Ulat atau Tanah untuk Teman Minum Kopimu?

Kadang memang tak terhindarkan lagi kalau kita harus mencoba berbagai makanan ‘ajaib’ saat traveling, terlebih lagi ada kamera di depan muka. Pengalaman mencoba hal-hal ‘ajaib’ ini masih berlokasi di Gunung Kidul,  Jawa Tengah aja, blum sejauh Papua yang saya yakin bisa lebih ajaib lagi pastinya.
Yang pertama adalah ulat Jati. Pastinya berasal dari pohon Jati ya, nggak mungkin dari pohon Cabe, dan paling banyak di musim hujan. Mereka membungkus diri pada dedaunan disekitar pohon Jati yang menjadi korban kerakusan mereka.
Bentuknya yang item dan keras, sama sekali nggak membangkitkan selera makan hehehe.. begitupun saat harus memungut mereka satu-persatu, dengan menahan rasa geli, plus nggak mau kalah dari ibu-ibu macho yang menerabas kebun untuk mengambil sang ulat, akhirnya saya terbawa bersemangat untuk mencari mereka.
Saat pengolahan pun tidak ada yang special, dicuci dan digoreng hingga kering, mereka tetap tampak seperti ulat. Satu kunci yang lumayan menolong adalah siapkan sambel yang lezat untuk menemani lauk ini. Setelah digigit, rasa yang menyeruak adalah manis dan krispi, mirip-mirip manis jagung tapi lebih samar. Kalau bisa merem sih, silakan makan sambil merem hahahaha..

Ulat sepertinya sudah biasa ya, toh banyak juga dikonsumsi saat kita harus bertahan hidup di hutan… Bagaimana dengan tanah?
Di kecamatan Semanding, Tuban, masih di Jawa Timur, ada cemilan yang terbuat dari tanah liat… Dari mulai proses mencaripun saya sudah nggak habis pikir, kok bisa ya orang kepikiran untuk makan tanah?
Saya malah sempat gugling segala, ada apakah kandungan pada tanah yang mempunyai fusngi pada tubuh manusia? Inilah dia hasilnya:
Karbon (C), Hidrogen (H), Oksigen (O), Nitrogen (N), Fosfor (P), Kalium (K), Kalsium (Ca), Magnesium (Mg), Belerang (S), Besi (Fe), Mangan (Mn), Boron (B), Mo, Tembaga (Cu), Seng (Zn) dan Klor (Cl).
Cukup banyak, tapi masalahnya… ini semua untuk tumbuhan.
Cara pengolahannya menarik, tanah liat yang dikumpulkan di padatkan mejadi sebongkah kubus padat, apalagi setelah dipukul-pukul pakai gada, makin pada deh. Setelah berbentuk kubus, sebilah bamboo yang diruncingkan berfungsi untuk mengiris bagian atas dari kubus tanah liat tersebut.
Irisan yang terjadi membentuk corong-corong kecil yang mirip sedotan. Nah corong iniah yang ditaruh diatas tungku untuk diasap selama kira-kira setengah jam. Setelah tanah liat menjadi lebih keras dan mengkilatm barulah mereka diangkat, dan siap untuk dihidangkan.
Meskipun gigitan pertama berkesan menarik karena suara kriuk-kriuk yang terjadi, setelah liur melelehkan tanah liat ini kembali… rasa asap kembali menjadi rasa tanah, ditambah lagi mereka nyelip di gigi dan mewarnai lidah menjadi warna lumpur.. Hiiiii… selamat makaaannn!


7 Replies to “Ulat atau Tanah untuk Teman Minum Kopimu?”

  1. sy tertarik dg ulasan kopi luwak di jember kemarin,dicari di youtube ga ada ya? pengolahan yang spesial menurut sy…sebagai putra sumatera sangat tertarik untuk tau lebih dalam karya org jawa timuran

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *