Terjebak di Rote

Prolog – terjebak di Rote

“Kapal cepat tidak jalan, Kakak. Ferry lambat juga.”

Satu kalimat keluar dari mulut Yos, si hitam manis yang bertugas mengurusi
tamu di penginapan kami, yang berada pada sebuah desa kecil di tepi pantai
Nembrala, Rote.

Saya yang tadi sibuk berkutat dengan handphone, perlahan-lahan
mengangkat kepala. Berharap salah dengar. Berharap saya saja yang kurang
menangkap kalimat singkat yang diucapkan dengan logat Rote yang kental.

Continue reading “Terjebak di Rote”