Tips How to Selfie While Surfing

Selfie udah jadi kebutuhan primer di dunia persocialmediaan sekarang, nggak di darat atau di laut kebutuhan itu tidak pernah berubah sebenarnya. Meskipun banyak yang menghujat, tapi pada dasarnya hampir setiap orang punya jiwa narsis yang harus disalurkan, nah salah satunya dengan selfie ini.
Kita bisa membuat sebuah selfie yang tidak standar dengan pemilihan background yang tidak standar. Salah satunya adalah selfie saat menunggangi ombak. Berikut tipsnya:
• Pastikan kameramu tahan air, tanpa casing.
Saat ini ada beberapa macam brand yang memang memiliki kamera waterproof tanpa casing, ini akan sangat membantu karena lebih sederhana dan mudah dibawa-bawa.
• Gunakan peralatan tambahan yang disediakan.
Beberapa kamera yang diperuntukan untuk ekstrim sport mempunyai tambahan pegangan atau pengikat yang bisa mempermudah saat membawanya, seperti kaitan pada tangan. Untuk surfing malah sudah tersedia pengikat yang bisa ditempelkan pada ujung papan surfing segala.
• Gunakan alat pengapung
Ini sangat disarankan, rasa kehilangan kamera karena tenggelam saat telah mendapatkan ombak bagus itu nyeseknya dua kali! Kehilangan kamera dan kehilangan foto bagus. Alat pengapung basanya sudah disediakan sebagai aksesoris tambahan dari kamera.
karet hitam ditambahkan untuk digigit. Pegangan kuning ini mengambang.
• Kreatif dengan cara membawa
Untuk surfing, membawa kamera saat paddle memang bukan pekerjaan mudah, belum lagi kalau harus melakukan duck dive atau menyelam menembus ombak saat ombak besar datang. Coba ikatkan gagang kamera pada sesuatu yang enak untuk digigit, sehingga kita bisa mengigitnya dan tangan bebas untuk paddle. Atau bisa juga dikalungkan, tapi perhitungkan juga waktu yang dibuthkan untuk melepas kalung dan memindahkan kamera ke tangan. Karena tidak semua ombak itu santai.
• Gunakan pengaman tambahan
Tali adalah pilihan bijak, baik untuk dikalungkan atau untuk dikaitkan di tangan, tergantung kebiasaan saja. Baik juga untuk menambahkan pegangan yang mengapung yang mengapung sebagai alat bantu mengapung tambahan. Perlu juga diperhitungkan jika pinggiran pantainya batu atau karang, akan bisa merusak kamera jika sampai terlepas dan terbawa buih hingga ke pinggir.
• Posisi kamera

 Apakah ombakmu barrel atau biasa, keren2 aja
kamu pegang dengan tangan depan atau belakang, keduanya bisa menunjukkan ke –barrel-an mu juga jalur gerakan boardmu kalau melakukan maneuver. Yang perlu diingat adalah selalu lirik ke kamera untuk memastikan arah lensanya, jangan sampe udah susah-susah tapi malah muka nggak masuk frame.
kamera saya pegang dengan tangan depan
Naah ini dia versi seriusnya :
taken from Instagram Marlongerber
kamera dipegang pada tangan depan
taken from Instagram Marlongerber
kamera dipegang pada tangan belakang

Selamat ber #selfie ria di #ombak #wave :)))))

Tips belajar surfing di Batukaras

Berkali-kali diekspose media, bahkan sampe masuk lonely planet segala, Batukaras emang udah beken banget. Sebagai tempat belajar, Batukaras juga pas banget karena karakter ombaknya yang ramah untuk pemula, pleus nggak ada karang di dasar tempat bermainnya. Karangnya hanya menclok sebagian di pinggir.
Untuk menuju kesanapun banyak cara yang bisa ditempuh. Oya, letaknya di Jawa Barat bagi yang belum tau secara pasti posisi Batukaras ini. Nggak jauh dari Pangandaran. Baik trasportasi publik maupun mobil pribadi, bisa menjangkau tempat ini, hanya saja harus kuat duduk karena jaraknya yang lumayan kalau dari Jakarta, sekitar 8 sampai 10 jam tergantung kelancaran lalu lintas. Bagi yang pengen lebih cepat, ada pula penerbangan regular dari Halim dan Bandung dengan Susi Air, hanya 40 menit saja.
Naah, ternyata eh ternyata, setelah beberapa teman saya berkunjung kesana untuk belajar surfing, mereka malah mengeluh karena Batukaras ramai banget! Turis yang datang banyak, surfer lokal juga banyak, ditambah pula surfer anak-anak yang masih semangat mengambil ombak tanpa henti. Untungnya Batukaras ini mempunyai ombak yang sangat panjang, sehingga area surfingnya tidak terbatas di satu titik sempit saja. Berikut beberapa tips untuk teman-teman yang mau belajar surfing di Batukaras :
• Pada saat pertama kali berkunjung pastinya akan melihat longboard dan sortboard hilir mudik di ombak-ombak Batukaras. Hal ini tentunya memancing rasa ingin mencoba. Sangat disarankan bagi yang baru pertama kali mencoba surfing untuk mencari ‘guru’ dari surfer lokal setempat. Akan lebih bijaksana jika kita mengenal bahaya yang mungkin ada seperti terantuk papan karena salah posisi saat ombak datang. Guru atau instruktur juga dapat mengajari dasar-dasar surfing sebelum kita terjun langsung, hal ini akan mempersingkat waktumu untuk mencoba memahami dasar dari surfing tersebut.
• Ombak yang pecah di area depan disebut point Pertama. Point ini cenderung lebih cepat dan serius ombaknya karena dasar yang lebih dangkal dan berkarang. Tidak disarankan bagi pemula untuk surfing di area ini (point pertama ) karena akan membahayakan diri sendiri dan juga surfer lainnya.
Bergeserlah agak ke belakang. Ombak yang cepat tersebut akan menjadi lebih soft dan tidak berbahaya di point kedua dan seterusnya. Jika masih bingung dengan yang disebut point pertama atau kedua, jangan ragu untuk bertanya pada surfer setempat. Biasanya juga, surfer yang sudah mengambil ombak dari point pertama, mau memberikan ombaknya setelah riding beberapa saat, sehingg pemula bisa lebih mudah mendapatkan ombak di belakang.
Jangan menghalangi jalan surfer lain. Perhatikan lajur jalan surfboard, karena di Batukaras cukup mudah untuk menebak lajur ombaknya atau yang disebut dengan istilah line up. Usahakan untuk tidak menunggu ombak di tempat yang nanggung, kalau tidak di luar line up, sekalian saja menunggu di tempat ombak sudah pecah agar dapat mencoba untuk mengambil ombak buih.. ombak yang telah pecah.

Demikian tips-tips yang bisa saya bagi, mungkin terlihat remeh, tetapi hal-hal kecil ini dapat memudahkan kita untuk belajar surfing di tempat ramai. Pada lokasi lain, beda pula strateginya. Selamat mencoba J

Batukaras, kerajaan longboard

hiruk pikuk berebut ombak

Surf off season? Why not :)

“Sepi banget Oom Mus, ga ada tamu lain ya?” tanya saya sembari celingak celinguk saat kunjungan terakhir ke Rote dan seperti biasa, langsung ngedon di Anugerah .
“Iya soalnya lagi off season, jadi resort lain juga tutup. Tamu sedikit banget yang datang kalau bulan-bulan begini” Jelasnya sembari melayangkan pandangan ke laut yang terlihat tenang.

Off season memang merupakan istilah yang umum dipakai saat bulan-bulan sepi yang biasanya melanda surf camp tertentu termasuk Nembrala yang berada di Rote ini. Bulan sepi ini bisa disebabkan karena berubahnya arah angin. Sementara seperti yang diketahui para kalangan surfer, ombak yang bagus itu kalau anginnya off shore, atau bertiup dari darat ke laut, sehingga ombak yang terbentuk mendapatkan tahanan dari angin tersebut, dan tidak akan pecah atau menutup terlalu cepat. Hasilnya sih pastinya ombak mulus sexy yang menggoda para surfer.

Sebaliknya, jika angin bertiup dari laut meuju darat, ini dinamakan kondisi on shore, kondisi yang sangat disebelin karena ombak menjadi lebih cepat menutup, tidak memberikan jalan bagi surfer untuk melakukan manuver. Jadi susah kan kalau mau pamer-pamer cut back atau snap #gapenting

Beberapa lokasi bagus saat musim hujan dan sebaliknya ada yang bagus saat musim kemarau. Inilah kelebihan Indonesia yang ombaknya bisa dipakai sepanjang tahun, tinggal disesuaikan saja lokasinya and off you go for surf trip!!

“Tapi ombak bagus Oom Mus, tu nggak ada angin, size juga oke-oke aja kelihatannya, tidak flat mesikupun juga nggak besar.”
“Iya memang, saat ini lagi bagus, tapi kemarin-kemarin memang hujan badai, dan kapal dari Kupang sempat tidak jalan.”

Jika beruntung memang kondisi saat off season pun bisa sangat bagus. Sesiangan itu hujan memang turun tanpa henti, memaksa saya bengong sambil nyemil kopi dan mie instant tanpa henti ( cari pembenaran nyemil ), dan ketika hari beranjak sore dimana air laut semakin surut, anginpun turut berhenti, memberikan kesempatan pada ombak Nembrala menampilkan kecantikan bentuknya.

Hanya ada satu masalah. Tidak ada perahu. Kenapa tidak ada perahu saja jadi masalah? Emangnya surfing pakai perahu? Nah, jarak point dimana ombak terbentuk itu memang hanya 300 meter, tapiii…. kita harus melewati batu-batu diantara karang-karang yang terbentang luas, diselingi ladang rumput laut penduduk yang juga terbentang sepanjang itu.

Rumput laut memang merupakan salah satu mata pencaharian pokok disana. Melewati tali temali dan patok-patok rumput laut sembari menggotong surfboard, dan yang paling parah… tidak punya sepatu karang itu adalah siksaan bagaikan terpaksa naik busway di jam pulang kantor, keliing Jakarta 3 kali, harus berdiri serta AC nya mati. Meneror mental.

Di hari pertama memang cuma saya sendiri yang surfing. Rasanya sungguh aneh, apalagi saya tidak pernah menyarankan pada siapapun untuk surfing sendiri. Meski begitu saya sangat mengenali kondisi yang ada, apalagi ombak tidak terlalu besar, dan Pinneng berdiri di gugusan karang sebagai patokan saya. Meski pada akhirnya ialah yang panik melihat saya terbawa arus jauh saat mencari posisi yang pas.

Hari berikutnya Mike, si dive guide akhirnya ikut menemani. 




Beberpa lokasi di Indonesia yang mengalami off season juga banyak, seperti Nias, G land di Jawa Timur, beberapa resort di Mentawai juga mengalaminya. Surf spot yang akrab dengan saya seperti Cimaja dan Batukaras sih memang tidak mengenal off season, tapi mereka tetap mengenal waktu-waktu dimana ombak sedang bagus-bagusnya.

Sebenarnya untuk beberapa lokasi yang most wanted seperti Nembrala dan Nias, saya lebih suka saat-saat sepi dengan beberapa alasan :

• Tidak perlu berebutan dengan surfer-surfer lain yang mayoritas cowo-cowo bule berotot dan memiliki paddle sekencang kapal cepat antar pulau.
• Biasanya ombak tidak terlalu besar. Tapi kecil untuk ukuran Nias itu aja artinya sama seperti besarnya Cimaja. Begitu juga Nembrala. Jadi saya nggak terlalu keberatan, justru senang dengan size yang tidak menyeramkan. Bisa surfing sambil ha ha hi hi.
• Suasana yang lebih santai, bisa lebih berkumpul dengan para lokal, karena mereka juga tidak terlalu sibuk jadinya dengan sedikitnya tamu.

Jadi… siapa yang mau nemenin saya surfing di musim ujan kali ini? 😀

Recomended surfspot for learning

DSCF1736
it was nice to be able to stand on surfboard 😀
Belajar surfing memerlukan karakter ombak yang spesifik, yang sesuai dengan kemampuan dan kondisi mental pemula. Tidak semua ombak bagus dan surfable dapat dipakai untuk belajar. Beberapa syarat yang sudah mutlak dimiliki sebuah spot untuk dapat dikatakan sesuai sebagai spot belajar adalah :
 
• Berdasar pasir.
Seorang pemula belum memiliki kontrol akan kecepatan take off sehigga jika mencoba di tempat yang memiliki dasar karang akan membahayakan diri sendiri. Terlambatnya take off seringkali menyebabkan seseorang mengalami wipe out ( tergulung ). Dalam keadaan demikian, rasa panik dapat menyebabkan seserongan menjejak karang sehingga akan mendapatkan luka gores yang bervariasi.
 
• Arus moderate
Arus merupakan musuh terbesar surfer dengan kemampuan paddle yang masih lemah ( sampai saat inipun saya masih sering frustasi dengan arus ). Surf spot berarus karna banyak faktor, pasang-surut dan besarnya ombak juga berpengaruh. Tidak hanya beach break saja yang bisa berarus ( pantai berdasar pasir, biasanya ombak terbentuk karena arus ), tapi reef break juga ada yang berarus. Sebaiknya belajar di lokasi yang arusnya tidak terlalu kencang, atau pada kondisi yang arusnya sedang tidak kuat.
 
• Ombak tidak besar.
Tidak perlu gengsi atau sok tau ketika akan belajar dan melihat ombak yang ada di lokasi tidak terlalu besar, sebesar yang mungkin pernah dilihat pada video-video surfing dan foto-foto surfing profesional. Semua ada prosesnya kok. Tapi jangan juga terlalu kecil karena tidak akan cukup kuat untuk mendorong bobot kita.
 
Nah berdasarkan pertimabangan tersebut di atas, plus pertimbangan kemudahan mengakses lokasi, berikut beberapa lokasi yang bisa saya rekomendasikan:
 
Pantai Lhokhnga Aceh
Terdapat beberapa surfspot disini, ada yang Left, A frame, Right.. naah ada beach break nya juga tuuuh, pas banget buat belajar. Ada bebrapa penginapan juga disini, dan cukup dekat dari Banda Aceh, cuma sekitar 30 menit aja.
 
Padang
Padang sepertinya merupakan satu-satunya kota besar di Indonesia yang pesisirnya bisa dipakai untuk bermain surfing. Bali merupakan pengecualian ya… Nah ada beberapa tempat yang bisa dipakai belajar seperti Pantai Purus dan Pantai Pasir Putih. Pastikan saja mengontak teman-teman surfer disana yang biasanya suka pada nongkrong di Substance, salah satu toko untuk line surfing di Padang.
 
Pelabuhan Ratu
Tidak terlalu menyenangkan untuk belajar sih sebenarnya, karena beach break di Pelabuhan Ratu yang sering disebut dengan Sunset ini seringkali terlalu berarus atau close ombaknya. Kondisi yang baik adalah ketika swell sedang kecil. Jejeran papan-papan surfing sewaan khusus belajar akan terlihat banyak berjajar di pantai sunset, ga susah mencarinya. Bisa juga menghubungi salah satu instruktur surfing disana :
Diki 08129585606

Batukaras dan Pangandaran
Lumayan berdekatan, dengan jarak sekitar 30km. Kalo di pangandaran beach break terhampar luas, sementara Batukaras sebenarnya point break, hanya saja keseluruhan dasarnya tertutup pasir, jadi aman-aman saja untuk belajar. 
Untuk di Pangandara lokasi yang rekomen buat nginep : @mini3_homestay
dan di Batukaras… banyak banget seperti Hunting Hi & Low, vila monyet, Bale Karang.. ah kesana sajalah pasti dapat tempat kok 😀
Pacitan
Pacitan memiliki beach break yang panjang dan kosong, ombaknya sangat sesuai untuk belajar, terutama pada saat tidak terlalu besar. Tapi justru karena kosongnya itu harus ingat untuk tidak nyebur sendirian ya. 
Info dan penginapan yang direkomendasikan : Harry’s homestay 08123411595
 
Bali
Sepertinya sudah nggak perlu diceritakan lagi ya mengenai Bali, just go to Kuta and there you surf!! Sekolah surfing bergengsi juga udah banyak disana, tinggal pilih aja.
 
Jika ada masukan dan info lain, silakan di comment yaaa, daftar singkat ini berdasarkan pengalaman pribadi saya, ciaoooo

Tips Menjadi Model Scuba

Foto yang bagus itu memang membutuhkan bebrapa faktor penentu. Pastinya sang fotografer memegang peranan paling penting disini, kemudian lokasi, moment, cahaya dan si model itu sendiri. Saya nggak menyebutkan soal teknis kamera karena pembahasannya bisa sangat meluas, dan saya percaya ‘It’s man behind the gun’ yang lebih penting.

Untuk urusan foto underwater kasusnya bisa sedikit berbeda meskipun hal-hal diatas tetap menjadi faktor penentu. Karena saya seringnya menjadi ‘korban’ alias model di bawah air, maka hal itu juga yang akan saya share disini.

Tips menjadi model ( scuba ) :

• Pose alami merupakan posisi yang terbaik. 
Tangan tidak terbuka, tautkan di depan atau rapat dengan badan. Inilah pose yang sering diambil oleh para diver, juga karena dengan memang diving itu lebih banyak pergerakan kaki dibanding tangan. Rasakan badan memanjang dari ujung kepala hingga kaki, sehingga terlihat relax.


posisi tangan yang salah



• Membaca hand sign dari fotografer. 
Ada baiknya jika belum terlalu hafal dengan kebiasaan si fotografer, hand sign dibicarakan dari sebelum penyelaman. Akan sangat berfungsi saat harus menentukan arah maju mendekati objek, dan seberapa dekat. Kadang perlu posisi sedekat mungkin dengan objek, kadang perlu juga posisi berdiri atau melintang justru jauh dari objek sebagai aksen pelengkap dari keseluruhan komposisi foto. Semua tergantung dari situasi dan arah sinar matahari.




• Bersihkan masker.
Selalu ingat membersihkan masker yang fogging, karena salah satu elemen penting adalah mata. Arah pandang juga penting, usahakan untuk melihat ke objek yang didekati, bukannya melihat ke arah kamera.





 • Arah sinar senter.
Senter adalah salah satu pembawa elemen penting juga yaitu cahaya. Kalau tadi mata sebaiknya diarahkan ke objek, senter justru harus diarahkan ke kamera, agar kelihatan biasnya.




• Buoyancy yang bagus. 
Seperti yang telah dibahas diatas, ada kalanya permintaan fotografer adalah sedekat mungkin dengan objek tanpa menyentuhnya, atau kadang juga posisi tegak berdiri. Bisanya untuk perbandingan dengan objek besar yang ditemukan.



kalo kesulitan atur buoyancy, boro2 mau pose



• Posisi kaki.
Usahakan kaki tidak mengangkang. Posisi kaki rapat atau sedang mengayuh secara normal lebih indah dilihatnya.



• Imajinasi framing.
Kemampuan membayangkan framing yang diinginkan terhadap diri kita, si objek dan sinar matahari. Walaupun seringnya sang fotografer sendiri yang lebih aktif untuk mengubah posisinya untuk mendapatkan komposisi yang pas.


Ok, selamat mencoba dan berpose yaaa.. jangan lupa untuk tidak memagang apa-apa terutama karang dan makhluk laut saat diving, untuk keselamatan yang dipegang, dan yang mengang juga.


Kalo buat becanda sih malah harus gelo fotonya!!! seperti ini 😀


Semua foto by Pinneng, visit his gallery here