5 Alasan Memilih Destinasi Jalan-Jalan ke Makassar

Apa sih yang membuat kamu memilih salah satu destinasi jadi tujuan liburan biasanya? Makanannya, wisata alamnya atau situs sejarahnya? Well, tau nggak kalau Makassar mempunyai itu semua dalam satu wilayah yang mudah dijangkau?

Yes, memilih destinasi jalan-jalan ke Makassar itu berarti bakalan kebingungan dengan banyaknya pilihan makanan. Waktu satu minggu sih nggak cukup untuk nyobain semuanya. Apalagi gue yang cuma punya waktu 3 hari untuk eksplor kota Makassar seperti kemarin. Kurang banget!

Tapi meskipun begitu nggak masalah, karena di Makassar sudah ada GO-JEK lengkap dengan servis-servisnya yang bikin kita bisa eksplor dengan lebih efisien.

Salah satu pulau yang mudah dijangkau dari Makassar

Nah, ada beberapa hal yang gue temukan jadi kelebihan Makassar di mata para traveler :

Pilihan hotel yang beragam dengan harga terjangkau.

Makassar merupakan kota terbesar di timur Indonesia, yang berarti jumlah kunjungan juga tinggi, dengan berbagai alasan : bisnis, leisure, atau sekedar transit. Karena itu, pilihan hotel pun beragam dengan harga bersaing dan servis yang baik. 

Dengan mudahnya kita bisa medapatkan penginapan atau hotel lokasi yang strategis dengan harga sesuai budget yang kita miliki melalui situ online. 

Gue sendiri memilih hotel di jalan Lamadukelleng Buntu karena dekat dengan pantai Losari, dermaga dan juga deretan tempat makan.

Kuliner yang nggak ada habisnya.

Begitu gue lontarkan pertanyaan “Enaknya kuliner apa yaaa di Makassar?” Lewat Insta story, jawabannya nggak berhenti masuk selama 2 hari dengan rujukan yang beragam! Luar biasa emang Makassar. Tapi apa daya, gue cuma punya waktu 3 hari dan satu perut. Maka beberapa kuliner yang sempat dicoba itu :

Konro bakar
  • Konro Karebosi

Kuliner Konro ini berbahan utama iga sapi. Tersedia dalam dua pilihan – sup dan bakar. Konro bakar jadi favorit gue sejak kecil. Dengan saus kacang macam sate, Iga sapi bakar ini lejat banget dimakan hangat-hangat.

Nama Karebosi sendiri didapat dari nama alun-alun di kota Makassar tempat konro ini berjualan pertama kalinya.

Sekarang lokasinya berada di Jalan gunung Lompobattang.

  • Coto Maros Jalan Harimau

Lokasinya memang masuk gang, tapi itu nggak menghalangi orang-orang ramai mengunjunginginya, apalagi menjelang malam hari hingga subuh. Warung coto yang sudah berdiri sejak 1974 ini dikenal dengan olahan dagingnya yang khas dan kuah kentalnya yang nikmat.

Enaknya lagi, Coto Maros ini merupakan partner GO-FOOD, jadi bisa pesan kapan saja dari mana saja saat berada di Makassar.

  • Mie Titi

Mie Kering yang disiram ini selalu jadi salah satu favorit gue. Mie yang digoreng kering ini disiram dengan kuah kental dari adonan telur dan sayuran hijau. Selain itu, udang dan daging ayam yang dipotong kecil-kecilpun ikut memeriahkan isi piring. Lebih nikmati lagi apabila dinikmati bersama lombok kuning khas Makassar dan cabe kecil yang diasam.

 Salah satu tempat yang pas untuk menikmati berbagai mie termasuk mie Titi adalah di resto Hokky jalan Lamadukelleng.

  • Pisang Epe

Pisang yang nggak terlalu matang paling pas sebagai bahan utama pisang Epe. Epe sendiri artinya dijepit, sesuai dengan bentuknya yang pipih. Sebelum dan sesudah dipipihkan pisang akan dipanggang terlebih dahulu.

Setelah itu toppingnya pun beragam. Mulai dari rasa Original, keju susu, durian, dan coklat. Lokasi berjualan awalnya disepanjang pantai Losari, namun sekarang mereka telah dipindahkan.  Penjualnya pun sangat banyak berjejer sepanjang jalan Lamadukelleng. Harganya berkisar 10.000 rupiah per porsi.

Island Hoping

Ada banyak pulau di sekitar Makassar. Sebut saja Lae-Lae, Kayangan, Samalona. Tapi karena waktu yang singkat, kami memutuskan untuk mendatangi satu pulau bernama Kodingareng Keke. Lucu ya namanya.

Berangkat dari dermaga kayu Bangkoang yang hanya berjarak beberapa kilo dari pantai Losari, kapal-kapal kayu berjajar rapi siap mengantarkan penumpang yang hendak melaut. Rupanya memang ini merupakan dermaga rakyat yang dipakai para penghuni pulau di sekitar Makassar yang bekerja di Makassar.

My mom lived in Makassar years ago. . I hear Makassar accent almost everyday from my aunt. Love Makassar food sooo much as she’s (my aunt) also a good cook. . Mom told me i used to ask “why all the family talk with funny accent? I can’t understand “🤣🤣 yes.. also talk sooo fast with shortened words combined with another word. . Heard many stories from mom about her life years ago in this biggest city in the east of Indonesia. . Visited this city many times, mostly for work. This time i got another opportunity to revisit this city. . And it’s my first time to explore the islands near Makassar. Seems like this is the right time to enjoy the calm and clear water 😋🙈 . Got many DM’s from you guys about the food i have to try. What about sharing stories about what your most fav things in Makassar in the comment below? Love to hear that 😊😊 . Loc : Kodingareng Keke island. Pic @pinneng . #wettraveler #exploremakassar #kodingarengkeke

A post shared by Gemala Hanafiah (@g_hanafiah) on

 

Perjalanan ke Kodingareng Keke tidak terlalu jauh, hanya sekitar 40-45 menit saja. Pulau itu sendiri tak terlalu besar, berpasir putih dan memiliki satu bangunan yang bisa dipergunakan pengunjung yang hendak berteduh.

Dermaga kayu dengan tempat duduk pun tersedia untuk bersantai. Pengunjung boleh membayar seikhlasnya seharga 5000-10000 untuk memakai semua fasilitas itu.

Hanya perlu diingat untuk tidak meninggalkan sampah di pulau yang indah ini.

Karang-karang di sekitar pulau ini sehat dengan kumpulan ikan karang yang hilir mudik di anemon dan karang lunaknya, cocok seagai tempat diving maupun freedive.

Tempat nongkrong asik saat sunset

 

Nggak akan mati gaya saat sunset di Makassar ini. Masyarakat kota ini punya satu pantai legendaris yang bernama Losari. Gue sendiri sudah pernah mengunjungi pantai ini saat kecil dulu, dan masih ingat sensai makan pisang epe sembari melihat matahari terbenam.

Sekarang sudah tidak ada lagi penjual di sepanjang pantai Losari. Sebagai gantinya, titik-titik berfoto dengan latar belakang

Benteng Rotterdam

Benteng ini dibangun pada tahun 1545 oleh Raja Gowa ke-9 yang bernama I manrigau Daeng Bonto Karaeng Lakiung Tumapa’risi’ kallonna. Panjang banget ya namanya. Letaknya juga nggak jauh dari penginapan gue di Lamadukelleng tadi, lurusannya pantai Losari. 

Nama asli benteng ini adalah Benteng Ujung Pandang, biasa juga orang Gowa-Makassar menyebut benteng ini dengan sebutan Benteng Panyyua, karena dari atas bentuknya seperti seekor penyu.

Pada saat Belanda menempati benteng ini, nama Benteng Ujung Pandang diubah menjadi Fort Rotterdam. Cornelis Speelman sengaja memilih nama Fort Rotterdam untuk mengenang daerah kelahirannya di Belanda. Benteng ini kemudian digunakan oleh Belanda sebagai pusat penampungan rempah-rempah di Indonesia bagian timur.

one of the buliding inside Fort Rotterdam

Tidak dipungut bayaran untuk memasuki benteng ini. Kita dapat menyewa jasa tour guide yang akan menjelaskan sejarah benteng ini.

Lumayan banyak hal yang bisa dieksplor dan dicoba dalam waktu sesingkat ini, apalagi mengeksplore Makassar sekarang semakin mudah dengan kehadiran GO-JEK, termasuk GO-RIDE, GO-CAR, GO-SEND dan GO-FOOD

Tonton deh video keseruan kita saat berada di Makassar kemarin ini

Leave a Reply