7 tips mendaki gunung

IMG_8914
pic by Atre

Kenapa pula anak (yang yang biasanya ke) pantai ini ikut-ikutan mendaki gunung? Jangan sirik jangan sebel kalau saya tiba-tiba diajak naik gunung Tambora (Yak betul!! Tambora!) bareng Gilang, Atre, Giri dan bang Dede dalam rangka memproduksi film ‘Tambora, Trail of Ancestor’ yang sering woro wiri di sosial media dengan hesteg #TamboraToA.

Ini kedua kalnya gue naik gunung, Sebagai pendaki amatir, gue punya daftar pendakian yang ‘gaya’ deh. GImana nggak gaya coba, gunung pertama gue itu Rinjani. Kata orang-orang sih Rinjadi itu susah, capek, punya banyak bukit penyesalan pulak, tapi indah banget sih.

Tapi gue gagal muncak. Hiks. Lupakanlah.

Jadi, kabar baiknya, karena ini proses pembuatan film, naik gunungnya juga bisa di-setting. Maksudnya, nggak perlu beneran jalan dari gerbang bawah Doroncanga, berjam-jam di bawah terik matahari, di tengah sengatan angin dingin, tapi bisa pakai mobil 4X4 sampai di pos terakhir. Curang? ya nggak juga, bintang pelm nya bisa keburu lemes nggak bisa akting doong begitu nyampe di puncak hehehe.. #alesan.

Dengan sumringah gue melewati trek panjang selama kurang lebih 3 jam dari gerbang, melewati pos 1, pos 2, hingga ke pos 3, lokasi dimana kami dapat mendirikan tenda di sebelah sebuah bale-bale yang dibangun… hanya dengan pegal pantat dan punggung karena desak-desakan di dalam mobil. Sembari sedikit-sedikit menggigil diterpa angin semriwing.. Enteng, nggak terlalu dingin.

Sejam kemudian, gue harus menarik kata-kata ‘enteng-nggak-dingin’ tadi, digantikan dengan empat lapis baju hangat! Sekilas kayanya penampilan gue udah mirip maskot ban Mischelin deh. Mau gerak susah, mau ngambil gelas kaku karena seluruh jari-jari gue rapi terbungkus sarung tangan. Mau dengerin orang ngobrol juga susah karena kuping gue tertutup rapat pake kupluk. Pokoknya udah nggak ketebak wujudnya.

Begitu selesai makan malam dan tenda berdiri dengan doyongnya ditengah hembusan angin kecang yang tak ada habisnya, gue dengan sukacita merangkak masuk, membungkus diri dengan sleeping bag gue yang dulu kata bokap isinya tuh bulu angsa. Enyaaakk..

Niatan muncak pukul 2 subuh bergeser jadi pukul 7 pagi. Horeeeee…

Baru saja kaki melangkah beberapa meter, napas sudah ngos-ngosan. Jangan kira karena biasa main di laut, kegulung ombak, terus jadi jagoan naik gunungnya. Beda cerita itu. #ngeles.

Intinya banyak pelajaran yang bisa dibagian menjadi beberapa tips penting yang harus diketahui saat naik gunung. Nih:

Gemala 920_20141017_17_20_13_Pro__highres
mobil ajaib kami. Nisa manjat-manjat batu, yang banyak bertebaran sepanjang pos1 hingga 3.

• Jangan pakai celana jeans. Berasa keren sih iya, tapi selain kelihatan ‘bukan anak gunung’-nya, jeans juga harus dihindari karena beberapa alasan: berat dan kalau basah ya makin berat dan susak kering. Terus kan pastinya celana jeansnya yang model terkini doong, dengan potongan yang lumayan ngepas ( masa iya pake baggy) naah, jadi mudah lecet tuh.

• Gunakan otot besar saat melangkah. Ini penting banget ternyata untuk menghindari keluhan ‘Aduh lututku..’ Ini sih nggak terbatas usia loh yaa. Mentang-mentang masih muda terus semena-mena dengan lutut. Lagian otot yang menahan lutut itu lebih kecil. Coba saat berjalan atau saat akan melangkah ke bidang yang lebih tinggi, bayangkan pakai otot paha dan pantat. Anggap saja lagi latihan squat. Cewe-cewe pasti doyan nih, bisa membentuk bokong jadi sexy 😀

• Bawa cemilan. Lupakan diet! Tubuh perlu energi. Snack, kopi, teh bakalan nikmat banget kalau dinikmati di atas. Saat kehabisan makanan juga tenaga, cobalah mengulum sesendok gula. It’s help!

• Perlengkapan bagus dan benar sangat menolong. Pilih ransel yang memang diperuntukkan untuk outdoor, biasanya titik beratnya pas banget tuh, nggak ngeberatin satu titik secara berlebihan

• Nggak usah gengsi untuk minta berhenti beristirahat. Toh nggak dikejar debt collector kan?

• Minum secukupnya saja untuk menghapus rasa kering di tenggorokan. Kalau kepenuhan males jalan nanti.

• Nikmati pemandangan, dan isi paru-paru sepuas mungkin!

IMG_9012
Kalau istirahatnya begini, pasti malas untuk lanjut lagi. Pemandangannya terlalu indah sih.

Gemala 920_20141018_08_03_13_Pro__highres

IMG_9136
Tips terakhir : Jangan lupa selfie kalo nggak ada yang bisa bantu foto. Kalo ada yang fotoin sih, duduk manis aja. Cheers!

Sumbawa Horse Racing

Gemala 920_20141019_09_05_08_Pro__highres

Gemala 920_20141019_09_10_54_Pro__highres

Debu yang beterbangan serasa menyesaki tenggorokan dan rongga mulut, “kres..kres..” Bahkan gue bisa merasakannya diantara geligi! Sinar matahari yang terik menembus sela-sela dedaunan yang menaungi satu sisi lintasan Pacoa Jara, atau balap kuda ala Bima-Dompu.

Tampak beberapa bocah lelaki kecil yang hilir mudik diantara kuda-kuda ganteng bersurai panjang yang tertambat di dahan pepohonan yang memang banyak tersebar di lokasi parkir lintasan tersebut. Mereka keliatannya cuek aja ngegodain kuda-kuda yang besarnya berlipat kali ukuran tubuh mereka. Kadang di sambit dahan sambil lewat, kadang di tarik talinya, atau sekedar mengelus surai kuda.

Diantara mereka terlihat satu anak yang menonjol. Ia memakai baju kaos dan celana tangan panjang bermotif loreng, menggunakan topeng dan bertelanjang kaki. Tubuhnya termasuk kecil dibanding teman-temannya. Dengan bantuan seorang laki-laki yang gue duga adalah pemilik salah satu kuda pacu, anak berbaju loreng tersebut digendong hanya dengan satu tangan, dan diayunkan ke atas punggung kuda yang tidak memakai pelana. Tidak ada satupun kuda yang menggunakan pelana disini.

Muka-muka ceria para joki
Muka-muka ceria para joki
Si Loreng jagoan gue
Si Loreng jagoan gue

Tanpa ragu si loreng langsung melekatkan dirinya di punggung kuda itu. Kakinya kuat menjepit dan salah satu tangannya menjambak surai panjang kuda tersebut. Tangan yang satu lagi menggenggam sebilah cambuk.

“Ni anak umur berapa sih?” tanya gue ke salah seorang penonton.

“Ooh, umur enam tahun dia.” Edan, emaknya kaga jantungan apa ya?

Tanpa terdengar aba-aba yang jelas, tiba-tiba empat ekor kuda dengan penunggang mungilnya melesat melewati kerumunan penonton yang bersorak. Debu tebal langsung beterbangan di belakang mereka, menyelimuti penonton yang seakan tak peduli. Mereka berteriak-teriak mengomentari kuda-kuda tersebut. Gue cuma bengong, terpana melihat cara bocah-bocah itu bertahan di atas kuda mereka. Seakan mereka direkatkan begitu saja. Mantap tak bergeser.

Si loreng tampak tertinggal di nomer ketiga. Ada dua kuda lainnya yang berderap kencang menghalanginya. Entah bagaimana caranya, setelah tikungan pertama, secara perlahan-lahan si loreng mulai mendahului yang lainnya. Posisi badannya yang rendah, sejajar punggung kuda dan tangannya yang melambai-lambai memecuti pantat kuda, bergerak tanpa henti mengikuti irama derap.

“Woaaahhh si Loreng menaaang…” tanpa sadar gue bersorak. Padahal kenal juga nggak, tapi entah kenapa gue seneng banget liat dia yang pertama memasuki garis finish .

IMAG0445_BURST005_1_1_1

Ternyata bukan cuma sekali saja mereka berpacu. Setelah digendong turun, akan segera menghampiri kuda lain yang harus mereka tunggangi. Rupanya memang begitu cara latihan mereka. Satu joki bisa menunggangi beberapa kuda yang berbeda-beda. Tidak harus punyanya pribadi. Waktu latihan mereka yang hanya seminggu sekali rupanya digunakan secara maksimal. Berpacu nonstop! Tapi tidak tampak kelelahan di muka anak-anak tersebut.

Gue nggak bisa membayangkan bagaimana perasaan para emak-emaknya, yang memang tak terlihat disana saat itu. Hanya ada bapak-bapaknya saja. Pasti deg-degan setengah mati. Tidak jarang pula ada yang meninggal karena terjatuh.

“Hmmm.. anak kecil jadi aset sejak dini dong, apalagi anak kecil cowok.”

Benar-benar profesi unik yang berat dan berumur singkat. Bagaimana nggak singkat, begitu mencapai usia 11 tahun, mereka harus melepas profesi joki karena sudah terlalu besar dan berat. But Hei.. Dimana lagi kamu bisa liat olah raga sekaligus budaya unik seperti ini? 😀

pic by @g_hanafiah, @sukmadede