Menjelajahi kota Palu.

“Where’s the great spot to enjoy the sunset” Tulis gue di Insta sotry beberapa saat sebelum keberangkatan kami ke Palu. Jawaban yang diterima pun sangat beragam.

Namun ada satu kesamaan dari semua usulan para netizen : semua mengacu ke Donggala tanpa satupun menyebut spot di kota Palu. 

Hmmm… kenapa demikian yaaa.

Rupanya memang Palu biasanya hanya menjadi tempat transit bagi para traveler yang hendak melanjutkan perjalanan ke Parigi atau Donggala yang memang sudah mempunyai nama di kalangan para penyelam.

Setelah ngobrol banyak dengan salah satu teman yang berasal dari Palu, akhirnya kami memiliki rencana untuk mengunjungi beberapa hilte yang berada di kota Palu. Dan hal ini tentunya nggak sulit dengan keberadaan GO-JEK di kota Palu. Tinggal order GO-RIDE beberapa lokasipun bisa kami sambangi.

Gong Perdamaian, salah satu spot wajib di Palu

Gong Perdamaian

Hanya Rp 22.000,00 menggunakan GO-RIDE dari hotel RoaRoa.

Nama Gong perdamaian ini nggak asing sih sebenarnya. Sudah beberapa kali muncul di laman pencarian google (yak, gue research dulu sebelum datang ke kota ini).  Akhirnya kami memutuskan untuk mengunjunginya di pagi hari.

Ternyata Gong perdamaian ini terletak di beberapa kota, tak hanya Palu saja antara lain Bali, Ambon dan lainnya, sebagai pengingat semoga tak ada lagi konflik berkepanjangan seperti yang pernah terjadi.

Hanya membutuhkan waktu sekitar 15 menit dari pusat kota Palu, jalan menuju ke Gong Perdamaian yang terletak di atas bukit ini cukup bagus. 

Pagi hari saat langit cerah, kota Palu terbentang luas. Lokasinya yang berada di lembah terlihat jelas diapit perbukitan dan berlatar teluk Palu yang dipisahkan oleh pantai Talise. Cantik sekali. 

Rupanya pengelola tempat ini juga cukup sadar akan kebutuhan pengunjung yang pasti akan mengabadikan kecantikan ini dan membuat sebuah anjungan berbentuk ujung perahu sebagai lokasi berfoto.

Kuliner andalan Kaledo

Kaledo atau Kaki Lembu Donggala, merupakan nama yang paling sering muncul di usulan para warga net. Yes, sup kaki kambing ini wajib dicoba saat berkunjung ke Palu.

Kami diantar ke Resto Kaledo Stereo oleh driver GO-RIDE yang katanya kerap dikunjungi para artis dan pejabat. Foto-foto mereka yang telah berkunjung banyak menghiasi tembok resto ini.

Ketika kami datangpun, pengunjung ramai memadati lokasi ini. 

Yang paling enak dari Kaledo ini adalah menyedot sum sum tulang sapi. Tak heran selalu disediakan sedotan ketika menghidangkan makanan ini. 

Nama Stereo sendiri diberikan karena cara memakan Kaledo ini harus dengan dua tangan (stereo) dan tak bisa hanya sebelah tangan saja (mono). Cusss enak banget ini!

Bawang Goreng Hj Mbok Sri

Lha, kok malah bawang goreng sih? 

Beneran loh, rupanya memang bawang di Palu ini terutama bawang merahnya sangat berbeda. Secara fisik terlihat lebih putih. Dan setelah diolah pun sangat manis Tanpa adanya rasa pahit yang biasanya tertinggal di bawang goreng.

Selain itu teksturnya sangat gurih. Jika ditempatkan pada wadah tertutup, kegurihan bawang goreng ini bisa bertahan hingga jangka waktu satu tahun.

Adalah Ny. Harjo Sriyono, wanita Jawa kelahiran Pakualaman, Yogyakarta, 10 Mei 1932 yang mengenalkan bisnis bawang goreng ini melalui usaha industri rumah tangga pada 1976. Hingga saat ini, cucunya lah yang meneruskan usaha bawang goreng ini.

Toko mungil yang bersih dan rapi di bagian depan tak pernah sepi oleh pembeli. Tak tanggung-tanggung, pembeli bisa berbelanja berkardus kardus. Gue juga belanja doong, meskipun nggak berkardus-kardus siiih.

Alamatnya di Jl. Dr. Abdurrahman saleh, BTN Mutiara Indah Blok E no 3, Birobuli utara, Palu Selatan

Warkop Aweng

Weh, kuliner lagi? Kenapa tidak?

Kedai kopi yang telah ada sejak tahun 1953 ini memang dirintis ole pak Aweng. Racikannya yang khas menjadi andalan warkop ini,

Ternyata tak hanya satu, warkop Aweng sudah membuka beberapa cabang di kota Palu. Lokasinya selalu menyajikan tempat terbuka. Kursi yang disediakan pun lumayan banyak. Nyaman.

Sekilas mengingatkan saya pada kopi aceh, karena kopinya pun digodok dan baru dituang saat ada pembeli yang memesan. Masih menggunakan arang, maka rasanya pun unik.

Tapi saat memesan kopi susu hati-hati yaa.. standar mereka yang memasukkan kental manis dosisnya suka berlebihan, dan rasanya jadi terlalu manis. Gue sih minta dikurangi kental manisnya, soalnya nggak terlalu suka minuman manis, jadi rasanya lebih pas dengan selera.

Nasi kuning Mama Jena

Nasi kuning yang terletak di jl. Patimura ini ternyata sudah terkenal enak. Tempatnya hanya berupa warung sederhana namun bersih. Ketika pagi itu kami mendatanginya, Sudah ada beberapa pelanggan yang mengantri.

Nasi kuning yang dihidangkan lengkap dengan lauk ayam, abon sapi, telur, saus kari dan taburan awang goreng memang lezat.

Namun siap-siap kaget karena harganya lumayan mahal untuk sebuah nasi kuning : 50.000 per porsi. Hmmm, atau gue aja nih yang kena ketok ya hehehe.

Jembatan kuning Palu

GO-RIDE dari hotel RoaRoa hanya 8.000,00

Setiap kota pasti memiliki landmark, nah jembatan ini cocok menjadi landmark tersebut. 

Melintasinya saat sore hari, cukup menyenangkan. Apalagi bisa melayangkan pandangan ke arah laut dan sungai secara bersamaan.

Tapi yang seru, sungai yang berada di bawah jembatan kuning ini kerap dikunjungi buaya yang oleh warga kota Palu sudah bukan dianggap hal yang luar biasa lagi. Yup, kalau beruntung kita bisa melihat buaya berjemur dari sini.

Kalau mau sunsetan dimana? Well, karena Palu dikelilingi gunung, memang ga bakal dapet sunset full sih, tapi menghabiskan sore di pantai Talise juga sangat menyenangkan kok. Berhubung gue bawa skateoard saat itu, menghabiskan sore bermain skate bareng anak-anak di pantai juga seru banget!

Apalagi GO-JEK sudah masuk Palu juga, terutama GO-RIDE, pas banget untuk menjelajahi Palu yang nggak terlalu besar. GO-FOOD juga dah ada, jadi bisa mesen cemilan sambil ngeliat sunset deeeh.

Tonton keseruan kita di Palu ini yaaaa

One Reply to “Menjelajahi kota Palu.”

Leave a Reply