Togean trip Part 6 – The Woody Woodpecker

“Lays in 21 to 26 meter depth, this plane will easily seen after you get closer at the end of the rope”

“ The visibility between 5 to 7 meters, so don’t go too far from the plane, you can get lost easily”
Penjelasan Dive Master yang akan mendampingi kami nanti di wreck membuat saya sedikit deg-degan. Wreck selalu berkesan sunyi dan terbengkalai. Kelam dan misterius, terutama kalau visibility sangat terbatas.
Bomber, sebutan untuk wreck yang ada di togean ini, merupakan korban dari Perang Dunia ke 2, walaupun pesawat ini bukan merupakan korban tembak jatuh.
Sembari memberikan wanti-wanti dan gambaran di bawah nanti, kami juga diberikan sejarah sekilas mengenai objek yang akan kami selami nanti. Rupanya memang pesawat tersebut jatuh dalam perjalanan kembali ke markasnya yang berada di Morotai.
Salah satu dari empat mesin rusak, memaksa ketiga mesin lain bekerja lebih keras sehingga perhitungan bahan bakar meleset. Masih satu setengah jam perjalanan lagi dan pesawat yang ternyata di namakan Woody Woodpecker ini harus melakukan pendaratan darurat di teluk Tomini.
Tidak ada korban jiwa pada kecelakaan pesawat yang di terbangi oleh Lt Henry Elderige saat itu. Semua kru dapat diselamatkan termasuk dokumen-dokumen pentingnya, hanya meninggalkan bangkai pesawat yang tenggelam setelah mengapung sejam dan memberikan kesempatan pada semua kru.
Pinneng, Riyanni dan saya mendapat kesempatan untuk mengekspolre terlebih dahulu sebelum diver yang lain masuk. Alasan utama sih karena takut visibility semakin jelek dari lumpur yang terangkat akibat kibasan fin para diver.
“Tungguin gw Riiii… “ Jerit saya yang emang selalu lama kalau persiapan turun. Soalnya karena suka ganti-ganti kostum antara wetsuit dan bikini, weight belt saya harus selalu diubah beratnya.
Selama menyusuri tali pelampung yang ternyata memang sudah disiapkan untuk menandai lokasi, saya berusaha mencari-cari penampakan si Woody Woodpacker. Setelah nyaris mendekati dasar barulah sosoknya terlihat. Wooooww….
Bentangan sayapnya dan bentuk badannya yang masih utuh itu terlihat gagah sekaligus juga mengenaskan. Saya sempet mengintip ke dalam kokpit dan Riyanni menemukan asbak si pilot hehehehe…
Kami mengitari badan pesawat sambil mengintip-intip. Sangat tidak disarankan untuk masuk ke dalamnya karena cukup kecil. Bagian belakangnya ternyata juga memiliki senjata dan tempat duduk mungil bagi penembaknya. Khayalan saya melayang kesana-kemari, dan untuk selanjutnya… biarlah foto-foto dari Pinneng ini yang bicara…

7 Replies to “Togean trip Part 6 – The Woody Woodpecker”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *