Diserbu Ibu-Ibu di Selayar

Biasanya kalau trip ke daerah, semua berjalan biasa aja. Nggak ada tuh yang manggil-manggil minta foto apalagi nagih utang. Tapi trip ke Selayar kali ini luar biasa hebohnya.

Penyebabnya tak lain dan tak bukan karena di group kami kali ini keselip seorang artis sinetron. Menurut saya yang namanya artis sinetron itu adalah artis beneran.

Soalnya kehebohan yang ditimbulkan juga beneran.. susah ditangani. Subuh itu kami berkumpul di Soetta untuk menuju Makassar, tempat transit sebelum melanjutkan penerbangan ke bandara H. Aroeppala di Selayar. Tuuh, jadi kalau mau main-main ke Selayar dah mudah niih ada penerbangan sampai di pulaunya.

Waktu pertama kali dikenalin ke Andrew Andika (artis yang gabung di group kami), saya langsung membayangkannya beraksi di layar kaca (maklum ga pernah nonton sinetron jadi kurang hafal pemain-pemainnya). Kulit putih dan bibir merah meronanya sudah pasti jadi idola ibu-ibu nih.

Sepertinya trip kali ini akan menarik.

Selayar sendiri letaknya di selatan Tanjung Bira yang beken juga dengan pantai-pantai indah berpasir putihnya. Dan untuk penggemar mancing, Selayar bisa masuk hitungan nih dengan banyaknya spot mancing.

Benar saja, saat kami mendarat di Selayar, sambutan bunga langsung menerjang barisan terdepan dimana Andrew menjadi salah salah satunya. Setelah bunga, bermunculanlah ibu-ibu dengan samrtphone plus tongsis di tangan mulai menggapai-gapai Andrew. Sembari cekikikan malu-malu tapi senang, mereka berfoto bergantian sampai Andrew harus diselamatkan sedikit paksa agar perjalanan kami dapat berlanjut.

Ini baru permulaan. Setelah jamuan makan siang (tentunya seafood yang lezat!) diselingi foto-foto (lagi), kami semua menuju dermaga siap bertolak menuju spot diving pertama. Meskipun group kami berjumlah sekitar 14 orang, tapi pengantar yang terdiri dari teman-teman kantor dinas dan handai taulan berjumlah setengah dari seluruh isi dari kampung terdekat. Heboh.

Kembali tongsis-tongsis berjuluran disekitar Andrew.

Akhirnya berangkat. Lega rasanya.

Pic by Dewi Wilaisono
Pic by Dewi Wilaisono

Spot diving di Selayar yang keren benar-benar bisa menghapus semua kepenatan yang terkumpul selama perjalanan. Wall indah di pantai Pinang bisa jadi altenatif buat para pecinta diviung nih. Yang penasaran silakan tonton vlog gw di Wet Traveler di bawah ini.

Kelar diving, kami safety stop leyeh-leyeh di pantai tersebut,. Tadinya saya pikir kami akan tenang dan aman, ternyata dari bibir pantai terdenganr teriakan “ANDREW SINI DONG FOTO DULU” astagaahh.. Kopasus juga nggak ada apa-apannya nih hehehehe.

Berhubung kami masih leyeh-leyeh menggunakan wetsuit di laut, kami merasa aman (maksudnya Andrew merasa aman, apalah saya ikutan-ikiutan hahahahha..) TAPI RUPANYA SI MBAK GA SABARAN DAN MULAI MERELAKAN CELANANYA BASAH MASUK KE LAUT!

Dan sesi foto-foto pun mulai kembali hihihihi..

Begitu juga keesokan harinya saat kami mengunjungi Desa Tua Bitombang. Tadinya saya sudah berniat untuk curi-curi ngambil video saat Andrew dikerubuti ibu-ibu. Pastinya akan lucu banget untuk masuk di vlog.

Sayapun mempersiapkan kamera di tangan, siap menangkap moment itu. Tapi ketika moment itu datang : Andrew menikmati makan siangnya di saung, dan tiba-tiba dari belakang pipinya sontak dicubit gemas oleh salah seorang ibu. Saya benar-benar nggak tega melihat mukanya yang kesal.

Ya siapa coba yang nggak kesel kalau lagi makan tiba-tiba pipi ditarik-tarik. Kadang fans memang keterlaluan tapi malah menyalahkan si artis yang katanya sombong. Moment seperti ini memang harus tak bisa dinilai secara sekilas.

Artis juga manusia.

Saya urung menghidupkan video saya. Saya nggak melihat hal itu lucu. Batal. Maka kalau kalian lihat vlog selayar saya, Andrew emang ga terlalu diekspose, menghargai privasi dia juga.

Tapi secara keseluruhan trip ke Selayar ini berkesan banget! Dan yang pasti, saya bersyukur menjadi seorang blogger/vlogger dan bukan artis

The Wet Traveler (Pinneng and me) and our amazing friend Ibu Dewi WIlaisono

Togean trip Part 6 – The Woody Woodpecker

“Lays in 21 to 26 meter depth, this plane will easily seen after you get closer at the end of the rope”

“ The visibility between 5 to 7 meters, so don’t go too far from the plane, you can get lost easily”
Penjelasan Dive Master yang akan mendampingi kami nanti di wreck membuat saya sedikit deg-degan. Wreck selalu berkesan sunyi dan terbengkalai. Kelam dan misterius, terutama kalau visibility sangat terbatas.
Bomber, sebutan untuk wreck yang ada di togean ini, merupakan korban dari Perang Dunia ke 2, walaupun pesawat ini bukan merupakan korban tembak jatuh.
Sembari memberikan wanti-wanti dan gambaran di bawah nanti, kami juga diberikan sejarah sekilas mengenai objek yang akan kami selami nanti. Rupanya memang pesawat tersebut jatuh dalam perjalanan kembali ke markasnya yang berada di Morotai.
Salah satu dari empat mesin rusak, memaksa ketiga mesin lain bekerja lebih keras sehingga perhitungan bahan bakar meleset. Masih satu setengah jam perjalanan lagi dan pesawat yang ternyata di namakan Woody Woodpecker ini harus melakukan pendaratan darurat di teluk Tomini.
Tidak ada korban jiwa pada kecelakaan pesawat yang di terbangi oleh Lt Henry Elderige saat itu. Semua kru dapat diselamatkan termasuk dokumen-dokumen pentingnya, hanya meninggalkan bangkai pesawat yang tenggelam setelah mengapung sejam dan memberikan kesempatan pada semua kru.
Pinneng, Riyanni dan saya mendapat kesempatan untuk mengekspolre terlebih dahulu sebelum diver yang lain masuk. Alasan utama sih karena takut visibility semakin jelek dari lumpur yang terangkat akibat kibasan fin para diver.
“Tungguin gw Riiii… “ Jerit saya yang emang selalu lama kalau persiapan turun. Soalnya karena suka ganti-ganti kostum antara wetsuit dan bikini, weight belt saya harus selalu diubah beratnya.
Selama menyusuri tali pelampung yang ternyata memang sudah disiapkan untuk menandai lokasi, saya berusaha mencari-cari penampakan si Woody Woodpacker. Setelah nyaris mendekati dasar barulah sosoknya terlihat. Wooooww….
Bentangan sayapnya dan bentuk badannya yang masih utuh itu terlihat gagah sekaligus juga mengenaskan. Saya sempet mengintip ke dalam kokpit dan Riyanni menemukan asbak si pilot hehehehe…
Kami mengitari badan pesawat sambil mengintip-intip. Sangat tidak disarankan untuk masuk ke dalamnya karena cukup kecil. Bagian belakangnya ternyata juga memiliki senjata dan tempat duduk mungil bagi penembaknya. Khayalan saya melayang kesana-kemari, dan untuk selanjutnya… biarlah foto-foto dari Pinneng ini yang bicara…

Togean Trip part 5 – Not a Kakaban Stingless Jellyfish

part 4

Danau air payau dengan stingless Jellyfish itu cuma ada dua di dunia ini menurut Wikipedia. Yang pertama pulau Eil Malk yang berada di Palau. Eil Malk sendiri merupakan bagian dari Rock Islands, kepulauan kecil yang kebanyakan tak berpenghuni yang terletak di selatan Palau. Micronesia.
Nah yang kedua di Danau Kakaban, yang terletak di kepulauan Derawan, kabupaten Berau, Kalimantan Timur, dimana ubur-ubur berwarna orange yang sudah kehilangan kemampuan mempertahankan dirinya karena tidak adanya predator selama berabad-abad, menjadi objek foto-foto narsis yang unik.
Ketika saya pertama kali melihat foto-foto yang terpampang pada dinding dive center, dimana salah satunya terdapat foto ubur-ubur orange itu, saya pikir “ Ini kenapa foto dari Kakaban ikutan dipajang disini. Kok promo in daerah lain ya… Aneh” Ternyata.. eh ternyata, siapa dinyana siapa sangka, itu foto dari pulau sebelah!!!
Beberapa diver yang baru pulang dari danau berubur-ubur itu semua mengatakan “It’s amazing.. you need to get rid them off from your face, they are everywhere!”
Okeh! Maka list ‘must see’ bertambah nih..
Perjalanan dari Black Marlin memakan waktu sekitar 25 menitan, nggak terlalu jauh. Bedanya dengan yang di Kakaban, di pulau yang dulu pasti atol tidak terdapat dermaga. Semua orang harus berbasah-basah dahulu dengan membawa segala perlengkapan perang masing-masing .
Danau ini namanya danau Jellyfish, nggak ada nama khusus hahaha..  nggak mau susah mereka. Air danau sangat tenang berwana hijau dengan tepiannnya yang rapat ditumbuhi tanaman bakau.
Dermaga kayu yang dibangun di pinggir danau tidak terlalu panjang, dan dari sana kita sudah bisa melihat stingless jellyfishnya berseliweran kesana-kemari. Ada yang dekat di permukaan ada juga yang jauh dibawah sana.

Secara fisik memang sedikit ada perbedaan. Ubur-ubur yang disini ada motif polkadot putihnya dengan warna yang sedikit pudar. Ada juga yang bersemburat biru, kesannya lebih mengancam. Tapi keramahan mereka sama kok. Tidak berbahaya. Malah mereka bisa dengan mudah terbelah gerakan fin kita.

pic by Pinneng

pic by Pinneng
 bersambung

Togean Trip part 4 – Ini Lembeh atau Togean???

“ Set lensa buat apa kali ini?” tanya Pinneng.
“ Macro, kita akan dive di Mini Lembeh” Wooow, kali ini bakalan muck dive deeeeh..
Nggak cuma juara di coral yang beragam dengan warna heboh menggoda serta ikan-ikan karang dan pelagic yang doyan shooling, ternyata di Togean ini ada spot untuk muck dive juga! Lengkap banget ya.
Saya pernah nulis tetang Lembeh sebelumnya, dan pengalaman itu nggak bisa dilupakan. Dari sekian banyak komentar yang menyepelekan muck dive karena dianggap cuma ngubek-ngubek pasir, dan setelah saya alami sendiri, wooow ini benar-benar unik.
Site Mini Lembeh sendiri memang diberi nama mengikuti nama besar Lembeh yang terletak di Sulawesi Utara. Serunya lagi, site ini nggak jauh dari Black Marlin, hanya beberapa menit dari dermaga. Tapi tetap pakai boat untuk menuju site-nya.
Tapi justru karena bawahnya pasir, diver kudu ekstra hati-hati menjaga buoyancy nya, supaya nggak membuat partikel pasir berhamburan kemana-mana, terutama kalau berada di sekitar fotografer. Nggak pengen dong dihadiahi tatapan sebel dari teman-teman yang terganggu karena kehebohan fin kita.
Tidak lama setelah masuk langsung ketemu critter aneh yang belum pernah saya lihat sebelumnya, warna hijau dan kecilnya buat mata sakit, rasanya sampai harus juling-julingin mata supaya keliatan sebelah mana matanya. Padahal mata saya belum plus loooh #ngeles.
Ternyata nama si hijau imut ini adalah Filefish, bentuknya sih memang seperti jajaran genjang sama sisi (hayooo masih pada inget nggak istilah ini) dengan ekor bening yang menggemaskan. Tapi saya baru bisa membuat deskripsi ini setelah melihat bentuk jelasnya di monitor. Ketika masih di bawah sih, jangan harap deh…
filefish
Tidak jauh dari si hijau itu, kami ketemu sea horse atau kuda laut, yang entah kenapa jadi mengingatkan saya pada logo Pertamina jaman dulu. Nah kalau si kuda laut yang ini sih lumayan gede, bisa puas ngecengin dia tanpa sakit mata.
Gayanya yang malu-malu dengan posisi yang terkesan selalu menunduk, serta cara ia bergerak yang seperti menggeser-geser bagian belakannya yang berat tampak menggemaskan. Beda dengan ikan yang bergerak horizontal, ia tampak tegak dan sirip kecil di kanan dan kiri tubuhnya tampak sangat bserfungsi untuk menjaganya tetap tegak selagi ia bergerak ke depan. 
seahorse
spyder crab
Spider Crab juga hadir disini, dengan badannya yang berbulu dan sekilas nggak ada bedanya dengan rumput laut yang patah dan mengambang. Tapi memang itulah uniknya. Mereka benar-benar menyamar untuk bisa bertahan hidup, memberikan tugas yang cukup berat bagi para diver untuk menemukan mereka diantara habitatnya.
Sempat meminjam kaca pembesar Dondok yang jauuuuh lebih berpengalaman dengan binatang-binatang kecil ini sehingga ia lebih persiapan. 
Add caption
candy crab
nudibranch
Tapi sebenarnya macro nggak cuma hanya bisa ditemukan di Mini Lembeh saja. Di Katacombe, site lainnya yang keren buat macro dan wide sehingga fotografer bisa bête kalo cuma bawa satu lensa, saya ketemu dengan Candy Crab yang cantik, Nudibrach si siput  laut yang nggak tau pasti jenisnya. Tapi ini lucu motifnya, polkadot kecil-kecil, dan udang merah super kecil di whip coral.
Dan kesemuanya itu baru jelas setelah dilihat di screen comp…. Lain kali bawa kaca pembesar aaaah 😀
all pic by Pinneng
more info about dive oeprator : Black Marlin

Togean Trip part 3 – I’m in Aquarium!!

Togean part 2

” Jam 10 kumpul di dive center, siap gear up!” 

Waks rupanya kami langsung nyilem nggak pake lama. Rupanya semua merasa istirahat di ferry semalam sudah lebih dari cukup dan siap untuk menjelajah keindahan bawah laut Togean.


Kepulauan Togean itu termasuk kawasan national park, alias taman nasional, tapi disana juga isu pemboman masih terdengar. Di sekitar Kadidiri dimana Black Marlin berada tampaknya terbebas dari pemboman tersebut.

Sedikit banyak saya penasaran dengan bentuk coralnya, karena di Gorontalo sendiri, terdapat Salvador Dali sponges yang merupakan endemik. Apakah ada juga disini? Berhubung saya belum permah nyilem di Gorontalo, dan penasaran setengah mati dengan bentuknya yang ajaib, saya jadi berharap ketemu saudaranya saat penyelaman nanti.

Tempratur air yang hangat, sekitar 29 derajat meskipun telah mencapai kedalaman 30an, visibility yang bagus sekitar 20m an membuat penyelaman-penyelaman yang kami lakukan sangat menyenangkan. Rasanya seperti bermain-main di dalam aquarium raksasa.
Di salah satu spot yang bernama New Reef, ikannya emang ga banyak, tapi coralnya maaaaakkk… nih liat aja foto yang ada di atas. Sebelum disuruh bergerak ke belakang oleh sang tukang foto Pinneng, saya iseng-iseng melayang pas di depannya seafan ini. Lebih tinggi dari saya loooh… berarti tinggi mungkin sekitar 2 meter ya. Wooo….

Melihat berkeliling di dive site inipun seru banget! Table coralnya banyak dan guede-guedeee.. Bahkan sampe ada yang jadi seperti teras kafe saking gedenya. Bisa melongok-longok ke bawahnya. Salvador Dali sponge memang nggak ada disini, tapi ada saudaranya. Beda dengan barrel sponge yang juga banyak banget dan besar-besar, ada satu bentuk sponge yang lain dari biasanya juga. Berbentuk silinder dan besar serta berwarna coklat tua. Ukuran besarnya ini nggak main-main.

Hmmm.. berarti kalau daerah ini tidak mengalami pemboman oleh nelayan bendel, kebayang betapa hebohnya semua coral dan biota yang ada. Alangkah kayanya daerah ini akan mineral dan sumber nutrisi lainnya.

Begitu juga dengan dive site Mini Canyon yang mempunyai banyak relung-relung dan overhang. Coralnya meriah banget, meskipun saya sempet bingung kenapa namanya Mini Canyon, soalnya yang terbayang itu suasana seperti di Green Canyon Pangandaran. Berharap melihat ngarai bawah laut hehehe…

Sekarang giliran ikan-ikan pelagic. Kami diboyong ke Una-Una. Kalau liat di daftar ‘must see’ nya Black Marlin sih, dive site ini nomer satu! Ternyata bener aja. begitu mendekati lokasi nyelemnya yang ternyata deket banget dari daratan itu, rombongan sekolahan Barracuda udah keliatan dari atas… dengan jelas! Wuaaah, semua orang panik pengen cepet-cepet nyebur. Grabak grubuk di atas boat yang kecil dengan posisi tangki yang rapat dan 7 diver panik memang nggak mudah.

Begitu kami mendekati mereka, semakin jelas para Barracuda schooling itu indah banget. Membentuk jalur yang rapi dan dinamis, bergerak mengikuti sang leader. Kadang mendekati dasar, kadang membumbung tinggi. Sampai ternganga-nganga memandangi mereka. Untuk saya sendiri, ini kali pertama saya melihat schooling Barracuda.

“Barracuda itu kalo lagi schooling bareng-bareng aman kok” Ucapan Pinneng terngiang-ngiang saat saya perlahan mencoba mendekati mereka
“Emang kalo lagi sendiri kenapa?”
“Yaaaa, nggak janji pulang lo” canda Gwen. Ups… kok jadi serem siih.

Ternyata mereka memang aman untuk didekati, dan memberikan kesempatan yang sangat banyak bagi fotografer-fotografer yang kegirangan untuk mengabadikannya. 








penyu ini menghampiri Pinneng seperti minta difoto, tepat didepan schooling Jack.

Kalau tadi Barracuda pada narsis, sekarang giliran Jack fish dan Big Eye Trevally yang nggak mau ketinggalan di site Pinnacle. Cuma mereka lumayan dalam di sekitar 40an meter. Wuiiih, saya ngintip aja deeeh dari atas. Entah kenapa di kedua site ini rasanya lebih biru dan dalam. Saya jadi berusaha rapat dengan siapa saja yang kebetulan dekat dan tidak bermaksud untuk masuk lebih dalam dari 30 meter. Jadi sirik deh dengan ikan-ikan ini yang berenang dengan santainya tanpa perlu ngecek gauge hehehehe…

Sedikit curcol aja nih, biasanya di tiap penyelaman pertama hari itu, saya pasti mudah merasa panik. Tidak perlu alasan tertentu. Kuncinya cuma sadar bahwa kita mulai mengalami panik, dan berusaha cari lagu yang menyenangkan untuk diputar berulangkali di otak. Mendekati buddy juga menolong, paling nggak kita tahu ada orang yang bisa menolong kalau sampai ada apa-apa dengan gear kita.

Dengan serunya objek yang kita nikmati dibawah, decompression sickness jadi trending topic selama trip ini. Tidak ada yang rela cepat-cepat meninggalkan kedalaman yang menyajikan pemandangan menakjubkan ini. Tapi berhubung saya belum punya dive comp yang memberitahu semua ini, saya adalah satu-satunya penyelam yang belum pernah kena deco ( sebutan lain dari decompression sickness ), karena saya nggak tau kapan kena deco atau nggak hehehe.. selalu ngikut buddy aja dan ngikutin dive comp dia. Ok, must have item berikut adalah : dive comp.


the whole team
For more info about these sites and prices : Black Marlin

Togran Trip part 2 – It’s a Paradise !!!

baca sebelumnya

“Banguuuuunnn sudah sampe niiih.. ” Gedoran merdu Hasan, salah satu peserta trip kali ini menembus kalbu di pagi itu

Ternyata sukses juga melewati 10 jam di ferry berbekal obat anti mabuk. Kecoak dan kutu busuk tak terasa, tiba-tiba hari sudah terang dan ferry yang kami tumpangi mulai merapat di Wakai, salah satu lokasi di Togean. Segera saja saya merapikan baju dan rambut yang cuma se-emprit ini biar kelihatan sedikit rapih. Meskipun nggak tertolong juga sih. Sikat gigi aja males hehehehe…

Kami memang sengaja untuk turun belakangan supaya agak sepi, toh dijemput juga oleh boat Black Marlin untuk langsung melanjutkan lagi perjalanan ke resort mereka. Jangan kawatir, kali ini perjalanan tidak seheboh sebelumnya, hanya setengah jam saja kami sudah bisa melihat dermaga yang diapit pasir putih menggoda, dinaungi rimbunnya pepohonan kelapa. Di depannya terlihat laut jernih berwarna biru tosca yang bergradasi ke hijau. Sama lah seperti yang sering dilihat di kartu pos atau majalah travelling. Super indah…

Begitu merapat kami langsung disambut ramah oleh para pengurus resort dan… anjing-anjingnya yang lucu banget itu. Woaaaah kontak kami langsung heboh, ternyata semua peserta cewe di trip ini penyayang binatang. Langsung pada jongkok sambil mengelus-elus mereka yang juga nggak menyia-nyiakan tambahan kasih sayang dadakan ini.

Suntoo, si ganteng yang ramah

“Yang ini namanya Rockie, itu Suntoo, dan yang itu Dive…” kata salah satu pengurus disana. Wuih namanya unik banget, berbau diving hehehe…

Resort Black Marlin ini semua kamarnya menghadap ke laut yang super jernih menggoda itu. Jadi nggak ada cerita nggak dapet ocean view, tinggal gelinding juga nyampe. Diantara kamar-kamar pohon kelapa dan beringin berdesakan memberi keteduhan di hari yang terik sekalipun. Mangstap deh!

Restaurant berdampingan dengan dive center yang berisi jajaran dive gear siap sewa bagi yang tidak membawa dive gear sendiri seperti saya. Rupanya mereka menjual juga berbagai camilan, jadi nggak perlu belanja super heboh sebelumnya. Jangan takut juga dengan kurangnya buah-buahan, karena ternyata buah merupakan hidangan wajib sehabis makan. Kopi dan teh juga bebas buat sendiri, plus susu kental manis yang juga nongkrong dengan manisnya di meja.


Ketika waktu makan tiba, resto yang terlihat sepi berubah wujud menjadi tempat ngumpul para tamu-tamu yang kebanyakan diver itu. Semua saling cerita dengan serunya. Rata-rata mereka berasal dari luar negri. Saat itu sih memang cuma kami saja rombongan lokalnya.

Yang unik niih, sinyal susah banget disini, tapi ada kotak khusus untuk menaruh hp di area pintu masuk resto yang menghadap ke laut. Hanya disinilah sinyal lumayan kuat, bahkan ada sinyal data juga. Jadi masih bisa terima email dan teman-temannya. Sepertinya ini bukan kabar baik bagi orang yang emang mau kabur dari kerjaannya selama berlibur ya.

box yang memonopoli sinyal.

Pantesan aja si ownernya kalau bales email pasti lebih dari sehari hehehe… sekarang baru saya ngerti kenapa. Bukannya karena kurang perhatian, tapi pegel juga kalo harus selalu berdiri di samping box kayu itu untuk ngecek email masuk.

Makanan yang disajikan disini nggak pernah nggak enak. Sebenarnya memang cuma dua rasa buat saya.. enak dan enak banget. Antara rakus atau murahan hahahaha… Tapi kalau deket-deket laut memang rasanya makanan itu enak aja semuanya.

Beranjak ke kamar, rasanya seperti dimanjakan oleh alam. Gimana enggak, pintu kaca yang tirainya bisa dibuka selebar mungkin itu langsung menyajikan pemandangan yang mengelus mata dan hati. Rasanya dengan tidak adanya pendingin di ruangan ini jadi tidak penting lagi. TV? apa itu TV… Siapa yang butuh TV disini? Rugi amat nonton sementara kita bisa melakukan banyak hal di luar sana.

tersedia hammock di tiap kamar untuk leyeh-leyeh
pasir putih dan laut biru adalah halamannya
pemandangan dari kamar

Sore hari adalah moment yang luar biasa disini. Jetty yang bisa dipakai menjadi tempat bersantai, menghadap ke barat, sehingga matahari terbenam tak akan luput menjadi tontonan wajib. Ngupi-ngupi disini setelah seharian diving atau snorkling sambil ditemani cemilan ringan adalah surga dunia..

with my partner 
bersambung part 3
for more info : Black Marlin

Togean Trip part 1 – The long Journey

Pagi itu suasana masih gelap. Saya melirik jam tangan yang masih menunjukkan pukul 4.30 pagi. Pantas saja matahari belum nongol, dan rasa malas mandi melanda dengan suksesnya
 
Pembenaran yang bisa disebutkan adalah: pagi ini kami akan melakukan perjalanan pulang dari Togean dan akan meninggalkan Black Marlin yang telah menjadi rumah kami selama beberapa hari yang tak akan terlupakan ini ( memang ada berjuta alasan untuk tidak mandi pagi, yes? )
 
Satu persatu barang berpindah dari jetty ke perahu kayu yang akan membawa kami menyebrangi teluk Tomini untuk mencapai daerah yang bernama Marisa di daratan utama sebelum kemudian bermobil ria menuju Gorontalo. Fiuh.. perjalanan panjang.
 
sempet2 nya difoto lagi tidur di lantai boat :))
latian alat musik ritmis Karombi karena mati gaya di pesawat
Barang disusun teratur di bagian depan perahu, dan dua bangku panjang yang berhadapan berubah fungsi menjadi tempat tidur darurat. Riyanni, Fenny, Gwen dan Hasan beruntung mendapatkan tempat di atas. 
 
Saya dan Pinneng kebagian tempat di lantai perahu yang ternyata cocok banget buat Pinneng si Avatar laut berkaki panjang itu. Setelah boatnya bergerak, saya bersyukur mendapatkan tempat di lantai, ternyata anginnya dingin tiada terkira. Untung masih ketolong wind breaker yang sengaja saya siapkan sebelumnya.
 
Diayun gelombang laut yang lembut mendayu.. saya mulai tertidur sembari mengingat awal dari perjalanan panjang ini..
 
Pukul 6 pagi itu, 4 hari yang lalu, kami semua berkumpul di bandara Soetta. Dive trip kali ini gabungan antara liputan Divemag oleh Riyanni dan Pinneng, liputan blog saya sendiri ( lumayan dapat jatah jadinya hehehe..) dan liburan beberapa teman yang lain, yang akan bergabung saat transit di Makassar nanti.
 
Tujuan kami ke pulau kecil yang ada di teluk Tomini, teluk yang terletak di lekuk kaki sebelah atas pulau Sulawesi. Untuk menuju kesana, terlebih dahulu pesawat yang kami tumpangi harus transit di Makassar sebelum melanjutkan perjalanan ke Gorontalo. 
 
 
Belum selesai di situ, dari Gorontalo kami harus melanjutkan perjalanan dengan ferry karena di pulau kecil Togean tidak terdapat lapangan udara. Penyebrangan akan memakan waktu sekitar 10 jam saudara-saudara!! Untungnya penyebrangan akan dimulai sore menjelang malam, sehingga pastinya kegiatan yang paling populer nanti adalah… tidur.
 
Seperti biasa, di tiap dermaga itu porter pasti berjaya. Begitu turun dari mobil, tanpa basa basi mereka menyerbu mobil kami. Tanpa diminta tangan-tangan kekar telah merenggut tas-tas kami, bahkan sebelum kami nego harga. 
 
” Woi.. bentar pak.. bentaaaar. Ini berapa ongkos angkutnyaaaa” teriak salah satu teman.
” Gampang itu nanti saja” Jawaban standar dari porter yang selalu terdengar di pelabuhan manapun. 
 
Kebayang kan kalau kondisi ini dialami turis-turis luar yang memang banyak menggunakan jasa ferry itu juga. Ketidakjelasan ditambah rasa tak berdaya itu rasanya nggak enak banget. Akhirnya setelah memaksa untuk deal harga angkut terlebih dahulu, kami merelakan barang-barang kami yang memang berat itu karena berisi dive gear untuk mereka bawa.
 
Kami memesan 2 kamar yang mempunyai 2 tempat tidur tingkat di masing-masing kamarnya. Sewanya 400 ribu satu kamar. Bisa juga hanya sewa tempat di matras yang bergeletakan di tengah ruangan seharga 70 ribu satunya. 
 
 
 
Meskipun begitu, harus siap dengan segala kemungkinan terburuk, termasuk gerilya para kecoak mini dan kutu busuk yang siap menyambut kita di kasur. Belum lagi kamar ternyata dingin banget karena ac yang biasanya untuk ruangan biasa, masuk kedalam kabin kamar yang terbilang kecil, semburannya badai!!
 
Saat sunset kami menghabis waktu dengan bernarsis ria diatas dek, menikmati semilir angin jernihnya air laut. Riyanni malah sempet sewot gara-gara pahanya yang terekspose celana pendek yang dipakainya jadi target buruan foto bapak-bapak oportunis hahahaha…
 
Keluarga-keluarga dengan anak kecil dan bayinya banyak yang menggelar tikar di lambung ferry, yang biasanya dipruntukkan bagi mobil-mobil yang hendak menyebrang. Mereka rupanya sudah persiapan dengan bantal dan guling kecil, juga sarung yang berfungsi sebagai selimut.
 
Begitu juga dengan area matras di tengah, penuh dengan keluarga yang hendak menyebrang. Disini terlihat potret masyarakat kepulauan, yang nerima apapun kondisi yang tersedia, meskipun kondisi itu tidak bisa dibilang manusiawi.
 
Selain itu, beragam binatangpun ikut menyebrang, ayam-ayam, kambing dengan muka bingung.. sampai bentor alias becak motor juga nggak mau ketinggalan. 
 
Malam semakin larut saat kami makan malam bekal ayam KFC di atas dek sambil berusaha berlindung dari angin malam. Sinyal semakin hilang perlahan-lahan.. dan kami semakin dekat dengan pulau tujuan kami..
 
 
 

Bangsa Bajo

Setelah sekian lama saya harus menjawab ‘belum’  pada setiap pertanyaan ‘sudah pernah ke Wakatobi?’ akhirnya bisa menjawab ‘sudah!’

Dengan harapan tinggi, ditambah rasa bahagia karena boleh bercokol di kokpit sambil sedikit ngobrol dengan pilot walaupun hanya 30 menit karena saya terbang dari Baubau, sampailah saya di Wangi Wangi, salah satu pulau dari empat pulau yang terdapat di Wakatobi.

Tujuan utama kampung Bajo asli yang bernama kampung Mola, lebih besar dari yang saya duga, dan ternyata… jauh lebih kotor dari perkiraan. Dalam benak saya yang namanya sudah semashyur Wakatobi itu seharusnya paling nggak seperti Gili Trawangan atau Derawan.

Kebiasaan membuang sampah ke laut  yang dulunya nggak masalah karena plastik belum diproduksi, sampah pun organik, menjadi kebiasaan yang mengganggu sekarang.
Suku Bajo sendiri merupakan suku laut pada dasarnya. Mereka pernah dicoba untuk dibuatkan pemukiman di darat, tapi masalah utama yang timbul lebih pada masalah kesehatan seperti gatal gatal yang hanya sembuh jika mereka kembali mandi air laut secara teratur.

Seorang bayi Bajo sudah dicupkan ke laut saat berumur 7 hari, dan sepanjang hidupnya mereka akan selalu dekat dengan laut. Kalau ditanya kenapa, jawabannya standar ‘sudah begitu dari jaman nenek moyang kami’.

Yang paling membuat takjub saya sih mereka mandipun cukup hanya dibilas air laut, air tawar  untuk muka aja. Kalo diliat sih sistem air flow rumah mereka udah paling benar deh, ventilasinya dari bawah, atas dan samping kiri kanan, kita bisa melihat air laut lewat sela sela bambu di lantai rumah dan langit di beberapa  lubang di atap rumah.

Bahkan mereka memelihara kucing juga dirumahnya, salah satunya bernama Reno, si kucing Bajo, yang dari kecil dipelihara oleh tuannya. Mungkin perasaan saya aja tapi rasanya sering juga melihat Reno menatap nanar keluar rumah, yang pasti dia nggak akan ada niat untuk berenang renang dilaut..

Urusan kuliner nggak mengecewakan, favorit saya Kasuami, pengganti nasi yang terbuat dari ubi yang dihaluskan, ada yang polos dan ada juga yang dicampur bawang, bisa bertahan sampai tiga hari sehingga sering dibawa sebagai bekal melaut. 

Minumannya, Saraba, terbuat dari campuran jahe, susu dan gula, hangat dan menyegarkan. Tambah tiga kalipun nggak berasa…
Transportasi utama adalah sampan kayu super ramping yang hanya terlihat beberapa senti saja diatas permukaan laut. Mulai dari anak kecil, pria dan wanita, semua bisa jadi atlit dayung. Mereka bisa mendayung  lurus dan kencang, hanya dengan satu tangan!

Bangsa Bajo, ya.. Bangsa, karena mereka tersebar di beberapa  negara seperti Malaysia, Philipina (negara asalnya) , Indonesia, bahkan Australia. Berbicara dalam bahasa yang sama hanya dengan aksen yang berbeda. Bangsa yang tidak dibatasi oleh batas negara modern, bangsa yang akan selalu hidup di laut.