Trip Pacitan

Part 3
Seperti yang telah saya ceritakan pada trip pacitan sebelumnya, Pancer merupakan spot yang on saat musim kering. Tapi rupanya saat kami berkunjung di des-jan ini, kondisi pasir dan angin yang tepat membuat point Pancer terbentuk lagi. Bahkan lebih baik dari apa yang kami alami tengah tahun yang lalu.
Barrel tiada henti. Kalau biasanya barrel diikuti dengan rasa dag dig dug karena pastinya ombak yang terbentuk dari dasar karang yang dangkal, kali ini Pancer menhadirkan barrel dengan dasarnya yang pasir!! Ini playground.
Hanya saja sekilas bagi yang melihat di foto pasti bingung dengan warnanya yang sebelas duabelas dengan coklat susu. Air laut yang biasanya biru atau hijau, disana menjadi coklat pekat dengan rasa payau. Letaknya yang berada di depan muaralah yang membuatnyaa seperti itu. Air sungai yang masuk ke laut, selain menyumbang warna cokalt, juga menyumbang suhu air yang lebih dingin hiii….


Menyempatkan diri juga untuk menyambangi beberapa ‘secret’ spot, yang ditempuh dengan sepenuh jiwa dan raga karena ternyata jalannya susah setengah mati. Tidak bisa dilewati mobil, tapi karena kami menggunakan motor, walaupun matic, plus surfboard disamping, maka masih bisa melewati jalur ekstrim tersebut tanpa berjalan kaki. Eh… saya beberapa kali minta turun sih.. saking ngerinya.
Tapi usaha yang dilakukan terbayar dengan indahnya pemandangan yang ada. Ombak kiri bergelung, terlihat dari kejauhan. Hanya saja sepertinya arah swell kurang pas saat itu, jadi walaupun bentuknya bagus, tetap ada beberapa section ( ombak pecah tidak berurutan).


Cerita naiknya lain lagi. Saking hebohnya melewati jalan berbatu, motor salah satu teman sempat tidak kuat naik, benrhenti, mundur kebawah… dan perlahan-lahan terguling. Bukannya kesakitan, mereka berdua malahan tertawa terbahak-bahak.
Hari-hari terakhir menjelang kepulangan, ombak menjadi besar sekali.
Semua spot sudah terlalu besar untuk dimainkan. Melipirlah kami ke depan lifeguard yang terletak di dekat dermaga di pantai Teleng Ria. Wow! Siapa sangka beach break bisa sesempurna ini? Swell besar tidak mengganggu karena posisinya yang agak mojok. Dengan hanya ditemani 2 orang lain, Pak Harry dan Rian, serta 2 orang pemula dari Cesnya, saya surfing sepuasnya disana berjam-jam. Bukan lelah yang memaksa saya keluar dari air, tapi rasa lapar J
Menurut penuturan local, spot disamping dermaga ini sebelumnya jauuuuuh lebih bagus. Ombak kanan barrel yang sempurna berdasar pasir. Lha, apa yang terjadi? Kenapa hilang? Ternyata karena penambahan dermaga lah yang menghilangkan ombak yang telah terbentuk secara alami itu. Teman-teman local sempat memperjuangkan spot ini mati-matian, tapi apa daya, tetap dihancurkan.
Contoh klise dari ketidaktahuan pemerintah daerah akan potensi besar wilayahnya. Dimana Negara lain membuat ombak buatan dengan biaya mahal, sebut saja Singapore, Malaysia, Jepang dan Dubai… kita dikaruniai ombak alami yang sempurna, dimana turis datang karena ombak itu dan menyumbang devisa bagi Negara, dan arena ketidaktahuan, dihancurkan…
Kondisi pantai Teleng Ria sendiri, yang menjadi langganan dikunjungi pengunjung local juga menggemaskan. Saya pertegas, bukan mengenaskan, tapi menggemaskan.. karena tingkat kejorokannya masih jauh dibawah pelabuhan ratu saat saya kesana. Tapi yang menggemaskan adalah ‘kepolosan’ pengunjung untuk membuang sampah… hanya beberapa meter dari tempat sampah.
Pisau bermata dua. Inilah yang saya rasakan untuk sentuhan pemerintah pada daerah-daerah indah berpotensi di Indonesia. Semua berawal dari pengetahuan, informasi dan mental. Pacitan mempunyai potensi yang sangat besar, yang mudah-mudahan dapat terus dijaga seperti apa adanya sekarang.

Pacitan trip

saya suka foto ini 🙂 nyolong dr fb nya Salini..

part 2

Rupanya memang suasana di Pacitan ini membuat saya ingin kembali dan kembali lagi. Buktinya saat menjelang tahun baru dan setelahnya ini saya memilih Pacitan sebagai tempat untuk melewatkan akhir tahun. Tenang, damai dan ombak setiap hari… what else can be better?

Kalau sebelumnya saat tengah tahun kami berpesta pora dengan ombak Pancer, point yang biasanya ‘on’ saat musim kering, kini kamu mengincar point Srau, yang katanya lebih serius sedikit, dengan pantai yang indah. Hmmm.. sensasi yang berbeda pastinya.

Pada hari-hari awal kami di sana, swell memang belum masuk, hanya sekitar 3-4 ft. Tapi justru swell kecil ini yang ternyata cocok dengan beachbreak yang ada di depan homestay. Nama beachbreaknya? Err, sebut saja Harry’s point, secara letaknya berada di depan homestay kepunyaan pak Harry.

Setelah sarapan yang dilakukan bersama-sama dengan para penghuni homestay lainnya, yang semuanya merupakan turis luar, tidak ada kata menunggu lagi untuk langsung nyebur. Acara masak-memasak itu sendiri pun seru. Semua tamu membuat makanannya sendiri. Baru sekali ini saya melihat konsep homestay yang demikian mandiri. Kadang kita bisa curi-curi menu dari tamu lain, melihat langsung pembuatan makanan ala luar negreeehh… pastinya nggak pake ulek-mengulek yaaah.

Biasanya rasa malas timbul karena point surfing yang terlalu rame, ini malah kebalikannya. Saya bisa merasa malas surfing karena tidak ada teman surfing!!! Amazing. Obak sekelas Halfway di Kuta, Bali, tapi yang main hanya saya dan Andryz, kadang ada tambahan beberapa orang tamu. Yang ada bolak balik paddle ambil ombak sampai pegal. Sayang sekali saya hanya bawa thruster 5’7” dan 6’0”, tidak kepikiran sama sekali untuk membawa funboard. Memikirkan dengan rindu pada biscuit 5’6” dan pod dengan ukuran yang sama. Pasti teman-teman surfer di Bali yang baca ini jadi super sirik hihihihi…

beachbreak bagus dan kosong..


Swell mulai datang..

Point Srau membutuhkan swell yang lebih besar. Letaknya sekitar 30-40 menit dari Teleng ria, arah yang sama dengan Watu Karung. Watu Karung merupakan magnet bagi Pacitan. Point inilah yang di ekspose habis-habisan di media. Tapi jangan tanya kenapa saya nggak main disana. Bagus sih bagus, cuma sangarnya juga nggak ada duanya. Mang Kelly ( panggilan sayang saya terhadap Kelly Slater yang 11 kali juara dunia) aja bisa baret-baret punggungnya gara-gara kegulungparah disana. Sayang sekali tidak bisa hadir untuk menghibur dia #mimpisiangbolong 😀

Pertama kali mencoba ombak Srau, saya cukup bingung dengan breaknya yang sangat dekat dengan  pantai. Bukan berarti kalau ombak pecah dekat pantai berarti enak ya.. masalahnya kan shorebreak ( ombak pecah di bibir pantai secara bersamaan, dan biasanya keras ) harus cepat dihindari dengan pull out dari ombak di saat yang tepat. Mana sempat gaya-gayaan doong..

Belum lagi jernihnya bukan main, memperlihatkan dengan jelas apa yang ada di bawahnya, karang-karang sehat yang siap menorah oleh-oleh pada surfer yang sial. Srau left, atau yang disebut juga dengan point ‘belakang portal’ karena letaknya yang pas di portal masuk area wisata, adalah point andalan di area Srau, karena saingannya ‘Pancingan’ cukup bermasalah untuk dipakai para surfer.

pic. by Pak Wid

pic. by Pak Wid

Salini, the surfer girl 🙂 pic. by Pak Wid
Salini, saya dan Novi dr Bandung




Pancingan yang mendapatkan namanya karena disana merupakan spot favorit juga bagi para pemancing local, mempunyai bentuk ombak kanan yang sempurna, dan bahkan mempunyai barrel juga. Saya sempat mencobanya sekali bersama Salini, surfergirl local Pacitan yang cantik dan berbakat ( hei.. she’s still 14 guys J) dan saat itu terjadilah adu mulut antara pemancing dan Salini.

Rupanya mereka tidak menyukai keberadaan surfer. Menurut mereka, surfer menghalangi ikan-ikan yang hendak memangsa umpan mereka. Hmmmm.. sepertinya mereka belum pernah mencoba tehnik popping, dimana ikan memang tertarik pada sesuatu yang bergerak. Adu mulut antara bapak-bapak pemancing dan suara anak-anak Salini benar-benar memperlihatkan kondisi sulit yang dialami. Bahkan setelah itu terjadi lagi bentrokan yang melibatkan parang dan senjata tajam lainnya. Oh well… sudah waktunya dilakukan sesuatu yang menyenangkan kedua belah pihak.

Pacitan nggak sendirian mengalami masalah seperti ini. Pengalaman yang sama saya rasakan ketika diving di Lembeh. Para nelayan juga melarang diver untuk diving di perairan depan kampungnya, dengan alasan mereka tidak bisa tarik jarring. Penyelesaian dengan musyawarah pun tercapai pada akhrinya, dengan win-win solution. Sebaiknya memang semua dibicarakan baik-baik.

Ok, kita kembali ke Srau left atau belakang portal tadi. Ombak inipun tidak semudah yang saya duga. Take off cepat benar-benar merupakan kunci kesuksesan. Kiri pula… Emang kenapa ombak kiri? Saya adalah regular footer, dimana kalau ombak kiri berarti saya harus membelakangi ombak dan harus menoleh serta memutar bahu menghadap ombak. Usaha ekstra.

Beberapa hari pertama saya merasa seperti baru belajar surfing, Wipe out atau telat take off dan berjalan di buih menjadi langganan. Rupanya memang harus lebih sering main di ombak kiri. Pada hari ke-3 barulah rasanya lumayan bisa menguasai ombak Srau left ini, dan melakukan sedikit maneuver. Lumayanlah.. demi foto #narsismodeON

Jadi inget pendapat salah satu teman saya yang juga regular, kalau dia surfng di ombak kiri rasanya seperti bukan surfing, tapi cuma sekedar ada polisi tidur saja hahaha.. Kenikmatan dan kepuasan saat surfing di ombak kiri tidak bisa dibandingkan dengn ombak kanan. Padahal harusnya tidak begitu. Ini karena saya lulusan Batrukaras Institute, yang sepanjang tahun ombaknya kanan terus, jadilah perlu penyesuaian lagi untuk ombak kiri.

to be continue…

Winter Surf

Ombak Pancer inside

Akhirnya wetsuit kepake juga selain buat diving

good in high tide

crew pencari ombak: Chelsea, saya, Race,Andryz, Pak Hari, Gayung, Fani, Doyok, Joshua, TIna dan Edo

Dipan bawah yang berfungsi sebagai penyimpanan boards atau tempat nongkrong

alat transport kami selama disana

peringatan di Watu Karung yang berarus keras

Wetsuit dan windbreaker, ini benar benar musim dingin 🙂

Watu Karung

Chelsea, saya dan Salini, surfer cilik dari Pacitan

dingin tapi tetap semangat

Harry’s losmen

ombak kiri di Watu Karung

ombak kanan Watu Karung

ombak Pancer di sore hari

wisata kuliner di alun alun kota
Bisa dibilang racun  pertama itu dari teman kami yang ada di Batukaras, Fani. Foto foto dan ceritanya tentang Pacitan  bener bener ngalahin promosi tukang jual obat. Rasa penasaran sudah ada sejak lama, setelah terkumpul beberpa teman yang juga tertarik untuk melakukan surf trip ini maka berangkatlah kami berempat.

Pacitan sendiri bisa dicapai dengam dua cara, jalan darat yang dipastikan melebihi 12 jam yang..  maaf, untuk saat ini rasanya terlalu menyiksa duduk selama itu. Kedua  adalah jalur udara. Kami memilih terbang ke Jogja dari Jakrarta selama 1 jam dan disambung jalur darat selama 3 jam melalui jalur alternatif  Pracimantoro – Sedang sebelum akhirnya masuk Jawa Timur, Punung.

Perjalanan 3 jam tidak terlalu terasa karena dihabiskan sebagian besar dengan tidur, maklumlah resiko terbang dengan pesawat pertama berarti harus bangun dari jam 3 subuh!  Walaupun sempet juga mengintip dari sela sela bulu mata, tampak deretan hutan jati dan bukit bukit karang, yang jelas jalannya bagus. Langsung kebayang kenapa jalur surfing di Jawa Barat nggak dijaga supaya perjalanan darat lebih mudah 🙁

Kesan pertama begitu sampai di penginapan yang telah kami pesan, sangat menyatu dengan alam dan apa adanya, dengan cottage kayu bertigkat, dipan bawah khusus untuk menaruh papan surfing dan perlengkapan lainnya. Tidak ada AC, dan memang tidak perlu kalau air flow benar, apalagi saat musim kemarau seperti saat ini, angin dingin dari Australia dijamin bikin beku.

Pantry umum dibuat terbuka hanya dibatasi dua dinding, pendopo untuk makan atau berkumpul, benar benar dibangun untuk surfer, walaupun ga tertutup untuk non surfer tentu saja.

Jarak antara penginapan dan spot surfing Pancer paling hanya 10 menit aja. Tiap hari kami bolak balik melewati jalan berpasir untuk mencapai spot surfing tersebut. Yang paling berkesan buat saya sih nuansa alamnya bener bener berasa di Indonesia bagian timur seperti di Lombok atau Sumbawa. Perpaduan tanah berkarang dan tebing tebing disekitar pantai Pancer memberikan tampilan dramatis.

Memang sudah diperingatkan sebelumnya kalau air laut bakal dingin, dan kami sudah mempersiapkan wetsuit, bukan sekedar rashvest tipis dari bahan lycra, tapi tetap saja shock dengan dinginnya.

Hari pertama saya selesai surfing, ujung ujung jari mati rasa dan kemudian berlanjut dengan rasa kesemutan saat rasa hangat kembali. Begitu juga saat tidur malam, saat subuh tiba rasanya pengen bisa mengecilkan AC alam 😀

Pantai Pancer sendiri memang bagus saat musim kemarau , karena kondisi angin yang berhembus dari Timur sehingga kondisi disana selalu offshore (angin dari arah darat) atau sideshore yang mendukung mulusnya bentuk permukaan ombak. Saat pasang akan memebentuk ombak kanan panjang di bagian dalam, dan saat surut ombak kiri di bagian outside yang bahkan lebih panjang lagi pun terbentuk. Main pasang ataupun surut tidak masalah 😉

Selain Pancer ada juga Serau, yang memilik 4 spot surfing, tapi sayangnya hanya on saat musim penghujan, akhir dan awal tahun. Alasan untuk balik lagi niiih #modus

Nggak afdol buat surfer kalau ke Pacitan tapi nggak ke Watu Karung, spot surfing dengan ombak berkelas dunia , super fotogenic tapi susahnya bukan main saat besar apalagi surut.

Dan saat kami kesana kondisi ombak benar benar tidak bersahabat, besoaar, bumpy, sections.. Duh maaf istilah teknis semua nih, pokoknya intinya bentuknya nggak napsuin deh, buat yang liat pengen di pantai aja nyeruput kopi susu sambil jempol kaki ngorek ngorek pasir. Ah… Yang penting sudah liat kesana dan menyaksikan boogieboarder boogieboarder asal  Australi gila bermain.

Beberapa teman main sih.. Berikut cuplikan kesan kesannya:

Doyok : main ombak kanan, ambil beberapa ombak barrel, kesan dan pesan > jangan main sekarang deh.. Bahaya

Al Gifani : main ombak kiri, ambil beberapa ombak > gila omahknya langsung tegak mana di depan nutup

Joshua : turun di spot ombak kiri, kondisi terus paddle kena arus, ngeri liat ombaknya dan saat duckdive terbanting ke karang dengan lama terjebak di arus selama 30 menit.

Oke.. Keputusan tepat untuk berjemur di tepi pantai.

Untuk urusan makanan kami tergila gila dengan sate tuna diatas dengan pemandangan dermaga. Nggak mungkin nggak nambah deh. Mana sambelnya bagaikan neraka berbalut surga.

Semua lokalnya sangat ramah dan terbuka. Saya bahkan beruntung bisa bertemu dan surfing bareng Pak Dokter Hari sebagai surfer pertama disana. Beliau sangat baik dan surfingnya rajiiiinn.. Pancer seperti kantor keduanya, tiada hari tanpa surfing. Atau malah pantai itu kantor pertamanya yaaa.. Hmmm, mencurigakan.

Demikian juga dengan Salini, surfer girl cilik yang hitam manis, belai belain bolos untuk nemenin kami surfing. Mudah mudahan gurunya nggak baca tulisan ini ya hehehe.. Dan saya jadi mengerti kenapa dia sangat puitis di tiap posting FB nya, wong rumahnya indah banget gini!

Akhirnya kami pamit pulang dengan berat hati meninggalkan semua kedamaian dan keindahan ini. Buat yang nggak tau di Pacitan bisa untuk surfing, selamat terkaget kaget yaaa 😀