I Surf Lakey

Pic by @atre7 and me

“Ada pantai yang ombaknya terpanjang di Indonesia tadi Oma nonton di berita.. namanya, sebentar Oma lupa.. Lakey. Kamu sudah kesana?”

“Itu di Sumbawa, Nusa Tenggara Barat ya..” Wuih Oma gue jagoan. Kalo dipuji jawabannya :

“Kan diajarkan di sekolah Belanda dulu..” Iya deh ..

Pertanyaan favorit dari seorang Oma yang doyan banget nonton berita itu selalu dilemparkannya setiap kali gue main ke rumahnya. Oma sekarang sudah nggak ada. Tapi pertanyaannya itu terus hidup di alam pikiran gue.

Teriknya sengatan matahari dan bau garam segera saja mengepung setelah gue turun dari mobil. Pantai Lakey terbentang di depan mata. Teman-teman dari tim Tambora Trail of Ancestor sih udah pada ngacir ngadem kabeh.

“Oh ini pantai yang Oma selalu ceritakan itu.” Antara takjub dan terharu, siapa sangka gue bakal bisa menginjakkan kaki ke pantai ini. Meskipun kunjungan ini bagian dari pekerjaan, rasa haru tetap bertahan.

Ombak peak yang berarti pecahnya ke dua arah, kiri dan kanan terus bergulung di depan menara yang sengaja dibangun sebagai tower juri saat dilaksanakannya pertandingan surfing. Lakey memang langganan menjadi tuan rumah berbagai pertandingan bertaraf nasional maupun internasional.

Sepanjang mata memandang pasir coklat muda diselingi bebatuan atau karang tampak menyebar disana sini. Deretan surf camp tempat para turis surfer menginap berjajar eksotis di sepanjang bibir pantainya, menyelak diantara pepohonan kelapa.

Semua orang harus rela berjalan cukup jauh sebelum dapat mencapai point dimana ombak pecah. Saat yang paling tepatpun antara mid-high tide. Surut is a big no no for this site. Apalagi ombak kanannya yang lebih dangkal notabene lebih keras bahkan di saat air pasang sekalipun.

It’s time to surf.

Paddle dan duduk memandang gulungan ombak yang dating tanpa hentipun memberikan sensasi menggelitik tersendiri. Bagi gue, point yang baru pertama kali gue surfing-I selalu menyisakan rasa takut dan penasaran yang pembagian persennya tidak pasti. Kadang lebih pada rasa takut, kadang penasaran. Dalam hal ini karena penampakan ombaknya cukup massive gue lebih ke takut. Apalagi belum tau kekuatannya.

Surfer yang terlihat tidak banyak. Hanya berkisar 5-6 orang saja. Semua tampak tangguh dan paddle lumayan jauh di depan gue. Menunggu set-set besar. Ah.. gue coba yang sedeng-sedeng dulu aja deh. Yang gede-gede kabur manis-manja-gemulai dulu.

Ombak kiri pertama yang gue ambil setelah mengumpulkan keberanian dan kecuekan masuk ke dalam impact zone berjalan mulus meskipun rasanya tidak terlalu panjang. Cepat kempes nih alias wallnya nggak terlalu berdiri.

Saya memutuskan mencoba sisi sebelah kanan. Wuih seru banget ya bisa mondar mandir coba dua arah dengan mudanya. Ombak kanan lebih terlihat melengkung dengan dasar yang juga lebih dangkal. Lebih cepat juga pastinya. Gue berusaha memposisikan diri sebaik mungkin, Karena tampaknya akan sulit untuk take off kalau terlalu dalam posisinya. Hingga saatnya ombak yang pas dating, gue segera mengambil posisi paddle dan mengayuh sekuat tenaga. Hmmm.. latihan TRX yang belakang gue lakuin ternyata oke juga ya. Paddle jadi kuat nih.

Saat dorongan itu terasa.. POP! Gue langsung loncat berdiri dan wooooww… I love this wave! Meskipun tidak terlalu panjang tapi gue suka tenaga dan speed ombak ini! Ulang lagi aaaaahh….

Eh ternyata.. niat hanyalah tinggal niat semata. Kok baliknya susah banget yaaaah? Ini tiap kali duckdive dan paddle bukannya makin ke depan tapi malah makin mundur… hadooohhhh.. ternyata arusnya lumayan sodara-sodara! Harus rela melipir manis ke pinggir dulu baru mencoba lagi paddle masuk lewat sebelah kanan tower, lokasi dimana ombak kiri berada. Yo mas.. oke deh.

Pulang-pulang kaki gue penuh dengan baret-baret batu dan karang mati, tapi hati gue mengembang bahagia. Meski hanya 1 jam saja #tsah.

lovely sunset at Lakey peak
lovely sunset at Lakey peak
IMG_9242
“All talent standby… camera roll, action!”
IMG_9245
ucup, gue dan Yan si lokal Lakey lagi pose
panas ya bang? :D
panas ya bang? 😀
IMG_9277
Can you spot the tower i told you?
pengarahan dari sang sutradara sebelum kami direlakan masuk ke air
pengarahan dari sang sutradara sebelum kami direlakan masuk ke air

i’m in a playgound

Panaitan journey part 1

Panaitan journey part 2

“Lah ombaknya serem semua dong?”

“Nggak juga sih, meskipun sebagian besar emang serius.” Ini jawaban yang gw ingat waktu bertanya-tanya dulu tentang ombak Panaitan. Besar dan barrel, itu dulu imej saya tentang ombak-ombak yang ada, pokoknya serba mengerikan apalagi untuk kami-kami yang selalu merindukan ombak lembut yang bisa membelai, bukannya menggerus.

Tapi ternyata tidak begitu saudara-saudara.. mari kita bahas satu-satu ombak yang ada.

One Palm Point

Diberi nama One Palm atau Kalapa Satu, karena dulu di depan point terdapat pohon kelapa sebiji berdiri gagah, yang belakangan hanya terlihat batangnya saja. Kemana daunnya? entah..

Ombak ini yang paling mashyur di Panaitan. Paling rajin hadir di majalah-majalah surfing mancanegara karena bentuknya yang sempurna. Barrel besar ke arah kiri, dengan dasar karang yang dangkal. Untuk gw sih deskripsi ini membuat bulu kuduk berdiri. Beberapa video yang gw tonton memperlihatkan surfer yang berada di dalam barrel, dan mereka PUMPING! bahkan saking cepatnya ombak ini di dalam terowongan air itupun kudu ngejar speed. wiwiwiwi.. Walhasil pada trip kali ini hanya Kang Dede Suryana dan Leo Hermawan sajalah yang nyemplung dan menjajal ombak beken ini. oiya, dan guide kami si Cenglus dari Carita yang notabene lokal Panaitan. Sisanya? sibuk berteriak-teriak seru setiap kali mereka berhasil keluar dari barrel sembari berfoto-foto dengan tongsis.

barrel

tongsis

Napalm

Bergeser sedikit ke arah dalam, adiknya One Palm point ini sama-sama keren dan sangarnya. Tapi lagi-lagi mang Dede membuatnya tampak seperti playground. Bolak-balik mengambil ombak dan main rumah-rumahan di dalam barrel. Leo dan David juga tak mau ketinggalan. Mereka segera menyusul Dede, dan lagi-lagi kami harus menahan napas melihat late take off yang disengaja dari Dede. Ombak begini kok dibuat main-main… edian.

Screen Shot 2014-06-16 at 9.08.56 PM

 

Pussy

Waaaks!! Nama macam apa ini?

Bukan salah gw kalo dari pertama kali ke Panaitan, spot ini sudah bernama kingky begini. Entah apa yang memicu si pemberi nama, tapi ombak Pussy atau Inside Left emang jadi favorit anak-anak Jakarta. Ombak kiri panjang sexy yang rasanya eunaaaak banget ini memang jarang mengecewakan, dengan catatan arah angin dan ukuran swell harus pas. Seperti One Palm dan Napalm, Pussy juga bagus di dry season.

Take off nya mudah, bahunya cukup berdiri. Bahu apaan? Ya bahu ombak pastinyaaaa.. Nah kalau belum tau artinya kudu belajar anatomi ombak lagi. Satu lagi di point ini, kondisi dasarnya cukup dalam. Tidak perlu takut mencium karang saat wipe out.

Inget banget waktu Race, salah seorang temen dari Jakarta yang teriak-teriak setelah selesai mengambil ombak pertamanya di Pussy ” Enaaakkk… enaaakkk!!” Nah begitulah gambaran ke-enakannya.

Panaitan2
bawa kamera sendiri sambil surfing, siap2 rahang pegel kerena bawanya digigit 😀

 

_MPS4917-2

 

Selesai dengan genk ombak kiri kami bergeser ke sisi teluk yang berada di seberangnya. Sisi yang satu ini dipenuhi dengan ombak kanan, arah yang berlawanan. Musim yang bagus pun sebenarnya berlawanan juga ,yaitu wet season. Kali ini hanya satu point yang kami coba:

Indicator

Karena musim yang kurang pas, maka saat kami menjajalnya pun keadaan rada-rada chopy atau goyang. Ombak kanan yang menyenangnkan sebenarnya, kalau kata mang Dede mirip-mirip Canggu right atau Keramas tapi tidak terlalu berat dan barrel. Sekali lagi, menyaksikan ia mengambil semua set-set besar semudah memutuskan beli jajanan ke sebrang jalan itu bener-bener bikin sirik dan mupeng.

Set-set berdatangan, dan membuat kami sedikit galau antara menghindari buihnya karena keburu close out, dan kembali memposisikan diri ke bagian dalam untuk menyambut set-set medium berikutnya.Satu ombak yang berhasil gw bawa menghantar secara langsung ke jajaran karang datar di depannyak karena telat dibuang.Walhasil gw bediri dengan air hanya sedengkul sementara buih-buih terus berdatangan.

Nggak.. gw nggak mau injek karang, selain nggak boleh juga sakit kaleeee…!

_MPS4681
Yak ini dia yang namanya 3 in 1

bersambung.

More info

jakarta – Tanjung Lesung atau Sumur melewati tol Merak

Untuk penyewaan perahu bisa menghubungi Jahri 081910895538,

rate perhari 1.500.000 ideal untuk jumlah penumpang max 6 orang.

Makanan yang bisa dibeikan oleh ABK :beras, minyak, aqua. Selebihnya senbaiknya belanja sendiri sesuai kebutuhan. Mereka bisa memasak untuk kita.

Jika mampunyai sleeping bag atau matras tipis ada baiknya dibawa karena tidak semua orang akan kebagian tidur di dalam kabin, harus siap untuk tidur di luar juga.