Why I Wrote Ocean Melody

Screen Shot 2014-11-15 at 11.09.24 AM

Selama masa pengerjaan buku ini, rasanya memang gue nggak banyak cerita-cerita ke teman-teman surfing. Tiba-tiba gue mengundang mereka untuk lauching buku dan komentarnya “Gila, nulis buku kan lama, rajin amat ya lo..”

Kalau dipikir-pikir, memang apa yang coba gue bagikan di dalam buku ini bukan hal yang umum dialami  oleh semua orang. Berapa persen sih surfer di Indonesia? Berapa banyak sih yang ngerti atau tertarik mengenai seluk beluk surfing? Nggak semua provinsi memiliki ombak yang bisa dipakai surfing juga, makanya nggak aneh kalau gue sering menerima pertanyaan dari orang-orang : “Surfing ya? Pasti sering ke Bali dooong.”

Nggak salah juga siih, tapi lama kelamaan komentar itu membuat gue gemes. Kesannya surfing di Indonesia cuma di Bali aja, padahal gue mengalami banyak banget saat-saat menyenangkan ketika surfing di lokasi-lokasi yang emang kalah beken dibanding Bali. Namanya banyak yang ajaib, yang kalau disebutkan mirip-mirip nama makanan juga banyak.

Pokoknya karena ngerasa sayang kalau surfing Indonesia kurang diketahui bangsa sendiri, sementara turis-turis udah melanglang buana ke pelosok-pelosok negri ini, gue dengan semangat menggebu-gebu bikin blog, selain supaya nggak lupa pernah kemana aja (gue pelupa berat), juga pengen share ke temen-temen biar mengenal lokasi-lokasi bernama ajaib itu.

Setelah sekian lama, tanpa disangka-sangka Gagasmedia ( penerbit buku gue ) nawarin gue untuk bikin buku. Menurut mereka, topik yang gue bahas itu unik, dan kalau dipikir-pikir, memang belum ada cerita traveling khusus surfing yang terbit di Indonesia. Tanpa basa-basi gue langsung terbang menyambut tawaran itu, padahal nggak kebayang juga gimana nanti prosesnya. Gue pengen predikat negara dengan ombak terbaik di dunia itu juga paling nggak diketahui oleh bangsa Indonesia sendiri. Tapi sekarang tantangan terbesar itu gimana caranya nyeritain surfing yang penuh istilah tehnis itu ke pembaca umum. Gimana caranya supaya pembaca buku gue nanti nggak jatuh tertidur dengan suksesnya setelah membaca 2 halaman. Ternyata susah men….

Rajin nulis blog tidak langsung membuat gue lancar bercerita. Tapi serunya disitu. Gimana caranya gue membuat pembaca itu bisa masuk ke pengalaman-pengalaman gue. Yang seru, yang serem, yang sedih, yang takut, karena tidak selamanya perjalanan mencari ombak itu seneng-senengnya aja. Tapi meskipun nggak selalu menyenangkan, selalu ada aja hal-hal yang bisa gue jadikan kenangan manis di tiap trip-nya. Kenangan-kenangan yang sayang untuk dibuang begitu saja. Kenangan yang gue harapkan, bisa mengajak temen-temen yang membaca buku Ocean Melody jadi mengerti, kenapa turis-turis surfer itu mau terbang belasan hingga puluhan jam ke Indonesia, dan memberikan kehormatan itu kepada negara ini : Negara dengan ombak terbaik di dunia 🙂

Ocean Melody sekarang dah ada di toko buku, tapi bagi yang susah menemukannya, bisa beli online di:

• www.bukabuku.com 

www.kutukutubuku.com

• Google book yang bisa diunduh di Google Play, khusus pengguna Android

4 Replies to “Why I Wrote Ocean Melody”

  1. Saya suka bgt skaligus takut pada laut. jadi saya lebih sering mainnya di pinggiran pantainya aja, gak brani ke tengah.
    Skarang, roda rejeki membawa saya tinggal dan bekerja di daerah pinggiran Pantura yg ternyata tidak ber-pantai, hanya ber-laut.
    Mungkin, semoga, anak ku nanti (kalo sudah bisa) baca buku ini, akan sama cintanya pada laut seperti ibunya yg sangat cinta pada pantai, bedanya, semoga dia gak takut :p :p :p

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *