Upacara Tulude

tulude_sangir3

Setahun sekali, di akhir bulan Januari, tepatnya pada tanggal 31 Januari, masyarakat Sangihe mengadakan upacara adat Tulude. Bahkan kepulangan saya yang seharusnya sebelum Tulude jadinya wajib diundur karena semua orang membicarakannya, dan meminta kami tinggal disana untuk menyaksikan upacara tersebut.

Masyarakat Sangihe atau Sangir sendiri masih sangat kuat adat istiadatnya. Meskipun sebagian besar dari mereka telah memeluk agama Kristen, mereka masih mempercayai yang disebut dengan ‘kekuatan jahat’. Sekilas cerita-cerita dari warga setempat, dulunya upacara Tulude ini dipenuhi dengan hal-hal mistis, namun dengan masuknya agama ditengah mereka, lambat laun hal mistis tersebut menghilang, berganti dengan upacara pengucapan rasa syukur serta suguhan tari-tarian rakyat.

Namun makna sebenarnya dari upaara Tulude ini tidak semudah itu diketahui. Percaya atau tidak, beberapa orang lokal yang saya temui tidak mengetahui arti sebenarnya dari upacara Tulude ini. Saking tua-nya perayaan ini, semua orang menganggap ini adalah sesuatu yang memang sudah harus dilakukan secara turun-temurun.

Selain mengungkapkan rasa syukur, ternyata ada makna lain dibalik upacara ini. Tulude atau Menulude yang berasal dari bahasa Sangihe, berarti menolak, tolak, atau mendorong. Secara luas arti ‘Tulude’ adalah menolak untuk terus berpatokan pada tahun yang lampau dan siap menyongsong tahun baru.

Sejarah singkat terbentuknya Sangihe yang diresmikan pada 24 Desember 1946 yang dulunya berbentuk kerajaan. Kerajaan pertama didirikan oleh Raja Gumansalangi pada tahun 1425. Karena belum ditemukan data yang akurat maka ditentukan 31 Januari 1425 sebagai hari lahir daerah Kepulauan Sangihe.

Pada masa awal beberapa abad lalu, pelaksanaan upacara adat Tulude dilaksanakan oleh para leluhur pada setiap tanggal 31 Desember, di mana tanggal ini merupakan penghujung dari tahun yang akan berakhir, sehingga sangat pas untuk melaksanakan upacara Tulude.

Ketika agama Kristen dan Islam masuk ke wilayah Sangihe dan Talaud pada abad ke-19, upacara adat Tulude ini telah diisi dengan muatan-muatan penginjilan dan tradisi kekafiran secara perlahan mulai terkikis. Bahkan, hari pelaksanaannya yang biasanya pada tanggal 31 Desember, oleh kesepakatan adat, dialihkan ke tanggal 31 Januari tahun berikutnya. Hal ini dilakukan, karena tanggal 31 Desember merupakan saat yang paling sibuk bagi umat Kristen di Sangihe dan Talaud. Sebab, seminggu sebelumnya telah disibukkan dengan acara ibadah malam Natal, lalu tanggal 31 Desember disibukkan dengan ibadah akhir tahun dan persiapan menyambut tahun baru. Akibat kepadatan dan keseibukan acara ibadah ini dan untuk menjaga kekhusukan ibadah gerejawi tidak terganggu dengan upacara adat Tulude, maka dialihkankan tanggal pelaksanaannya menjadi tanggal 31 Januari. Bahkan pada tahun 1995, oleh DPRD dan pemerintah kabupaten kepulauan Sangihe-Talaud, tanggal 31 Januari telah ditetapkan dengan Perda sebagai hari jadi Sangihe Talaud dengan inti acara upacara Tulude.

Ternyata upacara ini dihelat melewati beberapa tahapan. Dua minggu sebelum digelar, seorang tetua adat menyelam ke dalam lorong bawah laut yang berada di Gunung Banua Wuhu. Tetua adat ini membawa sepiring nasi putih dan emas yang dipersembahkan kepada Banua Wuhu yang bersemayam di lorong tersebut. Usai menggelar ritual penyelaman tersebut, dimulailah rangkaian perhelatan upcara Tulude yang diawali dengan pembuatan kue adat Tamo di rumah salah seorang tetua adat, sehari sebelum pelaksanaan.

Salah satu hal menarik dari upacara ini adalah ketika digelar ritual penyelaman ke Banua Wuhu. Gunung yang dikenal memiliki kepundan yang mengeluarkan gelembung pada kedalaman 8 meter dan memiliki suhu sekitar 37-38 derajat celcius. Di beberapa lubang keluar air panas yang sanggup membuat tangan telanjang bisa melepuh bila mencoba memasukkan ke dalamnya. Namun eksotisme perairan ini sebanding dengan resiko yang harus dihadapi, menjadikan ritual ini menjadi saat yang menarik sekaligus mendebarkan. Apakah ini titik diving Mahengetang?

sangir_dive
Mahengetang, the underwater volcano

Upacara Tulude dilaksanakan pada malam hari, dengan persiapan yang dimulai sejak sore hari. Lokasi diadakannya pun berpindah-pindah. Ramainya masyarakat yang hendak menyaksikan datang dari berbagai pejuru kampung. Rumah-rumah pun dihias sepanjang jalan sejak beberapa hari sebelumnya. Lipatan-lipatan daun kelapa kering terlihat bergantungan di kiri dan kanan jalan. Konon suasana semarak yang tercipta bahkan mengalahkan kemeriahan Natal dan Tahun Baru sekalipun.

Setiap kampung mengirim both perwakilannya yang berisi masakan khas tiap kampung, serunya makanan ini bebas dicicipi tanpa bayar sepeserpun. Mulai dari kue-kue tradisional hingga masakan laut. Tak ketinggalan sagu sebagai teman makan yang beda.

Para pejabat daerah telah menempati kursi yang disediakan diatas panggung. Setelah gelap, upacara pun dimulai. Diawali dengan ‘Sasake Pato’ yang melambangkan beberapa petinggi menaiki perahu, memimpin perahu yang meluncur dengan berani. Meluncur ditengah lautan yang terombang-ambing gelombang, dan harus mengemudikannya dengan baik, lurus tak berbelok, menuju pantai bahagia.

 

tulude_sangirDapat ditebak adegan berikutnya adalah turun dari perahu yang disertai sorak sorai, berjalan diiringi bunyi-bunyian tambur dan tagonggong. Divisualisasikan sang Pemimpin ibarat burung Rajawali, seorang pemberani tiada taranya. Tumitnya meratakan gunung, dapat menerangi lembah dan bukit, karena itu berjalanlah dengan penuh selamat tanpa hambatan yang menghalangi, kiranya tiba dengan damai sejahtera.

Puncak dari upacara Tulude adalah saat keluarnya kue dodol berhiaskan cabe, udang, dan aneka hiasan lainnya berbentuk kerucut yang mengingatkan saya akan kue tumpeng saat selametan. Kue inilah yang dinamakan Tamo. Saat itu saya tidak bisa membayangkan bagaimana rasanya memakan dodol yang dikenal manis dengan udang dan cabe. Tapi rupanya hiasan-hiasan tersebut memang tidak dikonsumsi.

Diiringi dengan tarian dari tetua adat, serta ucapan-ucapan syukur perlahan-lahan Tamo dihantarkan ke hadapan para petinggi Sangihe. Semetara itu, potongan-potongan dodol juga dibagikan untuk para tamu, melambangkan kebersamaan, pastinya tanpa potongan udang dan cabe.

 

tulude_sangir_2Dan layaknya segala keramaian yang ada dimana-mana, pasti tidak akan jauh dari makanan. Segala masakan khas disajikan sebelum akhirnya kami menikmati suguhan tari-tarian yang dibawakan oleh masyarakat Sangihe malam itu.

All pics by Muljadi Pinneng Sulungbudi

4 Replies to “Upacara Tulude”

  1. Menarik nih kak upacara Tulude nya, dan juga diving spot yang berair panasnya itu. Aku kok agak-agak serem kalau tiba-tiba nyembur lahar atau apa gitu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *