Waves, Friends and Fun





Dari dulu sampai terakhir mengatur rencana boat trip ke Panaitan tidak pernah bisa simple dan gampang. Dengan naiknya harga sewa boat perhari, halangan yang paling utama tentu saja mencari ‘korban’ yang bisa diajak sharing bayar kapal bersama. Kenapa saya bilang ‘korban’? karena biasa nya yang sering mau ikut adalah teman teman yang baru belajar surfing dan belum tentu bisa sepenuhnya menikmati ombak ombak Panaitan, tapi mereka dijanjikan dengan suasana yang pasti super menyenangkan dan berbeda dari di kota.
Apalagi waktu yang dibutuhkan untuk memutuskan kata ‘berangkat’ tergolong dadakan, biasanya Andris menyebutnya dengan pemadam kebakaran. Kalau forecast di internet bagus ya berangkat, kalo nggak bagus pasti rugi nantinya. Singkat cerita, dari yang tadinya bingung mencari teman, pada akhirnya kita harus menolak teman teman yang mau ikut di saat saat terakhir karena keterbatasan tempat.
Memutuskan untuk berangkat dari Jakarta pada pukul 2 pagi, kami ber tujuh, saya, Andryz, Jeje, Iis alias Race, Nabel, Mike the Sing boy dan Renol, konvoi menggunakan 2 mobil menuju Tanjung Lesung, melewati Pandeglang, sekalian menjemput satu lagi teman, Rifky yang memang tinggal disana. Senangnya punya teman cewe untuk traveling salah satunya adalah bahan gossip yang seperti nya nggak habis habis untuk teman dijalan ☺
Sesampainya kami di Tanjung Lesung kami langsung menuju ke boat untuk memuat barang dan surfboards. Mike teman kami dari Singapore baru kali ini mengikuti Indo boat trip, dalam artian yang asli. Setelah bengong sebentar, keluarlah pertanyaan itu “Where’s the live jacket man?” Wah, kami semua menahan tawa dan malu, ya memang begini keadaan kami di Jawa Barat, dan saya rasa di daerah lain pun tidak terlalu berbeda ya.. “Just stick to your board, in case we have trouble” jawab teman saya yang lain. Kalau pertanyaan saya dan Jeje, kurang lebih mirip, wc nya dimana paaakkkk????
Waktu yang lumayan panjang dari Tanjung Lesung ke Panaitan ( kurang lebih 5 jam) kami manfaatkan untuk menebus kekurangan tidur di malam harinya. Bagi saya perjalanan kali ini sepertinya sangat singkat, waktu terbangun dari tidur perahu kami bahkan telah melewati Karang Jajar, pintu gerbang untuk memasuki Panaitan. Saya terbangun ketika kami mendekati Nepalm, dan pemandangan di depan saya benar benar indah nan sempurna. Hanya saja, karena surut jadi point Nepalm kelihatan karang karangnya, waduuuuh… beda tipis dengan parutan.
Setelah makan siang, kami meyerbu insight left yang saat itu kondisi nya aduhai menyenangkan, 3-4ft, offshore, sunny.. bahkan dua orang bule yang sudah terlebih dahulu disana harus rela tergeser oleh rombongan ‘Jakarta kalap surfer’ ini.
Malam pertama itu kami semua tidur dengan posisi mirip permainan tetris, pokoknya gimana pun juga delapan orang harus muat di perahu nelayan yang tidak seberapa besar itu. Walhasil tidur saya terganggu beberapa kali untuk membenarkan posisi, plus bangun malam karena ingin buang air yang didukung niat lebih karena wc nya mengharuskan kita untuk nangkring di belakang perahu.
Sebelum matahari terbit semua orang sudah bangun, satu hal yang mustahil di Jakarta. Setelah urusan ‘kebelakang ‘ yang super tricky pada awalnya, kami menuju ‘indicator’. Point kanan yang menyenangkan, hanya saja kami tidak dibiarkan diam karena arusnya mengharuskan kami terus menerus paddle untuk mempertahankan posisi.
Tidak terlalu lama di indacor kami kembali ke point favorit, pussy atau insight left! Dan hari ini pun kami mendapat ombak yang hampir sama dengan hari sebelumnya hanya saja kondisi lebih berangin. Satu persatu kami bergantian mengambil ombak, dan dapat dipastikan seperti biasa, Mike selalu menunggu di depan demi mendapatkan set terbaik, yah mari kita maklumi saja, dia datang dari tempat yang paliiiing jauh. Rasanya seperti dua hari ini kami surfing di point pribadi karena tidak ada orang lain selain kami, dan surf guide kami, Kacong dari Carita.
Lucunya waktu terasa berjalan lama pada saat matahari tenggelam, semalam saja kami tidur jam delapan! Tapi sebaliknya, begitu matahari terbit dan kami surfing, waktu rasanya seperti berlari. Tak terasa hari sudah semakin sore, waktunya pindah posisi mencari tempat berlindung malam ini.
Rencananya kami akan surfing di Angel atau Nyawaan pada keesokan harinya, dan kedua point tersebut terletak di Ujun Kulon, pulau Jawa. Agar praktis kami langsung menuju ke Peucang sore itu juga.
Tenyata di tengah jalan kami terkena badai. Hujan angin membatasi pandangan hanya sekitar 5 meter kedepan. Sialnya pak Kaptern tidak membawa kompas, kami sempat kehilangan arah. Untung Rifky membawa kompas, walau kecil tapi menyelamatkan kami semua. Berapa saat setelah hujan reda, terlihat Pulau Peucang dengan mercu suarnya. Aaaahh.. sampai juga akhirnya. Terbayang penginapan di Pulau Peucang dengan tempat tidur dan kasur. Tapi apa yang kami lihat selanjutnya sangat diluar dugaan. Dermaga Peucang penuh dengan perahu para diver, turis, pemancing. Singkat kata, kami tidur di perahu lagi malam itu.
Istirahat panjang malam hari menyegarkan kembali badan kami. Segera setelah kami bangun pak kapten tidak menunggu lebih lama lagi, kami menuju Angel. Tapi, dimana ya ombaknya? Yang mana point nya? Kok kecil sekali? Kacong turun dan menunjukkan point dimana kami harus menunggu ombak. Ternyata ombak yang tadinya kami kira kecil, tidak sekecil dan segampang kelihatannya. Untuk dapat take off dengan cepat di ombak kiri dengan dasar yang dangkal ( sebagian besar dari kami adalah natural ) kami harus mencoba berkali kali sampai mendapatkan selahnya. Dan setelah dapat selahnya, wooooww… ternyata ombak Angel sesuai namanya, indah, powerfull dan sangat jernih! Walaupun tidak terlalu besar tapi sensasi yang dirasakan tidak kalah dengan Pussy.
Setelah berberapa jam surfing di Angel, para ABK memberikan isyarat makanan sudah siap. Kami benar benar di perlakukan seperti raja. Saya nggak nyangka hidup bisa sesempurna ini. Siang itu trip Panaitan kami harus berakhir, kami meunuju kembali ke Tanjung Lesung, untuk selanjutnya kembali ke Jakarta.
Celetukan yang banyak terdengar saat itu “Yuk bulan depan kita trip lagi” :-)☺

Teluk Harapan





Posisinya tidak jauh dari Jakarta, bahkan kita bisa menempuhnya dengan jalan darat, walaupun harus disambung dengan fery. Lampung. Pasti bukan nama yang asing bagi kita. Walaupun begitu, berapa banyak dari kita yang pernah mengunjunginya? Sebaik apa kita mengenal daerah tetangga dekat Jakarta ini? Minimnya informasi memang membatasi kita untuk mengenalnya lebih jauh.
Saya berkesempatan untuk mengunjungi daerah ini, sangat beruntung.. Perjalanan ditempuh dari Jakarta menuju penyebrangan Merak yang seluruhnya merupakan jalan bebas hambatan atau jalan tol, ditempuh sekitar 3 jam. Beruntung tidak perlu menunggu lama, mobil kami bisa langsung masuk dan tak kemudian berangkatlah kami.
Sudah lama tidak menggunakan transport fery saya takjub juga dengan tersedianya berbagai hiburan, seperti karaoke, café, mini theater, dan tempat bermain anak. Perjalanan jadi tak terasa.
Sesampainya di Bakauhuni, kami melanjutkan perjalanan menuju kota Bandar Lampung, ditempuh dalam 4 jam. Tujuan kami sebenarnya bukannlah kota Bandar Lampung, melainkan sebuah desa kecil di Teluk Kiluan, berjarak 3 jam perjalanan lagi. Dan malam itu kami menuntaskan perjalanan kami hingga ke desa Teluk Kiluan. Berhubung jalan belum bagus, saya anjurkan menggunakan mobil 4 wheel drive dikarenakan medan berbatu dan tanah, serta derajat kemiringan yang lumayan tinggi.
Desa Teluk Kiluan memiliki banyak keunikan pada masyarakatnya. Kita akan banyak menemukan pura dan tempat sembahyang khas masyarakat Hindu di Bali. Ternyata 30% penduduk Desa teluk Kiuan adalah Hindu dan mereka memang pendatang dari Bali. Walau begitu, mereka hidup saling berdampingan, bangunan Mesjid di seberang Pura, masyarakatnya pun saling menghargai. Bahkan kepala desanya pun seorang Hindu. Suatu contoh yang patut ditiru.
Nelayan, bertani kopi dan coklat menjadi mata pencaharian utama mereka. Mereka menghasilkan biji biji kopi dan coklat, dan setelah dikeringkan dijual ke kota besar terdekat. Jarang yang memproduksi kopi sampai tahap akhir sendiri. Tapi saya beruntung mendapatkannya di salah satu rumah, dan merasakan nikmatnya kopi asli Teluk Kiluan ini.
Di sisi lain, potensi alamnya tak kalah menariknya. Hamparan pasir putih dan jajaran coral banyak ditemukan di pesisir Teluk Kiluan. Wisata yang mulai dikembangkan di sini adalah wisata lumba lumba yang jumlahnya ribuan di teluk ini. Konon dulunya bahkan sampai masuk ke teluk dalam di depan desa.
Pagi hari ini pun saya menuju ke laut lepas untuk mencari rombongan lumba lumba itu. Tidak lama menunggu pun, mereka datang menghampiri secara berkelompok. Rupanya mereka terbiasa dengan kehadiran manusia dan perahu nelayan, sehingga tidak lantas kabur waktu didekati. Lumba lumba ini bahkan bermain di moncong perahu. Jika sedang beruntung kita bisa melihat paus melintas juga.
Dulu sebelum wisata lumba lumba ini dikembangkan, mereka diburu oleh nelayan luar daerah Kiluan untuk diburu dagingnya. Sekarang pun masih ada beberapa kelompok luar yang colongan memburu lumba lumba, namun jika diketahui oleh penduduk sekitar mereka akan diusir.
Selain wisata lumba lumba, terdapat pula wisata selancar. Ada beberapa spot selancar yang terdapat di sekitar Teluk Kiluan. Namun sangat disayangkan waktu kunjungan saya kesana bukan merupakan saat yang baik untuk selancar, sehingga spot yang seharusnya menghasilkan ombak kali ini flat.

Malam itu pun kami semua bermalam di pulau kecil yang masih termasuk dalam kawasan Teluk Kiluan, yaitu pulau Kelapa. Pulau kecil yang dikelilingi pasir putih dan karang karang indah. Penginapan sederhana namun asri juga sudah tersedia disana.
Bisa menjadi pilihan yang menyegarkan juga bagi warga Jakarta dan Indonesia pada umumnya untuk mengunjungi Teluk Kiluan di Lampung ini, indah dan masih sangat alami..

Overseas Competition




Overseas Competition

Sepertinya ini kali pertama lagi bagi saya untuk melakukan perjalanan keluar Indonesia setelah sekian lama, coba diingat.. sekitar 14 tahun jaraknya. Dan dulu sepertinya tidak susah, saya selalu dibantu orang dewasa dan didampingi. Kali ini, saya harus melakukannya sendiri dengan undangan dari teman Singapore saya untuk melakukan perjalanan ke Sing dan Malaysia seorang diri dalam rangka menghadiri salah satu kontes surfing di Cherating, Malaysia.
I was so exited yet so nervous, ibu saya sudah mengingatkan untuk mengecek tanggal berlaku passport saya agar tidak kurang dari 6 bulan saat mengadakan perjalanan. Karena kelalaian saya lupa mengeceknya dan ketika tiba waktunya, sudah terlambat. Passport saya kurang dari 6 bulan, 4 bulan tepatnya! Dengan perasaan tak menentu, saya tetap nekad ke bandara.
Benar saja, mereka mempertanyakannya. Saya harus menandatangani surat pernyataan yang berisi bahwa saya tidak akan menuntut airlines yang bersangkutan apabila ternyata saya dideportasi sesampainya di Negara tujuan. Rintangan pertama selesai. Selanjutnya, ternyata nomor wajib pajak saya tidak sesusai dengan nama yang tertera di kartu NPWP. Alamat harus membayar 2 juta rupiah. Untungnya petugas yang memeriksa berbaik hati untuk membantu mencari di database dan hasilnya saya terdaftar sebagai pembayar pajak yang baik dengan nomor yang berbeda.
Begitu juga sesampainya di Singapore, saya memilih petugas imigrasi yang kelihatannya baik. Akhirnya saya lolos dan bisa masuk dengan sukses.Wah, saat itu rasanya senaang sekali! Teman saya sudah menunggu dengan sigap. Segera saja dia memandu saya menuju ke rumahnya untuk menaruh berbagai bawaan saya. Dan perjalanan ke rumahnya pun membuat saya terperangah, kita menggunakan trem, wow.. kok bisa ya bersih begini? Semua terasa seperti mainan, teratur dan sangat bersih.
Lingkungan dimana teman saya tinggal pun tidak kalah bersihnya, menurutnya ini cuma government flat, hmmm.. gimana yang privat flat ya? Singkat cerita kami berjalan jalan sepanjang orchad road yang terkenal itu, menghabiskan waktu malam itu sebelum berangkat menuju Malaysia keesokan harinya.
Tidak terlalu pagi lagi ketika kami meninggalkan Singapore keesokan harinya. Lagi lagi yang membuat saya takjub, terminal bisnya sangat jauh dari bayangan saya. Bersih! Oke, paling nggak saya senang tidak ada orang iseng yang sering kita temui di Jakarta. Perjalanan yang memakan waktu 7 jam benar benar tak terasa. Tapi halangan tiba pada saat harus berhadapan lagi dengan petugas imigrasi Malaysia, dengan passport saya yang bermasalah. Dengan trik menenteng nenteng papan surfing plus alasan kuat saya harus mengikuti kompetisi di Cherating, serta dijamin bakal pulang kembali ke Indonesia setelah semua selesa,i akhirnya berhasil juga saya menembusnya.
Setelah 7 jam perjalanan ditemani gossip dan ipod, kami tiba di Cherating! Akhirnya, sudah lama saya penasaran ingin melihat spot surfing di Malaysia ini yang katanya merupakan kebalikan dari Batu Karas. Setelah menaruh bawaan kami, tanpa menunggu lebih lama lagi kami langsung menyiapkan peralatan surfing dan menikmati sesi surfing sore hari.
Kondisi sangat memprihatinkan sore itu, ombak kecil dan sangat berangin. Tapi herannya kenapa yang surfing sangat banyak? Oya, ini menjelang kompetisi, pastinya mereka tetap berlatih dalam kondisi apapun. Saya bertemu dengan beberapa surfer girl local juga, calon kompetitor di kompetisi nanti. One of them is pretty good thou.. sepertinya saya mendapat lawan yang lumayan.
Kondisi pantai Cherating sendiri benar benar seperti Batu Karas, Jawa Barat. Dengan dasar pasir dan ombak yang lumayan mellow. Hanya saja point ini kiri. Hanya ada satu jalan utama dan di kiri kanan jalan berderet deret warung makan atau cottage, diselingin pepohonan kelapa. Suasana sangat menyenangkan disini.
Bangun dengan hati yang berdebar keesokan harinya, karena hari ini kompetisi resmi dimulai. Rupanya karena ombak yang masih terlalu kecil, woman division,belum akan mulai hari ini. Jadi sepanjang hari saya bisa sibuk mengambil foto foto kelas yang yang sudah mulai berkompetisi, seperti grommet dan men’s open. Wow, dengan kondisi seperti ini saya nggak bisa membayangkan para kontestan men’s open itu masih bisa menghasilkan beberapa spray, sepertinya hanya grommet yang bisa menikmatinya
Kompetisi Occy Grom Comp ini disponsori oleh Billabong, serunya eks surfer pro Occy juga hadir di kompetisi ini, memancing semua orang untuk berfoto dengannya.
Setelah air pasang sepenuhnya, kompetisi dihentikan. Maka kami bisa menikmati sesi free surf. Mengingat kondisi ombak yang sangat kecil saya dan teman saya memutuskan menggunakan longboard. Spertinya kami membuat iri semua orang sore itu, karena hanya kami yang bisa leluasa bolak balik mengambil ombak. Malam itu beberapa teman dari Singapore menyusul ke Cherating.
Akhirnya tibalah hari H itu. Hari ini woman’s division dimulai. Total kontestan yang mengikuti adalah 7 orang, lebih banyak 2 orang dari yang semula terdaftar. Baguslah, jadi kami bisa berkompetisi dalam 2 heat. Heat pertama terdiri dari 4 orang, salah satunya teman kami juga dari Singapore. Pertandingan terlihat tidak berimbang karena teman kami ini tampak menonjol dibandingkan dengan kontestan yang lain. Alhasil dia berhasil keluar menjadi pemenang dalam heatnya dan berhak maju ke final bersama satu orang surfer girl lain dari Malaysia.
Tibalah saatnya saya bertanding dalam heat kedua ini. Heat saya cuma berisi 3 orang, 1 orang local Cherating dan satu lagi surfer girl yang masih terbilang grommet. Satu hal yang saya khawatirkan. Lawan saya ini seorang goofy footer, dalam kata lain dia surfing mengadap ombak, yang memudahkan dia menentukan posisi dan melakukan trik. Lagi pula ia seorang local yang selalu surfing di point ini. Sementara saya seorang regular footer yang baru pertama berkompetisi di ombak kiri yang berarti saya harus membelakangi ombak. Well, apapun yang terjadi , saya memegang nasihat teman saya ini, ambil basic score sebanyak mungkin, ride sepanjang mungkin kemudian barulah cari set yang besar. Jangan lupa lots of drama, make some spray, at least try to make some spray ☺
Dan itulah yang saya lakukan. Setelah mengambil kurang lebih 5 ombak, heat saya pun berakhir. Menunggu dengan tegang, tapi saya yakin pasti bisa masuk ke final, karena surfer girl grommet itu bisa dibilang baru belajar. Ternyata, saya mendapat peringkat pertama di heat saya tadi. Yeah…
Makan malam hari ini pun berlangsung ramai dengan hadirnya teman teman dari Sing. Sebenarnya saya sedikit banyak bingung juga dengan dialek mereka, seperti bahasa inggris yang dicampur dengan logat cina, butuh usaha ekstra untuk mengartikannya. Tapi saya sangat menikmati trip ini, semua makanannya enak, local yang baik, teman teman yang bersemangat.Tapi malam itu saya mengalami heat stroke, terlalu banyak tersengat matahari. Sementara para kontestan ber party ria, saya harus menelan 2 butir obat penahan rasa sakit dan langsung tidur, sungguh rugi..
Untungnya saat bangun keesokan harinya, badan saya sangat segar karena jam tidur yang lumayan lama. Dibuka dengan menonton para kontestan pria berlaga serta sedikit deg degan, akhirnya tibalah giliran kami untuk maju di babak final. Dalam hati saya berjanji, saya harus merasa senang dan bersemangat di heat saya nanti, agar merasa seperti free surf dan tidak tegang.
Set tidak terlalu sering, saya tidak berani mengambil resiko untuk menunggu yang terbesar karena terbatas waktu. Berusaha mengambil ombak sebanyak mungkin dan sepanjang mungkin serta bermain sebersih mungkin, dalam artian saya berusaha tidak sneaking, drop in, blocking dan hal hal lain yang mengganggu. Saat itu terasa adanya arus yang membuat paddle balik ke posisi point terasa lebih berat. Sepertinya semua surfer girl melakukan yang terbaik, local Malaysia mendapatkan set terbesar, dan dia cukup charging. Teman saya dari Sing juga mendapatkan set yang bagus dan melakukan ride yang panjang. Semua bagus.
Berusaha tidak terlalu perduli dengan hasil dari heat tadi, saya bergabung dengan teman teman dan mengobrol hingga tiba saat nya hasil dituliskan para juri di papan pengumuman. Tidak satupun dari surfer girl bergerak untuk melihat, maka teman saya mewakili kami untuk melihatnya. Dan hasilnya.. Saya berhasil mendapatkan posisi pertama! Wow, benar benar moment yang membahagiakan. Rasanya puas sekali setelah melakukan perjalanan sejauh ini, menghadapi sekian banyak masalah imigrasi, dan mendapatkan hasil terbaik, thanks God!
Lega terlepas dari semua ketegangan, kami memutuskan menyambangi Cendo, point lefthander di utara Cherating, berjarak sekitar 15 menit berkendara.Saat itu sudah lumayan pasang dan angin pun lumayan kencang. Kondisi ini tidak memungkinan point Cendo untuk membentuk ombak terbaiknya, tapi kami tetap mencobanya. Walaupun ombak tidak terlalu bagus, tapi saya terhibur dengan pemandangan alamnya. Point ini dihiasi batu batu besar yang ditutupi hutan rimbun di sisinya. Karena kondisi yang tidak terlalu bagus kami tidak berlama lama di tempat ini dan segera kembali ke Cherating untuk penyerahan hadiah.
Sepertinya memang inilah moment yang sangat membahagiakan, sayang saya tidak membawa bendera, sementara para pemenang dari Maldives sudah mempersiapkan bendera mereka.. Yah paling nggak mereka menyebutkan asal Negara saya. Hadiah yang didapat semua berupa produk atau barang, termasuk untuk para juara pertama: Papan surfing!
Malam itu juga kami kembali ke Singapore dengan menumpang mobil salah satu teman kami. Lelah, tapi puas ☺
Hari bebas keesokan harinya saya isi dengan mencoba flow rider, wahana ombak buatan di Sentosa Island. Pada bidang landai disemburkan air dengan tekanan yang tinggi sehingga bisa digunakan oleh para boardrider menggunkakan papan tanpa fin. Wah, sepertinya saya tidak bisa menikmati permainan ini, saya tidak bisa bertahan lebih dari 2 menit setelah tali dilepas oleh instrukturnya.
Seharian itu saya menikmati hari terakhir saya di Singapore, ditutup dengan makan malam bersama teman teman baru saya. Benar benar pengalaman yang mengesankan, menyisakan janji untuk kembali lagi di tahun yang mendatang. Big big thanks for all my Sing friends ☺

The Untouch Part of Nort Sulawesi


Kita mengenal bubur Manado sebagai salah satu makanan khas di Manado. Kita juga mengetahui kalau Bunaken merupakan salah satu site diving yang terkenal bertaraf internasional. Tetapi selain itu Manado ternyata masih menyimpan keunikan lainnya. Tangkoko.

Tangkoko yang masih termasuk kotamadya Bitung dapat diakses melalui jalan darat selama 2 jam dari Manado. Merupakan kawasan cagar alam seluas 4446m2 dan menyimpan banyak keunikan serta menarik para peneliti untuk datang mengunjunginya.

Fasilitas penginapan yang tersedia memang hanya seadanya saja, tapi cukup bersih dan lengkap dengan kamar mandi dalam, kipas angin dan kelambu di tiap tempat tidurnya yang dapat melindungi kita dari serbuan nyamuk hutan yang terkenal ganas.

Pemilik penginapan biasanya adalah para polisi hutan, sehingga mempermudah kita untuk mendapatkan keterangan secara lebih rinci di cagar alam Batu putih, Tangkoko.

Seetelah beristirahat, pagi harnya saya diajak masuk untuk berkeliling melihat lihat hewan endemic Sulawesi Utara, dengan kata lain hewan hewan ini hanya terdapat di propinsi Sulawesi Utara saja.

Satu grup hewan endemic yang saya temukan pertama adalah kawanan MakakaNigra, yang dalam sebutan lokalnya adalah Yaki. Makakanigra ini adalah primata bermuka hitam dengan rambut di kepala membentuk jambul, berekor sangat pendek sehingga memberikan kesan tidak memiliki ekor. Hidup berkelompok membentuk kawanan dengan jumlah anggota 60-7- ekor.

Makakanigra termasuk hewan yang agresif apabila kita mendekatinya tanpa didampingin polisi hutan atau peneliti yang biasanya sudah dikenalnya. Apalagi dengan banyaknya jumlah bayi dikawanan tersebut, para pejantan cenderung lebih agresif untuk melindungi.

Untuk melihat hewan endemic lainnya kita harus menunggu hingga menjelang matahari terbenam. Karena hewan ini sangat peka terhadap cahaya dan tergolong nocturnal, atau hewan yang aktif pada malam hari. Sebutannya adalah Tarsius.

Berukuran sangat kecil, hanya sebesar telapak tangan, dan hidup di pohon pohon berlubang dalam kelompok kecil berjumlah 3-4 ekor. Untuk melihatnya kita harus menunggu saat saat Tarsius baru terbangun pada sore hari. Untuk memancingnya keluar dapat ditaruh pancingan berupa belalang yang merupakan makanan favoritnya, sehingga dia tergoda untuk menyambarnya. Walaupun berukuran sangat kecil, gerakannya sangat cepat.

Dengan bergulirnya waktu sayapun harus segera kembali keluar dari hutan sebelum suasana menjadi benar benar gelap. Kunjungan ke Tangkoko menjadi unik dengan kehadiran hewan hewan endemiknya, yang merupakan kekayaan tanah Indonesia juga.

Nias


Nias, satu nama yang sering kita dengar tapi mungkin tidak terbayangkan dalam benak kita, kecuali tradisi lompat batunya yang terkenal itu. Pertengahan Desember tahun kemarin saya berkesempatan untuk mengunjungi Nias, disertai harap harap cemas karena reputasi Nias yang saya dengar sebelumnya.

Perjalanan dimulai dengan penerbangan dari Jakarta ke Medan, yang memakan waktu sekitar 1.5 jam. Perjalanan dilanjutkan dari Medan ke Gunung Sitoli, kota dimana bandara di Nias berada. Pilihan maskapainya juga beragam, Riau Airlines, Susi Air, Merpati dan SMAC. Tapi jangan mengharapkan pesawat bermesin jet seperti yang kita ketahui pada umunya, maskapai maskapai ini menggunakan pesawat dengan teknologi yang kita kenal pada saat kita masih kecil dulu, dengan baling baling, rate sekitar 600 ribu rupiah.

Dari Gunung Sitoli saya melanjutkan perjalanan ke Teluk Dalam dengan menggunakan mobil sewaan yang memang banyak disediakan di Nias Utara. Ongkos sewa sekitar 500 ribu. Semenjak tsunami pada tahun 2006 kemarin jalan jalan di Nias banyak mengalami perbaikan, dan hasilnya, ruas Gunung Sitoli – Teluk Dalam full hot mix!

Oke, memang hot mix, tapi jembatan jembatan yang ada tetap tidak permanen. Jembatan besi ini berlapis kayu yang gampang sekali lepas. Tapi penduduk lokal siap membantu jika kita dalam kesulitan dengan imbalan beberapa rupiah. Perjalanan Gunung Sitoli – Teluk Dalam memakan waktu sekitar3 jam.

Teluk Dalam terletak di Nias Selatan, dan terkenal dengan Pantai Sorake nya, atau disebut juga Lagundri Bay, dan merupakan spot surfing bertaraf internasional. Tadinya mimpi untuk surfing di Lagundri pun saya tidak berani, dan sekarang pantai indah dengan gulungan ombak yang sempurna itu terpapar di depan mata, sangat mengundang untuk dicoba.

Kami memutuskan untuk bermalam di Sorake beach hotel. Sebenarnya disana berjajar penginapan penginapan di sepanjang bibir pantai, semuanya bernuansa tropis dan sangat “surfing” dengan kata lain penginapan ini sangat alami dengan dinding kayu yang pastinya tidak memerlukan pendingin lagi. Warung warung kecil terdapat disetiap lantai dasar penginapan, memungkinkan kita untuk melihat aksi para peselancar tanpa merasa kepanasan.

Sorake beach adalah hotel dengan standar yang lumayan bagus, walaupun dari segi penampilan sedikit disayangkan karena terlihat kurang terurus, terutama cat di dinding yang terlihat sudah mengelupas, tapi begitu saya melihat interior kamarnya saya terkejut juga. Sangat kontras dengan tampilan luarnya, interior Sorake beach sangat hangat dan hommy dengan material dinding kayu gelap, berpendingin ruangan, lampu lampu spot segingga menimbulkan kesan dramatis. Rate permalam saat itu 250 ribu. High season di nias biasanya adalah antara bulan april-agustus, dimana ketinggian ombak mencapai ukuran yang mencengangkan sehingga mengundang turis turis mancanegara untuk berdatangan.

Hari pertama di Nias kami memutuskan untuk mengunjungi perkampungan yang terkenal dengan budaya lompat batunya, Buomataluo. Konon desain lompat batu pada mata uang rupiah pecahan seribuan dulu itu diambil fotonya dari kampung ini, dan orang yang melompatnya masih ada walaupun sudah tidak melompat lagi. Sebelum masuk ke kampung kami disambut dengan tangga yang tinggi sekali, sayangnya saya sudah tidak kepikiran lagi untuk menghitung anak tangganya karena pasokan oksigen yang susah masuk. Kampung di Nias sangat unik. Semua rumah adat terbuaqt dari kayu yang mencuat ke depan, dan semuanya harus berhadapan. Jaman dahulu waktu masih sering terjadi perang antar kampung tatanan rumah yang berhadapan ini berguna untuk memperkecil gerak musuh yang menyerang.

Rumah besar yang merupakan rumah adat utamanya mempunyai pintu yang terdiri dari balok balok kayu yang sangat besar, berdiameter kurang lebih 1 meteran. Dan di halaman depannya terdapat meja batu berukuran sekitar 1.5 meter kali 2.5 meter dengan permukaan yang sangat halus termakan usia. Semua desain rumah besar ini sangat menggambarkan jaman megalithic, dengan material yang serba besar.

Tidak lama, para pelompat pun bersiap siap. Mereka sudah melompat dari awal umur belasan tahun. Tinggi batu yang menjadi rintangannya 2 meter dengan lebar 60 centi. Sayangnya yang boleh melompat hanya pria saja, kalau wanita boleh, pasti saya sudah mencoba dengan berbagai cara untuk melompati batu itu. Dahulu, lompat batu ini diperuntukkan untuk mengetes kedewasaan pria yang sudah memasuki masa dewasa, dan layak ikut berperang mempertahankan kampungnya.

Hari hari selanjutnya diisi dengan menjajal ombak di pantai Sorake yang sangat tersohor itu. Di pantai ini ada dua spot yang bisa di pakai, inside dan outside. Asiknya, ombak di spot ini selalu ada, bentuk pantai dan dasar karangnya sangat bagus untuk menangkap gelombang segala ukuran. Maka, tanpa sabar saya segera menyiapkan peralatan yang terdiri dari surfboard, legrope, dan tak ketinggalan, booties ( sepatu karang ). Dengan ditemani para grommet ( anak yang surfing dibawah umur 17 tahun ) saya mulai paddle ketengah dengan perasaan tak menentu antara bersemangat dan tegang.

Saat itu ketinggian ombak berkisar antara 1.5 meter hingga mencapai 3 meter. Tinggi ombak yang demikian lumayannya menurut saya adalah hari hari ombak kecil bagi mereka. Mereka begitu bangga akan ombak Teluk Dalam ini. Dan begitu saya berhasil take off di ombak pertama saya, rasanya nikmat tiada tara. Bentuk yang sempurna dari ombaknya dan gulungan yang lumayan jauh membuat saya puas dengan kualitas ombak Nias. Jangan harap saya mau paddle kembali setelah mengambil ombak, terlalu jauh jaraknya, lebih baik jalan kaki saja menyusuri karang untuk mencapai titik semula.

Sebenarnya gempa beberapa tahun silam juga sangat mempengaruhi kontur dasar laut dari point surfing ini. Karang karang yang ada cenderung naik sehingga gulungan ombak lebih cepat. Saya dapat membayangkan keadaan sebelum gempa, pastinya lebih nikmat lagi.

Lokal surfer di Teluk Dalam sangat baik, mereka sangat menghargai pendatang dari luar, terutama dari daerah yang tidak lazim menghasilkan peselancar. Jakarta adalah contoh yang tepat. Dan pada low season seperti ini tidak terlalu banyak peselancar luar yang bertandang, sehingga kondisinya lebih mengasikkan lagi, tidak terlalu rame di laut.

Tidak terasa waktu yang disediakan untuk berkunjung ke Nias sudah habis. Pada saat malam terakhir kami mendapat undangan bakar ikan bersama anak anak pantai Teluk Dalam yang diketuai Bang Azis. Bersama sama kami bermain gitar, bernyanyi dan menyantap ikan bakar yang berjejer jejer di depan mata. Benar benar kunjungan yang tak terlupakan, Sorake beach, a loveable righthander, a loveable beach..