Togean Trip part 1 – The long Journey

Pagi itu suasana masih gelap. Saya melirik jam tangan yang masih menunjukkan pukul 4.30 pagi. Pantas saja matahari belum nongol, dan rasa malas mandi melanda dengan suksesnya
 
Pembenaran yang bisa disebutkan adalah: pagi ini kami akan melakukan perjalanan pulang dari Togean dan akan meninggalkan Black Marlin yang telah menjadi rumah kami selama beberapa hari yang tak akan terlupakan ini ( memang ada berjuta alasan untuk tidak mandi pagi, yes? )
 
Satu persatu barang berpindah dari jetty ke perahu kayu yang akan membawa kami menyebrangi teluk Tomini untuk mencapai daerah yang bernama Marisa di daratan utama sebelum kemudian bermobil ria menuju Gorontalo. Fiuh.. perjalanan panjang.
 
sempet2 nya difoto lagi tidur di lantai boat :))
latian alat musik ritmis Karombi karena mati gaya di pesawat
Barang disusun teratur di bagian depan perahu, dan dua bangku panjang yang berhadapan berubah fungsi menjadi tempat tidur darurat. Riyanni, Fenny, Gwen dan Hasan beruntung mendapatkan tempat di atas. 
 
Saya dan Pinneng kebagian tempat di lantai perahu yang ternyata cocok banget buat Pinneng si Avatar laut berkaki panjang itu. Setelah boatnya bergerak, saya bersyukur mendapatkan tempat di lantai, ternyata anginnya dingin tiada terkira. Untung masih ketolong wind breaker yang sengaja saya siapkan sebelumnya.
 
Diayun gelombang laut yang lembut mendayu.. saya mulai tertidur sembari mengingat awal dari perjalanan panjang ini..
 
Pukul 6 pagi itu, 4 hari yang lalu, kami semua berkumpul di bandara Soetta. Dive trip kali ini gabungan antara liputan Divemag oleh Riyanni dan Pinneng, liputan blog saya sendiri ( lumayan dapat jatah jadinya hehehe..) dan liburan beberapa teman yang lain, yang akan bergabung saat transit di Makassar nanti.
 
Tujuan kami ke pulau kecil yang ada di teluk Tomini, teluk yang terletak di lekuk kaki sebelah atas pulau Sulawesi. Untuk menuju kesana, terlebih dahulu pesawat yang kami tumpangi harus transit di Makassar sebelum melanjutkan perjalanan ke Gorontalo. 
 
 
Belum selesai di situ, dari Gorontalo kami harus melanjutkan perjalanan dengan ferry karena di pulau kecil Togean tidak terdapat lapangan udara. Penyebrangan akan memakan waktu sekitar 10 jam saudara-saudara!! Untungnya penyebrangan akan dimulai sore menjelang malam, sehingga pastinya kegiatan yang paling populer nanti adalah… tidur.
 
Seperti biasa, di tiap dermaga itu porter pasti berjaya. Begitu turun dari mobil, tanpa basa basi mereka menyerbu mobil kami. Tanpa diminta tangan-tangan kekar telah merenggut tas-tas kami, bahkan sebelum kami nego harga. 
 
” Woi.. bentar pak.. bentaaaar. Ini berapa ongkos angkutnyaaaa” teriak salah satu teman.
” Gampang itu nanti saja” Jawaban standar dari porter yang selalu terdengar di pelabuhan manapun. 
 
Kebayang kan kalau kondisi ini dialami turis-turis luar yang memang banyak menggunakan jasa ferry itu juga. Ketidakjelasan ditambah rasa tak berdaya itu rasanya nggak enak banget. Akhirnya setelah memaksa untuk deal harga angkut terlebih dahulu, kami merelakan barang-barang kami yang memang berat itu karena berisi dive gear untuk mereka bawa.
 
Kami memesan 2 kamar yang mempunyai 2 tempat tidur tingkat di masing-masing kamarnya. Sewanya 400 ribu satu kamar. Bisa juga hanya sewa tempat di matras yang bergeletakan di tengah ruangan seharga 70 ribu satunya. 
 
 
 
Meskipun begitu, harus siap dengan segala kemungkinan terburuk, termasuk gerilya para kecoak mini dan kutu busuk yang siap menyambut kita di kasur. Belum lagi kamar ternyata dingin banget karena ac yang biasanya untuk ruangan biasa, masuk kedalam kabin kamar yang terbilang kecil, semburannya badai!!
 
Saat sunset kami menghabis waktu dengan bernarsis ria diatas dek, menikmati semilir angin jernihnya air laut. Riyanni malah sempet sewot gara-gara pahanya yang terekspose celana pendek yang dipakainya jadi target buruan foto bapak-bapak oportunis hahahaha…
 
Keluarga-keluarga dengan anak kecil dan bayinya banyak yang menggelar tikar di lambung ferry, yang biasanya dipruntukkan bagi mobil-mobil yang hendak menyebrang. Mereka rupanya sudah persiapan dengan bantal dan guling kecil, juga sarung yang berfungsi sebagai selimut.
 
Begitu juga dengan area matras di tengah, penuh dengan keluarga yang hendak menyebrang. Disini terlihat potret masyarakat kepulauan, yang nerima apapun kondisi yang tersedia, meskipun kondisi itu tidak bisa dibilang manusiawi.
 
Selain itu, beragam binatangpun ikut menyebrang, ayam-ayam, kambing dengan muka bingung.. sampai bentor alias becak motor juga nggak mau ketinggalan. 
 
Malam semakin larut saat kami makan malam bekal ayam KFC di atas dek sambil berusaha berlindung dari angin malam. Sinyal semakin hilang perlahan-lahan.. dan kami semakin dekat dengan pulau tujuan kami..
 
 
 

One Reply to “Togean Trip part 1 – The long Journey”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *