Desa Pemburu Paus


Para murid menggambarku 🙂


Saya berpose di depan salah satu Peledang


calon lamafa

Piaraan wajib setiap rumah

Misa sebelum dimulainya musim perburuan

hamparan karang
Kalau biasanya binatang buruan itu babi, kelinci, kelelawar, dan hewan kecil lainya, maka desa satu ini memilih hewan yang jauuh lebih menantang, ikan paus! Dan ini sudah terjadi ribuan tahun sejak jaman nenek moyang mereka.

Lamalera, itulah nama desa di pulau Lembata ini, nyempil jauh dan harus melewati jalan rusak serta naik turun perbukitan, Daerahnya sendiri memang gersang, bahkan di desa ini mereka tak bisa bercocok tanam karena karang dan pasir mendominasi permukaannya.

Hari sudah gelap waktu saya dan teman teman sampai disana, kami homestay di tempat penduduk, dan memang itulah satu2nya cara untuk tinggal disana, karena nggak ada penginapan. Harga yang diberikan biasanya sudah termasuk makan 3 kali sehari, well.. sebaiknya memang begitu, karena mereka nggak punya warung makan apalagi restoran.

Ternyata musim perburuan paus ini nggak berlangsung sepanjang tahun, hanya pada saat2 tertentu saat air laut menjadi lumayan dingin di daerah itu yaitu diatas bulan Juli. Dan perburuan ini sudah menjadi objek wisata yang mengundang banyak banget wisatawan luar negri untuk meliput acara perburuan purba ini.

Kenapa bisa dibilang purba, soalnya tradisi mereka memang nggak memperbolehkan melakukan aktifitas berburu dengan peralatan modern, stick to Peledang ( perahu nelayan kayu ) tombak, dan 10 orang pejuang yang dipimpin seorang Lamafa. Memang sih yang berangkat nggak cuma satu perahu aja, tapi kalo ketemu paus ngamuk kan bisa habis sekali kibas tuh..

Sebelum dimulainya musim perburuan pun diadakan misa secara Khatolik di pantai untuk meminta perlindungan selama perburuan berlangsung serta dipanjatkan juga doa2 bagi arwah para warga yang tewas karena proses perburuan. Misa sore ditutup dengan dilepasnya lilin2 kelaut sebagai perlambangan warga desa mengikhlaskan dan melepas mereka yang telah wafat.

Yup, memang nggak semudah itu menemukan paus, kami tinggal beberapa minggu disana menunggu teriakan ‘Baleo’ yang mengisyaratkan terlihatnya paus di kejauhan. Nah cerita saat menunggu juga ga kalah seru nih, kegiatan yang bisa dilakukan : bangun tidur, sarapan, meunggu, makan siang, jalan jalan dikit, ngupi2 sore, menunggu, cari sinyal keatas bukit, makan malam, tidur.. gituuu terus.

Satu hari kami melihat2 tempat pengerjaan gigi paus untuk jadi aksesoris seperti cincin dan bandul kalung, jadilah saya memesan satu bandul dengan bayar dimuka, yah.. jangan lakukan itu, barangnya nggak pernah saya terima sampai sekarang.

Di hari yang lain saya mengajarkan cara menggambar pada anak2 keluarga itu, wuiihh rame banget, yang ada saya jadi dikerjain oleh mereka… ibu guru.. gambar kambing.. gambar ikan paus.. gambar rumah.. gambar ayam.. begitu disuruh mencoba ada ajaaaa alasan ngelesnya hahahaha

Nah menu makanannya menguji kesabaran juga nih, mie instan dengan telor, krupuk dan nasi. Percaya atau enggak, menunya nggak berubah selama kami disana, jadilah saya makan cuma syarat doang, biar perut nggak keroncongan aja, mau cari jajanan juga ga ada, eh ada sih minuman soda dingin di warung kecil hehehe..

Ada yang lucu nih, anak tetangga sebelah itu bakal jadi lamafa, secara bapaknya seorang lamafa, tapi.. dia nggak bisa makan ikan.. ups yang ada dia bakal nombak doing tapi nggak bisa merasakan hasilnya, dan tiap dia nangis saat bermain ( dan ini sering banget terjadi huehe. ) kita godain.. yeee masa bapaknya nombak paus anaknya nangis kalo jatuh.. yah, namanya juga anak2 ☺

Tempat parkir perahunya juga unik, di satu2nya pantai pasir yang ada disana, dan dibuatkan atap berjejer, rapih sekali kalau dilihat dari atas.

Ngomong2 soal atas, hanya disitulah tempat dimana kita mendapatkan sinyal, fuih! Untung ga sering2 kaya gini. Jalannya lumayan jauh, belum lagi berbatu batu, dan kalo udah sampai di ‘spot’ nelpon, waaw.. udah terlihat tuh jejeran orang orang menelepon hehe..

Warga Lamalera masih menerapkan system barter dengan penduduk yang berasal dari gunung untuk barang barang seperti sayuran. Bahan barternya bisa pakai garam, daging paus, daging lumba2… Yap, ga salah baca, daging lumba2! Mereka juga berburu lumba2 untuk dikonsumsi, entah kenapa mereka ga suka ikan ikan kecil, kurang kenyang kali ya :p dan proses perburuan lumba2nya pun membuat saya hampir menangis, apalgi begitu makhluk licin indah itu sudah tergeletak di dalam perahu.. speechless rasanya, males komentar. Ya memang udah gitu dari sononya.

Sampai hari terakhir kami disana sang Baleo belum juga mampir, mungkin belum rejeki juga untuk ngeliatnya, tapi begitu kami sampai di Lewoleba, masuklah sms itu.. Baleo !!!