Al in Alor part2 – bagian ke 2

 

all pic. by Pinneng
Bagi yang belum baca Bagian 1

Berasa baca cerpen nggak sih 😀
Berasa masih pagi buta ketika Pak Dono ( panggilan sayang Donovan) membangunkan kami semua dengan gedoran mesranya yang stereo pada pintu kamar. Dengan mata masih kriyep-kriyep saya bersiap untuk diving trip hari ini. Kacamata hitam dan sunblock pasti dibawa, hmmmm.. kamera? Ah teman-teman banyak yang membawa kamera plus housing underwater plus lagi strobe, amaaann ( pikiran narsis bekerja)
Usai sarapan perjalanan dimulai, paling nggak membutuhkan waktu satu jam untuk sampai pada titik penyelaman yang pertama di hari kedua ini, Fish Bowl. Setelah pengecekan arus dilakukan, Dono menyuruh kami semua untuk bersiap siap. Entah kenapa saya selalu merasa tegang setiap persiapan dive yang pertama, dan takut kalau airnya dingin, maklumlah… gadis tropis J

Fish Bowl merupakan slope, dan pada hari ini sepertinya lumayan berarus. Saya merasa lumayan kesulitan dengan buoyancy kali ini, apa karena pakai wetsuit double? Yang pasti selama penyelaman kali ini, gaya nungging merupakan gaya andalan saya. Gimana nggak? Sekalinya saya memutarkan kepala, yang ada bawaannya mau naik ke permukaan terus, kan rugi….
Selain ngebut drifting, kami juga ketemu dengan Triggerfish yang demen kejar-kejaran dengan diver, tapi kalaupun kali ini ngejar, saya yakin, dengan bantuan turbo dari arus, kabur dipastikan bisa super cepat J
Penyelaman kedua, kami dibawa ke salah satu dari Top Five versi Dono, Kal’s Dream. Jeng jeeeng… yang saya tau disini arusnya heboooh. Daaan, diliat dari posisinya yang terbuka di tengah begini, darat terasa jauh serta ada arus yang terlihat menggelegak, saya benar-benar ngerasa sakit perut. Ketika semua bersiap siap turun pun, saya memutuskan untuk menambah pemberat satu kilo lagi. Nggak mau ambil resiko harus nungging-nungging di Cal’s Dream
Briefing menegangkan pun dimulai, singkat saja: bersiap merangkak kalau dibutuhkan… Glek.
Turunlah kami semua, dan… memang merangkak, mencari pegangan di celah karang langsung dibutuhkan. Memilah milih tempat berpegangan sambil menarik tubuh untuk maju, seru juga ternyata.. Ternyata pegangan itu tidak lama dibutuhkan, karena saat berikutnya arus menghilang dan kami dapat menikmatinya tanpa berjuang.
Coral padat berwarna warni, ikan ikan yang sibuk berseliweran kesana kemari, sampai berasa di pasar. Kami menyelam sampai di kedalaman 32m, tapi sayangnya ketika itu kami tidak bertemu dengan ikan tuna sepanjang 2 meter yang katanya sering terlihat disana. Hmmmm… alasan untuk kembali lagi rupanya.
Sebagai gantinya kami sempat melihat seekor penyu yang dengan santainya melayang-layang dari kedalaman, menuju hampir lurus kearah saya tapi kenapa dia harus berbelok? Padahal sudah ge-er mau disamperin penyu.
Saat naik untuk melakukan safety stop, kami harus berpegangan pada seutas tali karena dibagian tersebut arus cukup kencang. Kalau sampai lolos mengincar tali tersebut… wah, bakalan harus berjuang sekuat kaki mengayuh untuk kembali pada tali itu. Tapi teteeeup, wlaupun harus fokus berpengan pada tali saat safety stop, acara foto-foto tetap nggak ketinggalan.
Penyelaman ketiga pada hari kedua inipun dilakukan di titik yang menurut Dono, termasuk Top Five pilihan dia.  Mike’s Delight. Yang seru kami dibawa melewati dua batu besar pada kedalaman 20-an meter, daaaan kami juga melihat reef shark dari kejauhan, sepertinya black tip. Dia nggak ada niat untuk mendekati kami sama sekali, yak saya yakin kami nggak terlihat lezat baginya J Selain itu terlihat juga penyu dan dan Barracuda ketika kami menuju tempat yang lebih dangkal. Dan ketika waktunya untuk safety stop kami disuguhi schooling Surgeon Fish yang dapat didekati tanpa membuat mereka bubar.
Seakan moment berikutnya sudah diatur, seorang bapak nelayan setempat dengan kacamata kayunya ikut berenang dan menyelam bersama saya saat saya akan menyudahi sesi penyelaman terakhir hari ini. Wow!! Benar benar moment yang menyenangkan, sang bapak mau diajak berfoto bersama, ternyata jiwa narsis kami nyambung hahahahaha…
Hari berikutnya datang dengan cepat, istirahat semalam seakan tak cukup lama selama dive trip di Alor dengan segudang jadwal divingnya. Hari ini kami menuju daerah yang terletak lebih ke selatan, lebih terekspose arus dingin dari bawah. Jeng jeng… inilah ketakutan saya selama ini, air dingiiinnn!!!
Satu persatu turun, dan saya berusaha memperhatikan mimik muka mereka, seberapa kedinginankah mereka. Dan ketika tiba waktunya teman yang saya lupa asalnya, tapi yang pasti Negara Eropa yang harusnya sudah terbiasa dengan suhu dingin, mengerutkan muka karena kedinginan, saya benar-benar pasrah…
Berbekal wetsuit dobuble, akhirnya saya memberanikan diri turun di Slab City. Saat itu benar benar tenang, tidak berarus, dan suasana dibawah berasa di aquarium dengan beragam coral dan ikan ikan kecil berwarna warni berseliweran ceria. Damai sekali. Saking damainya, tidak perlu banyak bergerak mempertahankan posisi, sehingga air dingin makin terasa. Entah berapa kali saya pipis di dalam wetsuit ( sssst.. jangan bilang-bilang).
Hal menarik pertama yang kami temukan adalah Sea Apple, binatang laut yang masih saudara dengan timun laut, berbentuk bundar menggemaskan dengan tentakel di kepalanya yang berfungsi menangkap plankton dari air di sekelilingnya dan membawanya ke mulut yang terletak tepat di tengah atasnya.
Berikutnya kami melihat tiga ekor eagle ray bermain di kejauhan, saling mengitari dan segera menjauh begitu melihat grup kami.  Tidak lama kemudian, giliran Sea Snake yang kami temukan, Warnanya yang belang-belang hitam putih demikian mencolok, mustahil untuk melewatkannya. Meskipun bisa nya mematikan, tapi sea snake ini pemalu serta lumayan imut mukanya dengan ukuran mulutnya yang kecil. Tetap ya, nggak dianjurkan untuk mengganggunya.. kalau dia sensi kan gawat.
Semua memuji site dive ini, semua setuju kalau melakukan penyelaman disini rasanya seperti didalam aquarium versi raksasa. Saya setuju banget, diluar kulit keriput yang kedinginan tentunya..
Penyelaman selanjutnya adalah Cathedral. Dono benar benar serius dalam briefnya kali ini, semua harus berkumpul dulu, masuk pada saat yang bersamaan, kapal tidak bisa terlalu dekat dengan titik penyelaman yang sangat mepet tebing. Karena dari sinilah kami akan turun kedalam gua dengan kedalaman 18 meter, dan keluar lagi di pintu lain di 24 meter. Terdengar menyenangkan, dan inilah kami semua berkumpul sebelum bersama sama turun..
Saya sempat kaget karena ada pemberat yang tiba-tiba melayang. Belum habis rasa kaget itu, pemberat lain kembali jatuh, tepat disamping kepala saya. Wah gawat, seseorang kehilangan dua pemberatnya, dan benar saja, begitu saya melihat keatas, seseorang sedang  jungkir balik bersama Dono. Singkat cerita kami semua berhasil turun dengan selamat.
Langsung menuju mulut gua, cukup terang sehingga tidak perlu membawa senter, saya melihat seekor reef shark, seekor white tip, merasa terganggu tidur siangnya dengan kehadiran kami. Ia terlihat gelisah dan mondar mandir di pojok ‘kamar’nya mencari celah untuk kabur, yang cukup sulit rupanya dengan jumlah penyelam demikian banyak. Tapi begitu ia mendapatkan kesempatan itu, pada celah yang kecil sekalipun, dan celah itu terletak diatas kepala teman kami yang cuma bisa tercengang dengan kamera di tangan saat sang hiu melesat.
Di pintu keluar, rombongan sweet lips sudah menunggu dan mondar mandir, tapi segera bubar begitu kami keluar. Mengitari pintu gua menuju wall yang sangat indah, bergantungan elephant ears dimana mana, bisa ditebak sendirilah dari namanya bagaimana bentuknya. Tapi dari sekian banyak elephant ears, ada satu yang saya perhatikan, karena di yang satu terdapat Hermit crab berjalan pelan ke ujungnya. Saya penasaran apa yang terjadi kalau sang crab tetap berjalan, apakah ia akan terjun bebas ke dasar jurang dibawah saya? Akhirnya ia mencapai ujung elephant ear, dan…. Ia berbalik saudara-saudara!!! Tontonan selesai..
Sisa penyelaman hari itu tentu saja banyak kami habiskan pula dengan foto foto, di bawah air. Dengan jari telunjuk dan ibu jari disatukan, sementara schooling ikan ikan kecil diatas kepala kami menjadi background yang pas!
Tamat – untuk saat ini hehehehe…

AL in ALor part 2

 

 

bagian pertama
Dendam terbalaskan, saya kembali ke Alor membawa sejuta harapan untuk akhirnya bisa diving setelah kunjungan pertama gagal total nyebur, dan hanya bisa dipuaskan dengan celup celup badan. Dalam tiga hari kedepan, saya nggak mau setengah setengah menikmatinya, banzaaaiii!!!
Hari pertama kami cek dive di Sebanjar, saya sudah siap siap dengan reputasi dingin di Alor, mengenakan wetsuit atasan setebal 1mm dilapis wetsuit full 3mm, hmm Robocop is in da houseee 😀 Ternyata begitu nyebur, tidak separah yang saya duga. Sebanjar ini merupakan slope, dan ketika itu kita sedikit melakukan drift dive, ngikut arus biar nggak cape.
Tanpa disadari dive pertama saya ini juga merupakan dive terdalam saya, 40m!! Konon katanya, di Alor ini memang suka nggak kerasa kalau kita dive lumayan dalam, karena visibility nya yang super jauh, matahari tembus hingga jauh pula. Yang tadinya saya bergidik kalau dengar cerita orang dive dalem dalem, sekarang bisa dialami sendiriiii  😀 Pada dive pertama di hari pertama ini, saya menemukan coral berbentuk brokoli berwarna pink, namanya Spiky soft coral yang mengingatkan saya akan tumis brokoli bawang, tapi nge-punk
Dive kedua saya melepaskan satu lapisan wetsuit 1mm ( belagu mentang mentang nggak terlalu dingin ). It’s Babylon time!! Saya yakin nama Babylon ini didapatkan karena bentuknya yang mirip taman gantung di Babylon. Nggak salah wall yang ber-trap2 ini memang indah banget, seafan dengan mudah dapat ditemukan dimana mana.
Dengan berakhirnya sesi dive kedua ini, berarti waktu makan siang telah tiba, salah satu moment favorit saya setelah kedinginan dibawah. Belum habis makanan di piring, ratusan dolphin memanggil manggil dari kejauhan! Ratusan Dolphin bermain dalam beberapa kelompok, dan seakan akan tau sedang ditonton, beberapa yang centil melakukan loncatan loncatan, yang memang membuat kami teriak teriak gemas. Apalagi kalau moment tersebut telat tertangkap kamera, teriakannya semakin keras…. “Yaaaaaaahhhh!!!”
Dive berikutnya,Mirror Image, saya melakukan sedikit kegilaan, dive hanya dengan kostum bikini saja..
Kontan semua peserta yang lain bengong “Are you serious?” “Only wearing bikini?”pertanyaan pertanyaan yang buat ngeri juga sih, apalagi saya termasuk masih kurang berpengalaman soal selam menyelam ini. Tapi demi kepentingan dapat foto unik, hayolah! 😀
Brrrrr….. dingin juga yaa.. untung perasaan itu hanya bertahan beberapa saat saja, dan pada menit menit berikutnya saya sangat menikmati kulit yang terkekspose terkena belaian air laut, saya merasa ringan, bebas, dan pastinya sexy! Cuma yang harus diingat, hati hati kalau harus berpose dekat dengan karang atau tumbuhan laut, salah salah malah tersengat dan gatal gatal.
Slope berganti menjadi wall yang cantik di kanan saya, seliweran diantara diver yang berpakaian lengkap seru rasanya. Malahan ketika saya menyudahi sesi diving ketiga ini, setelah menaruh tabung dan teman temannya, saya kembali melakukan freedive, masih dengan bikini belaka, menyamperi fotografer yang sedang safety stop di 5 meter. Narsis yang tak terbendung J
Perjalanan kembali menuju teluk Kalabahi diisi dengan leyeh leyeh menambah tingkat kegelapan kulit diatas dek ( maaf ya pak kapten, selamat bertugas 😀 ) Rencananya malam ini kami akan melakukan nite dive. Okey.. heeei, apa kabar saya si bontot yang masih open water ini? Rupanya para dive master tidak merasa ada masalah dengan segala kemampuan yang saya kerahkan sekuat tenaga, OK! Saya boleh ikutan.
Begitu matahari terbenam, kami bersiap siap. Bohong kalau saya nggak merasa tegang, walaupun saya nggak punya masalah ruang sempit, tapi tetap menegangkan juga, selain saya takut kedinginan. Pertamina Pier, tempat yang dipilih untuk melakukan nite dive kali ini. Kami harus menyusur dari kedalaman 5m sampai ujung dermaga sekitar 17 m, dan kemudian naik kembali. Terdengar mudah. Ternyata di dalam, saya benar benar bingung dan buta arah. Hanya mengikuti lampu senter yang lain.
Alangkah banyaknya yang saya temui dibawah sana, mulai dari si pemalu Thorny seahorse, kemudian dikagetkan oleh Flounder Fish atau ikan sebelah yang saya kira pasir belaka karena seluruh badannya kecuali matanya tertutup pasir. Mendekati tiang tiang dermaga, semakin banyak yang bisa dilihat, Udang udang berwarna merah, yang berwarna kuning orange sedikit lebih lincah dan berlompatan, Big Cowry yang berbulu menggemaskan, serta nudie bongsor Pleurobranchus Forskali yang berukuran sekitar 10 cm, jauh lebih besar dari nudi yang saya kenal selama ini selalu lekat dengan kesan imut. Bergeser ke pasir, menemukan baby Crocodile Fish dan Pipe Fish. Uniknya Pipe Fish ini benar benar rombongan sekampung, dan semuanya tampil diatas batu. Saking banyaknya, beberapa tergeser jatuh tersenggol arus atau Pipe Fish lainnya.

Walaupun sisa udara masih ada, rasa dingin juga yang mengharuskan saya naik menyudahi hari ini, apalagi terbanyang coklat panas menanti diatas boat. Jadilah saya naik dengan badan yang mengigil nyaris tak terkendali tapi hati bahagia, dinaungi bintang langit Timur Indonesia,  hari pertama di Alor pun berakhir J

bersambung ke bagian ke-2

Al in Alor

Biasanya kalau dapet jadwal penerbangan pertama berasa dihukum bangun subuh, tapi kali ini bahkan sebelum alarm bunyi juga udah loncat duluan. Masalahnya destinasi kali ini adalah ke Alor, yang namanya sudah saya dengar bertahun belakangan karena keseriusan bupatinya mengembangkan segi pariwisatanya, belum lagi ‘mitos’ di kalangan diver yang heboh dengan visibility nya.

Setelah transit di Kupang, penerbangan dilanjutkan ke Alor, dan dari atas saya bisa melihat garis pantainya yang tanpa pasir, kebanyakan tebing tebing, membuat saya membayangkan wall yang ada dibawahnya.

Mendarat di Bandara Mali, kami langsung disambut angkot super meriah dengan stiker stiker ‘mengigit’ serta sound system super heboh. Rata rata di bagian Timur ini memang seperti itu, semakin heboh semakin gaul 🙂 mengingatkan saya pada angkot di Manado juga…

makin rame makin asoy 😀

Mas Dono, panggilan sayang buat Donovan yang jadi emak kita semua disana, udah menyiapkan segalanya, mulai dari penginapan sampai ke makanan besar dan kecil, serta semua trip diving selama di Alor.

Hari pertama meluncur kelaut, saya benar benar harus berusaha menjaga mimik muka, kampungannya jadi mendesak muncul kalau melihat pemandangan super bagus, maunya rahang terbuka terus… Memang susah untuk nggak kagum dengan apa yang terpapar di muka ini, lautan tenang di dalam teluk Kalabahi, dataran yang sayup sayup tertutup kabut pagi, matahari bersinar dengan cerahnya.. yang kau butuhkan adalah handuk alas berjemur dan sun block 🙂

kabut pagi masih menggantung

cant ask for more..

blue water, blue sky
Aiiih.. oom2 ini kok chating tapi seblah2an 😀

Ketika tiba saatnya kami semua bersiap di dive site pertama, terjadilah musibah yang membuat saya nggak bisa meneruskan kegiatan diving dan harus puas cuma bertemu mantri rumah sakit untuk menuntaskan 4  jahitan di kepala, sakitnya nggak seberapa, tapi sedih karena batal divingnya jauh lebih perih daripada jahitan itu ( mulai dangdut mode on )

Rupanya dengan tidak bisanya saya nyelup ke air untuk sementara, memberikan kesempatan lain untuk menyambangi pasar lokal yang beken dengan jagung tembaknya ( mengingatkan pada kompor meleduknya Benyamin ). Biji jagung dimasukkan kedalam tempat besi yang berbentuk seperti meriam kecil, dipanaskan sampai pegas di belakangnya menunjukkan tekanan tertentu, karung disiapkan di depannya, setelah diputar terbuka tutupnya,  meledaklah brodong jagung kedalamnya disertai bunyi mengejutkan. Mereka biasa menjualnya antara 1/2 kilo dan 1 kilo yang artinya.. banyak sekali buat menemani nonton dvd serial tv 3 season.

Selain itu Mama Mama dengan suara bersemangat menawarkan daun pepaya dan cabe kerdil super pedas, beberapa dagangan yang tidak lazim. Sayangnya bulan2 ini belum musim mangga kelapa, yang dari namanya aja kita bisa membayangkan ukuran buah mangga tersebut. Tapi memang saya kagum banget dengan semangat para ibu ibu yang jualan di pasar ini, mereka punnya power suara yang bisa menggetarkan hati 😉

Rupanya bukan Ibu2 saja yang bersemangat, penduduk lokalnya baik anak-anak maupun remajanya sangat spontan menyapa atau berekspresi, terasa saat saya menjelajah menyusuri garis pantai, panggilan mister ( seperti mengucapkan mister yang berarti penggaris ) sapaan khas yang nggak mengenal jenis kelamin, baik cowo atau cewe hajar dengan ‘mister’ semua 🙂

Urusan makanan, bagian favorit sepanjang masa, didominasi oleh ikan ikanan, ditemani sambal Lu’at yang membuatku megap megap kepedesan tapi nggak berhenti nambah terus sambelnya. Belum kopinya yang super hitam, serasa baru menadah oli yang sekian bulan nggak diganti, tapi rasanya nikmat..

walaupun saya harus menutup cerita tentang Alor disini, tapi tugas belum selesai, karena saya belum diving disana, saya harus balik lagi supaya bisa cerita lebih lengkap mengenai dive site yang berjumlah puluhan itu.. #kode ;))

si hitam manis 🙂
the whole crew.. berasa liliput, salah posisi -__-

Slide n Dive..

Hal pertama yang menarik saya ke Kupang, jujur aja.. aspalnya!! Dan kenapa pula saya harus tertarik dengan aspal bagus? well, yang terpikirikan langsung ber-longboard ria dengan latar belakang khas Indonesia Timur yang unik, diselingi rombongan sapi atau kambing merumput, padang rumput luas dan pohon pohon Nira..

Selain longboard saya juga dijadwalkan untuk melakukan tiga penyelaman, maka bentuk packing saya jadi rada nggak nyambung antara membawa longboard skate, protector serta wetsuit diving tanpa ketinggalan bikini 🙂

Hari pertama tiba di Kupang langsung disambut cuaca mendung, yang katanya sih sudah berlangsung berhari hari, bahkan disertai angin berkecapatan diatas 16 knot yang membuat kegiatan diving masih menjadi tanda tanya. Wah sempat bertanya tanya juga, bakal ngapain aja nih kalau diving sampai batal total? masa cuma wisata kuliner aja? Maklum termasuk jenis yang susah diam 😀

Tapi ternyata kekhawatiran saya nggak beralasan, tidak sempat merasa bosan, bahkan kekurangan waktu saat mencoba dan mensurvei jalan jalan yang cucok pisaaan untuk ber-longboard ria. Tinggal pilih derajat kecuraman, latar belakang yang diminati, karena semua jalan disana beraspal halus, sehalus pipi model. Yang jadi masalah memang kita harus menunggu saat yang tepat saat matahari tidak berada tepat diatas kepala serta memilih tempat yang tidak terlalu ramai pula.

Semua jalanannya mulussss

Beberapa titik yang sudah saya coba antara lain, pelabuhan Tenau.. ya.. pelabuhan, ternyata bisa menjadi tempat bermain longboard yang seru selama nggak dikejar kejar satpamnya. Disana terdapat peti peti kemas serta forklift raksasa yang menambah efek ‘game’ pada latar belakang, belum lagi saat saya kesana adalah malam hari sehingga tidak mengganggu kegiatan pelabuhan, tapi untungnya adalah efek dari lampu lampu itu sendiri menjadi lebih dramatis.

Jalan raya di depan Goa Monyet juga menjadi korban percobaan kami. Setelah membeli kacang, Dono sang sutradara khusus pengarah gaya monyet langsung beraksi menaburkan kacang kacang di lintasan longboard.. dan setelah semua berkumpul barulah saya meluncur kearah mereka. Jangan khawatir yaaa.. mereka itu lebih pintar dari perkiraan, walaupun sibuk memunguti kacang kacang dengan maruknya begitu mendengar roda longboard saya mereka bubar serentak untuk kemudian balik memunguti sisa kacang kembali.

Nah, ini bagian yang paling seru… setelah tau diving gagal, ternyata ada ganti yang lebiiihhh nggak disangka.. masih diving juga sih.. tapi CAVE DIVING!! Boleh percaya atau nggak, hal ini membuat saya deg deg an setengah mati, bahkan kepikiran pengen dibius supaya bisa tidur malamnya. Bukannya saya mengidap klaustrofobia ( tidak nyaman akan ruang tertutup ) tapi saya juga nggak yakin kalau tidak punya klaustrofobia ( lho gimana sih?) pokonya saya jadi banyak tanya ini itu dengan semua yang sudah pernah goa itu, termasuk pada anak perempuan si Dono yang ngajak saya, dan jawabannya cuma.. “yang paling susah itu turunnya.. licin” Lhaaa… masalah goanya kok nggak dibahas?!

Akhirnya tibalah saat kita berangkat kesana. Crystal Cave namanya. Merupakan goa air tawar. Kami memarkir mobil di keteduhan pohon setelah berkendara sekitar 15 menit dari pusat kota Kupang. Suasana sangat sepi, menambah perasaan galau saya. Persiapan singkat yang dilakukan rasa berlalu secepat jentikan jari.. Setelah berjalan kaki kira kira 5 menit terlihatlah mulut goa itu. Saya harus menuruninya sejauh sekitar 10 meter sampai melihat telaga kecil ditengah goa. Deg! mati aku…

Saya diharuskan melatih buoyancy ketika diving di dalam goa ini karena nantinya kita akan melewati bagian yang berlumpur bagian bawahnya, yang mudah terangkat akibat kibasan fin. Jadilah saya diajar bolak balik selama 5 menit dengan posisi yang diharuskan horizontal. Setelah dirasa cukup, mulailah penyelaman goa saya yang pertama…. *jreeeeenggg*

Hal pertama yang saya rasakan, degup jantung saya gila gilaan nggak bisa tenang, dan di air rasanya kencaaaang sekali. Berusaha menenangkan diri, saya mengikuti nasihat teman, nyanyi sendiri dalam hati. Yang pasti saya bisa dan boleh menyerah kapan saja saya merasa nggak mampu untuk meneruskan samapai di ujung. Setelah berhasil menenangkan detak jantuk barulah saya bisa menikmati penyelaman ini sepenuhnya.. dan memang mengagumkan sekali. Ruang di dalam goa tidak terlalu sempit, dengan lebar 6 meter dan tinggi sekamar saya leluasa mengatur jarak. Di satu titik bahkan terdapat halocline, pertemuan antara air laut dan air tawar yang berbeda berat jenis, sehingga terbentuk garis pemisah di tengah ruangan. Indah dan sekaligus menegangkan. Ketika melewatinya pandangan terasa kabur, seperti garis kabur antara air dan gula cair.

Si Kerang Raksasa nampang, pic. Muljadi Pinneng Sulungbudi

dipasang tali juga buat penunjuk arah. pic. Muljadi Pinneng Sulungbudi. objek penderita : Riyanni

Halocline, pic. Muljadi Pinneng Sulungbudi

Melewati halocline, sampailah kita ke satu area yang cukup sempit dimana kita harus masuk satu persatu karena hanya selebar 1 meter. Nah dari sini sudah nggak jauh lagi dan kamipun naik ke permukaan. Ternyata saya berada di satu ruangan beratap sangat rendah, hanya sekitar 3 meter dengan beberapa stalagtit kecil menggantung. Terkadang ada beberapa kelelawar yang berkunjung, yang berarti ada jalan masuk walaupun kecil disana, menjamin terdapat pertukaran udara.

Setelah berhasil sampai di ujung, sisanya menjadi mudah, perjalanan kembali benar benar dapat saya nikmati, terlebih lagi terdapat fosil kerang raksasa, serta fosil kerang kerang kecil yang masih terbilang utuh tertanam di langit langit atau dinding goa. Amazing.. Penyelaman goa pertama saya sangat berkesan.

Di Kupang tiada hari tanpa wisata kuliner, yang sempet saya foto sih mie hitam, yang walaupun bentuknya meragukan ternyata enaaak banget! Makanan lain sih keburu habis sebelum difoto 😀

foto fav saya, hebat sekali semen ini pasti.. 😀

for more info pls visit www.divekupangdive.com