Mejelajah Raja Ampat part 4

“Bangun.. bangun..!!” Kembali suara merdu MC Ope bergema di pagi yang syahdu itu, merobek-robek dan membuyarkan ketenangan yang ada.

Tapi kali ini saya nggak kepikiran untuk melempar sandal padanya, karena tanpa disuruh pun saya sudah bangun dengan semangat beberapa saat sebelumnya. Bangun jam 4 pagi di Raja Ampat menjadi satu hal yang mudah dilakukan. Lagian kayanya rugi juga lempar sandal ke Ope, kalo nyemplung susah ambilnya…

Apalagi pagi ini kami semua akan menuju Wayag, salah satu pemandangan luar biasa, jagoannya Raja Ampat yang telah terkenal ke seluruh dunia. Mana mungkin mengeluh. Bahkan persiapan telah dilakukan dari malam sebelumnya.

Beberapa hal yang telah diwanti-wanti adalah memakai sepatu atau sandal gunung yang cukup terlindung karena kondisi permukaan karang yang tajam serta derajat pemanjatan yang mencapai 80 derajat. Wow!

Celana panjangpun menjadi hal yang wajib kami kenakan untuk melindungi kulit dari gananya karang-karang tajam nanti. Tapi harus bersiap juga untuk terjemur kepanasan, apalagi pada saat kami mencapai Wayag nanti, matahari akan cukup tinggi, memanggang ubun-ubun. Bodo ah dengan celana panjang, saya tetap pilih celana pendek!

“ Mana hape gue yaaa, tadi disini koook” Dokter Minet sibuk ngubek-ngubek tasnya
“Ini juga masker gue kok tiba-tiba nggak ada yaaa” Beben si jangkung ikutan heboh pagi itu. Sepertinya memang semua barang mendadak hilang pada saat-saat mepet seperti ini.

Kami tentu saja pengen tampil maksimal dengan peralatan perang yang maksimal pula, selain kostum yang harus dipersiapkan, masker dan snorkel haram hukumnya kalau sampai ketinggalan, apalagi ketinggalan Lumia 1020… Sial itu namanya.

Ditemani semburat cantik malu-malu dari matahari pagi itu, kamipun bersiap untuk membelah perairan Raja Ampat. Wayag.. here we come!

Sekitar 3 atau 4 jam perjalanan saat itu, lumayan banget untuk menlanjutkan tidur yang sempat terpotong, sehingga saat tiba di Wayag kami sudah segar kembali, siap untuk mendaki bukit manapun demi memuaskan hasrat berfoto di puncak dengan latar belakang pulau-pulau keren.

Ternyata ada 2 lokasi pendakian, lokasi lama dan baru, rupanya kami memutuskan untuk mencoba lokasi baru yang lebih dekat jarak ke puncaknya, namun lebih brutal dalam usaha karena tingkat derajatnya yang nyaris tegak lurus.

Satu persatu kami turun dan memanjat dengan cara berbaris. Lumayan banget memang, dan saya merasa bersyukur karena pada akhirnya memutuskan untuk memakai celana pendek. Panasnya itu loooh …

Dengan napas terengah-engah, mencoba mencari pijakan dan pegangan yang stabil untuk terus menarik diri maju dan maju. Semakin lama semakin besarlah harapan untuk melihat apa yang nanti akan menjadi bayarannya. Setimpalkah dengan usaha ini.

“Ini fenomena… Bamos kembali ikut naik!” Bang Zoel sang empunya hajat mengumumkan di tengah perjalanan. Rupanya salah satu rekan yang bernama Bamos dan berbadan bongsor itu nggak mau ketinggalan juga. Setelah pendakian bukit Cendrawasih dihari pertama, Wayag pun mau dijajalnya.

Dan benar saja, apa yang kami lihat saat tiba diatas benar-benar membuat napas tertahan. Pantas saja Wayag sangat terkenal, wong pemandanganya benar-benar luar biasa begini! Saatnya foto yang bercerita

Usai Wayag kami langsung melanjutkan ke Desa Kawe, desa yang memiliki dermaga super cantik dengan ikan-ikan berseliweran manja disekitarnya. Bahkan ada si Hiu black tip berenang-renang malas diantara karang-karang dengan cueknya. Wah jarang-jarang bisa liat hiu berenang bebas terlindungi begini. Penduduk desa tidak memburunya meskipun sirip hiu mahal harganya.

Raja Ampat adalah daerah pertama yang memberlakukan perda larangan perburuan hiu. Top predator lautan ini sangat terancam keberadaannya sekarang setelah isu khasiat sirip hiunya yang bahkan hingga kini tak terbukti keampuhannya, yang ada hanyalah mengurangi jumlah hiu secara drastis.

Apalagi Hiu juga lebih berharga dan mendatangkan keuntungan lebih besar saat hidup dibanding saat sudah mati. Wisata penyelaman hiu dapat mendatangkan turis dalam jumlah banyak dan dalam jangka waktu yang berkesinambungan.

Dan benar saja, di desa Kawe kami bisa melihat schooling Noci ( bahsa lokal yang saya nggak tau bahasa Indonesianya ) sangat dekat di permukaan!! Clown fish alias Nemo pun bermain-main dengan genitnya di kedalaman 60 cm. Ck ck ck…

Akhirnya dengan berat hati kami harus meninggalkan  Kawe untuk menuju Bianci, salah satu kampung Muslim yang ada untuk menyerahkan sekadarnya bantuan berupa Al’Quran. Jalan-jalan sambil beramal ini judulnya J

Tidak sepenuhnya setiap cerita itu ditutup dengan hal-hal yang enak-enak saja, karena pada perjalanan baliknya kami mengalami masalah mesin yang mengharuskan kami untuk rela terombang ambing selama 7 jam di lautan. Kondisi ini masih bisa ditangani dengan baik berkat bantuan boat yang satu lagi. Jadi konsidinya mirip-mirip motor habis bensin kemudian didorong oleh motor lain menggunakan kaki. Boat yang saya tumpangi bisa bergerak setelah diikatkan pada boat yang satu lagi. Meskipun kami harus berbagi air minum dan mie instant yang jumlahnya sangat sedikit itu, kejadian ini justru mempererat kebersamaan kami, dan pastinya nggak akan terlupakan. 😀

all pics taken with Nokia Lumia 1020

Menjalajah Raja Ampat part 3

Pagi yang cerah ditmpali dengan warna warni menclang mencolok mata.. Inilah yang langsung saya lihat begitu membuka mata. Hei, ini kan Raja Ampat, bukan di tempat senam? Ah jadi inget waktu jamannya saya sok ikut-ikutan kelas senam nyokap, dimana para tante-tante bersemangat mebalut tubuh mereka saat melakukan aerobik. Saya juga ikutan menclang lah pastinya hahahaha….

Yak, ternyataoh ternyata.. pagi ini saatnya ber SKJ ria, hayoooo angkatan 80 dan 90 an pasti tau niiih. Senam Kesegaran Jasmani yang biasanya dilakukan tiap jumat pagi di halaman SD atau SMP. Yang pasti pas saya SMA sudah nggak jamannya lagi tuh SKJ-an. Jaman dimana kalau lupa bawa kaos olahraga rasanya ngeri banget, pasti di nyap-nyap sama guru tuh. 

Satu persatu teman sekamar saya mulai memamerkan busana 80’s nya untuk SKJ pagi ini. Sudah menjadi tradisi untuk trip Tamasya Hati melaksana SKJ di salah satu paginya, dengan kostum ekstrim. Semakin memalukan semakin baik. Kali saya kebingungan karena tidak menyiapkan kostum apa-apa. 

“Haah, curaaang itu, nih pake atasan nyokap gue ajaaa..” Kata Wika si diver satpol pp, yang menjamin kamar kami aman tentram bahagia dan sejahtera. Ia menyodorkan atasan milik ibunya dulu yang cuma selebar 8 cm saja!! Oh my..

” Nih, lo pake daleman warna ngejreng, trus pake kaos kaki kuning selutut ini, tarki-tarkian gitu laaaahh ” Emmmm… perasaan dulu pas saya sma di Tarki ga kebayang busana gini hahahahah…
Permak sana, permak sini, jadilah saya disulap menjadi gadis modis berambut pendek yang berbaju layer dan berkaus kaki gonjreng, siap mengikuti tradisi Tamasya Hati. Ya ampuuuuunnn… malu banget mau keluar kamar! Tapi intip punya intip, hei mereka lebih gelo….!! Look at these pics LOL!





Yang tadinya malu-malu, jadi kebawa heboh dengan goyang kejut bahu dan goyang pinggul. Cowo-cowonya juga nggak kalah gilanya. Puas deh olahraga sambil ketawa-ketawa, nggak pernah kebayang akan melakukan ini… di Raja Ampat!

Nggak pake lama semua kemudian bersiap untuk melakukan perjalanan dengan boat. Kali ini tujuan kami adalah teluk Kabui, teluk disesaki dengan pulau-pulau kecil menjulang, seakan berebutan perhatian kami. Gimana tidak, rasanya kearah manapun kami melepas pandangan, rasanya itu adalah scene yang terbaik untuk dinikmati dan difoto, tapi begitu mengalihkan pandangan ke tempat lain, eh… kok kayanya lebih bagus lagi ya? Jadilah kami sibuk celingak-celinguk bagai burung kakatua yang digoda buah pepaya #loh.


Salah satu primadona disini adalah batu pinsil, batu yang menjulang langsing bak model ini memang memaksa mata untuk tidak mengalihkan perhatian daripadanya. Disebut juga mini Wayag, teluk yang terletak diantara Pulau Waigeo dan Pulau Gam ini memang luar biasa. Air yang jernih seakan mengundang untuk diselami, dan memberikan perasaan galau yang amat sangat pada saya waktu itu… Soalnya panas, kan enak kalo nyebur hehehe.


coba tebaak, mana yang batu pinsil?

Indah di semua sisi


Air sebening kaca
Meneruskan perjalanan dari Teluk Kabui, kami mampir di desa Wawiyai untuk melakukan baksos. Jadi emang trip kali ini tidak cuma untuk jalan-jalan sambil menjajal Lumi 1020 saja tapi juga memberikan sekedarnya kepada desa-desai disekitar penginapan.

Penduduk Wawiyai menyambut dengan penuh semangat, apalagi anak-anaknya. Mereka tidak malu dengan serbuan para fotografer ber hp kuning, dan dengan senang hati mau berpose. Tujuan kami adalah mengajarkan pada anak-anak desa Wawiyai, bagaimana cara mencuci tangan dan menyikat gigi yang benar. Ups.. saya juga kayanya belum tentu menjalankan yang dikategorikan dengan ‘benar’ selama ini.

Diselingi permainan-permainan, mereka tampak bersemangat sekali untu belajar, apalagi masing-masing adak mendapatkan satu bingkisan berisi sikat gigi, pasta gigi, dan gelas kecil untuk berkumur lengkap dengan tutupnya. 

Usai bermain dan belajar, malam harinya kami melakukan nobar, nonton bareng film Garuda di Dadaku, yang pastinya akan menumbuhkan niat di beberapa anak untuk menjadi pemain bola profesional deh hehehe.. Terharu banget melihat muka-muka ceria mereka 🙂

pic by @jheungrhie

sama-sama belajar cuci tangan yg benar 🙂

pemutaran film Garuda di Dadaku

all pics taken with Nokia Lumia 1020

Menjelajah Raja Ampat part 2

“Banguuuun… sudah jam 4!!”
Wah gelo tuh yang tereak-tereak pake toa di tengah malam gini. Belum pernah kelilipan sendal apa ya.. Ntar dulu, jam 4 disini berarti kan jam 2 di Jakarta yaaaa? Duh…

Butuh waktu beberapa saat hingga saya menyadari situasi sebenarnya. Si gelo yang minta kelilipan sendal itu adalah MC tercinta, MC Ope kita yang berjasa besar membangunkan semua perserta rombongan di pagi buta untuk segera bersiap ngecengin Cendrawasih di atas bukit. Rasa kantuk meskipun mustahil hilang, lumayan terusir dengan iming-iming bisa ngeliat Cendrawasih secara live. Wuih cantik banget pasti tu burung.

Rupanya perjuangan tidak semudah yang saya bayangkan. Tanjakan di bukit Cendrawasih bukan jalan yang mudah, apalagi dilakukan di pagi hari saat seharusnya leyeh-leyeh ngupi sambil ngecengin laut jernih depan kamar. Dengan mata sepet, napas terengah-engah, betis pegal dan mulut setengah mangap, kami terus melaju membelah hutan menuju tempat mangkal si Cendrawasih. Berkali-kali kami diingatkan supaya tidak berisik, takutnya Cendrawasih nya ge-er dan menyingkir.

Larangan tidak boleh berisik bukan berarti lantas semua jadi diam. Bisik-bisik berisik pun tetap berlangsung selama pendakian dan penantian, yang kemungkinan jadi penyebab kami tidak bertemu si cantik dari Papua itu, selain kami juga terlambat berangkat tadi subuh. Sebagai gantinya, foto-foto dialihkan ke arah laut untuk menangkap keindahan pulau-pulau dari ketinggian.

tuh, nggak ada capek2nya ya mukanya…

pose bentar ala gadis hutan asik sendiri…

yoga di atas pu’un
pemandangan pengambil napas ( breathtaking view 😀 )
nyobain macro

gangguin kelas anak2 Saporkren 😀

” Kudu bayar 200 ribu per lima orang kalau mau kasih makan ikan disini” Jelas Bang Zoel begitu kami merapat di dermaga desa Sawinggrai. 

Yak, di desa ini memang kita bisa memberi makan para ikan-ikan yang heboh melahap apapun yang dilepamparkan ke laut selama masih dalam kategori makanan. Maka kita juga nggak bisa sembarangan memberi makan ikan-ikan itu, penduduk setempat sudah menyiapkan hidangan khusus konsumsi ikan yang rupanya mirip-mirip mash potato.

Jangan berani-berani menginjak karang disini kalau nggak mau kena semprot bapak-bapak yang selalu mengawasi kelakuan para tamunya. Masyarakat lokal disini memang sangat menyadari, bahwa keutuhan ekosistem di sekitarnyalah yang memberi pemasukan secara tetap pada desanya. Dengan mereka menjaga coral serta ikan-ikan yang ada, tamu terus berdatangan untuk menikmatinya. Kalau sampai mereka merusaknya untuk keuntungan instant semata, hanya saat itulah uang masuk dan selanjutnya tidak ada daya jual lagi. Patut diancungi jempol.

bareng mas Kiki, temen nyilem2an
kerja… kerjaaaa
belaga mermaid


all pics taken with Nokia Lumia 1020

Menjelajah Raja Ampat part 1

“Ah.. Jam berapa sih ini, kok rasanya belum sempat tidur ya..”
Susah sekali membuka mata subuh itu di pesawat, matahari belum sepenuhnya menampakkan diri, hanya berupa semburat samar malu-malu.
Celingak celinguk ke sekeliling, terlihat setengahnya dikuasai oleh teman-teman yang akan menjadi rombongan saya menjelajahi Raja Ampat dalam 5 hari ini. Kami adalah orang-orang yang beruntung untuk dapat mencoba kecanggihan Nokia Lumia 1020 yang kameranya keterlaluan kerennya dengan 41 mega pixel, plus fitur-fitur seru yang ada di dalamnya.
Selain itu oom oom simPATI juga ikutan mensupport kami dengan networknya yang memang menggapai hingga ke ujung-ujung negri yang super luas ini. Awas yaaaa kalo kita ga bisa upload instagram nanti di dalam laut Raja Ampat yang indah hahahahaha…
Dan teman teman Tamasya Hati yang membuat semua ini terlaksana, bahkan mereka dah survei segala untuk memastikan semua berjakan lancar. Wuiih sombong banget tuuh tim surveinya.. Ke Raja Ampat 2 kali dalam sebulan!!! Buat sirik aja.

Raja Ampat sendiri sudah menjadi impian saya sejak lama. Aktif traveling buat tv bukan berarti sudah bolak-balik ke Raja Ampat. Dari semua pertanyaan yang paling sering dilontarkan adalah ” Raja Ampat itu keren banget ya, pasti lo dah pernah kesana deh..” Berdasarkan pertanyaan itu dan melihat foto-foto yang ada serta gencarnya promosi ‘surga’ tersebut, nggak salah juga kan kalau niat untuk menjajal Raja Ampat jadi menggebu.
Perjalanan subuh memang cara yang sangat efektif untuk memanfaatkan waktu sebaik mungkin, meskipun dengan resiko muka bantal seharian. Jangan kawatir, biar muka bantal atau muka guling sekalian, antusias kami begitu tiba di Sorong nggak bisa terbendung. Bahkan sempet-sempetnya saya berfoto iseng di depan bus yang mengantar kami untuk hunting foto di pasar Remo. Suka deh dengan kombinasi warnanya.
Awalnya saya sempat agak pesimis untuk dapat memfoto masyarakat lokal disini. Beberapa kali dengar cerita dari teman-teman kalau mereka susah untuk difoto, bahkan meminta ‘upah difoto’ segala. Wuiiih.. udah nyaingin model profesional yaaa, kalo mau difoto kudu bayar dulu, saya aja masih murahan banget.. tiap ada kamera yang diangkat langsung pasang pose 🙂
Ternyata kekawatiran tidak beralasan. Bukan saja mereka sangat terbuka dan ramah, malahan kita dipanggil-panggil..
” Hei foto mama dulu… ” dan secara sepontan sang ibu mengangkat sayuran jualannya untuk difoto.
” Mau foto sama-sama boleh?” Naah, bapak yang jual ayam ini malahan minta foto bareng saya, kebalik paaaakkk…. saya yang mau hunting foto.
Waktu satu setengah jam yang diberikan pastinya molor jadi dua jam hehehe. Tau sendiri kalau fotografer dah hunting, sama aja kaya surfer lagi asik-asik surfing trus dsuruh balik ke pantai.
Perjalanan segera dilanjutkan setelah kelar makan siang. Menggunakan 2 speedboat, kami melaju kencang membelah lautan. Seneng banget rasanya, soalnya biasanya itu membelah kemacetan ibu kota.
Lumayan banget 4 jam bisa bayar kekurangan tidur di malam sebelumnya. Posisi tidur duduk yang biasanya tidak nyaman, saat itu serasa seenak spring bed hotel berbintang. Malahan kadang mulut lupa dikontrol dan terciptalah gerakan menganga yang menjadi objek foto teman-teman lainnya.
Nggak pake lama, sampailah kami di Deborai Resort. Wooooow, akhirnya tiba di Raja Ampat!!! Resort yang terletak di pulau URai ini, kamar-kamarnya cuma berlantai kayu dan berdinding bilik!! Halaman kamarnya laut jernih tempat ikan-ikan pada ngegosip. Mau dooong punya rumah kaya gini di Jakartaaaaaa.

Dan sunset sore itu… Ya ampuuuunn… Gini nih yang buat orang susah move on. Ga usah dijelasin deh, liat aja fotonya #sombong

all pic taken with Nokia Lumia 1020