Negur Orang Buang Sampah Malah Dimarahin

Pernah nggak ngasih tau orang yang buang sampah “Bu/Pak, itu sampahnya jangan dibuang sembarangan.” – gw pernah, dan dalam sekejab menadapatkan tatap tajam penuh dengan kebencian menyayat yang bikin pantat menciut (kok kaya balon ya).

Apalagi gw sebagai plegmatis sejati yang pasti berusaha untuk nggak punya konflik terhadap orang lain, kecuali kalau dapet perlakuan sexual harrsment yaaakk, gw bakalan ngamuk tu.  Kalau Negur orang lain yang sok nggak ngerti ngantri, nyerobot, atau buang sampah sampah sembarangan, buat gw berat dan ga mudah untuk negurnya. Gw takut dia marah balik, dan biasanya memang begitu.

Yes, meskipun kegiatan gw surfing/diving/kadang naik gunung  nggak langsung membuat gw berani menghadapi orang2 nyebelin itu. Jiper.

Nah, kaitannya soal sampah dan travelng? Well.. Tak terpisahkan.

Nah, karena sering traveling, gw jadi aware dengan kebersihan satu tempat. Nyesek banget rasanya kalau ketemu lokasi indah tapi nyempil sampah plastik. Nyesek rasanya kalau liat orang buang sampah sembarangan. Dan sejak beberapa tahun lalu sudah berusaha untuk mengurangi penggunaan sampah sekali pakai seperti botol air mineral / plastik belanja /  sedotan dll, meskipun sering khilaf juga siih.

Ga mudah memang.  Yang namanya mengubah kebiasaan itu nggak semudah mencabut uban yang tumbuh. Kalau blom punya uban? ya cabut bulu jenggot.

Yang kemana-mana biasanya kalau haus tinggal mampir warung beli air mineral botol, jadi harus mulai membiasakan diri untuk bawa botol minuman dari rumah. Yang biasanya kalau belanja, pulang tinggal tenteng belanjaan pakai kantong plastik, sekarang harus mulai biasakan diri bawa kantung belanja sendiri yang bisa dipakai berkali kali.

Misahin sampah organik dan non-organik? Wah tidak semudah itu ferguso. Gw sendiri di rumah berusaha untuk memisahkan keduanya, dan end up harus mengingatkan berkali-kali keluarga yang ada di rumah kalau mereka salah mengkategorikan sampah.

“Ini daun bayem masuk mana?” Tanya tante gw dengan muka polos

“Organik dong, kan bisa busuk.”

“Tapi kan ini daunnya kering, katanya yang itu buat yang basah-basah?” Glk, ternyata belum sukses gw menjelaskan dengan sederhana kenapa disebut organik.

Atau tiba-tiba gw jerit-jerit sendiri “Ini kenapa ada plastik di Organik?”

Trus setelah dipisahkan, semuanya disatukan kembali saat mobil sampah menjemput.. jadi sedih. Meskipun nantinya akan dipisah-pisahkan juga oleh pemulung sih.

Pengennya sampah plastik masih bisa didaur ulang, karena plastik baru akan hancur dalam kurun waktu 450 tahun. Sebelum itu ia hanya akan terpecah-pecah menjadi serpihan kecil yang disebut dengan microplastik, dan hanyut bebas di lautan atau terpendam di tanah. Mengerikan.

Nah, bagaimana kalau ternyata sampah plastik kita bisa dikumpulkan di bank sampah, di daur ulang plus menjadi pelindung kita juga?

Makin penasaran? Pasti.

Allianz punya campaign yang menggabungkan antara sampah plastik dan perlindungan.

Dengan nyetor sejumlah sampah yang telah ditentukan oleh Allianz, kita bisa ikutan asuransi  : Penggantian biaya medis dan santunan kematian atau cacat tetap akibat kecelakaan, serta santunan kematian.

Caranya mudah: sudah berusia di atas 17 tahun (maks 60 tahun), meningkatkan saldo di bank sampah (dengan rajin nyetor), tinggal gunakan aplikasi MySmash dan pilih menu ‘Lingdungi Diri’. Untuk informasi lebih lengkapnya bisa cek disini

Memang urusan sampah tidak akan selesai semudah itu. Tapi semua bermula dari diri sendiri dulu. Mau ribet dikit demi sampah plastik yang dapat di daur ulang, maka perlahan-lahan keadaan akan semakin baik. Plus jangan meremehkan proteksi diri juga, karena kalau bukan kita sendiri, siapa lagi yang memikirkan dan mengambil tindakan untuk melindungi diri kita sendiri.

Leave a Reply