You Jump.. I jump

Pose dulu sebelum mengarungi ngarai

Surfing, diving atau bahkan belanja di Sukawati udah ga aneh di Bali, gimana kalau trekking air terjun?
Buleleng, salah satu kecamatan di Bali Utara, memiliki banyak sekali wisata alam yang patut dicoba untuk alternatif berlibur, kebetulan yang mau saya ceritakan disini adalah wisata air terjunya.
Ga jauh dari Lovina, pantai yang terkenal dengan Dolphin Tournya, terdapat desa Sambangan yang memiliki banyak sekali air terjun  seru yang harus di kunjungi. Dengan ditemani guide local dan membayar Rp 200,000 kita udah bisa memilih beberapa trek yang tersedia, short, medium or long track. Hmmm saya sih yang short aja daah, soalnya udah bisa melihat empat air terjun juga.
Nggak perlu berjalan jauh sampailah kita di air terjun pertama, Aling aling. Dalam bahasa setempat artinya ‘tersembunyi’, dan memang kita nggak akan bisa melihatnya walaupun sudah mendengat deru suara airnya, sampai pada posisi tertentu dan tampaklah air terjun setinggi 31 meter itu dengan megahnya.
Selalu ada yang dapat dilakukan di sekitar air terjun, termasuk loncat dari ketinggian 14 meter! Well, makasih ya.. saya nonton aja, dibayar untuk bungi jumping aja ogah! Bisa juga berenang berenang di kesejukan airnya.
Lanjut ke air terjun kedua, Kroya, yang namanya diambil dari pohon Kroya yang tumbuh disekitar air terjun tersebut. Nah, disini kita bisa sliding atau prosotan di air terjunya! Salah besar kalau yang terbayang adalah prosotan jaman kita tk dulu, ini jalurnya terbentuk alami karena terkikis alur air terus menerus. Kali ini saya masih punya rasa penasaran untuk mencoba, karena ketinggiannya ‘hanya’ 10 meter dan bukan terjun bebas walaupun tetap curam juga sih.
Ada perasaan menyesal ketika tiba saatnya meluncurkan diri, dimana pikiran menyuruh untuk meluncur saja sementara badan ini menolak untuk bergerak. Akhirnya dengan sedikit paksaan saya berhasil juga duduk manis di jalur luncuran, dan setelah meluruskan kaki serta melipat tangan di dada, meluncurlah saya! Dan tanpa sadar tiba tiba sudah dikelilingi air dingin yang berarti saya sudah sukses mendarat. Yeaahh!!
Sayang dua air terjun lainnya nggak sempat dikunjungi karena keterbatasan waktu..
Berikutnya kami mencoba canyoning atau menjelajah ngarai.  Masih di desa Sambangan, kami menuju air terjun Gitgit. Tapi sebelumnya persiapan dilakukan dengan matang, termasuk harus mengenakan wetsuit setebal  6mm, wuiiih serasa jadi robot. Tapi jangan mengeluh dulu, tebalnya wetsuit ini akan sangat berguna saat berada di dalam ngarai nanti.
Kami pun diajarkan menggunakan besi pengaman yang terkait di harnes kami, juga bagaimana sikap tubuh saat harus rappling nanti. Botol air minum tersanding di punggung masing masing agar tidak merepotkan gerakan.
Untuk Canyoning sendiri ada berbagai macam kegiatan di dalamnya, yang terdiri dari bagaimana kita akan menuruni air terjun di dalam ngarai tersebut, bisa rappling dengan tali, flying fox, atau terjun bebas ( nah yang terakhir ini tetap membuatku dag dig dug derrr ).
Instruktur yang mendampingi harus memiliki sertifikat sebagai instruktur canyoning, nggak sembarangan, karena akan berakibat fatal. Dan sampai titik tertentu pun, ada yang disebut ‘point of no return’ jadi nggak ada pilihan lain selain terus menyusuri hingga akhir, nggak bisa minta balik tiba tiba.
Disini kita bisa menggali jiwa petualangan kita, mengontrol rasa takut dan pikiran, semua sifat asli akan terlihat di saat saat kita mengarungi ngarai, sama seperti naik gunung.
Tapi perjuangan selama 4 jam terbayar di akhir pengarungan, setelah flying fox setinggi 15 meter kami sudah ditunggu sebuah kolam air panas alami yang menjanjikan kenyamanan, apalagi setelah terkena air super dingin berjam jam lamanya.
Huaahhh.. nyamannya, emang nggak rugi untuk mencoba hal baru, apalagi bisa menjadi cerita tersendiri 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *