Diving Lembata

lembata_15

Saya menebarkan pandangan di pelabuhan. Hanya tampak beberapa kapal kayu bersandar malas. Sekelompok pemuda tampak duduk-duduk di salah satu kapal tersebut. Tampak Pinneng sedang berusaha menaiki salah satu kapal yang akan kami pakai diving nanti. Ia mengecek semua persiapannya.

Kami memang sedang survey di Lembata. Nama yang eksotis ya.

Pulau ini memang eksotis seperti namanya. Letaknya bersebelahan dengan Alor, tetangganya yang telah lebih dulu meroket dengan site-site diving yang luar biasa. Alor sudah kami angkat menjadi buku tahun lalu. Sekarang giliran Lembata.

Beruntunglah daerah-daerah yang memiliki potensi wisata. Mereka bisa menjadi sumber devisa berkesinambungan jika dikelola dengan baik. Tak heran Lembata juga berpikir demikian. Maka tim Wet Traveler bareng Nadine Chandrawinata kali ini kebagian tugas untuk melakukan pemetaan site-site diving yang ada menjelang diadakannya event underwater photography tahunan di NTT.

DCIM102GOPRO
Tim survey : Pinneng, saya dan Nadine

Lima bulan kemudian event terlaksana. 5 underwater photographer ( Dewi Wilaisono, Malinda Wilaisono, Edward Suhadi, Ferry Rusli, Yuriko Chikuyama), travel blogger (Marischka Prudence), sketcher (Anto Motulz), food antropolog (Rahung Nasution), team leader Muljadi Pinneng Sulungbudi, ketua regu Christie Wagner saya sendiri. Kami mengcapture keindahan Lembata.

Well, demikian sekilas alasan kenapa kami ada di pulau eksotis ini. Selanjutnya ini 5 alasan kenapa kamu juga harus berkunjung ke Lembata :

  1. Hewan-hewan laut yang polos.

Mereka beneran polos! Pada satu lokasi penyelaman saat kami melakukan check dive ( Pertamina Pier) dengan berburu macro, kami menemukan lautan Skeleton shrimp bergelimpangan dimana-mana. Saking banyaknya mereka, sampai bisa terinjak atau tertiban siku dan lutut kita saat kita mendarat di dasar laut yang berpasir. Nggak heran kalau Skeleton Shrimp ini mejadi cover buku Lembata Underwater. Seekor sotong ngantuk juga berkali-kali menjadi objek foto kami karena kemalasannya berpindah tempat.

lembata_1lembata_3lembata_10

Pic by Pinneng and Yuriko Chikuyama

  1. Hamparan batik di dasar laut.

Pada salah satu lokasi penyelaman yang kami temukan saat hari telah menjelang senja, kami menemukan hamparan karang berbentuk plat berwarna ungu atau hjau yang berkoloni sehingga menimbulkan kesan motif yang menarik. Kalau menurut saya sih, motifnya mengingatkan pada motif batik mega mendung.

lembata_19
pic by Edward Suhadi
  1. Nice wide angle

Kalau diatas lebih banyak membahas macro atau site penyelaman untuk mecari binatang-binatang kecil, maka bagi pecinta warna warni karang dan pemandangan bawah laut juga bisa terpuaskan.Terutama untuk site penyelaman di bagian dalam teluk Nuhanera, kondisi karang cenderung lebih subur, meskipun juga lebih berarus

lembata_6
pic by Ferry Rusli

pic by Pinneng

 

  1. Bukit Cinta dan Bukit Doa

Tidak hanya pemandangan bawah laut, bagian atasnya pun luar biasa. Sebut saja Bukit Cinta yang bisa membuatmu benar-benar jatuh cinta. Saya sih beneran jatuh cinta pada pemandangannya yang luar biasa. Hamparan rerumputan kering berwarna kuning kecoklatan benar-benar memberikan kesan yang berbeda. Dari atas pula kita bisa melayangkan pemandangan ke pulau-pulau yang ada di sekitar Lembata.

Bukit Doa sendiri memiliki keunikan dengan ke-14 patung logam yang menggambarkan kesengsaraan Yesus menjelang disalib. Perjalanan yang disebut juga dengan Jalan Salib. Pada puncaknya terdapat patung Bunda Maria. Sayangnya pondasi dari patung ini sudah mulai rusak dan pecah-pecah.

lembata_7
pic by Motulz

lembata_18

lembata_9
pic by Motulz

 

  1. Batu Tara

Pulau yang terbentuk karena proses volcano ini disebut juga dengan pulau Komba. Terletak di sebelah utara Lembata, pulau ini dapat dicapai kurang lebih 2 jam menggunakan speed boat. Karena saat terbaik untuk menonton lahar yang keluar setiap 20 menit sekali ini adalah saat subuh sebelum matahari terbit, maka kami rela berangkat dari dermaga Lembata pukul 2.30 dinihari. Saya? Bawa bantal dong. Tapi perjuangan kami tidak sia-sia. Batu Tara sangat luar biasa. Cerita lengkapnya ada disini.

lembata_5
pic by Ferry Rusli

 

Note

Belum ada dive operator di Lembata, maka untuk menyelam harus menghubungi dive op di Larantuka sebagai lokasi yang terdekat :

Ile Mandiri Tour 

082169995348.
Email : [email protected]
Website : ilemandiritourandtravel.com

lembata_20.jpg
sketsa tulang paus dari Motulz

 

The Mission in Alor

It is a mission

… A book.

A book with beautiful Alor underwater scenery and creatures. Yup, kali ini tim Wet Traveler mendapat tugas mulia untuk menyebarkan keindahan Alor pada dunia luar.

Alor, kepulauan yang terletak di utara pulau Timor, bisa dicapai hanya dengan 40 menit terbang dari Kupang. Beberapa tahun terakhir ini memang cukup naik daun dan rame dikunjungi para diver baik dari luar maupun domestik. Visibilitynya yang setali tiga uang dengan aquariumlah, selain juga warna-warni coralnya yang bikin kalap, menjadi kemewahan yang selalu dapat dinikmati disini.

Beberapa kali mengunjungi Alor dan sempet share cerita juga disini dan disini, kali ini gue kabagian jadi model untuk para fotografer dan juga megang kamera. Hal yang paling sulit dilakukan setelah semua ini usai : memilih footage untuk video hahahaha.. soalnya semua terlihat bagus! Nggak kebayang sih bagian penyortiran foto untuk bukunya, pasti lebih pusing lagi ( baca : Pinneng )

Well, cerita selanjutnya silakan dinikmati dalam bentuk audio visual dalam Wet Traveler #GoDiscover Alor yaah :

Exploring Komodo islands part 1

Scroll down for English    IMG_3355    Aku tahu akan cukup panas di atas sini. Cukup panas sampai membuatmu sedikit pusing. Karena itu juga aku membawa selembar syal tenunan Timor yang kuikatkan ke kepalaku. Well, it’s wok! Dan lagi aman jadinya dari terpaan angin yang juga ternyata bertiup cukup kencang.

Yup, kami sedang berada di atas bukit, memandang sepuas hati Gililawa Laut yang terbentang luas di depan mata. Pemandangan yang biasanya terdapat di majalah-majalah traveling, terpampang sempurna. Birunya langit, bertemu dengan biru semburat toska air laut, dipagari oleh garis-garis putih dari pasir sebelum warna akhirnya berubah drastis ke hijaunya rerumputan. Saat ini memang peralihan ke musim kering, Masih ada sisa-sisa warna hijau.

Trekking saat menjelajahi kepulauan Komodo is a must. Pemandangan yang berkesan keras dan purba ini sungguh memukau. Rasanya nggak bosan-bosan mengambil gambar dengan gadget apapun yang sedang dipegang saat itu.

Tapi kami harus melanjutkan perjalanan. Langkah kaki yang tertatih-tatih menuruni bukit berbatu sementara teriknya matahari terus menemani kami. Aries, Pinneng, Nico, Punang sudah duluan terbang menuju ke pantai. Bersiap melakukan sesi berjemur. Sementara Alya, Jeannie, Citra dan aku masih berusaha menuruni bukit eksotis ini. Alhasil ketika kami sampai di bawah, mereka sudah menggelar badannya bak cucian sepatu.

Butuh waktu lama bagi kami untuk ikhlas meninggalkan segala acara leyeh-leyeh ini. Perjalanan harus dilanjutkan.

IMG_3446

Pulau Komodo

Salah satu pulau terbesar dari 3 pulau utama selain Rinca dan Padar ini wajib dikunjungi kalau mau sungkem dengan mbah Komodo. Setelah dijelaskan secara singkat rute yang akan diambil, serta wejangan-wejangan wajib agar kami nggak lasak kesana kemari sesukanya demi keselamatan kami juga, maka berangkatlah rombongan dengan ditemani 3 orang ranger yang masing-masing memegang tongkat kayu dengan ujung bercabang.

Komodo bukan jenis binatang yang berburu dengan mengejar mangsanya begitu saja. Ia akan menunggu sang mangsa lengah, misalnya saat tidur atau duduk dalam jangka waktu yang lama. Mereka mampu berlari cepat sekitar 20 km/jam, tapi tidak untuk jangka waktu yang lama, makanya mereka cenderung lebih memilih untuk ‘menyergap’.

Tips:

  • Pakailah sepatu untuk trekking di kawasan kepulauan Komodo ini. Kondisi bebatuannya yang tajam dan banyak lepasan mudah menciderai pergelangan kaki.
  • Nggak ada salahnya pakai penutup kepala, Bisa topi atau slayer. Panasnya lumayan menyengat soalnya.
  • Jangan menggunakan tas yang menggantung, bisa memancing Komodo.
  • Kacamata hitam juga jangan lupa, pleus kepake banget buat foto-foto.
  • Sun block.. or tanning oil maybe? 😀
IMG_3437
Pemandangan dari Fregata Hill – Komodo

IMG_3441

Rinca

Sesi trekking dilanjutkan ke Rinca. One of my favorit spot di Komodo. Pulau Rinca ini tidak sebesar pulau Komodo, tapi untuk menemukan Komodo itu sendiri disini jauh lebih mudah dibandingkan dengan di pulau Komodo.

Tepat di depan pos ranger kami menemukan mereka bertebaran dengan imutnya. Ada yang di bawah kolong, ada yang sedang merayu calon pasangannya, ada yang sedang melintang menghalangi jalan. Takjub!

Deg-degan bercampur senang. Pengen mejeng tapi takut dicaplok!. Itu yang aku dan pastinya teman-teman lain juga rasain. Untung saja dengan bantuan kesigapan bapak-bapak ranger, kami punya kesempatan pose seksi meski agak jauh (banget!).

Lanjut ke pucak, dan o la la.. atau e do do e…. bagus banget pemandangannya. Warna lautnya, bentuk pulau-pulau nya yang menyebar di segala posisi, lekukan pantainya. Megah sekaligus syahdu.

_MPS8415
Rayuan maut pulau Komodo
_MPS8438
ceritanya temen akrab

GOPR5172

Itu baru bagian atasnya.. bagian bawah lautnya bakal ada cerita tersendiri juga

Info paket trip klik disini

English

I knew it that it’s gonna pretty hot up here. Quite hot to make you little bit dizzy. That’s the reason I brought this traditional scharf from Timor and tied it around my head. Well, it’s work! And it’a quite wind proof too.

Yup, we are on the top of the hill, staring at Gililawa Laut from above. This kind of view that usually you can find on traveling magazine. The blue of the sky meet bluish-tosca sea water, enclosed with long white sandy beach before it turns green. The season just started to change, from wet to dry season.

Trekking during visit to Komodo islands is a must! This ancient view ( I believe it doesn’t change since century ago) is really amazing. Can’t tell myself to stop taking picture.

But we need to go on. Moves wobbly down the hill, as the sun shining on our head. The boys already race down to the shore, ready for a sun bathing session. Meanwhile the girls still struggling, choose the path carefully. By the time we reach the beach, they already half naked and lying side by side. Enjoying their time.

Take a long time for us to move on. Oh how we love this beach, but the show must go on.

The Komodo Island

One of the biggest island from the three main islands, beside Rinca and Padar. Komodo is on the top list to visit if you want to see the Komodo dragon. After a short brief from a ranger about wich route will we take and some advice so we are not going crazy in the middle of jungle chasing Komodo, for our sake, finally we move with 3 rangers. Each of them holding a wooden stick with spilt end. Looks very usefull.

Komodo is not a long distance hunting animal. They can run fast up to 20 km/hour but not for a long run. That’s why they prefer to catch a victim who looks weak, or in unalarm condition like sleeping or sitting.

Tips

  • Wear a comfy shoes. The stones along the track pretty sharp and many moving little stones. Can hurt ankle easily.
  • Cover your hat with cap or anything. The sun can gives you a heat store.
  • Sun glasses is a good idea. Also perfect for photo session, huh?
  • Sun block.. or tanning oil maybe? 😀

Rinca island

Trekking session continue to Rinca, one of my favorite spot in Komodo. Rinca island not as big as Komodo island, but to find Komodo dragon, it’s easier here.

Just right in front of ranger office, we saw them lying everywhere. Some lying below the house, one big male trying to persuade the choosen female, and another one blocking the path with his big body. Awsome!

I really want to pose with them but it didn’t’ look that easy. I didn’t want to get bite! Lucky the ranger knows exactly what we need. They protect us and arrange our position to take picture with the dragon.

Finally we continued to the hill. Wow, i found it quite challenging. Hmmm, I guess I need to jog more. When we finally get there.. we know why they asking us to go here. It’s extremely beautiful! It’s like you travel back to dinosaur time.

Trip package info, klik here

More stories about Komodo trip underwater part soon 

IMG_3486

Bubu Seksi

pi by William Tan
pic by William Tan

“Belum diving di Alor kalau belum liat Bubu, trus potoan ama Bubu..”

“If you diving in Alor, Bubu is amust to see.. and also take picture with it.”

Sampai segitunya ke-beken-an sang Bubu yang memang banyak dijumpai di Alor, Nusa Tenggara Timur. Benda bundar yang dijalin dari rotan ini akirnya berubah fungsi di mata para diver, tempat foto-foto dan juga objek foto unik khas daerah Timur Indonesia.

Bubu is very famous and easy to find in Alor, Nusa Tenggara Timur. This round object made by rattan, has another function for divers. An object to get captured with also favorite object for photographers.

Apalagi dibarengi dengan air super bening bin visibility mantap yang merupakan hal standar yang biasa aja di Alor, karena sepanjang tahun ya begitu itu kondisinya. Bubu sendiri merupakan traditional fishtrap yang telah digunakan masyarakat Alor sejak dulu. Lubang kecil di tengahnya, memungkinkan seekor ikan karang untuk menyelinap masuk dengan manjanya, tapi ruang luas di dalamnya membuat sang ikan tersebut susah menemukan lubang keluar yang sempit tersebut. Jadilah mereka hanya berenang berputar-putar di dalam Bubu sampai seorang nelayan mengangkatnya.

The super clear water with high visibility in Alor is a normal. All year. Bubu is a traditional fishtrap that had been used for years by Alor people. The small hole in the middle let fishes slip easily, but the big room inside makes them swim around and hard to find the way out.

Terletak di kedalaman yang berbeda-beda dari yang cuma 5 meter hingga 20 an meter memungkinan mereka memanen ikan yang berbeda-beda sesuai selera. Tapi nih yaa, kerennya para nelayan tersebut hanya mengambil ikan sesuai kebutuhan mereka saja. Kalau lebih atau ada ikan yang tidak akan dikonsusmi? Mereka dilepas kembali ke laut. Salut!

Located in some different depth from 5 to 20’s meter, makes the fishermans can catch a various kind of reef fish that suit to their need. How about if they catch too much or get something that they can’t e at? The released it back to the ocean.

Hal ini juga yang membuat Alor tetap terjaga keasriannya selama bertahun-tahun. Kalian diving disini hari ini atau sepuluh tahun yang lalu, kondisinya sama-sama bagus karena semua masyaraktnya menyadari pentignya mereka menjaga terumbu karang yang merupakan rumah para ikan. Jadi mencari ikan tidak perlu jauh-jauh, Kakaaak.. di depan rumah sa 😀

It also makes Alor can keep it sustainability for years. You dive here now or ten years before, the condition is not change. Alor people realize that they need to keep the coral reef in good condition, and this make them easy to catch fishes.

Tapi bukan berarti kita para turis diver boleh seenaknya ngutak-ngutik Bubu dan karang disekitar mereka yaaa. Yang punya hak istimewa itu hanyalah para warga lokal yang berkepentingan. Kita? Nikmati dan manjakanlah mata kita dengan Bubu yang keren dan seksi kalau difoto itu.

Doesn’t mean we, the tourist, can touch or replacs the Bubu and reefs besides it. Let it become local people’s privilege. Our job is only to enjoy and indulge our eyes with the beauty and uniqueness of the Bubu.

Seorang bapak yang setelah mengajar pada pagi harinya, memanen hasil Bubu untuk makan keluarganya. Pic by Pinneng.
Seorang bapak yang setelah mengajar pada pagi harinya, memanen hasil Bubu untuk makan keluarganya. Pic by Pinneng.
bubu_2
Pose disamping Bubu is a must! pic by Dewi Wilaisono

Boti, keunikan suku asli Timor

Desa adat yang terletak di Timor Tengah Selatan itu namanya saja sudah terdengar unik dan eksotis, ditambah pula dengan perjalanan yang cukup menyita tenaga karena aksesnya yang bisa dikatakan rusak, Desa Boti, desa adat yang masih memegang teguh adat istiadatnya serta masih menjaga cara hidup yang sama seperti leluhur mereka layaknya suku Badui dalam.
  Jalan memang jelek sekali, Ibu.. bahkan kemarin waktu banyak hujan tidak bisa lewat. Bisa tapi susah sekali, lumpur..” Oom Nope guide kami yang keturunan raja itu menjelaskan sembari terbanting ke kiri dan kanan mengikuti gerakan mobil sewaan kami. Jalan kering saja sudah terasa heboh, gimana kalau hujan turun ya? Tapi pemandangannya luar biasa indah. Alam timor memang beda.
Tidak terlalu jauh sebenarnya jarak antara So’E, ibukota kabupaten Timor Tengah Selatan atau yang sering disingkat dengan TTS, dan desa Boti. Hanya sekitar 45 km saja. Hanya saja karena parahnya kondisi jalan, kami harus rela terombang ambing selama kurang lebih 2,5 jam.
“ Ganti celana panjang lebih baik, Ibu.” Ah rupannya saya harus merelakan celana pendek ini berganti panjang untuk menghormati desa itu. Saat istirahat sebelum memasuki desa Boti pun kami manfaatkan untuk meluruskan kaki dan pinggang, serta saya yang berganti celana. Rasa pegal dan lelah kalah oleh rasa penasaran. Akan seperti apa sih orang-orang suku Boti itu nanti?
“ Nanti  biar supirnya yang kasih sirih pinang  tanda pamit memasuki desa, dia sudah biasa, dan memang semua tamu harus kasih sirih ke kepala suku.”
“ Kita juga harus makan sirihnya?” tanya saya ngeri mengingat saya nggak suka sama sekali rasa sepet dari sirih setelah mencobanya waktu itu di Sumba. “ Nggak harus kok, cuma kepala sukunya saja nanti sama tetua kampung yang mau bergabung. Tamu tidak dipaksa untuk nyirih.” Fiuuuh…

kepala suku dan tetua desa di rumah dinas 

Beberapa artikel yang saya baca ketika merencanakan trip ini mengatakan bahwa tamu mempunyai tempat menginap sendiri, ada kamar mandinya, tapi makanan akan sangat tidak enak menurut standar orang kota yang terbiasa makan makanan berbumbu, karena masakan suku Boti cenderung hambar dengan tidak digunakannya minyak untuk menggoreng, serta terbatasnya garam. Semua serba rebus-rebusan. Hmmm kami sempat belanja mie instant sih untuk mengantisipasi hal itu. Judulnya : takut kelaparan hahahahaha.
Suku Boti ini merukapan salah satu suku dari 3 kerajaan yang kala itu menguasai TTS, Amanatun, Amanuban dan Molo, pemimpin di Boti bukanlah raja, melainkan kepala suku. Oya.. dan dari blog yang pernah saya baca juga, doski masih single loooh ( bantu promoin kepala suku Boti ).
Akhirnya sampai juga Suasana desa Boti ini asri banget. Jalan-jalan setapak dibuat rapi dengan susunan batu-batu besar dan kecil. Rumah berdinding bebak langsung terlihat di depan gerbang masuk, Itulah penginapan kami. Kamar mandinya terpisah tapi ada beberapa, jadi nggak perlu antri mandi. Airnya pasti dingiiiiiinn..
Beberapa ritual harus kami lewati sebelum blusukan di kampung Boti. Kepala suku dan beberapa tetua adat menyambut kami di ‘rumah dinas’. Karena mereka tidak lancar berbahasa Indonesia, dan kami boro-boro pernah dengar bahasa Dawan yang digunakan suku Boti, jadilah acara penerimanaan tamu berlangsung canggung untuk kami. Paling saling cengar cengir saja. Untung kepala suku tetap menerima sirih pinang kami dan sibuk meramunya dengan kapur yang membuat bibirnya bagaikan begincu seksi. Tadinya saya sudah kawatir saja harus ikut-ikutan begincu, ternyata untuk kami disediakan pisang goreng… iya digoreng!! Wah rupanya mereka pake minyak juga untuk mengolah makanan yang disediakan untuk tamu.
Hari sudah malam, jadi acara blusukan dibatalkan, jangan-jangan malah nyasar ke sungai pulak kalau nekad. Jadilah kami mengambil kamar-kamat yang tersedia di rumah bebak. Nggak ada lampu, apalagi tv. Acara malam itu nyemil dan gossip seputar si kepala suku yang curang karena ada listrik di rumahnya, sirik nih yeeeee 😀
Bermalam di rumah bebak ternyata dingin karena ada aja celah-celah tempat udara malam bebas keluar masuk. Kampung Boti memang cukup dingin kalau malam, apalagi selama musim kering Juli-Agustus. Baju hangat wajib dibawa deh.
Paginya sarapan sudah tersedia di rumah raja. Rupanya kekawatiran kami akan makan sama sekali tidak beralasan. Makan 3 kali sehari mereka sediakan, menunya juga enak, dengan jagung bose sebagai makanan pokok pengganti nasi… eh nasi juga ada sih, tapi mumpung disini sikat jagung bose ajalah. Lanjut melihat proses pengolahan kapas hingga menjadi kain tenun mereka. Hebat looh, saking mandirinya mereka semua kebutuhan diproduksi sendiri, pangan, papan… termasuk sandang. Mereka punya kebun kapas sendiri. Salut!!

sok sok ikutan gabung belajar proses pengolahan kapas

Memproses kapas hingga menjadi sebuah kain yang indah merupakan syarat mutlak bagi gadis Boti yang harus dikuasai sebelum menikah.
“ Kami harus bisa menenun sebelum menikah kak..”
“ Kalau sudah menikah tidak boleh minta sama orang tua.” Salah satu gadis Boti yang sedang menenun meberikan penjelasan.
Pasangan muda Boti harus bisa memenuhi kebutuhan mereka sendiri tanpa dibantu orang tua apalagi tetangga saat mereka menikah nanti. Dengan menguasai tenun diharapkan ia dapat memenuhi kebutuhan sandang keluarganya. Bahkan seperti ada ujiannya loh, ia harus menenun dua buah selimut dan sebuah kain untuk keluarga pria sebelum lulus seleksi. Wah saya pasti gagal total ini sih…
Dari pihak laki-laki juga bukannya ongkang-ongkang kaki. Si pria sudah harus membangun rumah bulat, rumah adat mereka dan mengolah sepetak ladang, yang menjamin mereka nggak akan terlantar tidur dibawah pohon atau nggak bisa makan. Seru yaaa, jadi nggak ada tuh ceritanya  ngutang-ngutang dulu buat nikah, pinjam sana sini buat ribet orang lain untuk memenuhi kebutuhan mereka. Sangat bertanggung jawab.

ini yang namanya rumah bulat, tapi kita nggak boleh masuk 🙁

Urusan hukum juga unik banget disini. Layaknya suku Badui dalam, mereka nggak boleh melanggar aturan adat, termasuk memeluk kepercayaan Halaik. Beberapa kasus penyelesaian hukumnya sangat beda, contohnya jika ada yang ketahuan mencuri jagung tetangga, hukumannya adalah seluruh desa memberikan jagung kepada orang itu. Iya… dikasih! Tujuanya agar ia malu sekaligus agar ia memiliki jagung yang bisa ditanam untuk berkebun sehingga tidak perlu mencuri lagi. Luar biasa… Itu kalo urat malunya masih ada, kan diluar banyak yang dah putus urat malunya *curcol 😀
Mereka tu ngehargain alam banget, contohnya waktu disuruh sama produser program untuk kembali memotong sebilah bamboo utuh dari pohonnya, ia keberatan dengan alasan, sayang bambunya karena kebutuhannya tidak sebanyak itu, biarlah bamboo itu tumbuh, kita pakai bamboo yang sudah ada di tanah saja.. Keren euuuuy.

Ketika akan berpamitan pun, kami kembali lapor ke ‘rumah dinas’, dan kepala suku memberikan syal tenunan sebagai tanda persahabatan. Kalau boleh dikatakan, saya terharu saat itu. Mereka baik banget!! Nggak ada artinya deh keribetan perjalanan menuju ke desa ini dibanding pengalaman yang didapat.

nyante sambil main Knobe, alat musik getar