Diving Alor

Alor merupakan salah satu top destination untuk wisata diving di Indonesia.

Hari masih pagi, dan kabut-kabut tipis masih bergantung rendah diantara bebukitan di sekitar teluk Kalabahi kala perahu kami meluncur diatas air laut yang semulus sutera saat akan melakukan diving di Alor.

Ya, teluk Kalabahi merupakan lokasi dimana pelabuhan tempat kapal-kapal bersandar, baik perahu nelayan maupun kapal transportasi publik yang berukuran lebih besar.

Alor sendiri merupakan pulau kecil yang terletak di atas pulau Timor, yang juga merupakan pulau dimana Kupang  berada, lokasi transit sebelum melanjutkan penerbangan ke Alor.

Beberapa kali berkunjung ke Alor, cerita gw bisa dibaca disini dan disini.

Berikut beberapa top dive site di Alor

  1. Babylon

Lokasi penyelaman ini memiliki dinding (wall) dan overhang yang penuh dengan koral berwarna warni dengan visibility mencapai 25-30 meter.

Beruntung sekali saat kami akan menyelam kala itu, karena seorang nelayan tradisional Alor akan menenggelamkan sebuah Bubu, perangkap ikan tradisional yang terbuat dari bambu.

Konstruksi Bubu yang memiliki lubang perangkap yang cukup lebar, memudahkan ikan untuk berenang masuk dan seiring dengan mengecilnya lubang akan membuat ikan-ikan yang telah terlanjur memutuskan untuk masuk akan sulit menemukan jalan keluar kemabali.

Para nelayan ini hanya akan mengambil sejumlah ikan sesuai dengan kebutuhan mereka, dan melepaskan sisanya kembali ke laut.

Continue reading “Diving Alor”

Surfing Bono

Gimana rasanya surfing berjam-jam nonstop di atas ombak? Cuma di Bono hal unik nan ajaib seperti itu bisa didapatkan.

Surfing Bono – surfing di sungai

Ini bukan kali pertama gw mengunjungi Bono, sebutan ombak sungai Kampar super panjang yang berada di provinsi Riau, tepatnya di desa Teluk Meranti.

Perjalanan ke teluk Meranti dari Pekanbaru memakan waktu sekitar 4 jam menggunakan mobil sewaan yang bisa didapatkan baik dari Pekanbaru maupun dari Teluk Meranti itu sendiri.

Teluk Meranti sendiri sudah memilki 3 sampai 4 penginapan, lumayan berkembang dari beberapa tahun lalu ketika mereka masih hanya memiliki satu penginapan saja (baca trip pertama gw disini)

Sebelum berangkat, gw memang sudah saling kontak dengan Bang Eddie yang merupakan operator lokal andalan disana. Saat kami berkunjung ini rupanya belum merupakan musim yang bagus untuk Bono, debit air yang dimiliki sungai Kampar tak cukup tinggi untuk menghasilkan ombak bertenaga.

Tips: musim yang baik untuk mengunjungi Bono adalah bulan-bulan dimana curah hujan cukup tinggi seperti di bulan oktober-maret.

Fasilitas

Biasanya surfer merupakan jenis orang-orang yang nggak rewel dan mudah dibahagiakan, Maka ketika menghadapi fasilitas serba terbatas di Desa Teluk Meranti, kami sama sekali tak keberatan.

Yang perlu diperhatikan : listrik hanya dihidupkan pada pukul 6 sore hingga 7 pagi, sehingga semua peralatan yang memerlukan batre harus dicharge penuh pada malam hari.

Kamar mandi yang disediakan merupakan kamar mandi luar dengan sumber air langsung dari sungai. Nah ini memang agak memerlukan kesiapan hati, karena warna air pun tidak jernih tapi kecoklatan akibat partikel lumpur yang ikut tercampur. Sediakan saja botol air mineral yang bisa digunakan untuk saat menyikat gigi.

Selfie sambil surfing? serahkan pada David

Surfing Continue reading “Surfing Bono”

Suku Bajo di Wakatobi

 

Salah satu Suku laut yang bertahan hidup di atas laut, bangsa Bajo tidak mengenal perbatasan negara. Mereka berkelana berpindah-pindah menyrusuri pulau-pulau disepanjang nusantara dan negara sekitar.

Suku Bajo di Wakatobi

Matahari bersinar cerah saat pagi itu saya melaju membelah laut Wakatobi menuju pulau Hoga, pulau dimana terdapat kampung Bajo yang masih meneruskan cara hidup para pendahulunya : membangun rumah diatas laut dan hidup sebagai nelayan.

Pulau Hoga sendiri dapat dicapai … jam menggunakan kapal kayu dari Wakatobi. Daerah di selatan Sulawesi ini memang merupakan salah satu area penyebaran bangsa Bajo. Selain Sulawesi selatan mereka juga bisa ditemukan di area Kepulauan Riau, Batam, semenanjung Malaysia, utara Sulawesi hingga Philipine.

Sea gypsy, merupakan salah satu julukan yang diberikan bagi mereka. Pada awalnya, kebiasaannya berpindah tempat hanya menggunakan perahu kayu dengan memboyong seluruh keluarganya mengakibatkan mereka tak mengernal batas negara. Sehingga bangsa Bajo di Indonesia, malaysia dan Philipine dapat saling mengerti saat berkomunikasi dengan bahasa Bajo.

Saya sendiri pernah bertemu dengan orang Bajo yang masih selalu berpindah tempat dan hidup di perahu kecil mereka di Batam. Sayag saat itu saya belum membuat video. Masih jelas di ingatan saya keluarga bajo yang saya temui itu, sangat sulit untuk didekati. Mereka tak terlalu terbuka terhadap orang luar.

Kampung Bajo

Kampung Bajo di Hoga dibangun diatas laut, maksudnya benar-benar di atas laut. Rumah-rumah panggung dari kayu bertebaran di sepanjang pesisir. Terdapat teras yang cukup luas di depan masing-masing rumah.

Kadang mereka menaruh kursi juga untuk temapt bersantai, tapi kebanyakan teras rumah mereka tergantung jala yang digunakan untuk mencari nafkah. Beberapa bapak tampak membuka jala mereka dan membenarkan kerusakan yang ada.

Masing-masing rumah terhubung satu sama lainnya dengan jembatan yang tak terlalu lebar, hanya cukup dilalui oleh dua orang saat berpapasan.

Perahu-perahu kayu tampak hilir mudik di bawah jembatan-jembatan ini. Semua warga Bajo, termasuk para ibu dan anak-anak memang piawai mendayug perahu dan mempergunakan perahu kecil ini sebagai alat transportasi utama.

Batu pondasi tiap rumah dimana tiang-tiang terpancang adalah karang-karang laut yang berada di sekitar perkampungan mereka. Banyak yang berpendapat mereka merusak lingkungan dengan melakukannya.

Tapi menurut saya sih, apa yang mereka lakukan hanya menyumbang persentase yang sangat kecil pada kerusakan lingkukangn jika dibandingakan kerusakan parah yang diakibatkan bom ikan dan juga sampah-sampah yang dibuang ke laut.

Ibaratnya, sama seperti perburuan paus yang dilakukan masyarakat Lamalera, dibandingkan dengan perburuan besar-besaran yang dilakukan oleh kapal nelayan besar yang berasal dari negara lain, menangkapi paus dan hiu tanpa mengindahkan lambatnya populasi mereka bertambah.

Makanan masyarakat baj Continue reading “Suku Bajo di Wakatobi”

4 Hari di Bali dan Lembongan

Bali ga ada habisnya… Lembongan pun begitu.

Ketika keluarga minta tolong direncakan liburannya di Bali selama 4 hari, dan isinya terdiri dari ibu-ibu, sepupu yang selalu mau mencoba hal baru, serta sepupu yang lebih suka bersantai-santai sambil update status, maka gw harus bisa merencakan sesuatu yang bikin mereka semua hepi.

Nyokap gw itu meskipun sudah lumayan berumur tapi semangat jalannya masih tinggi. Bahkan beberapa kali nggak pernah nolak kalau diajak snorkling. Eh, beliau sudah sampai ke Rote segala looh hehehe. Nah, pertimbangan kalau jalan-jalan bareng senior citizen gini, faktor kenyamanan dan keamanan juga harus dipertimbangkan.

Jadi meskipun mau seru-seruan bareng sepupu, para ibu-ibu juga harus tetep bisa ikutan.

oya, cek2 juga nih video selama liburan kemarin dari Gilbert

DAY 1

Surfing

Ke Bali kalau nggak surfing sayang banget yaaa. Maka selama gw surfing, salah seorang sepupu gw, Gilbert, menyewa surfboard dan berjuang setengah mati di section white water di pantai Padma yang memang diperuntukkan untuk belajar.

Ibu-ibu pada kemana? Oh, jangan khawatir, mereka dengan santainya menyesap jus segar di bawah pohon serta bersender manis pada bantal-bantal yang ada. Kalau bosan mereka iseng berjalan kali di sekitar pantai Padma yang selalu ramai. Ingatkan saja mereka untuk selalu membawa topi dan tidak kekurangan minum yaa.

surfing bali
Sempet-sempetin nyobain surfing kalau ke Bali
Relaxing after surf sesh at Padma
Leyeh-leyeh ala nyokap
Yang paling menyenangkan saat nongkrong di Padma itu, kamu bakal ketemu dengan semua temanmu tanpa janjian

DAY 2

Flowrider

Yang kesel nggak dapat ombak? Jangan kawatir, hari itu juga kita bisa meluncur ke daerah Dewi Sri untuk mencoba Flowrider.

Kalau belum pernah coba bagaimana? Jangan kawatir, mereka memiliki instruktur yang dengan sabar menjelaskan serta membantu kita untuk tetap bertahan di atas board, meski tak mudah untuk pertama kalinya. Tapi yang pasti FUN!

Beda banget sama surfing, worth to try!

Untuk yang belum pede melakukan flowrider dengan posisi berdiri, silakan melakukannya dengan posisi tiduran.. eh telungkup maksudnya hehehehe. Sepupu gw yang satu lagi si Irene, memutuskan untuk bersenang-senang dengan mengunakan bodyboard di kolam flowrider ini. Nggak kalah serunya!

Semantara para nyokap bisa bersantai di restaurannya yang cozy sembari kembali menyesap minuman-minuman dingin menyegarkan. Dijamin mereka tak akan bosan melihat anak-anaknya jungkir balik.

Irene nggak mau ketinggalan

Oya, penginapan di Bali saat musim liburan itu bisa luar biasa penuh. Dan kalau sedangn high season begini, harga pun ikut-ikutan high. Tapi jangan kawatir, waktunya untuk mencoba homestay. Keuntungan homestay itu banyak. Ketika kami memutuskan untuk menginap di Kubu Kusambi, kami tau ini adalah keputusan yang tepat.

  • kamu merasakan atmosphere Bali yang sebenarnya, dengan suara ayam dan burung-burung sebagai alarm pagimu.

 

 

  • Dog lover? ini dia  yang akan bikin kamu berasa di rumah. Disambut 7 ekor anjing yang ceria dan suka bermanja-manja bikin betah rasanya. 

  • Sarapan yang santai seakan di rumah sendiri. Begitu keluar kamar sarapan sudah tersaji di meja makan tempat kami berenam berkumpul. Ngobrol sembari  membuat perencanaan kegiatan menjadi hal favorit di pagi hari sembari memandangi kehijauan kebun Kubu Kusambi yang luas.

  • Kamar luas, anti desek-desekan. Apalagi kalau kamu bawa banyak barang
  • Kebun yang super luas… ssstt ternyata bisa bikin acara private juga loooh disini!

 

Alamat Kubu Kusambi

Jl. Taman Putri no. 04, Mumbul – Benoa.

Bali

contact : Gino 08123927527

DAY 3

Lembongan here we come!

Ok, jadi meskipun waktumu cukup sempit seperti kami, menyebrang ke Lembongan tetap bisa menjadi alternatif karena jarak tempuhnya yang tak terlalu jauh. Penyebrangan dari Sanur, dan ada baiknya kamu sudah booking jauh-jauh hari di saat musim liburan seperti ini. Gw sudah menghubungi bli Ware dari beberapa waktu lalu, maka tiket kami telah tersedia ketika kami sampai.

Canoing and Stund Up Paddle

Kegiatan pertama yang kami pilih adalah canoing. Lokasinya berada di daerah mangrove atau hutan bakau. Memang sesuai namanya, dareah ini masih oke banget bakaunya.

Langsung menuju LOA (Lembongan Ocean Adventure),  kamipun memilih canoe yang akan digunakan. Nyokap gimana? nyokap nggak mau ketinggalan dan memilih ikutan mendayung di canoe. Ternyata gw tau sekarang kenapa gw   nggak bisa diam. It’s in our blood.

Tapi bagi yang malas mendayung dan tetap ingin menikmati hutan bakau, banyak perahu yang dapat disewa dengan harga relatif murah.

Sunseting

Dosa besar namanya kalau ke pantai tapi nggak menikmati sunset. Salah satu lokasi sunset yang seru itu di Ware Ware, yang terletak di atas tebing. Ah… tak bosan rasanya menyaksikan matahari terbenam. Surfer-surfer hilir mudik menggotong papan surfing mereka karen memang didekatnya terdapat spot surfing ‘playground’. Anak-anak bermain pasir dan tamu-tamu resto yang lainnya pun mulai mengeluarkan smarphone atau kamera mereka untuk mengabadikan moment ini.

DAY 4

Snorkling

Masih di lokasi yang sama di area mangrove, snorkling disini memberikan jaminan mutu karang-karang yang sehat dan ikan yang sibuk berseliweran. Peserta kali ini nyokap gw (tuh kan nggak mau diem) dan sepupu gw Gilbert (kalau ini jangan ditanya, dia mau coba segala hal).

Snorkling Mangrove – Lembongan

Yang perlu diingat adalah:

  • Mangrove memiliki arus yang lumayan kuat apalagi kalau kebagian jam snorkling saat air surut. Pastikan kamu nggak terpisah dari teman-teman yang lain, dan nurut sama guide snorkling yang mendampingi yaa.
  • Jangan menginjak karang. Guide akan mengingatkan juga berkali-kali sebelum dan saat melakukan snorkling. Sayang kan karangnya harus jadi korban ketidakbecusanmu snorkling? untuk tips snorkling yang benar, klik disini
  • Yang nggak gape berenang jangan kawatir, mereka juga menyediakan live jacket.
  • Jangan lupa bawa kamera tahan air yaaaaa
Snorkling Mangrove – Lembongan

Where to stay

Kemarin saat musim ramai kami mendapatkan satu resort kecil manis yang berjarak hanya 100 meter dari pantai. Namanya D’Licks.

Jangan kecewa kalau nggak dapat resort di tepi pantai, karena Lembongan itu kecil dan anti macet. Bisa jalan kaki atau naik motor kalau mau kemana-mana

Lagian ada kolam renang juga di area resortnya, jadi masih bisa leyeh-leyeh mandi matahari kalau lagi males keluar-keluar.

D’Licks Villa

Wayan Ware 08123803321

 

 

Diserbu Ibu-Ibu di Selayar

Biasanya kalau trip ke daerah, semua berjalan biasa aja. Nggak ada tuh yang manggil-manggil minta foto apalagi nagih utang. Tapi trip ke Selayar kali ini luar biasa hebohnya.

Penyebabnya tak lain dan tak bukan karena di group kami kali ini keselip seorang artis sinetron. Menurut saya yang namanya artis sinetron itu adalah artis beneran.

Soalnya kehebohan yang ditimbulkan juga beneran.. susah ditangani. Subuh itu kami berkumpul di Soetta untuk menuju Makassar, tempat transit sebelum melanjutkan penerbangan ke bandara H. Aroeppala di Selayar. Tuuh, jadi kalau mau main-main ke Selayar dah mudah niih ada penerbangan sampai di pulaunya.

Waktu pertama kali dikenalin ke Andrew Andika (artis yang gabung di group kami), saya langsung membayangkannya beraksi di layar kaca (maklum ga pernah nonton sinetron jadi kurang hafal pemain-pemainnya). Kulit putih dan bibir merah meronanya sudah pasti jadi idola ibu-ibu nih.

Sepertinya trip kali ini akan menarik.

Selayar sendiri letaknya di selatan Tanjung Bira yang beken juga dengan pantai-pantai indah berpasir putihnya. Dan untuk penggemar mancing, Selayar bisa masuk hitungan nih dengan banyaknya spot mancing.

Benar saja, saat kami mendarat di Selayar, sambutan bunga langsung menerjang barisan terdepan dimana Andrew menjadi salah salah satunya. Setelah bunga, bermunculanlah ibu-ibu dengan samrtphone plus tongsis di tangan mulai menggapai-gapai Andrew. Sembari cekikikan malu-malu tapi senang, mereka berfoto bergantian sampai Andrew harus diselamatkan sedikit paksa agar perjalanan kami dapat berlanjut.

Ini baru permulaan. Setelah jamuan makan siang (tentunya seafood yang lezat!) diselingi foto-foto (lagi), kami semua menuju dermaga siap bertolak menuju spot diving pertama. Meskipun group kami berjumlah sekitar 14 orang, tapi pengantar yang terdiri dari teman-teman kantor dinas dan handai taulan berjumlah setengah dari seluruh isi dari kampung terdekat. Heboh.

Kembali tongsis-tongsis berjuluran disekitar Andrew.

Akhirnya berangkat. Lega rasanya.

Pic by Dewi Wilaisono
Pic by Dewi Wilaisono

Spot diving di Selayar yang keren benar-benar bisa menghapus semua kepenatan yang terkumpul selama perjalanan. Wall indah di pantai Pinang bisa jadi altenatif buat para pecinta diviung nih. Yang penasaran silakan tonton vlog gw di Wet Traveler di bawah ini.

Kelar diving, kami safety stop leyeh-leyeh di pantai tersebut,. Tadinya saya pikir kami akan tenang dan aman, ternyata dari bibir pantai terdenganr teriakan “ANDREW SINI DONG FOTO DULU” astagaahh.. Kopasus juga nggak ada apa-apannya nih hehehehe.

Berhubung kami masih leyeh-leyeh menggunakan wetsuit di laut, kami merasa aman (maksudnya Andrew merasa aman, apalah saya ikutan-ikiutan hahahahha..) TAPI RUPANYA SI MBAK GA SABARAN DAN MULAI MERELAKAN CELANANYA BASAH MASUK KE LAUT!

Dan sesi foto-foto pun mulai kembali hihihihi..

Begitu juga keesokan harinya saat kami mengunjungi Desa Tua Bitombang. Tadinya saya sudah berniat untuk curi-curi ngambil video saat Andrew dikerubuti ibu-ibu. Pastinya akan lucu banget untuk masuk di vlog.

Sayapun mempersiapkan kamera di tangan, siap menangkap moment itu. Tapi ketika moment itu datang : Andrew menikmati makan siangnya di saung, dan tiba-tiba dari belakang pipinya sontak dicubit gemas oleh salah seorang ibu. Saya benar-benar nggak tega melihat mukanya yang kesal.

Ya siapa coba yang nggak kesel kalau lagi makan tiba-tiba pipi ditarik-tarik. Kadang fans memang keterlaluan tapi malah menyalahkan si artis yang katanya sombong. Moment seperti ini memang harus tak bisa dinilai secara sekilas.

Artis juga manusia.

Saya urung menghidupkan video saya. Saya nggak melihat hal itu lucu. Batal. Maka kalau kalian lihat vlog selayar saya, Andrew emang ga terlalu diekspose, menghargai privasi dia juga.

Tapi secara keseluruhan trip ke Selayar ini berkesan banget! Dan yang pasti, saya bersyukur menjadi seorang blogger/vlogger dan bukan artis

The Wet Traveler (Pinneng and me) and our amazing friend Ibu Dewi WIlaisono