Underwater photography and videography – capturing the beauty of underwater

diving lembata during survei

Underwater photography secara gamblang bisa diartikan mengambil gambar saat berada di bawah air. Umumnya dilakukan menggunakan scuba atau bisa juga dengan teknik snorkeling dan freedive.

Hal-hal yang menjadi objek underwater photography ini bisa sangat beragam. Dan hal ini berkaitan sangat erat dengan minat seorang penyelam. Maka kalau ditanya : spot diving mana yang paling bagus? Buat saya ini saja saja dengan bertanya : dimana ombak yang paling bagus untuk surfing?

Kedua pertanyaan diatas harus diperjelas lagi, diving untuk melihat apa dulu yang paling diminati? jenis ombak seperti apa yang disukai? Masing-masing sangat subjektif dan sangat berbeda bagi setiap orang. Oke, mari kita kembali ke underwater photography sesuai judul.

Nah, jenis-jenis underwater photography atau videography apa saja yang harus diketahui?

    1. Wide angle

Wide angle ini bisa dikatakan kondisi dan objek yang paling mudah dinikmati oleh mata umum dan diver pemula. Elemen wide angle pada umumnya adalah coral beraneka ragam (siapa yang tak suka melihat warna warni indah di bawah laut?) yang berada di slope (kondisi penyelaman pada tanah yang turun melandai) ataupun wall (konsidi penyelaman yang dilakukan pada sisi tebing tegak lurus)

    Selain coral berwarna warni, objek untuk underwater photography wide angle adalah biotal laut berukuran normalnya ikan yang kita kenal hingga berukuran lebih besar dari manusia. Beberapa lokasi favorit saya untuk melakukan penyelaman dan mengabil video wide angle adalah ALOR, RAJA AMPAT dan KOMODO
                  2. Macro
                  Nah, sangat kebalikan dari wide yang serba lebar dan luas, para photographer underwater biasanya juga menggemari objek-objek macro yang berupa renik-renik unik yang memiliki bentuk ajaib dan warna nan mempesona. Bagi para diver pemula dan orang awam, bentuk-bentuk aneh yang tertangkap kamera foto maupun video macro biasanya sangat tidak masuk akal, namun menarik. Sebut saja hewan-hewan seperti nudibranch, frogfish, berbagai jenis shrimo yang sangat berbeda dari yang kita tahu sebelumnya. Semua ini menjadi objek yang sangat menarik.
                  Namun untuk mencari mereka (para objek itu), tak semudah yang dikira. Bentuknya yang sangat kecil, bahkan seringkali lebih keciul dari kuku kita, serta bentuk dan warnanya yang menyerupai lingkungan hidupnya, membuat diver bisa setengah mati mengintip-intip coral atau lokasi yang menjadi rumahnya.
                  Bagi para fotografer yang telah terbiasa atau dive guide yang sering mencarikan objek foto/video tersebut, mereka akan mengetahui ‘rumah’nya dan bisa menemukan lebih mudah. Beberapa daerah yang beken dengan penyelaman macronya : Lembeh dan Seraya.
                  Cek-cek video dibawah ini untuk teknis dan pembahasan lebih jauh mengenai peralatan yang digunakan dalam menghasilkan foto atau video macro
                3. Wreck dive
                Bangkai kapal karam atau pesawat terbang bisa menjadi objek yang tak kalah menarik. Apalagi jika kita juga mengetahui sejarah dari bangkai tersebut. Pertanyaan-pertanyaan baisanya membanjiri benak saya saat melihat satu bangkai di bawah air. Apa yang dirasakan para awaknya ketika itu, Bagaimana gagahnya kapal atau pesawat itu saat masih berada di masa jayanya sebelum menjadi rumah bagi penghuni dasar laut. Semua itu sangat menarik.
pic by Dewi Wilaisono, loc : Tulamben, Bali
              Misalnya seperti bangkai kapal Sohie Rickmers yang terbaring di Sabang pada kedalaman 60 meter ini. Tonton video Wet Traveler ketika mengunjungi wreck cantik ini
              4. Cave dive
              Penyelaman di gua bawah laut juga membutuhkan keterampilan dan level tersendiri. Penting untuk menguasai navigasi agar tak tersasar di dalam goa, juga harus memiliki buoyancy yang mumpuni. Selain terdapat resiko terantuk langit-langit goa, buoyancy sempurna juga mencegah kita membuat sedimen lumpur berhamburan naik akibat kibasan fins yang kita kenakan.
              5. Scuba model
              Teman menyelam kita juga bisa berfungsi sebagai model utama atau pelengkap penderita sebagai pemanis atau pembanding objek utama. Elemen air pastinya jadi pembatas bagi model maupun fotografer untuk berkomunikasi. Disinilah dibutuhkan satu teknik komunikasi lain yang telah dibicarakan dan disetujui bersama sebelumnya.
              Biasanya saya menggunakan hand signal untuk berkomunikasi.  Fotografer bisa meminta saya untuk mendekat ke objek, atau hovering jauh diatas dengan posisi kaki yang diminta, apakah tegak lurus atau melintang.
              Lampun menjadi elemen pelengkap yang sebaiknnya dipakai juga untuk memberikan aksen menarik di foto.
clear mask and light

Jadi kalau ditanya : “titik penyelaman dimana yang paling bagus?”

saya bisa bertanya balik : “sukanya apa dulu nih?”

We Dance with Mantas

pic by Shawn Heinrichs
 
“Cek deh video ‘Manta Last Dance‘ ini” kata Riyanni.
Wuooooww… seorang wanita menari gemulai meskipun di bawah air. Tangannya nyaris menggapai manta yang hilir mudik seliweran di samping tubuhnya.
 
“Kita akan mengadakan photoshoot dengan yang buat nih.. dengan manta juga!”
 
 Jadilah gw, Marischka Prudence dan Dayu Hatmanti menjadi sukarelawati untuk melakukan pemotretan yang pastinya akan berada di bawah air terus menerus. Seru sekaligus menegangkan. Berarti kan kudu jago nahan napas ya?
 
Berlokasi di Nusa Penida, Lembongan, pemotretan bekerja sama dengan Manta Trust, satu lembaga yang bergerak pada penyelamatan Manta di seluruh dunia, dan mengedukasi masyarakat untuk tidak memberikan ancaman  pada manta. Nusa Penida pun dipilih berdasarkan reputasinya sebagai Manta Point di musim-musim tertentu. Musim dimana para Manta berkumpul dan ‘berdansa’ di lokasi tertentu yang mudah dicapai oleh para diver atau snorkeler. Biasa dikenal dengan istilah ‘celaning station’.
Untuk menghasilkan hasil foto yang sesuai dengan konsep pun, Manta Trust menggandeng Shawn Heinrichs sebagai fotografer yang telah gape bekerja di bawah air dan berinteraksi dengan makhluk yang indah ini. Beberapa karyanya termasuk ‘Manta Last Dance’ 
Manta sendiri kini terancam keberadaannya semenjak ia menjadi target buruan. Beberapa desa di Indonesia memang telah berburu manta sejak jaman dulu. Tapi hal ini berbeda ceritanya jika manta mulai di cari untuk memenuhi pesanan konsumen. Insangnya diburu karena mitos dapat menyembuhkan berbagai penyakit. Belum lagi bentuk dari bagian sayapnya dapat mengelabui konsumen sebagai pengganti sirip hiu yang juga diisukan banyak memiliki kelebihan sebagai obat.
Ironisnya, manta sama seperti hiu. Proses berkembang biak mereka tidak secepat ikan-ikan konsumsi lainnya. Untuk menjadi dewasa, seekor manta membutuhkan waktu 15-20 tahun. Dan dalam setahun hanya beberapa kali saja bereproduksi. Kecepatan tangkapan manta jauh lebih tinggi dibanding lamanya proses seekor manta berkembang biak. Hal inilah yang terjadi bertahun-tahun dan mengancam keberadaan manta dewasa ini.
Selain itu manta sendiri jauh lebih menguntungkan jika dibiarkan hidup. Wisata selam yang melibatkan manta sebagai objeknya sangat dicari para diver. Mereka mau membayar mahal hanya untuk melihat keindahan makhluk ini. Perbandingannya adalah USD 500.000 untuk penangkapan manta, berbanding USD 100.000.000 keuntungan pertahun jika dibiarkan hidup.
Pemotretan dilakukan setelah para model menerima briefing dari Shawn, namun sayangnya Riyanni Djangkaru harus melepas kesempatan ini berkenaan dengan perubahan jadwal pemotretan yang bentrok dengan jadwalnya. Dayu, Marischa dan Gemala meneruskan proses peotretan ini.
Tanpa menggunakan scuba, ketiganya harus berpose di dekat manta dengan kemampuan freedive seadanya. Kondisi laut yang saat itu bergolak semakin menyulitkan baik model maupun fotografernya. Percobaan mencari komposisi yang terbaik dilakukan terus menerus tanpa mengenal lelah, walaupun beberapa kru kapal sudah dilanda mabuk laut.

Hasil kerja keras semua pihak dapat terlihat di foto yang dihasilkan. Dengan kampanye ini diharapkan masyarakt semakin sadar akan pentingnya menjaga keberadaan manta, serta menjaganya dari kepunahan.
 
pic by Shawn Heinrichs
pic by Shawn Heinrichs