Sangihe part 3 – Gelembung Hangat dari Perut Bumi


Masih menelusuri laut Sangihe, kami menjadwalkan penyelaman pada satu titik yang merupakan gunung api bawah laut atau submarine volcano. Seperti pada penyelaman-penyelaman sebelumnya, kali inipun  kami membaginya menjadi 2 tim.

Tim hardcore Andy dan Audita mengincar bagian berarus kencang dengan harapan dapat bertemu hiu dan teman-temannya. Memang gunung api ini melingkupi area yang cukup luas, dan di satu bagiannya yang terekspose merupakan bagian yang cukup berarus.

Ibarat menu, kita dapat memilih, apa yang hendak dilihat dan kemudian posisi turun disesuaikan. Titik ini sendiri dinamakan Mahengetang, sesuai dengan nama pulau besar terdekat.

Tidak terlalu jauh perjalanan untuk mencapai titik ini, hanya sekitar 1 jam dari pelabuhan Tahuna. Lokasi penyelaman ditandai dengan air laut yang bergolak di sekitarnya. Dari atas pun dapat terlihat puncak dari gunung api tersebut, yang berjarak sekitar 10 meter dari permukaan.

Kembali pada Andy dan Audita, benar saja, mereka memilih titik yang berarus dan melakukan drift dive sembari melambaikan tangan pada hiu, eagle ray dan baracuda yang berseliweran. Layaknya nonton big screen katanya.

Penyelaman berikutnya saya, bang Sammy dan Pinneng bersiap untuk menyambungnya. Tapi lokasi yang dipilih adalah lokasi dimana gelembung keluar dari celah-celah batu. Gelembung ini konon mempunyai suhu yang lebih tinggi dibanding suhu di sekitarnya. Wah, senang sekali mendengarnya, nggak dapat mandi air hangat, bolehlah dapat diving air hangat ( maklumlah gadis tropis ).


Begitu menceburkan diri, visibility yang luar biasa menyambut dan membelai mata. Rasanya seperti melakukan penyelaman di Alor. Gundukan bebatuan berwarna kuning kecoklatan menghadang, dikelilingi gelembung yang menyembur dengan konsisten. Wooooww.. Ini dia yang dicari-cari.

Saya mendekati, penasaran tapi tetap membiarkan bang Sammy untuk menyentuh gelembung-gelembung tersebut duluan, kalau dia selamat berarti saya juga akan selamat hahahaha… Suhunya memang lebih tinggi, tapi tidak sampai menyakitkan kulit, justru memberikan rasa nyaman.

Terngata tidak semua di titik ini memiliki kontur berbantu, sedikit bergeser ke lereng di baliknya, pemandangan yang sama sekali berbeda terhampar. Oya, saya lupa menceritakan kalau di titik bisa dibilang tak berarus sama sekali, rasanya seperti menyelam di kolam yang bening. Yak, lereng tersebut penuh ditumbuhi koral beraneka warna, yang melandai hingga ke ‘gunung’ disebelahnya. Seperti melakukan pendakian gunung di darat saja rasanya, tapi kali ini dengan cara melayang hehehe..



Satu bagian coral mengingatkan saya akan motif batik mega mendung,mengingatkan saya akan motif awan-awan batik dengan outline berbeda warna. Karya seni yang luar biasa..

Ditengah suguhan seni yang indah ini terselip selang yang sangat panjang, rupanya bekas dipakai penyelam kompresor dan diletakkan atau dibuang begitu saja. Pinneng dan bang Sammy berusaha menggulungnya dan membawanya keluar. Wah membayangkan menyelam dengan menggunakan selang seperti itu… 


Dua tim membawa cerita yang berbeda sekali saat berkumpul diatas, berarti site Mahengetang ini memiliki rute yang sangat beragam, layaknya menu seperti yang sudah saya sebutkan diatas. Tiga kali dive pun rasanya masih kurang untuk melihat kesemuanya.

Kalau kami masih memiliki waktu selam yang lebih lama.. Apa ya kira-kira yang kami temui di tempat ini?

 All pics by @pinneng

Sangihe part 2 – Keunikan kultur

Melipir-melipir di darat saat malam hari untuk menemukan hal-hal yang unik di Sangir ini sempet juga saya lakukan. Malam itu saya diajak berkunjung ke salah satu aula disamping gereja. Wuiihh isinya cowo-cowo semuaa… mulai dari Oom-Oom sampai anak sekolah. Rupanya mereka sedang berlatih salah satu alat tiup khas Sangir. Bentuknya sih mirip dengan alat musik tiup yang kita kenal, yang membedakan adalah bahannya yang terbuat dari bambu.

Sejak tahun 1961 mereka sudah membentuk group pertama yang memainkan alat musik unik ini. Bahkan hingga kinipun para pendirinya masih eksis melatih. Mereka membuat alat musik tiup lengkap dari trombone, flut sampai suling.  Dan memang semua dari bambu batik. Alasan pemilihan jenis bambu ini pun karena lebih padat dan mudah dibentuk.

Begitu sang dirigen membuka not yang harus dimainkan, bengong tingkat lanjutlah saya. Rumit sekali kelihatannya. Rupanya memang dibuat untuk sekitar 18 alat music tiup yang berbeda. Alasan membuat demikian banyak karena range nada yang tidak terlalu jauh. Dan begitu mereka memainkan satu lagu dari Queen, wow… these guys raawk!! 


Mereka memang sudah sampai mentas di Jakarta segala. Rupanya karena bisa mentas kemana-mana, ramailah peminatnya, dari anak muda hingga ke bapak-bapak. Menurut ketua grup, profesi para pemainnya sangat beragam. Ada yang guru, nelayan, buruh, murid sekolah. Mereka berlatih seminggu tiga kali.

Alat music bamboo ini harus di-stem setiap beberapa bulan sekali karena masih menyusut. Bambu mengandung air, nah secara bertahap kadar air di dalam alat musik akan berkurang. Baru pada tahun ke 3, alat musik bambu sudah dapat dikatakan stabil. Daan.. malam itu kami mendengarkan hampir seluruh lagu Queen dimainkan dengan megah, menggunakan alat music yang telah mereka pelihara selama turun-temurun..

Masih membahas soal kultur, kali ini saya berkesempatan menyaksikan upacara tahunan Tulude. Saking hebohnya bahkan kepulangan terpaksa diundur demi menyaksikan upacara ini.

Masyarakat Sangihe atau Sangir sendiri masih sangat kuat adat istiadatnya. Meskipun sebagian besar dari mereka telah memeluk agama Kristen, mereka masih mempercayai yang disebut dengan ‘kekuatan jahat’. Sekilas cerita-cerita dari warga setempat, dulunya upacara Tulude ini dipenuhi dengan hal-hal mistis, namun dengan masuknya agama ditengah mereka, lambat laun hal mistis tersebut menghilang, berganti dengan upacara pengucapan rasa syukur serta suguhan tari-tarian rakyat.

Namun makna sebenarnya dari upaara Tulude ini tidak semudah itu diketahui. Percaya atau tidak, beberapa orang lokal yang saya temui tidak mengetahui arti sebenarnya dari upacara Tulude ini. Saking tua-nya perayaan ini, semua orang menganggap ini adalah sesuatu yang memang sudah harus dilakukan secara turun-temurun.

Selain mengungkapkan rasa syukur, ternyata ada makna lain dibalik upacara ini. Tulude atau Menulude yang berasal dari bahasa Sangihe, berarti menolak, tolak, atau mendorong. Secara luas arti ‘Tulude’ adalah menolak untuk terus berpatokan pada tahun yang lampau dan siap menyongsong tahun baru.

Ternyata upacara ini dihelat melewati beberapa tahapan. Dua minggu sebelum digelar, seorang tetua adat menyelam ke dalam lorong bawah laut yang berada di Gunung Banua Wuhu. Tetua adat ini membawa sepiring nasi putih dan emas yang dipersembahkan kepada Banua Wuhu yang bersemayam di lorong tersebut. Usai menggelar ritual penyelaman tersebut, dimulailah rangkaian perhelatan upcara Tulude yang diawali dengan pembuatan kue adat Tamo di rumah salah seorang tetua adat, sehari sebelum pelaksanaan.

Upacara Tulude dilaksanakan pada malam hari, dengan persiapan yang dimulai sejak sore hari. Lokasi diadakannya pun berpindah-pindah. Ramainya masyarakat yang hendak menyaksikan datang dari berbagai pejuru kampung. Rumah-rumah pun dihias sepanjang jalan sejak beberapa hari sebelumnya. Lipatan-lipatan daun kelapa kering terlihat bergantungan di kiri dan kanan jalan. Konon suasana semarak yang tercipta bahkan mengalahkan kemeriahan Natal dan Tahun Baru sekalipun.


Setiap kampung mengirim both perwakilannya yang berisi masakan khas tiap kampung, serunya makanan ini bebas dicicipi tanpa bayar sepeserpun. Mulai dari kue-kue tradisional hingga masakan laut. Tak ketinggalan sagu sebagai teman makan yang beda. 

Puncak dari upacara Tulude adalah saat keluarnya kue dodol berhiaskan cabe, udang, dan aneka hiasan lainnya berbentuk kerucut yang mengingatkan saya akan kue tumpeng saat selametan. Kue inilah yang dinamakan Tamo. Saat itu saya tidak bisa membayangkan bagaimana rasanya memakan dodol yang dikenal manis dengan udang dan cabe. Tapi rupanya hiasan-hiasan tersebut memang tidak dikonsumsi.

Diiringi dengan tarian dari tetua adat, serta ucapan-ucapan syukur perlahan-lahan Tamo dihantarkan ke hadapan para petinggi Sangihe. Semetara itu, potongan-potongan dodol juga dibagikan untuk para tamu, melambangkan kebersamaan, pastinya tanpa potongan udang dan cabe.

Dan layaknya segala keramaian yang ada dimana-mana, pasti tidak akan jauh dari makanan. Segala masakan khas disajikan sebelum akhirnya kami menikmati suguhan tari-tarian yang dibawakan oleh masyarakat Sangihe malam itu. 






All pic. by Pinneng





Sangihe part 1- Diving pulau terluar



Pulau terluar itu kedengarannya eksotis, misterius dan membangkitkan rasa penasaran, dan biasanya nggak akan jauh-jauh dari membayangkan pulau kosong dengan penjagaan ekstra ketat dari para marinir yang baru bisa pulang beberapa bulan sekali.
Berjarak 6 sampai 7 jam menggunakan kapal cepat dari Manado ke arah utara, kita akan menjumpai kepulauan Sangir atau Sangihe. Lautnya berbatasan langsung dengan Filipina. Selain kapal cepat bisa juga sih menggunakan pesawat, tapi hanya beberapa kali dalam seminggu, yang mendarat di Naha.
Karena lokasinya yang sangat dekat dengan Filipina, maka terdapat banyak sekali toko-toko yang menjual barang dari Negara itu. Hari pertama saya langsung menyempatkan diri untuk mengunjungi salah satunya, dan langsung jatuh cinta setengah mati pada… jas hujan berwarna kuning!!! Entah karena embel-embel toko Filipina atau yang lain, tapi rasanya jas hujan itu modelnya lucu dan dan bahannya beda, benda yang membuat saya teringat terus sampai akhir masa kunjungan ke Sangihe.
Jauh-jauh kesini, tujuan utamanya adalah melihat potensi bawah laut dari kepulauan Sangihe. Om Andy, Audita dan Sammy yang jauh2 datang dari Bali, Pinneng uw photographer Divemag dan saya yang nyempil, bakalan survey potensi underwater di kepulauan ini. Maka hari berikutnya tanpa membuang waktu kami melakukan ekspedisi. Mengarah ke selatan kami mengunjungi beberapa spot di daerah Dakupang dan Batunderang. Walaupun kami tidak bertemu dengan coral garden yang padat, tapi cukup banyak yang dijumpai saat itu. Batfish, sweetlips, bumphead mudah ditemui pada setiap penyelaman.
Karena ini merupakan ekspedisi, maka kami menyelam dibagi dalam dua tim. Tidak membuang waktu untuk surface interval, begitu tim yang satu naik, maka tim yang lain langsung bersiap turun. Walhasil satu hari itu bisa menjajal sampai 5 titik diving. Wuih berasa marathon…
Meskipun cape, masih ada hal menggoda lain yang ingin dilakukan begitu hari semakin sore. Kami sengaja menuju lokasi yang oleh orang-orang lokal disebut dengan ‘Puncak’ , dan dari sana pemandangan yang terbuka kea rah lautan dan dermaga yang berada di dalam teluk benar-benar bisa membuat kita bersyukur tanpa sadar. Saya sempat mengcapturenya, jadi biarlah foto yang berbicara hehehe..

Teluk Tahuna dari Puncak
Selain pemandangannya, Puncak juga menyediakan pisang goreng plus sambal. Ini nih yang bahaya dan akibatnya masih saya rasakan sampai saat ini. Karena sambal itu membangkitkan rasa penasaran, pisang goreng yang dilahap tidak mungkin cukup satu atau dua kan? Apalagi dimakan saat udara dingin dan ditemani secangkir kopi hangat, wah bisa lupa segalanya.

Jajanan kue-kue pasar yang mirip dengan kue-kue Manado

Mi ce

Kalau bicara soal makanan, mirip-mirip Manado yang berlimpah makanan enak, naaahh di Sangihe juga sama.  Kue-kue nya bisa dibilang hasil adopsi dari Manado, ada juga sagu yang diisi gula merah. Dimakan sewaktu masih panas… wuiiihhh!! Selain makanan kecilnya, ada juga mi khas Sangihe yang resepnya diturunkan dari generasi ke generasi, namanya Mi Ce. Mi ini tidak halal karena mengunakan daging babi. Porsinya pun terbagi atas satu dan setengah, yang membuat saya menyesal sudah memesan porsi satu. Banyaknya nggak tanggung-tanggung. Asal nama Mi Ce adalah Mi Cina, karena memang resepnya dipegang oleh keluarga Cina Sangihe.
Besoknya kami melanjutkan ekspedisi kembali, tapi kali ini kami akan mengunjungi kapal karam yang hanya berjarak 10 meter dari dermaga Tahuna. Kapal tersebut karam sejak jaman penjajahan Jepang, kurang lebih tahun 1943. Meskipun lokasi berbaringnya kapal karam hanya sekitar 14 meter dari permukaan, tapi karena keruh kami tidak bisa melihatnya dari permukaan. Setelah didekati, kalau saya sih jangan kira karena jago navigasi, cukup menguntit diver depan yang pastinya udah tau dengan pasti posisinya, dan terlihatlah bagaikan bongkahan batu super besar membayang hitam di depan.
Kapal cargo yang namanya masih belum diketahui ini masih dalam kondisi utuh, tidak terbelah serta posisinya berdiri stabil. Seluruh permukaannya tertutup sempurna oleh coral yang tumbuh subur, sehingga tidak menyisakan sejengkalpun ruang di permukaannya. Wreck ini sudah menjadi rumah bagi beragam biota laut yang berbahagia. Saya sempat melihat blue spotted sting ray ngumpet di bagian bawah, bersebelahan dengan rumah beberapa mantis. Dasar wreck mencapai kedalaman 22 meter pada saat air pasang.
Bagi penggemar hewan-hewan macro pun disini dapat dipastikan mempunyai potensi macro yang besar. Sempet ditarik masuk kedalam oleh Pinneng, berusaha bergerak semimim mungkin agar tidak menghamburkan lumpur yang menjadi dasar wreck tersebut. Tapi semakin masuk, rasanya imajinasi semakin ngaco aja. Kok saya jadi membayangkan akan diserbu bajak laut? Jadilah saya balik menarik Pinneng keluar hahahaha…

Bersambung