Mengincar Surfing dan Diving di Morotai

Surfing di selatan Indonesia itu sudah biasa. SEMUA surf spot di Indonesia yang beken-beken itu bisa dipastikan menghadap selatan : Bali (ini mah nomer satu pasti disebut), Mentawai, Nias, Krui di Lampung, Sumbawa, Sumba, Rote.. pokoknya semua deh, menghadap ke samudera Hindia yang ada di sebelah selatan Indonesia.

Emang kenapa harus ngadep SAMUDERA? lah emang di sulawesi dan kalimantan kaga ada?

Ada… ada riak noh, ombak buat semyuuuttt.

Buat bikin ombak yang bisa dinikmati para surfer itu butuh energi besar. Butuh badai yang membuat gelombang berjalan menuju pesisir dan akhirnya pecah menjadi ombak saat menabrak dangkalan. Dan, Morotai merupakan salah satu daerah yang memiliki ombak di utara Indonesia. Bikin penasaran dong.

Sempat browsing-browsing soal surfing Morotai, dan saat itu sih infonya emang dikiiiit banget. Nggak heran sih, emang sudah jadi peraturan tak tertulis di kalangan para surfer yang menemukan spot baru untuk tidak langsung mengeskposenya besar-besaran. Karena ombak yang sepi itu adalah MEVAAAH. Yang ada makin jadi  penasaran.

Nah, beberapa saat lalu, gw berkesempatan untuk mengunjungi Morotai bareng program Indonesia Authentic Places (video-videonya dah tayang juga kok di YouTube). Surfing jadi salah satu materi yang diangkat juga sejak sang produser tau kalau ada surfing disana.

Jadilah kami heboh dengan berbagai peralatan, mulai dari surf gear, dive gear lengkap (pastinya tanpa tabung yaaah), camera housing underwater dan jajarannya, akhirnya mendarat di Bandar udara Pitu – Morotai.

Sekali-sekali tampil ni si Pinneng

Morotai sendiri memang terkenal denga situs-situs sejarahnya, baik yang berada di dalam maupun di atas laut. Digunakan sebagai basis tentara Jepang dalam menyebarkan pengaruhnya hingga ke Philipine, Morotai akhrimnya direbut sekutu dalam masa perang dunia kedua saat itu. Nah disaat itulah semua peralatan perang dibuang ke laut agar tak digunakan pihak musuh, termasuk jeep, pesawat bomber, panci, kompor, sendok, dan lain – lain. (iya kompor juga termasuk peralatan perang hehe, kalau laper kan nggak bisa ngangkat senapan).

Pak Bupati Morotai yang saat ini menjabat emang serius banget buat ngembangin pariwisata di daerahnya. Bahkan kita ditemani oleh ibu Bupati sendiri, yang ternyata seru banget orangnya. Ramah dan doyan ngobrol. Jago diving pula! 

Ombak kecil nan sexy 

Balik ke surfing, Biasanya spot yang sering digunakan untuk selancar itu berada di sebelah utara Morotai, lokasi yang paling mudah menangkap swell. Ternyata eh ternyata, waktu kunjungan kami kesana terlalu dini sehingga musim ombak belum tiba. Biasanya seasson start di Nov-Feb. Dan saat-saat itu merupakan seasson yang justru nggak bagus untuk kebanyakan spot surfing lain di Indonesia.

Seru ya, berarti di Indonesia itu emang nggak ada matinya buat surfing. Kalau di negara lain ombaknya on-off sesuai musim, di kita sih hajar teroooss..

Etapi, waktu mampir di pulau Dodola, dari kejauhan gw melihat ombak bergulung dengan sexynya. Saat itu masih pasang, berarti spot tersebut lumayan dangkal, bisa dipastikan kalau air surut maka ombaknya akan close.

Setelah kita samperin pun, memang kelihatan potensi ombak kicik nan sexy ini. Ah, andai ada sedikit swell besar saat itu. Meskipun kecil tapi gw paksakan juga saat itu untuk mencoba. Setelah menunggu beberapa saat dengan sabar datang juga set-set yang terbesar dari yang kecil-kecil. Emmm… berhubung gw nggak ringan juga, jadi emang kurang bisa meluncur mulus, powernya kurang hehehe.. namanya juga maksa. Tapi pastinya tempat ini bisa dipakai kalau ombak sedang besar. Arah nya kiri kanan pula! Mantep deh

Dan selama menunggu gw surfing juga, Hamish yang jadi host di acara ini malah sibuk kuwar kuwir hilir mudik main ski pakai papan surfingnya dengan ditarik speed boat. Curang!

Menyelam bersama Hiu blacktip

Diving di Morotai memang nggak perlu diragukan lagi. Tapi nggak nyangka juga kalau salah satu spotnya itu adalah Shark Point dengan belasan hiu karang blacktip berseliweran.

Seneng banget!!! 

Diluar imagenya yang serem, hiu blacktip ini tak agresif terhadap manusia. Morotai
pic by @juandus

“Lah ketemu hiu kok seneng? bukannya takut, mbak?” Ni  biasanya komentar netijen yang budiman di Instagram gue. Kurangnya informasi pleus jeleknya image hiu gara-gara film-film yang menonjolkan hiu sebagai makhluk pembunuh sadis membuat manusia dah antipati duluan.

Padahal hiu-hiu yang ada di Indonesia itu kebanyakan hiu karang yang nggak agresif terhadap manusia. Selama kita nggak mengganggu mereka, maka hewan-hewan ini akan saling menghargai. Jangankan hiu, gadis komplek sebelah yang belum kenal pasti juga kesel kalo lo gangguin, braah..

Jadilah penyelaman kali itu yang terletak di dekat pulau Mitita penjadi penyelaman yang sangat berkesan ditemani hilir mudik hiu blacktip.  Tonton disini kalau penasaran.

Wreck Dive pantai Wawama

Bukan Morotai namanya kalau nggak ada penyelaman kapal karamnya. Masalahnya para wreck itu bergelimpangan di lokasi yang cukup dalam, sekitar 40 an meter. Dan gw bukan seorang penggemar penyelaman dalam. “Ngeri cuy! Jauh banget tar baliknya ke atas, ngeri kalo ada apa-apa”, itu selalu pikiran gw.

“Gw stay di 25 an aja yaaaah” Bodo amat dah dibilang cemen, orang gw takut beneran kok.

“Ya udah, Al di 25 an aja, Hamish bisa kan ke 40 an?” Tanya pak produser yang sering kami juluki ‘pak prosedur’

Ok, karena Hamish menyanggupi gw pun tenang, Makan kembali nikmat dan tidur kembali nyenyak #lebay

Saat penyelaman tiba, kami melakukan shore entry, kudu jalan dikit diatara karang-karang mati dan batu-batu. Berhubung, gw makenya booties buat surfing dan sudah tua pula, makan mayan menyiksa juga, pleus beban tangki yang berat.

 

Setelah bersusah payah beberapa meter, akhirnya Bcd bisa dikembangkan, fins dipasang dan kaki serta pinggang bisa beristirahat. Fiuh. Kami mulai memasuki area pembuangan peralatan perang.

Visibility lumayan, sekitar 15 meter. Di kedalaman 25 m mulai terlihat Jeep Willys terbaring terlentang, dengan keempat rodanya menghadap ke atas. Eh rodanya tinggal berapa ya .. jadi lupa. Pokoknya gw masih bisa melihat setirnya, bentuk ban dan bodynya meskipun telah penuh ditumbuhi coral. Kebayang kendaraan yang merupakan bikinan Amerika di awal-awal tahun 1940 an, serta menjadi mobil operasiona the mesin penggerak 4 roda pertama yag diluncurkan, dan memang banyak dipakai oleh tentara sekutu, telah terbaring selama 74 tahun di lokasi ini.

Setelah puas mengitari jeep naas ini, saya kembali mencari beberapa panci atau piring, sementara itu Hamis dan Pinneng sibuk mengambil gambar di bomber yang terletak tak jauh dari situ. 

Rupanya Pinneng melihat ‘kengangguran’ gw dan memberikan isyarat untuk menghampirinya. Duh.. jadi ke dalam dwong, bosque. Gimana neh?

Karena tanggung didorong rasa penasaran melihat bomber itu lebih dekat, akhirnya sayapun menghampiri Pinneng dan langsung disuruh pose untuk kepentingan pemgambilan gambar. Lirik-lirik dive comp : Alamak! 38 meter!

Mana terancam deco pula.. eh, sudah deco malahan wkwkw. Parah. Akhirnya gw kabur perlahan kembali ke dangkal. Pinneng mengikuti setengah terpaksa karena masih penasaran kayaknya.

Jadi gimana surfing Morotai? Belum tau ahahahaha… harus balik lagi nih,

Leave a Reply