Trip Perut Bumi

Bagi pengidap klaustrofobia (ketakutan ruang tertutup) sulit pastinya menikmati trip ini, karena kondisi tempat yang tertutup, ditambah lagi harus masuk puluhan meter kebawah tanah.
Baubau, kota kabupaten di Pulau Buton, Sulawesi Tenggara, mempunyai kontur tanah berbatu, serta memiliki banyak sekali gua gua alam yang menajubkan.
Pada kesempatan pertama saya mengunjungi gua Lakasa,     yang namanya diambil dari nama penemunya, pak Lakasa. Gua yang pernah saya kunjungi biasanya mempunyai pintu masuk yang tinggi, dari jauh sudah terlihat bentuk guanya, tapi kali ini saya bener bener nggak nyangka harus masuk ke dalam melalui lubang yang hanya muat sebadan orang dewasa aja, sementara menurut info dalamnya mencapai 58m dibawah permukaan tanah. Saya nggak berniat jadi tikus tanah! tapi ternyata setelah masuk beberapa meter, pemandangannya berubah drastis. Stalagtit, stalagmit dan pilar bertaburan dimana mana. Hanya saja semakin jauh jaraknya, rasanya semakin pengap. Oksigen menipis.
Selain banyaknya cabang2, kontur gua yang anti rata ini bener2 memerlukan penunjuk jalan yang handal. Tapi yang seru, ternyata dinas pu setempat sudah memasang lampu di sepanjang trek yang harus dilalui, ga tangung tangung.. Lampu taman yang dipasang!
Di ujung perjalanan ada bonus yang dapat dinikmati kalau cukup nyali. Telaga bawah tanah berair jernih tapi gelap! Beruntung saya datang bersama rombongan  kru yang dengan senang hati memberikan penerangan,  demi kepentingan gambar juga 🙂 maka jadilah saya puas berenang renang narsis.
Beda lagi dengan gua Kaisabu, yang perjalanan kesananya aja udah menantang jiwa raga, dengan diharuskannya kita melakukan pemanjatan akar2 pohon dengan kemiringan 45 derajat diatas tanah licin. Eehh sudah jauh2 tetap ketemu tembok gua yang dicorat coret dengan eksisnya, ga tau kayanya kalo stalagmit itu hanya bertambah 1cm per 10 tahun.
Ternyata bukan itu tantangan utamanya..
Berhubung teman jalan saya hampir semua peka bahkan ada yang bisa ‘melihat’ jadilah beberapa orang masuk dengan muka tegang. Tapi saya dengan bebalnya tetap nggak ngerasa apa2. Bahkan heboh memeriksa setiap ruang yang ada serta mengagumi jangkrik gua yang bertebaran dimana mana dengan antenenya yang mengingatkan saya pada lobster.
Dulunya gua ini merupakan tempat persembunyian dari suku Kaisabu saat penjajahan belanda, bahkan satu dusun bisa masuk kedalamnya (estimasi 4000orang) dilantai satunya yang saat ini masih belum ditemukan jalan masuknya karena masih tertimbun reruntuhan batu.
Terdiri dari banyak aula aula dan kamar kamar serta jalan tembusan kesan kemari, nampakny satu bukit isinya gua semua.
Untung aja teman teman yang peka tadi baru membeberkan ceritanya setelah kami semua keluar gua. Kalau didalam saya tau, pucatnya muka udah ngalahin lampu senter pastinya.
Hilight trip ini, saat perjalanan pulang yang sudah gelap, kami berpapasan dengan rombongan sapi warga, teman kaget setengah mati sampai terjengkang, sang sapi pun tunggang langgang..

7 Replies to “Trip Perut Bumi”

  1. kk al, duh kk ini cewe idaman deeh,,,
    gmn ngk kepribadian kk al yg super macho itu lohh yg bikin gemeeeeeess dech.. 😀
    sukses slalu with D'journey,

    #dari penggemar Gemala Hanifah yg berharap bisa face 2 face langsung dengan idolanya “Akbar”

  2. Thanks too..
    hohoho…. iya di episode itu seorang Gemala Hanafiah syupeeer macho *Demen deh ngeliatnya* mendadak ngidam pny cwe spti kak al, huft.. tp saya ngubek2 jakarta belum tentu nemu hehehe…
    oia kk al gaq sombong ternyata masi sempet bales komentar saya so… tambah ngefans aja saya <3
    one again di twitter liat kak al suka graphic Design ” saya lg ngedit foto kak al loh..!! ditunggu yah jadinya, moga2 suka dengan editanya
    #my hope

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *