Pagi Pagi Net – Gemala Hanafiah

Pagi Pagi, program talkshow ringan yang tayang di NET TV ini  dipandu oleh Andre Taulany dan Hesti Purwadinata.

Kali ini gue banyak bercerita tentang seluk beluk surfing, trik n tips untuk memulai belajar sampai ke spot surfing favorit di Indonesia sebagai negara yang meiliki ratusan spot surfing berkelas dunia.

Enjoy gais 🙂

Vicky, surfer girl from Bono

“Cuma satu request saya, Pak.. saya mau surfing sama Vicky.”

Itu permintaan pertama saya waktu berkesempatan mengunjungi Desa Meranti beberapa saat yang lalu. Desa yang jadi lokasi mangkalnya para surfer yang akan surfing Bono di sungai Kampar.

Jarang banget gue ketemu dengan surfergirl kalau lagi surfing di luar Bali. Biasanya suasana surfing itu mirip-mirip Sekolah Teknik, isinya laki semua, makanya gue pasti paling cantik kalau surfing (dilarang protes). Sayangnya paling cantik bukan berarti trus dikasih ombak dan bisa ambil ombak sepuasanya, teteuup kudu ngantri dan sedikit-sedikit rebutan.

“Itu Vicky, Al.” Pak Tabrani dari dinas pariwisata Riau yang menemani saya menolehkan kepalanya pada sesosok berbaju kuning yang berjalan menghampiri kami. Rambutnya dipotong super pendek, posturnya lebih tinggi daripada yang gue bayangkan untuk seorang anak perempuan berumur 14 tahun. Matanya berkilat-kilat menunjukkan semangatnya. Ia tersenyum pada kami.

“Halo Vicky, nanti kita surfing bareng yaa..” Ia mengangguk tanpa meninggalkan senyumnya. Rupanya ia pemalu. Untuk mencairkan suasana kami ngobrol-ngobrol seputar surfing dan pengalaman belajarnya.

Vicky adalah anak lokal pertama yang diajari surfing sejak masih berusia 9 tahun oleh surfer Prancis yang berdomisili di desa tersebut. Saban kali tamu-tamu datang untuk mengejar Bono, ia diajak serta.

“Susah nggak belajarnya?”

“Nggak, saya sudah bisa berdiri dan ngikutin ombak dalam sehari.” Hmmmm pasti banyak teman-teman gue yang sirik nih kalau tahu.

“Kamu pake longboard kan waktu belajar?”

DSC_9083

“Iya, tapi sekarang saya sudah pakai papan kecil.”

“Serem nggak surfing di sungai?” Justru gue sih sebenarnya yang merasa agak serem karena belum pernah surfng di sungai.

“Nggak serem kok. Malah gampang banget. Saya pernah coba surfing di Air Manis, susah banget.. ombak laut cepat yaa. Kalau disini lumayan santai saat take off-nya.” Rupanya memang ada perbedaan besar diantara karakter ombak sungai dan laut.

Vicky sebisa mungkin surfing setiap hari kalau jadwal ombak Bono tidak berbeturan dengan jadwal sekolahnya. Maklum, karena ombak ini sesuai dengan waktu pasang air laut yang berubah-ubah setiap harinya.

Lima tahun surfing, ia masih menjadi satu-satunya surfer perempuan dari desanya. Selalu menarik untuk bertemu langsung dengan para surfergirl di seluruh pelosok Indonesia ini. Mereka surfing dengan alasan yang sangat sederhana kalau ditanya “Karena suka aja.”

That simple 🙂

IMG_7905

Girls day out @ Lombok














Daerah timur Indonesia selalu memberikan kesan yang berbeda bagi saya, seperti kembali ke masa lampau pada saat bumi di usia awal. Kesan itu saya dapat karena tanah di bagian Timur ini berpondasi batu batu vulkanik hasil lemparan letusan jaman purba dulu. Walhasil alam yang dihasilkan pun unik, minimalis tapi sangat berkarakter.

Rencana trip kesana sudah diatur jauh jauh hari. Pada awalnya jumlah peserta lumayan banyak tapi lucunya di saat saat terakhir yang masih pantang mundur adalah cewe cewe. Saya sendiri, Jeje, dan temena kantornya Kazue yang bekerja di cabang Dubai. Jadilah trip ini menjadi Girls Day Out. Dengan segala kehebohan membooking hotel, pemesanan tiket sampai mengatur transportasi dari bandara ke hotel, karena tujuan kami di Lombok adalah Kuta, yang berjarak kurang lebih 2 jam perjalanan menggunakan mobil sewaan. Belum lagi system komunikasi yang ‘canggih’, hanya bisa di hubungi melalui email, tidak ada nomor telepon lokal, karena pemilik hotel yang kami tuju adalah orang Jepang.

Hari H kami bertiga menuju bandara dengan semangat meluap luap. Tidak satupun diantara kami yang pernah menginjakkan kaki di Lombok, apalagi untuk sebuah surf trip seperti ini. Dua cewe Jakarta dengan satu orang Jepang. Bawaan kami seabreg, dengan backpack dan surfboard, apalagi teman Jepang kami tidak merasa cukup dengan hanya sekedar backpack turut membawa juga koper ukuran sedang dan double bag board.

Perjalanan berjalan lancar, setibanya di bandara Selaparang, Mataram pun kami langsung dijemput mobil sewaan yang telah dipesan. Sempet terlontar juga pertanyaan “wah papannya kecil kecil, pemain pro ya?”. Rupanya Kuta merupakan tempat beljar surfing favorit juga, banyak turis yang datang dan belajar surfing disini, makanya mereka punya tempat penyewaan papan juga guide yang berfungsi ganda sebagai instruktur surfing.

Tanpa membuang waktu trip surfing pertama kami langsung dimulai segera setelah kami check in dan menaruh barang bawaan kami di kamar hotel. Hari pertama ini kami menyewa dua buah sepeda motor, dan karena dua teman saya ini nggak bisa mengendarai motor maka kami menyewa satu orang surf guide sekaligus ojeg buat temen saya. Dengan semangat meluap luap kami menuju dermaga Grupuk dan kemudian perjalanan dilanjutkan dengan perahu kayu kecil yang bisa memuat sampai lima penumpang.

Pemandangan yang disuguhkan di teluk Grupuk ini benar benar istimewa. Di sekeliling teluk berdiri menjulang tebing tebing coklat bagai dipahat, dan tepat di bawahnya, gulungan ombak membentuk point surfing, righthander yang sempurna. Tapi sayangnya karena swell nggak terlalu besar, hari pertama ini kami harus cukup puas dengan ombak 1-2 ft diantara beribu ribu massa. Terus terang saja saya agak kecewa. Belum lagi pulangnya kami disapu hujan dan angin, yang mengharuskan kami berbasah basah mengendarai motor.

Tanpa ada konfirmasi apapun, keesokan harinya kedua teman kami dari Bali bergabung, Yuli dan Nyoman. Dengan bertambahnya personil tentu saja acara trip ini semakin meriah. Kami mengunjungi tempat lain, point Segara, atau yang sering disebut juga dengan Seger. Pemandangan disana sangat indah, dan saya berkesempatan untuk mengabadikannya dari atas bukit terdekat. Hanya saja ada satu hal yang sedikit mengganggu saat kita menikmati keindahan alam, banyak anak anak kecil yang menawarkan dagangannya, entah itu gelang atau kelapa muda, dengan cara yang memaksa. Walaupun kalau ditolak berkali kali mereka mundur juga. Saya berkesimpulan mereka masih memerlukan lebih banyak pemasukan dari pariwisata selain mata pencaharian utama mereka, berkebun.

Pilihan makanan ternyata melebihi ekspektasi saya. Mulai dari masakan khas Indonesia, sampai masakan eropa semua ada. Yang berkesan sih waktu saya memesan pizza margaritha di salah satu warung di seberang hotel saya, ternyata pizza yang datang tipis garing dan renyah, dengan keju berlimpah… mmm.. sungguh enak. Harga harga makanan pun sangat beragam. Kalau mau yang murah ya jangan makan di hotel, jejeran warung warung makan tidak kalah enaknya serta dijamin murah.

Hari hari berikutnya kami diberkahi ombak yang membesar, sehingga di point Grupuk Outside yang dihari sebelumnya kecil dan ramai, kali ini fun dan sepi. Rupanya banyak sekali surfer yang belajar, sehingga kalau ombak membesar merekapun lari ke point yang lebih terlindung. Wah kami nggak menyia nyiakan kesempatan ini. Ombak datang dengan interval lumayan sering serta jumlah surfer yang sedikit. Sampai pulang di siang haripun rasanya nggak rela meninggalkan spot tersebut kalau bukan karena panggilan perut yang mulai keroncongan.

Satu hari kami dibawa oleh surfer lokal ke ‘secret point’. Jaraknya 1 jam perjalanan menggunakan mobil dari Kuta, dan masih harus disambung lagi menggunakan perahu kayu kecil selama kurang lebih 20 menit. Tempat tujuan kami ini baru bagus dipakai kalau ombaknya besar. Mungkin bagus bagi surfer yang berada di tingkat advance, tapi kami jelas mencari point yang lebih kecil disana, jadilah kami main di inside point secret tersebut. Tapi pemandangannya memang sangat indah, hamparan pasir putih, berlatar belakang perbukitan. Betah rasanya berlama lama disana.

Tapi ada satu kecelakaan kecil yang terjadi saat kami hendak pulang. Rupanya kami salah memperhitungkan pasang surut di tempat itu. Kondisi yang terlanjur pasang menyulitkan perahu yang akan menjemput kami semua. Pilihannya hanya dua, pulang dengan berjalan kaki, atau paddle ke tengah menggunakan papan surfing masing masing, dimana perahu akan dapat memuat kami dengan aman. Tentu saja kami lebih memilih paddle ke tengah. Ternyata nggak sampai disitu saja, ketika akan naik ke perahu pun, salah satu perahu terbalik karena posisi yang salah. Akhirnya perahu yang terbalik harus ditinggal bersama beberapa teman karena nggak cukup di satu perahu. Dan perahu yang saya tumpangi harus bolak balik menjemput teman teman dari perahu yang terbalik. Saat itu gelap, dingin, benar benar perjalanan yang penuh petualangan !

Tapi semuanya harus berakhir. Kami harus kembali bekerja di kota masing masing. Kebersamaan dan keseruan ini nggak akan terlupakan, menyisakan niat untuk kembali di lain waktu. Semakin saya menjelajahi Indonesia, semakin saya menyadari betapa kayanya negri ini sesungguhnya.