monyongka. Baju-baju bagus penuh warna, rumah gedongan dan mobil mewah. Yang jelas mereka menonton tanpa berkedip. Ah andai jaman itu saya sudah membuat travel vlog. Hal-hal unik ini tak diangkat dalam liputan kami.

Pagi itu, saya membuka mata sembari berharap, semoga hari ini kami dapat meluncurkan perahu.

“Ayo cepat, siap-siap semua. Laut teduh!” Ah, semoga harapan ini terkabul. Dengan semangat semua orang bersiap-siap, terdorong semangat dan rasa bosan yang amat sangat akibat menunggu berhari-hari.

Benar saja, laut tampak teduh dengan ombak kecil yang memukul-mukul bibir pantai. Langit tampak cerah dan perahu kami telah siap. Para pemuda setempat telah memindahkan beberapa barang kami ke perahu. Mereka sangat sigap.

“Ayo Al, masuk duluan, Putri nyusul.” Bang Mochtar mengatur posisi duduk kami. Tanpa berkata apa-apa kami semua menuruti semua kata-katanya. Siap untuk mengarungi laut menuju Muara Siberut.

Dalam waktu singkat kami semua meluncur ke arah laut. Tak sabar rasanya melihat bar sinyal di handphone masing-masing. Tak sabar ingin memberikan kabar baik pada siapapun yang sudah kawatir menunggu kami.

Beberapa jam kemudian, ketika kami sampai, tujuan utama kami adalah puskesmas yang memiliki radio. Putri langsung memberikan kabar baik ke kantor.

“Tau, nggak.. kantor itu sudah menghubungi ahli waris kita masing-masing loh.”

“Hah! Kita sudah dianggap hilang ya?”

“Iya! Karena perjanjiannya pihak asuransi kita harus diberi kabar kalau dalam waktu seminggu selewat waktu yang dijanjikan tidak ada kabar. Dan kantor langsung ngabarin ke pihak keluarga kita masing-masing,”

“ Bahkan Metro TV sudah hampir mengangkat berita kehilangan kita, tapi kantor masih melarang dan berharap kita semua selamat.”

Rasa haru dan bahagia melanda kami semua Tak ada satupun diantara kami yang malu meneteskan air mata. Semua yang telah mengalamai apa yang telah kami alami pasti akan mengerti. Semua kegelisahan kami berakhir. Rasanya seperti ada batu besar yang terangkat dari dada ini. Rasa sesak gelisah hilang sudah. Kami selamat. Kami tidak hilang. Kami akan pulang dengan selamat. 

Terima kasih Mentawai.

Leave a Reply