Girls Day Out Cimaja 2011

Pasukan Berani Mati nge-Drop 😀

Tiap tahun secara teratur di Cimaja, Jawa Barat, selalu diadakan kontes. Naah woman divison termasuk juga didalamnya. Biasanya ini dijadikan ajang ngumpul ngumpul bocah, secara cewe surfing di Indo yang rajin ikutan kontes cuma beberapa gelintir aja, kalo kata temen gw.. lu lagi.. lu lagi.. Sebenarnya ada kok penambahan jumlah surfer wanita secara signifikan, tapi di Bali. Kalo event yang di cimaja ini kebanyakan yang datang udah pada punya sponsor semua (ada yang bayarin hehehe..)

Nggak bakal nyeritain kontesnya deh, yang mau di share disini serunya kalo wanita wanita berani mati ini ngumpul, wuiiihh aneh aneh yang dibahas, tapi ada satu topik yang ga bakal lepas, cowok!! Maklumlah, range umur kita sangat besaar, mulai yang masih pakai seragam sekolah, sampai yang udah cocok punya anak 2. Tapi kalau udah ngumpul, rasanya ya nggak jauh jauh amat umurnya ( biar dibilang muda teruuuss hahaha.. ) Mulai dari curhat abis putus ma cowonya, atau baru di ‘tembak’ temen satu sponsor, atau yang lagi long distance, bakal seru dibahas rame rame.

Yang membedakan mungkin pembahasan berikutnya, kita sharing pengalaman, misalnya ada yang udah sebulan di Mentawai, berapa budget yang dibutuhkan, ombak mana yang begus dan fun, atau bikini model apa yang tahan gulungan wipe out, soalnya memang kita ribet kalau udah harus benerin posisi bikini yang mondar mandir akibat terjangan ombak 🙂

Tiap hari janjian buat free surf diluar jadwal tanding, biasanya gw sebagai lokal harus menentukan, kalo kondisi seperti ini bagus dimana ombaknya, pasang surut dan ukuran swell menentukan banget. Paling pusing kalo dimana mana nggak ada ombak, kecuali di tempat pertandingan… mati gaya dah!! yang ada cari bakso, atau cari cemilan lain ( teteuplah cewe..)

Tahun ini kami kedatangan peserta dari luar karena event di Cimaja tahun ini merupakan bagian dari ASC ( Assean Surfing Competition ). Baybay dari Taiwan bergabung di klub kumpul bocah kita. Karena bahasa yang berlaku umum itu ya bahasa Inggris, jadilah kita semua harus berbahsa inggris ke Baybay. Masalahnya ada beberapa temen yang belum familiar dan susah banget kalo mau berkomunikasi. Akhirnya mereka saling belajar, bahkan Baybay punya kalimat favorit sekarang : Gue.. Lo.. End!!

Ajang ini juga yang jadi tempat menasehati surfer surfer muda, bahwa mereka harus mengutamakan pendidikan apapun alasannya. Apalagi bagi yang punya sponsor, uang sekolah nggak masalah bagi mereka, sponsor menanggung uang sekolah dan lain lain.Jadi nggak ada alasan males sekolah, walaupun ombak lagi bagus 🙂

Satu hari kita bersembilan main di satu spot, surfer lokal pada bingung tiba2 point mereka kebanjiran cewek2 jago dan cantik2 *weiitss* Jadilah para lokal itu justru malu untuk agresif mengambil ombak, kalo kita nggak memberikan kesempatan pada mereka untuk ambil ombak 🙂

Mudah mudahan tahun depan ada lagi anggota baru yang ikutan Girls Day Out di Cimaja, semakin banyak cewe yang surfing, semakin meriah!!!

Girls day out






Semua wanita. Semua peselancar. Semua berasal dari daerah yang berbeda beda. Kami sangat beruntung mendapatkan kesempatan melakukan perjalnan surfing bersama. Kenapa saya bilang beruntung? Karena memang tidak mudah untuk menemukan moment kebersamaan seperti ini dimana para pesertanya berasal dari berbagai daerah di Indonesia.
Pada awalnya teman teman dari Bali, Padang, Nias, Jakarta dan Batu karas melakukan perjalnan ke Sukabumi – Jawa Barat ini untuk satu tujuan, kompetisi selancar. Walaupun kami harus bersaing satu sama lain untuk menjadi yang terbaik, tetapi di sela sela itu, rasa persaudaraan tidak menghalangi kami untk mengadakan sesi selancar bersama.
Pagi hari kami bersiap siap di Cimaja. Rupanya jumlah kami yang ber tujuhbeserta tumpukan papan selancar, mengharuskan kami konvoi dengan dua mobil. Perjalanan memakan waktu sekitar 1 jam. Spot selancar yang kami tuju merupaka tempat yang eksklusif karena hanya bisa dipakai jika ketinggian gelombang di tengah laut mencapai 12 feet, dan saat itu adalah saat yang tepat.
Ditengah jalan kami mampir ke sebuah warung nasi kecil namun lengkap untuk membeli bekal makan siang, karena di tempat yang kami tuju tidak ada warung yang menjula makanan. Hanya ada sebuah desa nelayan kecil.
Tanjakan dan turunan curam menjadi pemandangan selama perjalanan. Pada sisi yang berbatasan dengan laut, terhampar lekuk lekuk teluk dan garis pantai yang berliku di sepanjang pesisir pelabuhan ratu ini. Dari kejauhan kami pun dapat melihat garis garis gelombang yang akan menjadi ombak berbaris rapih menghampiri pantai yang kami tuju.
Jalan masuk yang lumayan curam membuat kami menahan nafas sekejab, dan tidak terlalu jauh sampailah kami di desa nelayan tersebut, dimana mobil dapat diparkir dengan aman.
Saat itu matahari lumayan terik bersinar, namun dengan adanya ombak yang memanggil manggil, panas jadi tak terasa mengganggu.
Iis dari Batu Karas dan Diah dari Bali langsung nyebur setelah menaruh barang barang bawaa mereka. Ini saat pertama bagi Iis mengunjungi pantai pelabuhan ratu, dan dia sangat menyukainya. Diah seorang pelencar professional, masih duduk di bangku sma kelas 2. Agaknya mereka sudah tak sabar lagi.
Bonne dari Nias dan Jasmine dari Bali, serta ida dari Batu karas tak mau ketinggalan. Segera setelah menyiapkan papan selancar masing masing mereka puny menyusul. Bonne juga merupaka seorang peselancar professional dari Nias yang telah menetap di Bali. Pengalamannya berselancar di berbagai tempat di Indonesia sudah sangat banyak. Jasmine pun menetap di Bali, ia seorang DJ dan juga pekerja swasta. Ida yang berasal sama dengan Iis adalah seorang pemilik warnet di Batu karas.
Barulah setelah itu Rohaye dan saya menyusul. Rohaye seorang pelajar SPM di Padang, juga peselancar professional. Ia seoarang yang sangat periang dan bersemangat. Saya sendiri bekerja di Jakarta, desainer dan presenter juga sangat mencintai selancar seperti teman teman saya ini.
Beberapa peselancar Jerman yang sudah terlebih dahulu berada di air agaknya sedikit terkejut dengan kehadiran kami yang tiba tiba. Tidak lazim melihat peselancar wanita Indonesia dalam jumlah banyak seperti ini dlluar Bali. Bahkan didarat mereka berfoto bersama Iis dan papan selancarnya.
Hari itu kamu benar benar puas, bolak balik mengambil ombak, melakukan manuver manuver, saling canda dan saling menyoraki memberi semangat.
Betapa beruntungnya kami, tinggal di Negara yang kaya akan ombak serta mempunyai iklim yang bersahabat sepanjang tahun. Selancar menyatukan kami,karena selancar kamu kenal satu sama lain walaupun asal dan profesi kamu berbeda beda.
Semoga di masa yang akan datang, semakin banyak peselancar wanita di Indonesia, ditengah indah nya laut dan ombak di pesisir seluruh negeri ini.