Togran Trip part 2 – It’s a Paradise !!!

baca sebelumnya

“Banguuuuunnn sudah sampe niiih.. ” Gedoran merdu Hasan, salah satu peserta trip kali ini menembus kalbu di pagi itu

Ternyata sukses juga melewati 10 jam di ferry berbekal obat anti mabuk. Kecoak dan kutu busuk tak terasa, tiba-tiba hari sudah terang dan ferry yang kami tumpangi mulai merapat di Wakai, salah satu lokasi di Togean. Segera saja saya merapikan baju dan rambut yang cuma se-emprit ini biar kelihatan sedikit rapih. Meskipun nggak tertolong juga sih. Sikat gigi aja males hehehehe…

Kami memang sengaja untuk turun belakangan supaya agak sepi, toh dijemput juga oleh boat Black Marlin untuk langsung melanjutkan lagi perjalanan ke resort mereka. Jangan kawatir, kali ini perjalanan tidak seheboh sebelumnya, hanya setengah jam saja kami sudah bisa melihat dermaga yang diapit pasir putih menggoda, dinaungi rimbunnya pepohonan kelapa. Di depannya terlihat laut jernih berwarna biru tosca yang bergradasi ke hijau. Sama lah seperti yang sering dilihat di kartu pos atau majalah travelling. Super indah…

Begitu merapat kami langsung disambut ramah oleh para pengurus resort dan… anjing-anjingnya yang lucu banget itu. Woaaaah kontak kami langsung heboh, ternyata semua peserta cewe di trip ini penyayang binatang. Langsung pada jongkok sambil mengelus-elus mereka yang juga nggak menyia-nyiakan tambahan kasih sayang dadakan ini.

Suntoo, si ganteng yang ramah

“Yang ini namanya Rockie, itu Suntoo, dan yang itu Dive…” kata salah satu pengurus disana. Wuih namanya unik banget, berbau diving hehehe…

Resort Black Marlin ini semua kamarnya menghadap ke laut yang super jernih menggoda itu. Jadi nggak ada cerita nggak dapet ocean view, tinggal gelinding juga nyampe. Diantara kamar-kamar pohon kelapa dan beringin berdesakan memberi keteduhan di hari yang terik sekalipun. Mangstap deh!

Restaurant berdampingan dengan dive center yang berisi jajaran dive gear siap sewa bagi yang tidak membawa dive gear sendiri seperti saya. Rupanya mereka menjual juga berbagai camilan, jadi nggak perlu belanja super heboh sebelumnya. Jangan takut juga dengan kurangnya buah-buahan, karena ternyata buah merupakan hidangan wajib sehabis makan. Kopi dan teh juga bebas buat sendiri, plus susu kental manis yang juga nongkrong dengan manisnya di meja.


Ketika waktu makan tiba, resto yang terlihat sepi berubah wujud menjadi tempat ngumpul para tamu-tamu yang kebanyakan diver itu. Semua saling cerita dengan serunya. Rata-rata mereka berasal dari luar negri. Saat itu sih memang cuma kami saja rombongan lokalnya.

Yang unik niih, sinyal susah banget disini, tapi ada kotak khusus untuk menaruh hp di area pintu masuk resto yang menghadap ke laut. Hanya disinilah sinyal lumayan kuat, bahkan ada sinyal data juga. Jadi masih bisa terima email dan teman-temannya. Sepertinya ini bukan kabar baik bagi orang yang emang mau kabur dari kerjaannya selama berlibur ya.

box yang memonopoli sinyal.

Pantesan aja si ownernya kalau bales email pasti lebih dari sehari hehehe… sekarang baru saya ngerti kenapa. Bukannya karena kurang perhatian, tapi pegel juga kalo harus selalu berdiri di samping box kayu itu untuk ngecek email masuk.

Makanan yang disajikan disini nggak pernah nggak enak. Sebenarnya memang cuma dua rasa buat saya.. enak dan enak banget. Antara rakus atau murahan hahahaha… Tapi kalau deket-deket laut memang rasanya makanan itu enak aja semuanya.

Beranjak ke kamar, rasanya seperti dimanjakan oleh alam. Gimana enggak, pintu kaca yang tirainya bisa dibuka selebar mungkin itu langsung menyajikan pemandangan yang mengelus mata dan hati. Rasanya dengan tidak adanya pendingin di ruangan ini jadi tidak penting lagi. TV? apa itu TV… Siapa yang butuh TV disini? Rugi amat nonton sementara kita bisa melakukan banyak hal di luar sana.

tersedia hammock di tiap kamar untuk leyeh-leyeh
pasir putih dan laut biru adalah halamannya
pemandangan dari kamar

Sore hari adalah moment yang luar biasa disini. Jetty yang bisa dipakai menjadi tempat bersantai, menghadap ke barat, sehingga matahari terbenam tak akan luput menjadi tontonan wajib. Ngupi-ngupi disini setelah seharian diving atau snorkling sambil ditemani cemilan ringan adalah surga dunia..

with my partner 
bersambung part 3
for more info : Black Marlin

Togean Trip part 1 – The long Journey

Pagi itu suasana masih gelap. Saya melirik jam tangan yang masih menunjukkan pukul 4.30 pagi. Pantas saja matahari belum nongol, dan rasa malas mandi melanda dengan suksesnya
 
Pembenaran yang bisa disebutkan adalah: pagi ini kami akan melakukan perjalanan pulang dari Togean dan akan meninggalkan Black Marlin yang telah menjadi rumah kami selama beberapa hari yang tak akan terlupakan ini ( memang ada berjuta alasan untuk tidak mandi pagi, yes? )
 
Satu persatu barang berpindah dari jetty ke perahu kayu yang akan membawa kami menyebrangi teluk Tomini untuk mencapai daerah yang bernama Marisa di daratan utama sebelum kemudian bermobil ria menuju Gorontalo. Fiuh.. perjalanan panjang.
 
sempet2 nya difoto lagi tidur di lantai boat :))
latian alat musik ritmis Karombi karena mati gaya di pesawat
Barang disusun teratur di bagian depan perahu, dan dua bangku panjang yang berhadapan berubah fungsi menjadi tempat tidur darurat. Riyanni, Fenny, Gwen dan Hasan beruntung mendapatkan tempat di atas. 
 
Saya dan Pinneng kebagian tempat di lantai perahu yang ternyata cocok banget buat Pinneng si Avatar laut berkaki panjang itu. Setelah boatnya bergerak, saya bersyukur mendapatkan tempat di lantai, ternyata anginnya dingin tiada terkira. Untung masih ketolong wind breaker yang sengaja saya siapkan sebelumnya.
 
Diayun gelombang laut yang lembut mendayu.. saya mulai tertidur sembari mengingat awal dari perjalanan panjang ini..
 
Pukul 6 pagi itu, 4 hari yang lalu, kami semua berkumpul di bandara Soetta. Dive trip kali ini gabungan antara liputan Divemag oleh Riyanni dan Pinneng, liputan blog saya sendiri ( lumayan dapat jatah jadinya hehehe..) dan liburan beberapa teman yang lain, yang akan bergabung saat transit di Makassar nanti.
 
Tujuan kami ke pulau kecil yang ada di teluk Tomini, teluk yang terletak di lekuk kaki sebelah atas pulau Sulawesi. Untuk menuju kesana, terlebih dahulu pesawat yang kami tumpangi harus transit di Makassar sebelum melanjutkan perjalanan ke Gorontalo. 
 
 
Belum selesai di situ, dari Gorontalo kami harus melanjutkan perjalanan dengan ferry karena di pulau kecil Togean tidak terdapat lapangan udara. Penyebrangan akan memakan waktu sekitar 10 jam saudara-saudara!! Untungnya penyebrangan akan dimulai sore menjelang malam, sehingga pastinya kegiatan yang paling populer nanti adalah… tidur.
 
Seperti biasa, di tiap dermaga itu porter pasti berjaya. Begitu turun dari mobil, tanpa basa basi mereka menyerbu mobil kami. Tanpa diminta tangan-tangan kekar telah merenggut tas-tas kami, bahkan sebelum kami nego harga. 
 
” Woi.. bentar pak.. bentaaaar. Ini berapa ongkos angkutnyaaaa” teriak salah satu teman.
” Gampang itu nanti saja” Jawaban standar dari porter yang selalu terdengar di pelabuhan manapun. 
 
Kebayang kan kalau kondisi ini dialami turis-turis luar yang memang banyak menggunakan jasa ferry itu juga. Ketidakjelasan ditambah rasa tak berdaya itu rasanya nggak enak banget. Akhirnya setelah memaksa untuk deal harga angkut terlebih dahulu, kami merelakan barang-barang kami yang memang berat itu karena berisi dive gear untuk mereka bawa.
 
Kami memesan 2 kamar yang mempunyai 2 tempat tidur tingkat di masing-masing kamarnya. Sewanya 400 ribu satu kamar. Bisa juga hanya sewa tempat di matras yang bergeletakan di tengah ruangan seharga 70 ribu satunya. 
 
 
 
Meskipun begitu, harus siap dengan segala kemungkinan terburuk, termasuk gerilya para kecoak mini dan kutu busuk yang siap menyambut kita di kasur. Belum lagi kamar ternyata dingin banget karena ac yang biasanya untuk ruangan biasa, masuk kedalam kabin kamar yang terbilang kecil, semburannya badai!!
 
Saat sunset kami menghabis waktu dengan bernarsis ria diatas dek, menikmati semilir angin jernihnya air laut. Riyanni malah sempet sewot gara-gara pahanya yang terekspose celana pendek yang dipakainya jadi target buruan foto bapak-bapak oportunis hahahaha…
 
Keluarga-keluarga dengan anak kecil dan bayinya banyak yang menggelar tikar di lambung ferry, yang biasanya dipruntukkan bagi mobil-mobil yang hendak menyebrang. Mereka rupanya sudah persiapan dengan bantal dan guling kecil, juga sarung yang berfungsi sebagai selimut.
 
Begitu juga dengan area matras di tengah, penuh dengan keluarga yang hendak menyebrang. Disini terlihat potret masyarakat kepulauan, yang nerima apapun kondisi yang tersedia, meskipun kondisi itu tidak bisa dibilang manusiawi.
 
Selain itu, beragam binatangpun ikut menyebrang, ayam-ayam, kambing dengan muka bingung.. sampai bentor alias becak motor juga nggak mau ketinggalan. 
 
Malam semakin larut saat kami makan malam bekal ayam KFC di atas dek sambil berusaha berlindung dari angin malam. Sinyal semakin hilang perlahan-lahan.. dan kami semakin dekat dengan pulau tujuan kami..
 
 
 

Bangsa Bajo

Setelah sekian lama saya harus menjawab ‘belum’  pada setiap pertanyaan ‘sudah pernah ke Wakatobi?’ akhirnya bisa menjawab ‘sudah!’

Dengan harapan tinggi, ditambah rasa bahagia karena boleh bercokol di kokpit sambil sedikit ngobrol dengan pilot walaupun hanya 30 menit karena saya terbang dari Baubau, sampailah saya di Wangi Wangi, salah satu pulau dari empat pulau yang terdapat di Wakatobi.

Tujuan utama kampung Bajo asli yang bernama kampung Mola, lebih besar dari yang saya duga, dan ternyata… jauh lebih kotor dari perkiraan. Dalam benak saya yang namanya sudah semashyur Wakatobi itu seharusnya paling nggak seperti Gili Trawangan atau Derawan.

Kebiasaan membuang sampah ke laut  yang dulunya nggak masalah karena plastik belum diproduksi, sampah pun organik, menjadi kebiasaan yang mengganggu sekarang.
Suku Bajo sendiri merupakan suku laut pada dasarnya. Mereka pernah dicoba untuk dibuatkan pemukiman di darat, tapi masalah utama yang timbul lebih pada masalah kesehatan seperti gatal gatal yang hanya sembuh jika mereka kembali mandi air laut secara teratur.

Seorang bayi Bajo sudah dicupkan ke laut saat berumur 7 hari, dan sepanjang hidupnya mereka akan selalu dekat dengan laut. Kalau ditanya kenapa, jawabannya standar ‘sudah begitu dari jaman nenek moyang kami’.

Yang paling membuat takjub saya sih mereka mandipun cukup hanya dibilas air laut, air tawar  untuk muka aja. Kalo diliat sih sistem air flow rumah mereka udah paling benar deh, ventilasinya dari bawah, atas dan samping kiri kanan, kita bisa melihat air laut lewat sela sela bambu di lantai rumah dan langit di beberapa  lubang di atap rumah.

Bahkan mereka memelihara kucing juga dirumahnya, salah satunya bernama Reno, si kucing Bajo, yang dari kecil dipelihara oleh tuannya. Mungkin perasaan saya aja tapi rasanya sering juga melihat Reno menatap nanar keluar rumah, yang pasti dia nggak akan ada niat untuk berenang renang dilaut..

Urusan kuliner nggak mengecewakan, favorit saya Kasuami, pengganti nasi yang terbuat dari ubi yang dihaluskan, ada yang polos dan ada juga yang dicampur bawang, bisa bertahan sampai tiga hari sehingga sering dibawa sebagai bekal melaut. 

Minumannya, Saraba, terbuat dari campuran jahe, susu dan gula, hangat dan menyegarkan. Tambah tiga kalipun nggak berasa…
Transportasi utama adalah sampan kayu super ramping yang hanya terlihat beberapa senti saja diatas permukaan laut. Mulai dari anak kecil, pria dan wanita, semua bisa jadi atlit dayung. Mereka bisa mendayung  lurus dan kencang, hanya dengan satu tangan!

Bangsa Bajo, ya.. Bangsa, karena mereka tersebar di beberapa  negara seperti Malaysia, Philipina (negara asalnya) , Indonesia, bahkan Australia. Berbicara dalam bahasa yang sama hanya dengan aksen yang berbeda. Bangsa yang tidak dibatasi oleh batas negara modern, bangsa yang akan selalu hidup di laut.