Waves, Friends and Fun





Dari dulu sampai terakhir mengatur rencana boat trip ke Panaitan tidak pernah bisa simple dan gampang. Dengan naiknya harga sewa boat perhari, halangan yang paling utama tentu saja mencari ‘korban’ yang bisa diajak sharing bayar kapal bersama. Kenapa saya bilang ‘korban’? karena biasa nya yang sering mau ikut adalah teman teman yang baru belajar surfing dan belum tentu bisa sepenuhnya menikmati ombak ombak Panaitan, tapi mereka dijanjikan dengan suasana yang pasti super menyenangkan dan berbeda dari di kota.
Apalagi waktu yang dibutuhkan untuk memutuskan kata ‘berangkat’ tergolong dadakan, biasanya Andris menyebutnya dengan pemadam kebakaran. Kalau forecast di internet bagus ya berangkat, kalo nggak bagus pasti rugi nantinya. Singkat cerita, dari yang tadinya bingung mencari teman, pada akhirnya kita harus menolak teman teman yang mau ikut di saat saat terakhir karena keterbatasan tempat.
Memutuskan untuk berangkat dari Jakarta pada pukul 2 pagi, kami ber tujuh, saya, Andryz, Jeje, Iis alias Race, Nabel, Mike the Sing boy dan Renol, konvoi menggunakan 2 mobil menuju Tanjung Lesung, melewati Pandeglang, sekalian menjemput satu lagi teman, Rifky yang memang tinggal disana. Senangnya punya teman cewe untuk traveling salah satunya adalah bahan gossip yang seperti nya nggak habis habis untuk teman dijalan ☺
Sesampainya kami di Tanjung Lesung kami langsung menuju ke boat untuk memuat barang dan surfboards. Mike teman kami dari Singapore baru kali ini mengikuti Indo boat trip, dalam artian yang asli. Setelah bengong sebentar, keluarlah pertanyaan itu “Where’s the live jacket man?” Wah, kami semua menahan tawa dan malu, ya memang begini keadaan kami di Jawa Barat, dan saya rasa di daerah lain pun tidak terlalu berbeda ya.. “Just stick to your board, in case we have trouble” jawab teman saya yang lain. Kalau pertanyaan saya dan Jeje, kurang lebih mirip, wc nya dimana paaakkkk????
Waktu yang lumayan panjang dari Tanjung Lesung ke Panaitan ( kurang lebih 5 jam) kami manfaatkan untuk menebus kekurangan tidur di malam harinya. Bagi saya perjalanan kali ini sepertinya sangat singkat, waktu terbangun dari tidur perahu kami bahkan telah melewati Karang Jajar, pintu gerbang untuk memasuki Panaitan. Saya terbangun ketika kami mendekati Nepalm, dan pemandangan di depan saya benar benar indah nan sempurna. Hanya saja, karena surut jadi point Nepalm kelihatan karang karangnya, waduuuuh… beda tipis dengan parutan.
Setelah makan siang, kami meyerbu insight left yang saat itu kondisi nya aduhai menyenangkan, 3-4ft, offshore, sunny.. bahkan dua orang bule yang sudah terlebih dahulu disana harus rela tergeser oleh rombongan ‘Jakarta kalap surfer’ ini.
Malam pertama itu kami semua tidur dengan posisi mirip permainan tetris, pokoknya gimana pun juga delapan orang harus muat di perahu nelayan yang tidak seberapa besar itu. Walhasil tidur saya terganggu beberapa kali untuk membenarkan posisi, plus bangun malam karena ingin buang air yang didukung niat lebih karena wc nya mengharuskan kita untuk nangkring di belakang perahu.
Sebelum matahari terbit semua orang sudah bangun, satu hal yang mustahil di Jakarta. Setelah urusan ‘kebelakang ‘ yang super tricky pada awalnya, kami menuju ‘indicator’. Point kanan yang menyenangkan, hanya saja kami tidak dibiarkan diam karena arusnya mengharuskan kami terus menerus paddle untuk mempertahankan posisi.
Tidak terlalu lama di indacor kami kembali ke point favorit, pussy atau insight left! Dan hari ini pun kami mendapat ombak yang hampir sama dengan hari sebelumnya hanya saja kondisi lebih berangin. Satu persatu kami bergantian mengambil ombak, dan dapat dipastikan seperti biasa, Mike selalu menunggu di depan demi mendapatkan set terbaik, yah mari kita maklumi saja, dia datang dari tempat yang paliiiing jauh. Rasanya seperti dua hari ini kami surfing di point pribadi karena tidak ada orang lain selain kami, dan surf guide kami, Kacong dari Carita.
Lucunya waktu terasa berjalan lama pada saat matahari tenggelam, semalam saja kami tidur jam delapan! Tapi sebaliknya, begitu matahari terbit dan kami surfing, waktu rasanya seperti berlari. Tak terasa hari sudah semakin sore, waktunya pindah posisi mencari tempat berlindung malam ini.
Rencananya kami akan surfing di Angel atau Nyawaan pada keesokan harinya, dan kedua point tersebut terletak di Ujun Kulon, pulau Jawa. Agar praktis kami langsung menuju ke Peucang sore itu juga.
Tenyata di tengah jalan kami terkena badai. Hujan angin membatasi pandangan hanya sekitar 5 meter kedepan. Sialnya pak Kaptern tidak membawa kompas, kami sempat kehilangan arah. Untung Rifky membawa kompas, walau kecil tapi menyelamatkan kami semua. Berapa saat setelah hujan reda, terlihat Pulau Peucang dengan mercu suarnya. Aaaahh.. sampai juga akhirnya. Terbayang penginapan di Pulau Peucang dengan tempat tidur dan kasur. Tapi apa yang kami lihat selanjutnya sangat diluar dugaan. Dermaga Peucang penuh dengan perahu para diver, turis, pemancing. Singkat kata, kami tidur di perahu lagi malam itu.
Istirahat panjang malam hari menyegarkan kembali badan kami. Segera setelah kami bangun pak kapten tidak menunggu lebih lama lagi, kami menuju Angel. Tapi, dimana ya ombaknya? Yang mana point nya? Kok kecil sekali? Kacong turun dan menunjukkan point dimana kami harus menunggu ombak. Ternyata ombak yang tadinya kami kira kecil, tidak sekecil dan segampang kelihatannya. Untuk dapat take off dengan cepat di ombak kiri dengan dasar yang dangkal ( sebagian besar dari kami adalah natural ) kami harus mencoba berkali kali sampai mendapatkan selahnya. Dan setelah dapat selahnya, wooooww… ternyata ombak Angel sesuai namanya, indah, powerfull dan sangat jernih! Walaupun tidak terlalu besar tapi sensasi yang dirasakan tidak kalah dengan Pussy.
Setelah berberapa jam surfing di Angel, para ABK memberikan isyarat makanan sudah siap. Kami benar benar di perlakukan seperti raja. Saya nggak nyangka hidup bisa sesempurna ini. Siang itu trip Panaitan kami harus berakhir, kami meunuju kembali ke Tanjung Lesung, untuk selanjutnya kembali ke Jakarta.
Celetukan yang banyak terdengar saat itu “Yuk bulan depan kita trip lagi” :-)☺

5 Replies to “Waves, Friends and Fun”

  1. wah bisa double posting nih klo gw bikin ceritanya lg..nebeng dsini aja deh…konon ada yg ketagihan sampe mo beli kapal sgala sih, biar transport ksananya lbih gampang katanya..ehehe… pussyy…indicatoor…yummy…

  2. hopefully all the experience and pleasure can be useful for young people who want to express themselves, especially for reaching their future goals as our philosophy in pursuit of waves

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *