The Untouch Part of Nort Sulawesi


Kita mengenal bubur Manado sebagai salah satu makanan khas di Manado. Kita juga mengetahui kalau Bunaken merupakan salah satu site diving yang terkenal bertaraf internasional. Tetapi selain itu Manado ternyata masih menyimpan keunikan lainnya. Tangkoko.

Tangkoko yang masih termasuk kotamadya Bitung dapat diakses melalui jalan darat selama 2 jam dari Manado. Merupakan kawasan cagar alam seluas 4446m2 dan menyimpan banyak keunikan serta menarik para peneliti untuk datang mengunjunginya.

Fasilitas penginapan yang tersedia memang hanya seadanya saja, tapi cukup bersih dan lengkap dengan kamar mandi dalam, kipas angin dan kelambu di tiap tempat tidurnya yang dapat melindungi kita dari serbuan nyamuk hutan yang terkenal ganas.

Pemilik penginapan biasanya adalah para polisi hutan, sehingga mempermudah kita untuk mendapatkan keterangan secara lebih rinci di cagar alam Batu putih, Tangkoko.

Seetelah beristirahat, pagi harnya saya diajak masuk untuk berkeliling melihat lihat hewan endemic Sulawesi Utara, dengan kata lain hewan hewan ini hanya terdapat di propinsi Sulawesi Utara saja.

Satu grup hewan endemic yang saya temukan pertama adalah kawanan MakakaNigra, yang dalam sebutan lokalnya adalah Yaki. Makakanigra ini adalah primata bermuka hitam dengan rambut di kepala membentuk jambul, berekor sangat pendek sehingga memberikan kesan tidak memiliki ekor. Hidup berkelompok membentuk kawanan dengan jumlah anggota 60-7- ekor.

Makakanigra termasuk hewan yang agresif apabila kita mendekatinya tanpa didampingin polisi hutan atau peneliti yang biasanya sudah dikenalnya. Apalagi dengan banyaknya jumlah bayi dikawanan tersebut, para pejantan cenderung lebih agresif untuk melindungi.

Untuk melihat hewan endemic lainnya kita harus menunggu hingga menjelang matahari terbenam. Karena hewan ini sangat peka terhadap cahaya dan tergolong nocturnal, atau hewan yang aktif pada malam hari. Sebutannya adalah Tarsius.

Berukuran sangat kecil, hanya sebesar telapak tangan, dan hidup di pohon pohon berlubang dalam kelompok kecil berjumlah 3-4 ekor. Untuk melihatnya kita harus menunggu saat saat Tarsius baru terbangun pada sore hari. Untuk memancingnya keluar dapat ditaruh pancingan berupa belalang yang merupakan makanan favoritnya, sehingga dia tergoda untuk menyambarnya. Walaupun berukuran sangat kecil, gerakannya sangat cepat.

Dengan bergulirnya waktu sayapun harus segera kembali keluar dari hutan sebelum suasana menjadi benar benar gelap. Kunjungan ke Tangkoko menjadi unik dengan kehadiran hewan hewan endemiknya, yang merupakan kekayaan tanah Indonesia juga.

Nias


Nias, satu nama yang sering kita dengar tapi mungkin tidak terbayangkan dalam benak kita, kecuali tradisi lompat batunya yang terkenal itu. Pertengahan Desember tahun kemarin saya berkesempatan untuk mengunjungi Nias, disertai harap harap cemas karena reputasi Nias yang saya dengar sebelumnya.

Perjalanan dimulai dengan penerbangan dari Jakarta ke Medan, yang memakan waktu sekitar 1.5 jam. Perjalanan dilanjutkan dari Medan ke Gunung Sitoli, kota dimana bandara di Nias berada. Pilihan maskapainya juga beragam, Riau Airlines, Susi Air, Merpati dan SMAC. Tapi jangan mengharapkan pesawat bermesin jet seperti yang kita ketahui pada umunya, maskapai maskapai ini menggunakan pesawat dengan teknologi yang kita kenal pada saat kita masih kecil dulu, dengan baling baling, rate sekitar 600 ribu rupiah.

Dari Gunung Sitoli saya melanjutkan perjalanan ke Teluk Dalam dengan menggunakan mobil sewaan yang memang banyak disediakan di Nias Utara. Ongkos sewa sekitar 500 ribu. Semenjak tsunami pada tahun 2006 kemarin jalan jalan di Nias banyak mengalami perbaikan, dan hasilnya, ruas Gunung Sitoli – Teluk Dalam full hot mix!

Oke, memang hot mix, tapi jembatan jembatan yang ada tetap tidak permanen. Jembatan besi ini berlapis kayu yang gampang sekali lepas. Tapi penduduk lokal siap membantu jika kita dalam kesulitan dengan imbalan beberapa rupiah. Perjalanan Gunung Sitoli – Teluk Dalam memakan waktu sekitar3 jam.

Teluk Dalam terletak di Nias Selatan, dan terkenal dengan Pantai Sorake nya, atau disebut juga Lagundri Bay, dan merupakan spot surfing bertaraf internasional. Tadinya mimpi untuk surfing di Lagundri pun saya tidak berani, dan sekarang pantai indah dengan gulungan ombak yang sempurna itu terpapar di depan mata, sangat mengundang untuk dicoba.

Kami memutuskan untuk bermalam di Sorake beach hotel. Sebenarnya disana berjajar penginapan penginapan di sepanjang bibir pantai, semuanya bernuansa tropis dan sangat “surfing” dengan kata lain penginapan ini sangat alami dengan dinding kayu yang pastinya tidak memerlukan pendingin lagi. Warung warung kecil terdapat disetiap lantai dasar penginapan, memungkinkan kita untuk melihat aksi para peselancar tanpa merasa kepanasan.

Sorake beach adalah hotel dengan standar yang lumayan bagus, walaupun dari segi penampilan sedikit disayangkan karena terlihat kurang terurus, terutama cat di dinding yang terlihat sudah mengelupas, tapi begitu saya melihat interior kamarnya saya terkejut juga. Sangat kontras dengan tampilan luarnya, interior Sorake beach sangat hangat dan hommy dengan material dinding kayu gelap, berpendingin ruangan, lampu lampu spot segingga menimbulkan kesan dramatis. Rate permalam saat itu 250 ribu. High season di nias biasanya adalah antara bulan april-agustus, dimana ketinggian ombak mencapai ukuran yang mencengangkan sehingga mengundang turis turis mancanegara untuk berdatangan.

Hari pertama di Nias kami memutuskan untuk mengunjungi perkampungan yang terkenal dengan budaya lompat batunya, Buomataluo. Konon desain lompat batu pada mata uang rupiah pecahan seribuan dulu itu diambil fotonya dari kampung ini, dan orang yang melompatnya masih ada walaupun sudah tidak melompat lagi. Sebelum masuk ke kampung kami disambut dengan tangga yang tinggi sekali, sayangnya saya sudah tidak kepikiran lagi untuk menghitung anak tangganya karena pasokan oksigen yang susah masuk. Kampung di Nias sangat unik. Semua rumah adat terbuaqt dari kayu yang mencuat ke depan, dan semuanya harus berhadapan. Jaman dahulu waktu masih sering terjadi perang antar kampung tatanan rumah yang berhadapan ini berguna untuk memperkecil gerak musuh yang menyerang.

Rumah besar yang merupakan rumah adat utamanya mempunyai pintu yang terdiri dari balok balok kayu yang sangat besar, berdiameter kurang lebih 1 meteran. Dan di halaman depannya terdapat meja batu berukuran sekitar 1.5 meter kali 2.5 meter dengan permukaan yang sangat halus termakan usia. Semua desain rumah besar ini sangat menggambarkan jaman megalithic, dengan material yang serba besar.

Tidak lama, para pelompat pun bersiap siap. Mereka sudah melompat dari awal umur belasan tahun. Tinggi batu yang menjadi rintangannya 2 meter dengan lebar 60 centi. Sayangnya yang boleh melompat hanya pria saja, kalau wanita boleh, pasti saya sudah mencoba dengan berbagai cara untuk melompati batu itu. Dahulu, lompat batu ini diperuntukkan untuk mengetes kedewasaan pria yang sudah memasuki masa dewasa, dan layak ikut berperang mempertahankan kampungnya.

Hari hari selanjutnya diisi dengan menjajal ombak di pantai Sorake yang sangat tersohor itu. Di pantai ini ada dua spot yang bisa di pakai, inside dan outside. Asiknya, ombak di spot ini selalu ada, bentuk pantai dan dasar karangnya sangat bagus untuk menangkap gelombang segala ukuran. Maka, tanpa sabar saya segera menyiapkan peralatan yang terdiri dari surfboard, legrope, dan tak ketinggalan, booties ( sepatu karang ). Dengan ditemani para grommet ( anak yang surfing dibawah umur 17 tahun ) saya mulai paddle ketengah dengan perasaan tak menentu antara bersemangat dan tegang.

Saat itu ketinggian ombak berkisar antara 1.5 meter hingga mencapai 3 meter. Tinggi ombak yang demikian lumayannya menurut saya adalah hari hari ombak kecil bagi mereka. Mereka begitu bangga akan ombak Teluk Dalam ini. Dan begitu saya berhasil take off di ombak pertama saya, rasanya nikmat tiada tara. Bentuk yang sempurna dari ombaknya dan gulungan yang lumayan jauh membuat saya puas dengan kualitas ombak Nias. Jangan harap saya mau paddle kembali setelah mengambil ombak, terlalu jauh jaraknya, lebih baik jalan kaki saja menyusuri karang untuk mencapai titik semula.

Sebenarnya gempa beberapa tahun silam juga sangat mempengaruhi kontur dasar laut dari point surfing ini. Karang karang yang ada cenderung naik sehingga gulungan ombak lebih cepat. Saya dapat membayangkan keadaan sebelum gempa, pastinya lebih nikmat lagi.

Lokal surfer di Teluk Dalam sangat baik, mereka sangat menghargai pendatang dari luar, terutama dari daerah yang tidak lazim menghasilkan peselancar. Jakarta adalah contoh yang tepat. Dan pada low season seperti ini tidak terlalu banyak peselancar luar yang bertandang, sehingga kondisinya lebih mengasikkan lagi, tidak terlalu rame di laut.

Tidak terasa waktu yang disediakan untuk berkunjung ke Nias sudah habis. Pada saat malam terakhir kami mendapat undangan bakar ikan bersama anak anak pantai Teluk Dalam yang diketuai Bang Azis. Bersama sama kami bermain gitar, bernyanyi dan menyantap ikan bakar yang berjejer jejer di depan mata. Benar benar kunjungan yang tak terlupakan, Sorake beach, a loveable righthander, a loveable beach..

Paskah big day out



Pic by Andris ( www.indosurfoto.com)

Ada rencana besar yang diset untuk liburan Paskah kali ini. Patokan hari yang diberikan sekitar satu bulan sebelumnya dari teman baru kami di Singapore ternyata tepat pada saat ombak flat di Jawa Barat. Biasanya kami kecewa, tapi kali ini berbeda!!! Malah kami mengharapkan hari hari flat untuk menjalankan rencana besar ini. Kami akan menyusuri sepanjang pantai selatan disekitar Pangandaran! Tidak pernah terpikirkan sebelumnya kalau kami akan menemukan spot lain disamping spot biasa tempat kami surfing.

Total jumlah kami bertujuh, dengan dua mobil. Tepat pukul 22.00 saya, Andryz dan Nabel menjemput teman baru yang kami kenal dari Facebook di bandara Soekarno Hatta. Dengan bag papannya yang besar akhirnya Mike Lim sampai juga di Jakarta. Selamat datang di scene surfing Jawa Barat, teman! Tanpa banyak menunggu kami langsung menuju jalan tol Cikampek kearah Bandung, dimana kami akan bertemu dengan teman-teman di mobil yang satu lagi, Ivan Handoyo, Albert dan Tetty.

Perjalanan Bandara sampai ke Pangandaran memakan waktu 8 jam! Beberapa dari kami yang belum terbiasa dengan waktu tempuh yang luar biasa itu terus bertanya tanya “are we there yet?”. Tapi setengah dari perjalanan dihabiskan dengan ngobrol ngalor ngidul, maklum ada teman baru yang di interview habis habisan dan sebaliknya..

Sekitar pk 5.00 kami akhirnya sampai di Pangandaran dan langsung ke Mini Tiga, penginapan teman kami, Leo. Ternyata kami tidak diberikan kesempatan beristirahat dulu, begitu teman teman kami yang tergabung dalam kloter pertama bangun di penginapan itu, mereka langsung mengajak kami ke spot yang baru mereka temukan kemarin. Tadinya rasa kantuk membuat saya berpikir dua kali untuk langsung mengiya kan ajakan itu, tapi berhubung semua ikut, masa saya ketinggalan kereta? No way! Jadilah kami cuma menaruh barang, dan menyambar boardshort serta legrope, langsung berangkat lagi.

Hari sudah terang ketika kami menuju ke timur dari Pangandaran. Memasuki area pesisir saya benar benar penasaran, kira kira mana ya ombak yang bisa dipakai? Ternyata kami tidak terlalu jauh menyusuri. Setelah parkir di bawah pepohonan kelapa yang banyak menaungi pantai, kami segera melihat ombak itu. Menurut pandangan saya sih mirip sekali dengan point Peak yang ada di Aceh, tetapi lebih tebal, cepat dan tidak terlalu panjang. Dari pantai kelihatannya tidak telalu besar. Leo dan Fridoun sudah lebih dulu masuk, sementara yang lain bersiap siap.

Setelah ada skala perbandingan dengan manusia, ombak itu tidak terlihat kecil lagi. Sangat lumayan malah. Benar benar ombak barrel! Take off dengan penuh komitmen. Makanya spot ini kami beri nama : Sucker. Nama itu sangat cocok dengan karakter ombaknya, menghisap semua yang ada didepannya, jangan sampai telat take off kalau tidak mau nenyusuri jajaran karang di depannya. Leo benar benar menghabiskan semua ombak disini, terutama yang berukuran besar dengan elevator drop nya. Melihat bentuk nya nyaris nyaris serangan jantung saya!

Setelah puas, kami kembali ke Mini Tiga dan mati suri kecapean.. Hari pertama yang mengesankan. Malam harinya kami barbeque dengan tiga ekor ikan yang ternyata tidak habis dibagi ber tigabelas juga. Perfect day!

Keesokan paginya, hari kedua, kami bersiap siap dari pukul 04.00 dan kali ini rute kami adalah menyusuri bagian barat dari Pangandaran. Penyusuran kali ini tidak semudah yang dibayangkan. Sepertinya kami salah waktu, ternyata spot spot yang ada lebih bagus pada saat surut, semetara saat itu masih pasang. Tapi kami memutuskan mencoba beberapa spot, salah satunya tempat Dede dan Mikala serta Mus main. Menurut saya ombak di spot ini masih sepupu jauh dengan ombak di Teahupoo. Mirip sekali, kiri, tebal dan barrel…

Sekali lagi Leo rocks here! Ada juga Didin, local pangandaran yang ikut. Wah ternyata ombak di sepanjang garis pantai yang ini tidak mengenal kata flat ya.. Setelah puas di wipe out dan sport jantung disini kami memutuskan jalan balik, siapa tau ada spot lain yang lebih ramah yang bisa kami mainkan. Kami berhenti dan main di satu spot lagi, tapi benar benar windy dan choppy, perpaduan yang sangat merugikan. Akhirnya kami harus mengakui, penyusuran hari ini tidak terlalu sukses, terlebih lagi kita harus ekstra hati hati di daerah ini karena salah satu teman kami kehilangan barangnya di mobil yang sudah dipstikan terkunci.

Untuk menghibur diri kami memutuskan mampir ke Batu Karas dan bermain long board. Suasana tenang dan fun di batu karas selalu bisa mengembalikan mood positif. Tetty teman kami sampai ketagihan mencoba long board disini. Mike, the Singaporean guy, juga terpesona melihat batu karas yang menurutnya mirip sekali dengan cherating, tapi dibalik.

Hari ketiga kami kembali ke point Sucker untuk fotosesion. Kali ini spot ini sengaja dipilih karena karakternya yang sangat fotogenik. Tapi point ini memang tidak pernah mengecewakan. Selalu buat penasaran, karena buat kami tidak semua ombak bisa diambil dengan mudah. Kadang wipe out, kadang juga berhasil.

Akhirnya weekend berakhir, satu mobil harus kembali ke Jakarta. Tapi saya, Andrys, Mike dan Tetty memutuskan untuk memperpanjang hingga dua hari lagi. Kami pindah ke Batu Karas, ke rumah salah satu teman kami. Situasi masih tetap flat sehingga kami memutuskan mencoba ke beach break di Batu Hiu. Wow, tidak sia sia kami kesana, ombak kanannya sangat rapih dan pastinya lumayan ber power. Kami hanya main ber lima selama hampir dua jam penuh. Aaah.. ini lah yang nikmat dari Jawa Barat, ombak nya masih berlebih untuk semua orang. Dan sorenya sesi longboard lagi di Batu Karas.

Hari terakhir, hari kelima, akhirnya saya mengajak Mike menikmati ombak eksklusif di Reef, yang hanya bagus pada musim hujan. Senangnya bisa menyuguhkan ombak beraneka ragam pada tamu.

Dari Batu Karas kami pulang ke Jakarta, langsung ke bandara untuk mengantarkan Mike. Kami sampai bandara pas sejam sebelum jam penerbangan, sehingga dia bisa check in dengan aman. Yeah, trip ini memang luar biasa dengan banyak nya pengalaman baru, persis seperti yang sudah diperkirakan sebelumnya. Selamat Paskah!!