Winter Surf

Ombak Pancer inside

Akhirnya wetsuit kepake juga selain buat diving

good in high tide

crew pencari ombak: Chelsea, saya, Race,Andryz, Pak Hari, Gayung, Fani, Doyok, Joshua, TIna dan Edo

Dipan bawah yang berfungsi sebagai penyimpanan boards atau tempat nongkrong

alat transport kami selama disana

peringatan di Watu Karung yang berarus keras

Wetsuit dan windbreaker, ini benar benar musim dingin 🙂

Watu Karung

Chelsea, saya dan Salini, surfer cilik dari Pacitan

dingin tapi tetap semangat

Harry’s losmen

ombak kiri di Watu Karung

ombak kanan Watu Karung

ombak Pancer di sore hari

wisata kuliner di alun alun kota
Bisa dibilang racun  pertama itu dari teman kami yang ada di Batukaras, Fani. Foto foto dan ceritanya tentang Pacitan  bener bener ngalahin promosi tukang jual obat. Rasa penasaran sudah ada sejak lama, setelah terkumpul beberpa teman yang juga tertarik untuk melakukan surf trip ini maka berangkatlah kami berempat.

Pacitan sendiri bisa dicapai dengam dua cara, jalan darat yang dipastikan melebihi 12 jam yang..  maaf, untuk saat ini rasanya terlalu menyiksa duduk selama itu. Kedua  adalah jalur udara. Kami memilih terbang ke Jogja dari Jakrarta selama 1 jam dan disambung jalur darat selama 3 jam melalui jalur alternatif  Pracimantoro – Sedang sebelum akhirnya masuk Jawa Timur, Punung.

Perjalanan 3 jam tidak terlalu terasa karena dihabiskan sebagian besar dengan tidur, maklumlah resiko terbang dengan pesawat pertama berarti harus bangun dari jam 3 subuh!  Walaupun sempet juga mengintip dari sela sela bulu mata, tampak deretan hutan jati dan bukit bukit karang, yang jelas jalannya bagus. Langsung kebayang kenapa jalur surfing di Jawa Barat nggak dijaga supaya perjalanan darat lebih mudah 🙁

Kesan pertama begitu sampai di penginapan yang telah kami pesan, sangat menyatu dengan alam dan apa adanya, dengan cottage kayu bertigkat, dipan bawah khusus untuk menaruh papan surfing dan perlengkapan lainnya. Tidak ada AC, dan memang tidak perlu kalau air flow benar, apalagi saat musim kemarau seperti saat ini, angin dingin dari Australia dijamin bikin beku.

Pantry umum dibuat terbuka hanya dibatasi dua dinding, pendopo untuk makan atau berkumpul, benar benar dibangun untuk surfer, walaupun ga tertutup untuk non surfer tentu saja.

Jarak antara penginapan dan spot surfing Pancer paling hanya 10 menit aja. Tiap hari kami bolak balik melewati jalan berpasir untuk mencapai spot surfing tersebut. Yang paling berkesan buat saya sih nuansa alamnya bener bener berasa di Indonesia bagian timur seperti di Lombok atau Sumbawa. Perpaduan tanah berkarang dan tebing tebing disekitar pantai Pancer memberikan tampilan dramatis.

Memang sudah diperingatkan sebelumnya kalau air laut bakal dingin, dan kami sudah mempersiapkan wetsuit, bukan sekedar rashvest tipis dari bahan lycra, tapi tetap saja shock dengan dinginnya.

Hari pertama saya selesai surfing, ujung ujung jari mati rasa dan kemudian berlanjut dengan rasa kesemutan saat rasa hangat kembali. Begitu juga saat tidur malam, saat subuh tiba rasanya pengen bisa mengecilkan AC alam 😀

Pantai Pancer sendiri memang bagus saat musim kemarau , karena kondisi angin yang berhembus dari Timur sehingga kondisi disana selalu offshore (angin dari arah darat) atau sideshore yang mendukung mulusnya bentuk permukaan ombak. Saat pasang akan memebentuk ombak kanan panjang di bagian dalam, dan saat surut ombak kiri di bagian outside yang bahkan lebih panjang lagi pun terbentuk. Main pasang ataupun surut tidak masalah 😉

Selain Pancer ada juga Serau, yang memilik 4 spot surfing, tapi sayangnya hanya on saat musim penghujan, akhir dan awal tahun. Alasan untuk balik lagi niiih #modus

Nggak afdol buat surfer kalau ke Pacitan tapi nggak ke Watu Karung, spot surfing dengan ombak berkelas dunia , super fotogenic tapi susahnya bukan main saat besar apalagi surut.

Dan saat kami kesana kondisi ombak benar benar tidak bersahabat, besoaar, bumpy, sections.. Duh maaf istilah teknis semua nih, pokoknya intinya bentuknya nggak napsuin deh, buat yang liat pengen di pantai aja nyeruput kopi susu sambil jempol kaki ngorek ngorek pasir. Ah… Yang penting sudah liat kesana dan menyaksikan boogieboarder boogieboarder asal  Australi gila bermain.

Beberapa teman main sih.. Berikut cuplikan kesan kesannya:

Doyok : main ombak kanan, ambil beberapa ombak barrel, kesan dan pesan > jangan main sekarang deh.. Bahaya

Al Gifani : main ombak kiri, ambil beberapa ombak > gila omahknya langsung tegak mana di depan nutup

Joshua : turun di spot ombak kiri, kondisi terus paddle kena arus, ngeri liat ombaknya dan saat duckdive terbanting ke karang dengan lama terjebak di arus selama 30 menit.

Oke.. Keputusan tepat untuk berjemur di tepi pantai.

Untuk urusan makanan kami tergila gila dengan sate tuna diatas dengan pemandangan dermaga. Nggak mungkin nggak nambah deh. Mana sambelnya bagaikan neraka berbalut surga.

Semua lokalnya sangat ramah dan terbuka. Saya bahkan beruntung bisa bertemu dan surfing bareng Pak Dokter Hari sebagai surfer pertama disana. Beliau sangat baik dan surfingnya rajiiiinn.. Pancer seperti kantor keduanya, tiada hari tanpa surfing. Atau malah pantai itu kantor pertamanya yaaa.. Hmmm, mencurigakan.

Demikian juga dengan Salini, surfer girl cilik yang hitam manis, belai belain bolos untuk nemenin kami surfing. Mudah mudahan gurunya nggak baca tulisan ini ya hehehe.. Dan saya jadi mengerti kenapa dia sangat puitis di tiap posting FB nya, wong rumahnya indah banget gini!

Akhirnya kami pamit pulang dengan berat hati meninggalkan semua kedamaian dan keindahan ini. Buat yang nggak tau di Pacitan bisa untuk surfing, selamat terkaget kaget yaaa 😀

2 Replies to “Winter Surf”

  1. akhirnya nyubain juga Al…tapi kyknya belom nyentuh BSP yaa?! Bakso Super Pacitan..iklannya diradio lokal santer bgt tuh..rasanya jugaa yummi… dan satu lagi yang wajib dicubain…srau.. beeuuhh… sebetulnya ada 1 spot lagi yg paling mantap al (satu tipe sm pussy)..tp off the record aja deh yaa..hehe…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *