Paskah big day out



Pic by Andris ( www.indosurfoto.com)

Ada rencana besar yang diset untuk liburan Paskah kali ini. Patokan hari yang diberikan sekitar satu bulan sebelumnya dari teman baru kami di Singapore ternyata tepat pada saat ombak flat di Jawa Barat. Biasanya kami kecewa, tapi kali ini berbeda!!! Malah kami mengharapkan hari hari flat untuk menjalankan rencana besar ini. Kami akan menyusuri sepanjang pantai selatan disekitar Pangandaran! Tidak pernah terpikirkan sebelumnya kalau kami akan menemukan spot lain disamping spot biasa tempat kami surfing.

Total jumlah kami bertujuh, dengan dua mobil. Tepat pukul 22.00 saya, Andryz dan Nabel menjemput teman baru yang kami kenal dari Facebook di bandara Soekarno Hatta. Dengan bag papannya yang besar akhirnya Mike Lim sampai juga di Jakarta. Selamat datang di scene surfing Jawa Barat, teman! Tanpa banyak menunggu kami langsung menuju jalan tol Cikampek kearah Bandung, dimana kami akan bertemu dengan teman-teman di mobil yang satu lagi, Ivan Handoyo, Albert dan Tetty.

Perjalanan Bandara sampai ke Pangandaran memakan waktu 8 jam! Beberapa dari kami yang belum terbiasa dengan waktu tempuh yang luar biasa itu terus bertanya tanya “are we there yet?”. Tapi setengah dari perjalanan dihabiskan dengan ngobrol ngalor ngidul, maklum ada teman baru yang di interview habis habisan dan sebaliknya..

Sekitar pk 5.00 kami akhirnya sampai di Pangandaran dan langsung ke Mini Tiga, penginapan teman kami, Leo. Ternyata kami tidak diberikan kesempatan beristirahat dulu, begitu teman teman kami yang tergabung dalam kloter pertama bangun di penginapan itu, mereka langsung mengajak kami ke spot yang baru mereka temukan kemarin. Tadinya rasa kantuk membuat saya berpikir dua kali untuk langsung mengiya kan ajakan itu, tapi berhubung semua ikut, masa saya ketinggalan kereta? No way! Jadilah kami cuma menaruh barang, dan menyambar boardshort serta legrope, langsung berangkat lagi.

Hari sudah terang ketika kami menuju ke timur dari Pangandaran. Memasuki area pesisir saya benar benar penasaran, kira kira mana ya ombak yang bisa dipakai? Ternyata kami tidak terlalu jauh menyusuri. Setelah parkir di bawah pepohonan kelapa yang banyak menaungi pantai, kami segera melihat ombak itu. Menurut pandangan saya sih mirip sekali dengan point Peak yang ada di Aceh, tetapi lebih tebal, cepat dan tidak terlalu panjang. Dari pantai kelihatannya tidak telalu besar. Leo dan Fridoun sudah lebih dulu masuk, sementara yang lain bersiap siap.

Setelah ada skala perbandingan dengan manusia, ombak itu tidak terlihat kecil lagi. Sangat lumayan malah. Benar benar ombak barrel! Take off dengan penuh komitmen. Makanya spot ini kami beri nama : Sucker. Nama itu sangat cocok dengan karakter ombaknya, menghisap semua yang ada didepannya, jangan sampai telat take off kalau tidak mau nenyusuri jajaran karang di depannya. Leo benar benar menghabiskan semua ombak disini, terutama yang berukuran besar dengan elevator drop nya. Melihat bentuk nya nyaris nyaris serangan jantung saya!

Setelah puas, kami kembali ke Mini Tiga dan mati suri kecapean.. Hari pertama yang mengesankan. Malam harinya kami barbeque dengan tiga ekor ikan yang ternyata tidak habis dibagi ber tigabelas juga. Perfect day!

Keesokan paginya, hari kedua, kami bersiap siap dari pukul 04.00 dan kali ini rute kami adalah menyusuri bagian barat dari Pangandaran. Penyusuran kali ini tidak semudah yang dibayangkan. Sepertinya kami salah waktu, ternyata spot spot yang ada lebih bagus pada saat surut, semetara saat itu masih pasang. Tapi kami memutuskan mencoba beberapa spot, salah satunya tempat Dede dan Mikala serta Mus main. Menurut saya ombak di spot ini masih sepupu jauh dengan ombak di Teahupoo. Mirip sekali, kiri, tebal dan barrel…

Sekali lagi Leo rocks here! Ada juga Didin, local pangandaran yang ikut. Wah ternyata ombak di sepanjang garis pantai yang ini tidak mengenal kata flat ya.. Setelah puas di wipe out dan sport jantung disini kami memutuskan jalan balik, siapa tau ada spot lain yang lebih ramah yang bisa kami mainkan. Kami berhenti dan main di satu spot lagi, tapi benar benar windy dan choppy, perpaduan yang sangat merugikan. Akhirnya kami harus mengakui, penyusuran hari ini tidak terlalu sukses, terlebih lagi kita harus ekstra hati hati di daerah ini karena salah satu teman kami kehilangan barangnya di mobil yang sudah dipstikan terkunci.

Untuk menghibur diri kami memutuskan mampir ke Batu Karas dan bermain long board. Suasana tenang dan fun di batu karas selalu bisa mengembalikan mood positif. Tetty teman kami sampai ketagihan mencoba long board disini. Mike, the Singaporean guy, juga terpesona melihat batu karas yang menurutnya mirip sekali dengan cherating, tapi dibalik.

Hari ketiga kami kembali ke point Sucker untuk fotosesion. Kali ini spot ini sengaja dipilih karena karakternya yang sangat fotogenik. Tapi point ini memang tidak pernah mengecewakan. Selalu buat penasaran, karena buat kami tidak semua ombak bisa diambil dengan mudah. Kadang wipe out, kadang juga berhasil.

Akhirnya weekend berakhir, satu mobil harus kembali ke Jakarta. Tapi saya, Andrys, Mike dan Tetty memutuskan untuk memperpanjang hingga dua hari lagi. Kami pindah ke Batu Karas, ke rumah salah satu teman kami. Situasi masih tetap flat sehingga kami memutuskan mencoba ke beach break di Batu Hiu. Wow, tidak sia sia kami kesana, ombak kanannya sangat rapih dan pastinya lumayan ber power. Kami hanya main ber lima selama hampir dua jam penuh. Aaah.. ini lah yang nikmat dari Jawa Barat, ombak nya masih berlebih untuk semua orang. Dan sorenya sesi longboard lagi di Batu Karas.

Hari terakhir, hari kelima, akhirnya saya mengajak Mike menikmati ombak eksklusif di Reef, yang hanya bagus pada musim hujan. Senangnya bisa menyuguhkan ombak beraneka ragam pada tamu.

Dari Batu Karas kami pulang ke Jakarta, langsung ke bandara untuk mengantarkan Mike. Kami sampai bandara pas sejam sebelum jam penerbangan, sehingga dia bisa check in dengan aman. Yeah, trip ini memang luar biasa dengan banyak nya pengalaman baru, persis seperti yang sudah diperkirakan sebelumnya. Selamat Paskah!!

Less Than 3 Days Wave

Tidak terlalu jauh dari point utama di Pelabuhan Ratu, Cimaja, terdapat point alternatif yang tergolong eksklusif untuk Jawa Barat. Dalam kurun waktu setahun point ini paling paling hanya bisa menampung swell kurang dari 5 kali pertahun. Tahun ini, kami semua beruntung karena bisa menyambanginya samapai 3 kali.

Ketepatan dalam membaca ramalan swell serta kabar dari para local yang saat ini sangat mudah didapat dari facebook benar benar membantu kami untuk menentukan saat yang tepat . Maka, awal Oktober ini sepertinya ideal , dengan arah swell dari barat daya, 7.5ft serta arah angin yang tepat menjanjikan kondisi yang offshore.

Kami terbagi dalam dua rombongan. Mobil pertama dengan para peserta senior seperti Emir, Riki bum bum, DJ Achdyat Andryz sang fotografer dan saya sendiri. Mobil kedua dengan peserta Race alias Iis, Jeje, serta dua orang teman yang baru akan mencoba surfing, Dini dan Attet. Diluar rombongan Jakarta, Bandung crew juga berangkat dengan anggota Luky 347, Inong, Aldy dan Imam. Bahkan teman Singapore kami yang langganan surf West Java juga tidak mau ketinggalan. Mike Lim terbang langsung dari Singapore ke Jkt dan menuju ke Cimaja. Mungkin kalau di Pelabuhan Ratu sudah ada badara bisa dipastikan dia akan menunggu kami di Cimaja hahaha…

Setelah acara jemput jemputan yang lumayan memakan waktu, kami berangkat pukul 5 subuh dari Jakarta dengan semangat mengebu gebu. Dalam waktu 3 jam saja kami tiba di Cimaja. Ternyata saat itu air laut baru akan pasang, jadi langsung kami memutuskan untuk surfing di Cimaja dulu. Sepertinya saat itu tidak terlalu pas untuk pemanasan, set set 4 ft dan wipe out yang lumayan lama menyegarkan badan yang masih terserang kantuk.
Barulah keesokan harinya, setelah melihat Cimaja close out, kami dengan semangatnya langsung menuju kearah Loji, point kiri yang ekslusif itu. Dan benar saja, pemandangan dari atas saat itu benar banar bagaikan mimpi. Deretan swell yang rapih dengan interval yang lumayan sering, offshore, serta ukuran yang pas sangat serasi dengan hamparan sawah di sisinya.

Ternyata bukan kami saja yang berpikiran ke Loji, sepertinya semua orang di Cimaja pindah kesini. Tapi meskipun begitu, ombak Loji sedikit tricky, jika kau bukan local atau surfer yang sering surfing di Loji, pastinya agak bingung untuk menempatkan posisi untuk mengambil ombak. Hal inilah yang saya manfaatkan, karena hampir selalu para turis gagal meneruskan ombak besar yang mereka ambil Seakan akan tidak diberikan waktu beristirahat, set yang datang terus menerus selalu bagus untuk diambil.

Emir dan Race juga bolak balik mengambil ombak Loji yang terkenal sangat panjang. Jika kau bisa bertahan, hal yang sangat mudah dilakukan di point ini, maka panjang ombaknya bisa mencapai hingga 500 meter! Sangat banyak yang bisa dilakukan dengan ombak sepanjang 500 meter, bagi yang belum terbiasa dengan ombak kiri seperti saya ( bahkan setelah bertahun tahun), ombak ini memberikan waktu yang cukup untuk mengecek posisi kaki, posisi tangan dan badan. Bagi yang sudah menguasai sih jangan ditanya berapa cutback, bottom, dan floater yang bisa dilakukan.

Tapi semua itu berubah saat para grommet datang. Nah ini dia penguasa ombak sebenarnya! Mereka dengan sangat aktif mengambil alih hampir semua ombak yang memaksa kami untuk maju ke depan dan bersaing secara adil.

Ternyata ombak ini tidak bertahan seharian. Lewat jam makan siang, angin mulai berubah arah dan merusak bentuk ombaknya. Dan setelah pasang penuh set set yang datang pun semakin jarang dan ukurannya semakin kecil. Sepertinya memang sudah saat nya sesi menyenangkan ini diakhiri.

Walaupun semua harus berakhir tapi rasa dan sensasi dari surfing itu sendiri tidak mudah hilang. Hal inilah yang menjadi charger kami semua untuk bertahan selama semingu bahkan dua minggu kedepan menghadapi kerjaan di Jakarta, dan hal ini juga yang membuat kami ingin terus dan terus merasakan sensasi ombak , have a nice surf semua!

Patroli Gajah Tangkahan

Beberapa jenis binatang biasa diperbantukan untuk manusia, terutama dalam hal penjagaan. Sebutlah, jenis tertentu dari anjing, atau kuda untuk pasukan kavaleri. Namun Gajah masih terbilang langka sebagai asisten manusia terutama saat ini.

Kali ini kami mengunjungi suatu lokasi yang terkenal dengan partoli gajahnya, tepatnya di Tangkahan, kawasan konsevasi Gunung Leuser, Sumatra Utara. Dari Jakarta kami terbang menuju Medan selama kurang lebih 2,5 jam. Setelah beristirahat sejenak dan bertemu dengan pemandu kami, perjalanan dilanjutkan ke Bukit Lawang, 3 jam perjalanan dari Medan kalau tidak terjebak macet. Sayangnya angka 3 jam itu lebih sering membengkak lantaran lalu lintas di Medan yang mulai bersaing dengan Jakarta.

Menjelang malam kami tiba di Bukit Lawang. Tidak sulit mencari penginapan di tempat yang ternyata merupakan tujuan wisata di kala akhir minggu bagi warga Medan ini. Harga penginapan sangat bervariasi sesuai fasilitas yang ditawarkan. Antara 100rb – 250rb. Dan beberapa penginapan menyediakan restaurant bagi tamu-tamunya. Kelelahan karena perjalanan yang nonstop, ditambah suhu udara yang sejuk membuat kami tidak berlama lama menahan kantuk dan langsung istirahat begitu mendapatkan kamar masing masing.
Keesokan paginya, kami memutuskan tidak langsung untuk lanjut ke Tangkahan tapi mencoba dulu rafting di sungai Wompu. Dari Bukit Lawang ke Sungai Wompu berjarak sekitar 2 jam perjalanan. Untuk mencapai lokasi rafting, mobil yang wajib digunakan adalah four wheel drive. Sebenarnya jarak tempuh tidak terlalu jauh, hanya medan jalannya lah yang memakan waktu demikian lama.

Bayangkan, setelah lepas dari jalan aspal kami menempuh jalan tanah diantara perkebunan kelapa Sawit. Mobil terguncang kesana kemari, dan ternyata ini bukan bagian yang paling parah. Tidak lama, jalam tanah berubah menjadi jalanan berlumpur. Dan barulah saya mengerti, mengapa rafting tidak terlalu popular dikalangan warga Medan. Terlalu banyak yang harus dilalui sebelum bisa menikmati arus sungai Wompu.

Sungai Wompu berlevel 3 dan berjarak tempuh 3 jam untuk sampai ke stop pertama. Jeram-jeramnya besar dan banyak area tenang setelahnya sehingga tidak terlalu melelahkan. Menyenangkan rasanya menghirup udara segar di pegunungan, dan merasakan sejuknya air sungai yang terpercik. Siang hari menjelang sore akhirnya kami kembali ke Bukit Lawang.
Persiapan ke Tangkaha dimulai saat kami selesai membersihkan diri di Bukit Lawang. Kami menyiapkan tas untuk keperluan sehari saja, karena lebih praktis untuk membawa barang barang yang diperlukan saja selama menginap disana.

Dengan mobil yang sama kamipun berangkat. Perjalanan ke Tangkahan sekitar 3 jam. Tadinya saya berharap kondisi jalan akan lebih baik dari kondisi jalan ke Sungai Wompu. Ternyata saya terlalu cepat berharap. Lepas dari jalan aspal berbatu yang hanya bisa kami nikmati sekitar30 menit, ketahanan kami langsung diuji dengan jalan berlumpur diantara kebun Sawit yang seakan tak ada habisnya.

Behubung kami berangkat di sore hari, maka malam turun disaat kami masih berjuang di tengah jalan. Keadaan sangat gelap. Terbanting banting selama 3 jam benar benar menguras tenaga dan mental. Dan ketika akhirnya kami sampai di tujuan, ternyata tidak terdapat fasilitas seperti yang diharapkan. Hanya ada satu atau dua tempat menginap seadanya dengan harga 60 ribuan semalam, kamar mandi luar plus menimba sendiri. Tapi untunglah rasa lelah dibadan membantu cepatnya kami terlelap tanpa banyak pertimbangan.

Paginya, di tempat menginap kami harus membayar retribusi untuk memasuki kawasan konservasi. Setelah itu barulah kami dapat meneruskan perjalanan kedalam. Tidak lama saya sudah bisa melihat para Gajah itu sedang menikmati sarapan paginya di kebun kebun. Mereka terlindung dalam kawasan khusus yang dipagari kawat.

Setelah menjemput 2 ekor gajah dan pawangnya, dimulailah petualangan kami. Menunggang Gajah memberikan sensasi yang aneh, seperti kau hidup dimasa lalu, dimana putri putri India bertamasya dengan mengendarai Gajah. Ternyata asal mula penangkaran Gajah ini dari 2 ekor Gajah Thailand yang terus dikembang biakkan sehingga mencapai 14 ekor saat ini. Dan mereka terlatih dengan baik untuk melakukan patroli berkala hutan di kawasan konservasi untuk menghindari penebangan dan perburuan liar.

Mengendalikan Gajah susah susah gampang. Kuncinya ternyata dari gerakan kaki kita di belakang telinganya. Kalau yang di gerakkan kaki kiri maka ia berbelok kea rah kiri, dan sebaliknya. Untuk menyuruhnya berjalan, cukup dengan menggerakkan kedua kaki.
Kami harus menyebrangi sungai yang berarus untuk memasuki hutan. Dengan Gajah sebagai tunggangan, rasanya sangat kokoh seperti kapal tongkang. Begitu juga saat memasuki hutan, walaupun para Gajah itu telah membuat jalur sendiri, tetap saja rasanya seperti mengendarai traktor, tidak ada yang bisa menghalangi.

Begitulah, walaupun perjalanan yang dilakukan sangat jauh dan melelahkan tetapi pengalaman yang didapat juga tidak bisa dibandingkan dengna yang lain. Apalai jika seusai mengendarai Gajah, ditutup dengan sesi memandikan Gajah. Selamat terkena siraman!!