Unforgettable moment

surfing di Bulak Benda, liat aja tu backgroundnya rimba tak tersentuh :) Pic. by Tim Hain
surfing di Bulak Benda, liat aja tu backgroundnya rimba tak tersentuh 🙂
Pic. by Tim Hain

Tiap orang pasti punya moment yang tak terlupakan. Apakah itu menyenangkan, mengerikan, romantis, moment yang selalu teringat saat pertanyaan “What is the unforgettable moment for you?”

Salah satu moment yang nggak pernah gue lupain itu kejadian waktu surfing di Bulak Benda, yang ketika itu masih merupakan area antah-berantah. Sebuah desa nelayan tanpa listrik, yang membutuhkan waktu sekitar sejam-an dari Batukaras kalau lewat darat, atau 30 menit kalau menggunakan perahu kayu bercadik.

Waktu itu Bulak Benda belom beken. Yang surfing disana masih kita-kita doang pleus temen-temen terpilih yang kita bagi ‘secret spot’ ini *tsah. Memang Bulak Benda ini kita rahasiakan supaya nggak rame. Turis yang diajak kemari pun turis-turis yang berhasil merebut simpati para surfer lokal. Yang baik, ramah, kalau ketemu di laut senyum sambil nyapa “Hi, how’re you doin?”

Sekarang sih Bulak Benda sudah ada listrik, tapi lautnya tetap masih blum terlalu ramai. Pantainya masih sepi, dinaungi pohon-pohon kepala yang berjajar sexy di sepanjang bibir pantai. Tidak terlihat rumah warga, karena memang desanya terletak sedikit jauh dari pantai. Yang hilir mudik disana masih dominan nelayan dengan perahu bercadik mereka.

Ombak yang ada di pesisir Bulak Benda gedenya sekitar dua sampe tiga kali lipat ombak di Batukaras. Makanya gue baru berani main ke sana kalau ombak di Batukaras cukup kecil, berarti ukuran di Bulak Benda sedeng deh, nggak mengerikan. Nggak perlu paddle pontang-panting  buat kabur menghindari set-set besar yang kadang ada aja datang menghampiri.

Suasananya yang lengang dan terbuka menghadap samudra serta warna air lautnya yang biru tua itulah yang membuat suasana rada ceyem, kalau bahasa Sundanya mah ‘ke’eng’. Dikit-dikit bawaannya ngecek horizon, takut ada set gede yang dateng mendadak bagai inspeksi dadakan.

Tapi saat yang bikin takut ternyata bukan ombak.

Saat kami sedang menunggu ombak dalam posisi yang berjauhan, tiba-tiba munculah sebuah kepala segede kepala bayi! Tepat dalam jarak selemparan batu dari surfboard gue, yang bikin napas gue tertahan seketika. Mata yang tertanam di kepala itu tampak hitam legam berkilat, sementara mulutnya tetap terkantup. Kejadian yang hanya sekejab, dan empunya kepala kembali menyelam dalam damai.

“PENYUUUUUUUU!!” gue teriak sekuat tenaga.

Berharap temen-temen paddling mendekat dan kita bisa mencari penyu itu bersama-sama. Soalnya belum puas liatnya cuma sebentar. Tapi.. loh kok.. ini kenapa pada paddle kocar kacir nggak keruan? lha… kok gue ditinggal sendiri? Ya ngeri dooong! Tanpa berpikir dua kali gue ikutan paddle panik ke arah mereka.

“WOI KENAPA?”

“HIUUUU KAN?”Haaaaa… asataga. Teriakan ‘penyu’ gue dikira ‘hiu’ ternyata.

Pantes aja mereka kocar-kacir. Maklumlah surfer kan nggak semuanya mengenal hiu sebaik diver. Mana banyak cerita surfer disamber hiu pula. Waktu itu sih gue yang belum diving juga takut sama hiu. Tapi yang jelas gue inget banget kalo gue nggak bisa berhenti ketawa di tengah laut 😀

Kalo pengalaman tak terlupakan lo apa?

 

3 Replies to “Unforgettable moment”

  1. utk gue adalah pertama kalinya bisa liburan ke Bali Nov 2010 tapi sayangnya cuma 2 hari 1 malam kurang puassssssssssss!!!!! memang sihh.. ya minimalnya sih 1 minggu krn gue belum sempat jalan2 di beberapa pantai terkenal di Bali seperti CANGGU, PADANG2, & masih banyak lagi dehh.. walaupun cuma 2 hari 1 malam tapi cukup polll dehh gila2annya krn bisa ikut water sport di tanjung benoa, lunch di warung made, massage di sebuah spa , belanja di kuta square & belanja di Krisna store, dinner di fine dining resto,nginap di HARD ROCK HOTEL Bali, & clubbing di hu’u bar.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *