Suku Bajo di Wakatobi

 

Salah satu Suku laut yang bertahan hidup di atas laut, bangsa Bajo tidak mengenal perbatasan negara. Mereka berkelana berpindah-pindah menyrusuri pulau-pulau disepanjang nusantara dan negara sekitar.

Suku Bajo di Wakatobi

Matahari bersinar cerah saat pagi itu saya melaju membelah laut Wakatobi menuju pulau Hoga, pulau dimana terdapat kampung Bajo yang masih meneruskan cara hidup para pendahulunya : membangun rumah diatas laut dan hidup sebagai nelayan.

Pulau Hoga sendiri dapat dicapai … jam menggunakan kapal kayu dari Wakatobi. Daerah di selatan Sulawesi ini memang merupakan salah satu area penyebaran bangsa Bajo. Selain Sulawesi selatan mereka juga bisa ditemukan di area Kepulauan Riau, Batam, semenanjung Malaysia, utara Sulawesi hingga Philipine.

Sea gypsy, merupakan salah satu julukan yang diberikan bagi mereka. Pada awalnya, kebiasaannya berpindah tempat hanya menggunakan perahu kayu dengan memboyong seluruh keluarganya mengakibatkan mereka tak mengernal batas negara. Sehingga bangsa Bajo di Indonesia, malaysia dan Philipine dapat saling mengerti saat berkomunikasi dengan bahasa Bajo.

Saya sendiri pernah bertemu dengan orang Bajo yang masih selalu berpindah tempat dan hidup di perahu kecil mereka di Batam. Sayag saat itu saya belum membuat video. Masih jelas di ingatan saya keluarga bajo yang saya temui itu, sangat sulit untuk didekati. Mereka tak terlalu terbuka terhadap orang luar.

Kampung Bajo

Kampung Bajo di Hoga dibangun diatas laut, maksudnya benar-benar di atas laut. Rumah-rumah panggung dari kayu bertebaran di sepanjang pesisir. Terdapat teras yang cukup luas di depan masing-masing rumah.

Kadang mereka menaruh kursi juga untuk temapt bersantai, tapi kebanyakan teras rumah mereka tergantung jala yang digunakan untuk mencari nafkah. Beberapa bapak tampak membuka jala mereka dan membenarkan kerusakan yang ada.

Masing-masing rumah terhubung satu sama lainnya dengan jembatan yang tak terlalu lebar, hanya cukup dilalui oleh dua orang saat berpapasan.

Perahu-perahu kayu tampak hilir mudik di bawah jembatan-jembatan ini. Semua warga Bajo, termasuk para ibu dan anak-anak memang piawai mendayug perahu dan mempergunakan perahu kecil ini sebagai alat transportasi utama.

Batu pondasi tiap rumah dimana tiang-tiang terpancang adalah karang-karang laut yang berada di sekitar perkampungan mereka. Banyak yang berpendapat mereka merusak lingkungan dengan melakukannya.

Tapi menurut saya sih, apa yang mereka lakukan hanya menyumbang persentase yang sangat kecil pada kerusakan lingkukangn jika dibandingakan kerusakan parah yang diakibatkan bom ikan dan juga sampah-sampah yang dibuang ke laut.

Ibaratnya, sama seperti perburuan paus yang dilakukan masyarakat Lamalera, dibandingkan dengan perburuan besar-besaran yang dilakukan oleh kapal nelayan besar yang berasal dari negara lain, menangkapi paus dan hiu tanpa mengindahkan lambatnya populasi mereka bertambah.

Makanan masyarakat bajo

Tentunya nasi menjadi bahan pangan yang sulit didapatkan. Tak selalu mudah menyuguhkan nasi untuk menjadi makanan pokok. Maka mereka membuat Swami sebgai asupan karbohidrat, dan dimakan bersama lauk-pauk.

Kasuami terbuat dari singkong dan diolah dengan cara dihancurkan sebeloum dibentuk menjadi kerucut-kerucut. Biasanya dicampiur pula dengan bawang untuk memberikan rasa gurih,

Anak-anak Bajo

Sejak lahir mereka telah dikenalkan pada air laut, tempat bermain mereka. Bayi-bayi ini akan dicelupkan oleh orang tua mereka, maka tak heran, kemampuan berenang mereka hanya bisa disaingi oleh ikan.

Saking bergantungnya pada air laut, acara ‘hang out’ sore mereka setelah memakai bedak dan mandi sore pun tetap bersampan keliling kampung, dan terkadang acara jatuh dari sampan kembali ke laut menjadi selingan yang menyenangkan.

Diatas ini adalah  video saat saya berkunjung ke suku Bajo di Wakatobi.

Buat kalian yang ingin menyaksikanlangsung keunikan orang-orang suku Bajo ini, tak ada salahnya mengunjungi perkampungan mereka, dan menikmati swami sebari bernaim-main dengan anak-anak Bajo.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *