Diving Lembata

lembata_15

Saya menebarkan pandangan di pelabuhan. Hanya tampak beberapa kapal kayu bersandar malas. Sekelompok pemuda tampak duduk-duduk di salah satu kapal tersebut. Tampak Pinneng sedang berusaha menaiki salah satu kapal yang akan kami pakai diving nanti. Ia mengecek semua persiapannya.

Kami memang sedang survey di Lembata. Nama yang eksotis ya.

Pulau ini memang eksotis seperti namanya. Letaknya bersebelahan dengan Alor, tetangganya yang telah lebih dulu meroket dengan site-site diving yang luar biasa. Alor sudah kami angkat menjadi buku tahun lalu. Sekarang giliran Lembata.

Beruntunglah daerah-daerah yang memiliki potensi wisata. Mereka bisa menjadi sumber devisa berkesinambungan jika dikelola dengan baik. Tak heran Lembata juga berpikir demikian. Maka tim Wet Traveler bareng Nadine Chandrawinata kali ini kebagian tugas untuk melakukan pemetaan site-site diving yang ada menjelang diadakannya event underwater photography tahunan di NTT.

DCIM102GOPRO
Tim survey : Pinneng, saya dan Nadine

Lima bulan kemudian event terlaksana. 5 underwater photographer ( Dewi Wilaisono, Malinda Wilaisono, Edward Suhadi, Ferry Rusli, Yuriko Chikuyama), travel blogger (Marischka Prudence), sketcher (Anto Motulz), food antropolog (Rahung Nasution), team leader Muljadi Pinneng Sulungbudi, ketua regu Christie Wagner saya sendiri. Kami mengcapture keindahan Lembata.

Well, demikian sekilas alasan kenapa kami ada di pulau eksotis ini. Selanjutnya ini 5 alasan kenapa kamu juga harus berkunjung ke Lembata :

  1. Hewan-hewan laut yang polos.

Mereka beneran polos! Pada satu lokasi penyelaman saat kami melakukan check dive ( Pertamina Pier) dengan berburu macro, kami menemukan lautan Skeleton shrimp bergelimpangan dimana-mana. Saking banyaknya mereka, sampai bisa terinjak atau tertiban siku dan lutut kita saat kita mendarat di dasar laut yang berpasir. Nggak heran kalau Skeleton Shrimp ini mejadi cover buku Lembata Underwater. Seekor sotong ngantuk juga berkali-kali menjadi objek foto kami karena kemalasannya berpindah tempat.

lembata_1lembata_3lembata_10

Pic by Pinneng and Yuriko Chikuyama

  1. Hamparan batik di dasar laut.

Pada salah satu lokasi penyelaman yang kami temukan saat hari telah menjelang senja, kami menemukan hamparan karang berbentuk plat berwarna ungu atau hjau yang berkoloni sehingga menimbulkan kesan motif yang menarik. Kalau menurut saya sih, motifnya mengingatkan pada motif batik mega mendung.

lembata_19
pic by Edward Suhadi
  1. Nice wide angle

Kalau diatas lebih banyak membahas macro atau site penyelaman untuk mecari binatang-binatang kecil, maka bagi pecinta warna warni karang dan pemandangan bawah laut juga bisa terpuaskan.Terutama untuk site penyelaman di bagian dalam teluk Nuhanera, kondisi karang cenderung lebih subur, meskipun juga lebih berarus

lembata_6
pic by Ferry Rusli

pic by Pinneng

 

  1. Bukit Cinta dan Bukit Doa

Tidak hanya pemandangan bawah laut, bagian atasnya pun luar biasa. Sebut saja Bukit Cinta yang bisa membuatmu benar-benar jatuh cinta. Saya sih beneran jatuh cinta pada pemandangannya yang luar biasa. Hamparan rerumputan kering berwarna kuning kecoklatan benar-benar memberikan kesan yang berbeda. Dari atas pula kita bisa melayangkan pemandangan ke pulau-pulau yang ada di sekitar Lembata.

Bukit Doa sendiri memiliki keunikan dengan ke-14 patung logam yang menggambarkan kesengsaraan Yesus menjelang disalib. Perjalanan yang disebut juga dengan Jalan Salib. Pada puncaknya terdapat patung Bunda Maria. Sayangnya pondasi dari patung ini sudah mulai rusak dan pecah-pecah.

lembata_7
pic by Motulz

lembata_18

lembata_9
pic by Motulz

 

  1. Batu Tara

Pulau yang terbentuk karena proses volcano ini disebut juga dengan pulau Komba. Terletak di sebelah utara Lembata, pulau ini dapat dicapai kurang lebih 2 jam menggunakan speed boat. Karena saat terbaik untuk menonton lahar yang keluar setiap 20 menit sekali ini adalah saat subuh sebelum matahari terbit, maka kami rela berangkat dari dermaga Lembata pukul 2.30 dinihari. Saya? Bawa bantal dong. Tapi perjuangan kami tidak sia-sia. Batu Tara sangat luar biasa. Cerita lengkapnya ada disini.

lembata_5
pic by Ferry Rusli

 

Note

Belum ada dive operator di Lembata, maka untuk menyelam harus menghubungi dive op di Larantuka sebagai lokasi yang terdekat :

Ile Mandiri Tour 

082169995348.
Email : larantukatourtravel@hotmail.com.
Website : ilemandiritourandtravel.com

lembata_20.jpg
sketsa tulang paus dari Motulz

 

The Mission in Alor

It is a mission

… A book.

A book with beautiful Alor underwater scenery and creatures. Yup, kali ini tim Wet Traveler mendapat tugas mulia untuk menyebarkan keindahan Alor pada dunia luar.

Alor, kepulauan yang terletak di utara pulau Timor, bisa dicapai hanya dengan 40 menit terbang dari Kupang. Beberapa tahun terakhir ini memang cukup naik daun dan rame dikunjungi para diver baik dari luar maupun domestik. Visibilitynya yang setali tiga uang dengan aquariumlah, selain juga warna-warni coralnya yang bikin kalap, menjadi kemewahan yang selalu dapat dinikmati disini.

Beberapa kali mengunjungi Alor dan sempet share cerita juga disini dan disini, kali ini gue kabagian jadi model untuk para fotografer dan juga megang kamera. Hal yang paling sulit dilakukan setelah semua ini usai : memilih footage untuk video hahahaha.. soalnya semua terlihat bagus! Nggak kebayang sih bagian penyortiran foto untuk bukunya, pasti lebih pusing lagi ( baca : Pinneng )

Well, cerita selanjutnya silakan dinikmati dalam bentuk audio visual dalam Wet Traveler #GoDiscover Alor yaah :

Exploring Komodo islands part 1

Scroll down for English    IMG_3355    Aku tahu akan cukup panas di atas sini. Cukup panas sampai membuatmu sedikit pusing. Karena itu juga aku membawa selembar syal tenunan Timor yang kuikatkan ke kepalaku. Well, it’s wok! Dan lagi aman jadinya dari terpaan angin yang juga ternyata bertiup cukup kencang.

Yup, kami sedang berada di atas bukit, memandang sepuas hati Gililawa Laut yang terbentang luas di depan mata. Pemandangan yang biasanya terdapat di majalah-majalah traveling, terpampang sempurna. Birunya langit, bertemu dengan biru semburat toska air laut, dipagari oleh garis-garis putih dari pasir sebelum warna akhirnya berubah drastis ke hijaunya rerumputan. Saat ini memang peralihan ke musim kering, Masih ada sisa-sisa warna hijau.

Trekking saat menjelajahi kepulauan Komodo is a must. Pemandangan yang berkesan keras dan purba ini sungguh memukau. Rasanya nggak bosan-bosan mengambil gambar dengan gadget apapun yang sedang dipegang saat itu.

Tapi kami harus melanjutkan perjalanan. Langkah kaki yang tertatih-tatih menuruni bukit berbatu sementara teriknya matahari terus menemani kami. Aries, Pinneng, Nico, Punang sudah duluan terbang menuju ke pantai. Bersiap melakukan sesi berjemur. Sementara Alya, Jeannie, Citra dan aku masih berusaha menuruni bukit eksotis ini. Alhasil ketika kami sampai di bawah, mereka sudah menggelar badannya bak cucian sepatu.

Butuh waktu lama bagi kami untuk ikhlas meninggalkan segala acara leyeh-leyeh ini. Perjalanan harus dilanjutkan.

IMG_3446

Pulau Komodo

Salah satu pulau terbesar dari 3 pulau utama selain Rinca dan Padar ini wajib dikunjungi kalau mau sungkem dengan mbah Komodo. Setelah dijelaskan secara singkat rute yang akan diambil, serta wejangan-wejangan wajib agar kami nggak lasak kesana kemari sesukanya demi keselamatan kami juga, maka berangkatlah rombongan dengan ditemani 3 orang ranger yang masing-masing memegang tongkat kayu dengan ujung bercabang.

Komodo bukan jenis binatang yang berburu dengan mengejar mangsanya begitu saja. Ia akan menunggu sang mangsa lengah, misalnya saat tidur atau duduk dalam jangka waktu yang lama. Mereka mampu berlari cepat sekitar 20 km/jam, tapi tidak untuk jangka waktu yang lama, makanya mereka cenderung lebih memilih untuk ‘menyergap’.

Tips:

  • Pakailah sepatu untuk trekking di kawasan kepulauan Komodo ini. Kondisi bebatuannya yang tajam dan banyak lepasan mudah menciderai pergelangan kaki.
  • Nggak ada salahnya pakai penutup kepala, Bisa topi atau slayer. Panasnya lumayan menyengat soalnya.
  • Jangan menggunakan tas yang menggantung, bisa memancing Komodo.
  • Kacamata hitam juga jangan lupa, pleus kepake banget buat foto-foto.
  • Sun block.. or tanning oil maybe? 😀
IMG_3437
Pemandangan dari Fregata Hill – Komodo

IMG_3441

Rinca

Sesi trekking dilanjutkan ke Rinca. One of my favorit spot di Komodo. Pulau Rinca ini tidak sebesar pulau Komodo, tapi untuk menemukan Komodo itu sendiri disini jauh lebih mudah dibandingkan dengan di pulau Komodo.

Tepat di depan pos ranger kami menemukan mereka bertebaran dengan imutnya. Ada yang di bawah kolong, ada yang sedang merayu calon pasangannya, ada yang sedang melintang menghalangi jalan. Takjub!

Deg-degan bercampur senang. Pengen mejeng tapi takut dicaplok!. Itu yang aku dan pastinya teman-teman lain juga rasain. Untung saja dengan bantuan kesigapan bapak-bapak ranger, kami punya kesempatan pose seksi meski agak jauh (banget!).

Lanjut ke pucak, dan o la la.. atau e do do e…. bagus banget pemandangannya. Warna lautnya, bentuk pulau-pulau nya yang menyebar di segala posisi, lekukan pantainya. Megah sekaligus syahdu.

_MPS8415
Rayuan maut pulau Komodo
_MPS8438
ceritanya temen akrab

GOPR5172

Itu baru bagian atasnya.. bagian bawah lautnya bakal ada cerita tersendiri juga

Info paket trip klik disini

English

I knew it that it’s gonna pretty hot up here. Quite hot to make you little bit dizzy. That’s the reason I brought this traditional scharf from Timor and tied it around my head. Well, it’s work! And it’a quite wind proof too.

Yup, we are on the top of the hill, staring at Gililawa Laut from above. This kind of view that usually you can find on traveling magazine. The blue of the sky meet bluish-tosca sea water, enclosed with long white sandy beach before it turns green. The season just started to change, from wet to dry season.

Trekking during visit to Komodo islands is a must! This ancient view ( I believe it doesn’t change since century ago) is really amazing. Can’t tell myself to stop taking picture.

But we need to go on. Moves wobbly down the hill, as the sun shining on our head. The boys already race down to the shore, ready for a sun bathing session. Meanwhile the girls still struggling, choose the path carefully. By the time we reach the beach, they already half naked and lying side by side. Enjoying their time.

Take a long time for us to move on. Oh how we love this beach, but the show must go on.

The Komodo Island

One of the biggest island from the three main islands, beside Rinca and Padar. Komodo is on the top list to visit if you want to see the Komodo dragon. After a short brief from a ranger about wich route will we take and some advice so we are not going crazy in the middle of jungle chasing Komodo, for our sake, finally we move with 3 rangers. Each of them holding a wooden stick with spilt end. Looks very usefull.

Komodo is not a long distance hunting animal. They can run fast up to 20 km/hour but not for a long run. That’s why they prefer to catch a victim who looks weak, or in unalarm condition like sleeping or sitting.

Tips

  • Wear a comfy shoes. The stones along the track pretty sharp and many moving little stones. Can hurt ankle easily.
  • Cover your hat with cap or anything. The sun can gives you a heat store.
  • Sun glasses is a good idea. Also perfect for photo session, huh?
  • Sun block.. or tanning oil maybe? 😀

Rinca island

Trekking session continue to Rinca, one of my favorite spot in Komodo. Rinca island not as big as Komodo island, but to find Komodo dragon, it’s easier here.

Just right in front of ranger office, we saw them lying everywhere. Some lying below the house, one big male trying to persuade the choosen female, and another one blocking the path with his big body. Awsome!

I really want to pose with them but it didn’t’ look that easy. I didn’t want to get bite! Lucky the ranger knows exactly what we need. They protect us and arrange our position to take picture with the dragon.

Finally we continued to the hill. Wow, i found it quite challenging. Hmmm, I guess I need to jog more. When we finally get there.. we know why they asking us to go here. It’s extremely beautiful! It’s like you travel back to dinosaur time.

Trip package info, klik here

More stories about Komodo trip underwater part soon 

IMG_3486

Bubu Seksi

pi by William Tan
pic by William Tan

“Belum diving di Alor kalau belum liat Bubu, trus potoan ama Bubu..”

“If you diving in Alor, Bubu is amust to see.. and also take picture with it.”

Sampai segitunya ke-beken-an sang Bubu yang memang banyak dijumpai di Alor, Nusa Tenggara Timur. Benda bundar yang dijalin dari rotan ini akirnya berubah fungsi di mata para diver, tempat foto-foto dan juga objek foto unik khas daerah Timur Indonesia.

Bubu is very famous and easy to find in Alor, Nusa Tenggara Timur. This round object made by rattan, has another function for divers. An object to get captured with also favorite object for photographers.

Apalagi dibarengi dengan air super bening bin visibility mantap yang merupakan hal standar yang biasa aja di Alor, karena sepanjang tahun ya begitu itu kondisinya. Bubu sendiri merupakan traditional fishtrap yang telah digunakan masyarakat Alor sejak dulu. Lubang kecil di tengahnya, memungkinkan seekor ikan karang untuk menyelinap masuk dengan manjanya, tapi ruang luas di dalamnya membuat sang ikan tersebut susah menemukan lubang keluar yang sempit tersebut. Jadilah mereka hanya berenang berputar-putar di dalam Bubu sampai seorang nelayan mengangkatnya.

The super clear water with high visibility in Alor is a normal. All year. Bubu is a traditional fishtrap that had been used for years by Alor people. The small hole in the middle let fishes slip easily, but the big room inside makes them swim around and hard to find the way out.

Terletak di kedalaman yang berbeda-beda dari yang cuma 5 meter hingga 20 an meter memungkinan mereka memanen ikan yang berbeda-beda sesuai selera. Tapi nih yaa, kerennya para nelayan tersebut hanya mengambil ikan sesuai kebutuhan mereka saja. Kalau lebih atau ada ikan yang tidak akan dikonsusmi? Mereka dilepas kembali ke laut. Salut!

Located in some different depth from 5 to 20’s meter, makes the fishermans can catch a various kind of reef fish that suit to their need. How about if they catch too much or get something that they can’t e at? The released it back to the ocean.

Hal ini juga yang membuat Alor tetap terjaga keasriannya selama bertahun-tahun. Kalian diving disini hari ini atau sepuluh tahun yang lalu, kondisinya sama-sama bagus karena semua masyaraktnya menyadari pentignya mereka menjaga terumbu karang yang merupakan rumah para ikan. Jadi mencari ikan tidak perlu jauh-jauh, Kakaaak.. di depan rumah sa 😀

It also makes Alor can keep it sustainability for years. You dive here now or ten years before, the condition is not change. Alor people realize that they need to keep the coral reef in good condition, and this make them easy to catch fishes.

Tapi bukan berarti kita para turis diver boleh seenaknya ngutak-ngutik Bubu dan karang disekitar mereka yaaa. Yang punya hak istimewa itu hanyalah para warga lokal yang berkepentingan. Kita? Nikmati dan manjakanlah mata kita dengan Bubu yang keren dan seksi kalau difoto itu.

Doesn’t mean we, the tourist, can touch or replacs the Bubu and reefs besides it. Let it become local people’s privilege. Our job is only to enjoy and indulge our eyes with the beauty and uniqueness of the Bubu.

Seorang bapak yang setelah mengajar pada pagi harinya, memanen hasil Bubu untuk makan keluarganya. Pic by Pinneng.
Seorang bapak yang setelah mengajar pada pagi harinya, memanen hasil Bubu untuk makan keluarganya. Pic by Pinneng.
bubu_2
Pose disamping Bubu is a must! pic by Dewi Wilaisono

Boti, keunikan suku asli Timor

Desa adat yang terletak di Timor Tengah Selatan itu namanya saja sudah terdengar unik dan eksotis, ditambah pula dengan perjalanan yang cukup menyita tenaga karena aksesnya yang bisa dikatakan rusak, Desa Boti, desa adat yang masih memegang teguh adat istiadatnya serta masih menjaga cara hidup yang sama seperti leluhur mereka layaknya suku Badui dalam.
  Jalan memang jelek sekali, Ibu.. bahkan kemarin waktu banyak hujan tidak bisa lewat. Bisa tapi susah sekali, lumpur..” Oom Nope guide kami yang keturunan raja itu menjelaskan sembari terbanting ke kiri dan kanan mengikuti gerakan mobil sewaan kami. Jalan kering saja sudah terasa heboh, gimana kalau hujan turun ya? Tapi pemandangannya luar biasa indah. Alam timor memang beda.
Tidak terlalu jauh sebenarnya jarak antara So’E, ibukota kabupaten Timor Tengah Selatan atau yang sering disingkat dengan TTS, dan desa Boti. Hanya sekitar 45 km saja. Hanya saja karena parahnya kondisi jalan, kami harus rela terombang ambing selama kurang lebih 2,5 jam.
“ Ganti celana panjang lebih baik, Ibu.” Ah rupannya saya harus merelakan celana pendek ini berganti panjang untuk menghormati desa itu. Saat istirahat sebelum memasuki desa Boti pun kami manfaatkan untuk meluruskan kaki dan pinggang, serta saya yang berganti celana. Rasa pegal dan lelah kalah oleh rasa penasaran. Akan seperti apa sih orang-orang suku Boti itu nanti?
“ Nanti  biar supirnya yang kasih sirih pinang  tanda pamit memasuki desa, dia sudah biasa, dan memang semua tamu harus kasih sirih ke kepala suku.”
“ Kita juga harus makan sirihnya?” tanya saya ngeri mengingat saya nggak suka sama sekali rasa sepet dari sirih setelah mencobanya waktu itu di Sumba. “ Nggak harus kok, cuma kepala sukunya saja nanti sama tetua kampung yang mau bergabung. Tamu tidak dipaksa untuk nyirih.” Fiuuuh…

kepala suku dan tetua desa di rumah dinas 

Beberapa artikel yang saya baca ketika merencanakan trip ini mengatakan bahwa tamu mempunyai tempat menginap sendiri, ada kamar mandinya, tapi makanan akan sangat tidak enak menurut standar orang kota yang terbiasa makan makanan berbumbu, karena masakan suku Boti cenderung hambar dengan tidak digunakannya minyak untuk menggoreng, serta terbatasnya garam. Semua serba rebus-rebusan. Hmmm kami sempat belanja mie instant sih untuk mengantisipasi hal itu. Judulnya : takut kelaparan hahahahaha.
Suku Boti ini merukapan salah satu suku dari 3 kerajaan yang kala itu menguasai TTS, Amanatun, Amanuban dan Molo, pemimpin di Boti bukanlah raja, melainkan kepala suku. Oya.. dan dari blog yang pernah saya baca juga, doski masih single loooh ( bantu promoin kepala suku Boti ).
Akhirnya sampai juga Suasana desa Boti ini asri banget. Jalan-jalan setapak dibuat rapi dengan susunan batu-batu besar dan kecil. Rumah berdinding bebak langsung terlihat di depan gerbang masuk, Itulah penginapan kami. Kamar mandinya terpisah tapi ada beberapa, jadi nggak perlu antri mandi. Airnya pasti dingiiiiiinn..
Beberapa ritual harus kami lewati sebelum blusukan di kampung Boti. Kepala suku dan beberapa tetua adat menyambut kami di ‘rumah dinas’. Karena mereka tidak lancar berbahasa Indonesia, dan kami boro-boro pernah dengar bahasa Dawan yang digunakan suku Boti, jadilah acara penerimanaan tamu berlangsung canggung untuk kami. Paling saling cengar cengir saja. Untung kepala suku tetap menerima sirih pinang kami dan sibuk meramunya dengan kapur yang membuat bibirnya bagaikan begincu seksi. Tadinya saya sudah kawatir saja harus ikut-ikutan begincu, ternyata untuk kami disediakan pisang goreng… iya digoreng!! Wah rupanya mereka pake minyak juga untuk mengolah makanan yang disediakan untuk tamu.
Hari sudah malam, jadi acara blusukan dibatalkan, jangan-jangan malah nyasar ke sungai pulak kalau nekad. Jadilah kami mengambil kamar-kamat yang tersedia di rumah bebak. Nggak ada lampu, apalagi tv. Acara malam itu nyemil dan gossip seputar si kepala suku yang curang karena ada listrik di rumahnya, sirik nih yeeeee 😀
Bermalam di rumah bebak ternyata dingin karena ada aja celah-celah tempat udara malam bebas keluar masuk. Kampung Boti memang cukup dingin kalau malam, apalagi selama musim kering Juli-Agustus. Baju hangat wajib dibawa deh.
Paginya sarapan sudah tersedia di rumah raja. Rupanya kekawatiran kami akan makan sama sekali tidak beralasan. Makan 3 kali sehari mereka sediakan, menunya juga enak, dengan jagung bose sebagai makanan pokok pengganti nasi… eh nasi juga ada sih, tapi mumpung disini sikat jagung bose ajalah. Lanjut melihat proses pengolahan kapas hingga menjadi kain tenun mereka. Hebat looh, saking mandirinya mereka semua kebutuhan diproduksi sendiri, pangan, papan… termasuk sandang. Mereka punya kebun kapas sendiri. Salut!!

sok sok ikutan gabung belajar proses pengolahan kapas

Memproses kapas hingga menjadi sebuah kain yang indah merupakan syarat mutlak bagi gadis Boti yang harus dikuasai sebelum menikah.
“ Kami harus bisa menenun sebelum menikah kak..”
“ Kalau sudah menikah tidak boleh minta sama orang tua.” Salah satu gadis Boti yang sedang menenun meberikan penjelasan.
Pasangan muda Boti harus bisa memenuhi kebutuhan mereka sendiri tanpa dibantu orang tua apalagi tetangga saat mereka menikah nanti. Dengan menguasai tenun diharapkan ia dapat memenuhi kebutuhan sandang keluarganya. Bahkan seperti ada ujiannya loh, ia harus menenun dua buah selimut dan sebuah kain untuk keluarga pria sebelum lulus seleksi. Wah saya pasti gagal total ini sih…
Dari pihak laki-laki juga bukannya ongkang-ongkang kaki. Si pria sudah harus membangun rumah bulat, rumah adat mereka dan mengolah sepetak ladang, yang menjamin mereka nggak akan terlantar tidur dibawah pohon atau nggak bisa makan. Seru yaaa, jadi nggak ada tuh ceritanya  ngutang-ngutang dulu buat nikah, pinjam sana sini buat ribet orang lain untuk memenuhi kebutuhan mereka. Sangat bertanggung jawab.

ini yang namanya rumah bulat, tapi kita nggak boleh masuk 🙁

Urusan hukum juga unik banget disini. Layaknya suku Badui dalam, mereka nggak boleh melanggar aturan adat, termasuk memeluk kepercayaan Halaik. Beberapa kasus penyelesaian hukumnya sangat beda, contohnya jika ada yang ketahuan mencuri jagung tetangga, hukumannya adalah seluruh desa memberikan jagung kepada orang itu. Iya… dikasih! Tujuanya agar ia malu sekaligus agar ia memiliki jagung yang bisa ditanam untuk berkebun sehingga tidak perlu mencuri lagi. Luar biasa… Itu kalo urat malunya masih ada, kan diluar banyak yang dah putus urat malunya *curcol 😀
Mereka tu ngehargain alam banget, contohnya waktu disuruh sama produser program untuk kembali memotong sebilah bamboo utuh dari pohonnya, ia keberatan dengan alasan, sayang bambunya karena kebutuhannya tidak sebanyak itu, biarlah bamboo itu tumbuh, kita pakai bamboo yang sudah ada di tanah saja.. Keren euuuuy.

Ketika akan berpamitan pun, kami kembali lapor ke ‘rumah dinas’, dan kepala suku memberikan syal tenunan sebagai tanda persahabatan. Kalau boleh dikatakan, saya terharu saat itu. Mereka baik banget!! Nggak ada artinya deh keribetan perjalanan menuju ke desa ini dibanding pengalaman yang didapat.

nyante sambil main Knobe, alat musik getar

Al in Alor part2 – bagian ke 2

 

all pic. by Pinneng
Bagi yang belum baca Bagian 1

Berasa baca cerpen nggak sih 😀
Berasa masih pagi buta ketika Pak Dono ( panggilan sayang Donovan) membangunkan kami semua dengan gedoran mesranya yang stereo pada pintu kamar. Dengan mata masih kriyep-kriyep saya bersiap untuk diving trip hari ini. Kacamata hitam dan sunblock pasti dibawa, hmmmm.. kamera? Ah teman-teman banyak yang membawa kamera plus housing underwater plus lagi strobe, amaaann ( pikiran narsis bekerja)
Usai sarapan perjalanan dimulai, paling nggak membutuhkan waktu satu jam untuk sampai pada titik penyelaman yang pertama di hari kedua ini, Fish Bowl. Setelah pengecekan arus dilakukan, Dono menyuruh kami semua untuk bersiap siap. Entah kenapa saya selalu merasa tegang setiap persiapan dive yang pertama, dan takut kalau airnya dingin, maklumlah… gadis tropis J

Fish Bowl merupakan slope, dan pada hari ini sepertinya lumayan berarus. Saya merasa lumayan kesulitan dengan buoyancy kali ini, apa karena pakai wetsuit double? Yang pasti selama penyelaman kali ini, gaya nungging merupakan gaya andalan saya. Gimana nggak? Sekalinya saya memutarkan kepala, yang ada bawaannya mau naik ke permukaan terus, kan rugi….
Selain ngebut drifting, kami juga ketemu dengan Triggerfish yang demen kejar-kejaran dengan diver, tapi kalaupun kali ini ngejar, saya yakin, dengan bantuan turbo dari arus, kabur dipastikan bisa super cepat J
Penyelaman kedua, kami dibawa ke salah satu dari Top Five versi Dono, Kal’s Dream. Jeng jeeeng… yang saya tau disini arusnya heboooh. Daaan, diliat dari posisinya yang terbuka di tengah begini, darat terasa jauh serta ada arus yang terlihat menggelegak, saya benar-benar ngerasa sakit perut. Ketika semua bersiap siap turun pun, saya memutuskan untuk menambah pemberat satu kilo lagi. Nggak mau ambil resiko harus nungging-nungging di Cal’s Dream
Briefing menegangkan pun dimulai, singkat saja: bersiap merangkak kalau dibutuhkan… Glek.
Turunlah kami semua, dan… memang merangkak, mencari pegangan di celah karang langsung dibutuhkan. Memilah milih tempat berpegangan sambil menarik tubuh untuk maju, seru juga ternyata.. Ternyata pegangan itu tidak lama dibutuhkan, karena saat berikutnya arus menghilang dan kami dapat menikmatinya tanpa berjuang.
Coral padat berwarna warni, ikan ikan yang sibuk berseliweran kesana kemari, sampai berasa di pasar. Kami menyelam sampai di kedalaman 32m, tapi sayangnya ketika itu kami tidak bertemu dengan ikan tuna sepanjang 2 meter yang katanya sering terlihat disana. Hmmmm… alasan untuk kembali lagi rupanya.
Sebagai gantinya kami sempat melihat seekor penyu yang dengan santainya melayang-layang dari kedalaman, menuju hampir lurus kearah saya tapi kenapa dia harus berbelok? Padahal sudah ge-er mau disamperin penyu.
Saat naik untuk melakukan safety stop, kami harus berpegangan pada seutas tali karena dibagian tersebut arus cukup kencang. Kalau sampai lolos mengincar tali tersebut… wah, bakalan harus berjuang sekuat kaki mengayuh untuk kembali pada tali itu. Tapi teteeeup, wlaupun harus fokus berpengan pada tali saat safety stop, acara foto-foto tetap nggak ketinggalan.
Penyelaman ketiga pada hari kedua inipun dilakukan di titik yang menurut Dono, termasuk Top Five pilihan dia.  Mike’s Delight. Yang seru kami dibawa melewati dua batu besar pada kedalaman 20-an meter, daaaan kami juga melihat reef shark dari kejauhan, sepertinya black tip. Dia nggak ada niat untuk mendekati kami sama sekali, yak saya yakin kami nggak terlihat lezat baginya J Selain itu terlihat juga penyu dan dan Barracuda ketika kami menuju tempat yang lebih dangkal. Dan ketika waktunya untuk safety stop kami disuguhi schooling Surgeon Fish yang dapat didekati tanpa membuat mereka bubar.
Seakan moment berikutnya sudah diatur, seorang bapak nelayan setempat dengan kacamata kayunya ikut berenang dan menyelam bersama saya saat saya akan menyudahi sesi penyelaman terakhir hari ini. Wow!! Benar benar moment yang menyenangkan, sang bapak mau diajak berfoto bersama, ternyata jiwa narsis kami nyambung hahahahaha…
Hari berikutnya datang dengan cepat, istirahat semalam seakan tak cukup lama selama dive trip di Alor dengan segudang jadwal divingnya. Hari ini kami menuju daerah yang terletak lebih ke selatan, lebih terekspose arus dingin dari bawah. Jeng jeng… inilah ketakutan saya selama ini, air dingiiinnn!!!
Satu persatu turun, dan saya berusaha memperhatikan mimik muka mereka, seberapa kedinginankah mereka. Dan ketika tiba waktunya teman yang saya lupa asalnya, tapi yang pasti Negara Eropa yang harusnya sudah terbiasa dengan suhu dingin, mengerutkan muka karena kedinginan, saya benar-benar pasrah…
Berbekal wetsuit dobuble, akhirnya saya memberanikan diri turun di Slab City. Saat itu benar benar tenang, tidak berarus, dan suasana dibawah berasa di aquarium dengan beragam coral dan ikan ikan kecil berwarna warni berseliweran ceria. Damai sekali. Saking damainya, tidak perlu banyak bergerak mempertahankan posisi, sehingga air dingin makin terasa. Entah berapa kali saya pipis di dalam wetsuit ( sssst.. jangan bilang-bilang).
Hal menarik pertama yang kami temukan adalah Sea Apple, binatang laut yang masih saudara dengan timun laut, berbentuk bundar menggemaskan dengan tentakel di kepalanya yang berfungsi menangkap plankton dari air di sekelilingnya dan membawanya ke mulut yang terletak tepat di tengah atasnya.
Berikutnya kami melihat tiga ekor eagle ray bermain di kejauhan, saling mengitari dan segera menjauh begitu melihat grup kami.  Tidak lama kemudian, giliran Sea Snake yang kami temukan, Warnanya yang belang-belang hitam putih demikian mencolok, mustahil untuk melewatkannya. Meskipun bisa nya mematikan, tapi sea snake ini pemalu serta lumayan imut mukanya dengan ukuran mulutnya yang kecil. Tetap ya, nggak dianjurkan untuk mengganggunya.. kalau dia sensi kan gawat.
Semua memuji site dive ini, semua setuju kalau melakukan penyelaman disini rasanya seperti didalam aquarium versi raksasa. Saya setuju banget, diluar kulit keriput yang kedinginan tentunya..
Penyelaman selanjutnya adalah Cathedral. Dono benar benar serius dalam briefnya kali ini, semua harus berkumpul dulu, masuk pada saat yang bersamaan, kapal tidak bisa terlalu dekat dengan titik penyelaman yang sangat mepet tebing. Karena dari sinilah kami akan turun kedalam gua dengan kedalaman 18 meter, dan keluar lagi di pintu lain di 24 meter. Terdengar menyenangkan, dan inilah kami semua berkumpul sebelum bersama sama turun..
Saya sempat kaget karena ada pemberat yang tiba-tiba melayang. Belum habis rasa kaget itu, pemberat lain kembali jatuh, tepat disamping kepala saya. Wah gawat, seseorang kehilangan dua pemberatnya, dan benar saja, begitu saya melihat keatas, seseorang sedang  jungkir balik bersama Dono. Singkat cerita kami semua berhasil turun dengan selamat.
Langsung menuju mulut gua, cukup terang sehingga tidak perlu membawa senter, saya melihat seekor reef shark, seekor white tip, merasa terganggu tidur siangnya dengan kehadiran kami. Ia terlihat gelisah dan mondar mandir di pojok ‘kamar’nya mencari celah untuk kabur, yang cukup sulit rupanya dengan jumlah penyelam demikian banyak. Tapi begitu ia mendapatkan kesempatan itu, pada celah yang kecil sekalipun, dan celah itu terletak diatas kepala teman kami yang cuma bisa tercengang dengan kamera di tangan saat sang hiu melesat.
Di pintu keluar, rombongan sweet lips sudah menunggu dan mondar mandir, tapi segera bubar begitu kami keluar. Mengitari pintu gua menuju wall yang sangat indah, bergantungan elephant ears dimana mana, bisa ditebak sendirilah dari namanya bagaimana bentuknya. Tapi dari sekian banyak elephant ears, ada satu yang saya perhatikan, karena di yang satu terdapat Hermit crab berjalan pelan ke ujungnya. Saya penasaran apa yang terjadi kalau sang crab tetap berjalan, apakah ia akan terjun bebas ke dasar jurang dibawah saya? Akhirnya ia mencapai ujung elephant ear, dan…. Ia berbalik saudara-saudara!!! Tontonan selesai..
Sisa penyelaman hari itu tentu saja banyak kami habiskan pula dengan foto foto, di bawah air. Dengan jari telunjuk dan ibu jari disatukan, sementara schooling ikan ikan kecil diatas kepala kami menjadi background yang pas!
Tamat – untuk saat ini hehehehe…

AL in ALor part 2

 

 

bagian pertama
Dendam terbalaskan, saya kembali ke Alor membawa sejuta harapan untuk akhirnya bisa diving setelah kunjungan pertama gagal total nyebur, dan hanya bisa dipuaskan dengan celup celup badan. Dalam tiga hari kedepan, saya nggak mau setengah setengah menikmatinya, banzaaaiii!!!
Hari pertama kami cek dive di Sebanjar, saya sudah siap siap dengan reputasi dingin di Alor, mengenakan wetsuit atasan setebal 1mm dilapis wetsuit full 3mm, hmm Robocop is in da houseee 😀 Ternyata begitu nyebur, tidak separah yang saya duga. Sebanjar ini merupakan slope, dan ketika itu kita sedikit melakukan drift dive, ngikut arus biar nggak cape.
Tanpa disadari dive pertama saya ini juga merupakan dive terdalam saya, 40m!! Konon katanya, di Alor ini memang suka nggak kerasa kalau kita dive lumayan dalam, karena visibility nya yang super jauh, matahari tembus hingga jauh pula. Yang tadinya saya bergidik kalau dengar cerita orang dive dalem dalem, sekarang bisa dialami sendiriiii  😀 Pada dive pertama di hari pertama ini, saya menemukan coral berbentuk brokoli berwarna pink, namanya Spiky soft coral yang mengingatkan saya akan tumis brokoli bawang, tapi nge-punk
Dive kedua saya melepaskan satu lapisan wetsuit 1mm ( belagu mentang mentang nggak terlalu dingin ). It’s Babylon time!! Saya yakin nama Babylon ini didapatkan karena bentuknya yang mirip taman gantung di Babylon. Nggak salah wall yang ber-trap2 ini memang indah banget, seafan dengan mudah dapat ditemukan dimana mana.
Dengan berakhirnya sesi dive kedua ini, berarti waktu makan siang telah tiba, salah satu moment favorit saya setelah kedinginan dibawah. Belum habis makanan di piring, ratusan dolphin memanggil manggil dari kejauhan! Ratusan Dolphin bermain dalam beberapa kelompok, dan seakan akan tau sedang ditonton, beberapa yang centil melakukan loncatan loncatan, yang memang membuat kami teriak teriak gemas. Apalagi kalau moment tersebut telat tertangkap kamera, teriakannya semakin keras…. “Yaaaaaaahhhh!!!”
Dive berikutnya,Mirror Image, saya melakukan sedikit kegilaan, dive hanya dengan kostum bikini saja..
Kontan semua peserta yang lain bengong “Are you serious?” “Only wearing bikini?”pertanyaan pertanyaan yang buat ngeri juga sih, apalagi saya termasuk masih kurang berpengalaman soal selam menyelam ini. Tapi demi kepentingan dapat foto unik, hayolah! 😀
Brrrrr….. dingin juga yaa.. untung perasaan itu hanya bertahan beberapa saat saja, dan pada menit menit berikutnya saya sangat menikmati kulit yang terkekspose terkena belaian air laut, saya merasa ringan, bebas, dan pastinya sexy! Cuma yang harus diingat, hati hati kalau harus berpose dekat dengan karang atau tumbuhan laut, salah salah malah tersengat dan gatal gatal.
Slope berganti menjadi wall yang cantik di kanan saya, seliweran diantara diver yang berpakaian lengkap seru rasanya. Malahan ketika saya menyudahi sesi diving ketiga ini, setelah menaruh tabung dan teman temannya, saya kembali melakukan freedive, masih dengan bikini belaka, menyamperi fotografer yang sedang safety stop di 5 meter. Narsis yang tak terbendung J
Perjalanan kembali menuju teluk Kalabahi diisi dengan leyeh leyeh menambah tingkat kegelapan kulit diatas dek ( maaf ya pak kapten, selamat bertugas 😀 ) Rencananya malam ini kami akan melakukan nite dive. Okey.. heeei, apa kabar saya si bontot yang masih open water ini? Rupanya para dive master tidak merasa ada masalah dengan segala kemampuan yang saya kerahkan sekuat tenaga, OK! Saya boleh ikutan.
Begitu matahari terbenam, kami bersiap siap. Bohong kalau saya nggak merasa tegang, walaupun saya nggak punya masalah ruang sempit, tapi tetap menegangkan juga, selain saya takut kedinginan. Pertamina Pier, tempat yang dipilih untuk melakukan nite dive kali ini. Kami harus menyusur dari kedalaman 5m sampai ujung dermaga sekitar 17 m, dan kemudian naik kembali. Terdengar mudah. Ternyata di dalam, saya benar benar bingung dan buta arah. Hanya mengikuti lampu senter yang lain.
Alangkah banyaknya yang saya temui dibawah sana, mulai dari si pemalu Thorny seahorse, kemudian dikagetkan oleh Flounder Fish atau ikan sebelah yang saya kira pasir belaka karena seluruh badannya kecuali matanya tertutup pasir. Mendekati tiang tiang dermaga, semakin banyak yang bisa dilihat, Udang udang berwarna merah, yang berwarna kuning orange sedikit lebih lincah dan berlompatan, Big Cowry yang berbulu menggemaskan, serta nudie bongsor Pleurobranchus Forskali yang berukuran sekitar 10 cm, jauh lebih besar dari nudi yang saya kenal selama ini selalu lekat dengan kesan imut. Bergeser ke pasir, menemukan baby Crocodile Fish dan Pipe Fish. Uniknya Pipe Fish ini benar benar rombongan sekampung, dan semuanya tampil diatas batu. Saking banyaknya, beberapa tergeser jatuh tersenggol arus atau Pipe Fish lainnya.

Walaupun sisa udara masih ada, rasa dingin juga yang mengharuskan saya naik menyudahi hari ini, apalagi terbanyang coklat panas menanti diatas boat. Jadilah saya naik dengan badan yang mengigil nyaris tak terkendali tapi hati bahagia, dinaungi bintang langit Timur Indonesia,  hari pertama di Alor pun berakhir J

bersambung ke bagian ke-2

Al in Alor

Biasanya kalau dapet jadwal penerbangan pertama berasa dihukum bangun subuh, tapi kali ini bahkan sebelum alarm bunyi juga udah loncat duluan. Masalahnya destinasi kali ini adalah ke Alor, yang namanya sudah saya dengar bertahun belakangan karena keseriusan bupatinya mengembangkan segi pariwisatanya, belum lagi ‘mitos’ di kalangan diver yang heboh dengan visibility nya.

Setelah transit di Kupang, penerbangan dilanjutkan ke Alor, dan dari atas saya bisa melihat garis pantainya yang tanpa pasir, kebanyakan tebing tebing, membuat saya membayangkan wall yang ada dibawahnya.

Mendarat di Bandara Mali, kami langsung disambut angkot super meriah dengan stiker stiker ‘mengigit’ serta sound system super heboh. Rata rata di bagian Timur ini memang seperti itu, semakin heboh semakin gaul 🙂 mengingatkan saya pada angkot di Manado juga…

makin rame makin asoy 😀

Mas Dono, panggilan sayang buat Donovan yang jadi emak kita semua disana, udah menyiapkan segalanya, mulai dari penginapan sampai ke makanan besar dan kecil, serta semua trip diving selama di Alor.

Hari pertama meluncur kelaut, saya benar benar harus berusaha menjaga mimik muka, kampungannya jadi mendesak muncul kalau melihat pemandangan super bagus, maunya rahang terbuka terus… Memang susah untuk nggak kagum dengan apa yang terpapar di muka ini, lautan tenang di dalam teluk Kalabahi, dataran yang sayup sayup tertutup kabut pagi, matahari bersinar dengan cerahnya.. yang kau butuhkan adalah handuk alas berjemur dan sun block 🙂

kabut pagi masih menggantung

cant ask for more..

blue water, blue sky
Aiiih.. oom2 ini kok chating tapi seblah2an 😀

Ketika tiba saatnya kami semua bersiap di dive site pertama, terjadilah musibah yang membuat saya nggak bisa meneruskan kegiatan diving dan harus puas cuma bertemu mantri rumah sakit untuk menuntaskan 4  jahitan di kepala, sakitnya nggak seberapa, tapi sedih karena batal divingnya jauh lebih perih daripada jahitan itu ( mulai dangdut mode on )

Rupanya dengan tidak bisanya saya nyelup ke air untuk sementara, memberikan kesempatan lain untuk menyambangi pasar lokal yang beken dengan jagung tembaknya ( mengingatkan pada kompor meleduknya Benyamin ). Biji jagung dimasukkan kedalam tempat besi yang berbentuk seperti meriam kecil, dipanaskan sampai pegas di belakangnya menunjukkan tekanan tertentu, karung disiapkan di depannya, setelah diputar terbuka tutupnya,  meledaklah brodong jagung kedalamnya disertai bunyi mengejutkan. Mereka biasa menjualnya antara 1/2 kilo dan 1 kilo yang artinya.. banyak sekali buat menemani nonton dvd serial tv 3 season.

Selain itu Mama Mama dengan suara bersemangat menawarkan daun pepaya dan cabe kerdil super pedas, beberapa dagangan yang tidak lazim. Sayangnya bulan2 ini belum musim mangga kelapa, yang dari namanya aja kita bisa membayangkan ukuran buah mangga tersebut. Tapi memang saya kagum banget dengan semangat para ibu ibu yang jualan di pasar ini, mereka punnya power suara yang bisa menggetarkan hati 😉

Rupanya bukan Ibu2 saja yang bersemangat, penduduk lokalnya baik anak-anak maupun remajanya sangat spontan menyapa atau berekspresi, terasa saat saya menjelajah menyusuri garis pantai, panggilan mister ( seperti mengucapkan mister yang berarti penggaris ) sapaan khas yang nggak mengenal jenis kelamin, baik cowo atau cewe hajar dengan ‘mister’ semua 🙂

Urusan makanan, bagian favorit sepanjang masa, didominasi oleh ikan ikanan, ditemani sambal Lu’at yang membuatku megap megap kepedesan tapi nggak berhenti nambah terus sambelnya. Belum kopinya yang super hitam, serasa baru menadah oli yang sekian bulan nggak diganti, tapi rasanya nikmat..

walaupun saya harus menutup cerita tentang Alor disini, tapi tugas belum selesai, karena saya belum diving disana, saya harus balik lagi supaya bisa cerita lebih lengkap mengenai dive site yang berjumlah puluhan itu.. #kode ;))

si hitam manis 🙂
the whole crew.. berasa liliput, salah posisi -__-

Slide n Dive..

Hal pertama yang menarik saya ke Kupang, jujur aja.. aspalnya!! Dan kenapa pula saya harus tertarik dengan aspal bagus? well, yang terpikirikan langsung ber-longboard ria dengan latar belakang khas Indonesia Timur yang unik, diselingi rombongan sapi atau kambing merumput, padang rumput luas dan pohon pohon Nira..

Selain longboard saya juga dijadwalkan untuk melakukan tiga penyelaman, maka bentuk packing saya jadi rada nggak nyambung antara membawa longboard skate, protector serta wetsuit diving tanpa ketinggalan bikini 🙂

Hari pertama tiba di Kupang langsung disambut cuaca mendung, yang katanya sih sudah berlangsung berhari hari, bahkan disertai angin berkecapatan diatas 16 knot yang membuat kegiatan diving masih menjadi tanda tanya. Wah sempat bertanya tanya juga, bakal ngapain aja nih kalau diving sampai batal total? masa cuma wisata kuliner aja? Maklum termasuk jenis yang susah diam 😀

Tapi ternyata kekhawatiran saya nggak beralasan, tidak sempat merasa bosan, bahkan kekurangan waktu saat mencoba dan mensurvei jalan jalan yang cucok pisaaan untuk ber-longboard ria. Tinggal pilih derajat kecuraman, latar belakang yang diminati, karena semua jalan disana beraspal halus, sehalus pipi model. Yang jadi masalah memang kita harus menunggu saat yang tepat saat matahari tidak berada tepat diatas kepala serta memilih tempat yang tidak terlalu ramai pula.

Semua jalanannya mulussss

Beberapa titik yang sudah saya coba antara lain, pelabuhan Tenau.. ya.. pelabuhan, ternyata bisa menjadi tempat bermain longboard yang seru selama nggak dikejar kejar satpamnya. Disana terdapat peti peti kemas serta forklift raksasa yang menambah efek ‘game’ pada latar belakang, belum lagi saat saya kesana adalah malam hari sehingga tidak mengganggu kegiatan pelabuhan, tapi untungnya adalah efek dari lampu lampu itu sendiri menjadi lebih dramatis.

Jalan raya di depan Goa Monyet juga menjadi korban percobaan kami. Setelah membeli kacang, Dono sang sutradara khusus pengarah gaya monyet langsung beraksi menaburkan kacang kacang di lintasan longboard.. dan setelah semua berkumpul barulah saya meluncur kearah mereka. Jangan khawatir yaaa.. mereka itu lebih pintar dari perkiraan, walaupun sibuk memunguti kacang kacang dengan maruknya begitu mendengar roda longboard saya mereka bubar serentak untuk kemudian balik memunguti sisa kacang kembali.

Nah, ini bagian yang paling seru… setelah tau diving gagal, ternyata ada ganti yang lebiiihhh nggak disangka.. masih diving juga sih.. tapi CAVE DIVING!! Boleh percaya atau nggak, hal ini membuat saya deg deg an setengah mati, bahkan kepikiran pengen dibius supaya bisa tidur malamnya. Bukannya saya mengidap klaustrofobia ( tidak nyaman akan ruang tertutup ) tapi saya juga nggak yakin kalau tidak punya klaustrofobia ( lho gimana sih?) pokonya saya jadi banyak tanya ini itu dengan semua yang sudah pernah goa itu, termasuk pada anak perempuan si Dono yang ngajak saya, dan jawabannya cuma.. “yang paling susah itu turunnya.. licin” Lhaaa… masalah goanya kok nggak dibahas?!

Akhirnya tibalah saat kita berangkat kesana. Crystal Cave namanya. Merupakan goa air tawar. Kami memarkir mobil di keteduhan pohon setelah berkendara sekitar 15 menit dari pusat kota Kupang. Suasana sangat sepi, menambah perasaan galau saya. Persiapan singkat yang dilakukan rasa berlalu secepat jentikan jari.. Setelah berjalan kaki kira kira 5 menit terlihatlah mulut goa itu. Saya harus menuruninya sejauh sekitar 10 meter sampai melihat telaga kecil ditengah goa. Deg! mati aku…

Saya diharuskan melatih buoyancy ketika diving di dalam goa ini karena nantinya kita akan melewati bagian yang berlumpur bagian bawahnya, yang mudah terangkat akibat kibasan fin. Jadilah saya diajar bolak balik selama 5 menit dengan posisi yang diharuskan horizontal. Setelah dirasa cukup, mulailah penyelaman goa saya yang pertama…. *jreeeeenggg*

Hal pertama yang saya rasakan, degup jantung saya gila gilaan nggak bisa tenang, dan di air rasanya kencaaaang sekali. Berusaha menenangkan diri, saya mengikuti nasihat teman, nyanyi sendiri dalam hati. Yang pasti saya bisa dan boleh menyerah kapan saja saya merasa nggak mampu untuk meneruskan samapai di ujung. Setelah berhasil menenangkan detak jantuk barulah saya bisa menikmati penyelaman ini sepenuhnya.. dan memang mengagumkan sekali. Ruang di dalam goa tidak terlalu sempit, dengan lebar 6 meter dan tinggi sekamar saya leluasa mengatur jarak. Di satu titik bahkan terdapat halocline, pertemuan antara air laut dan air tawar yang berbeda berat jenis, sehingga terbentuk garis pemisah di tengah ruangan. Indah dan sekaligus menegangkan. Ketika melewatinya pandangan terasa kabur, seperti garis kabur antara air dan gula cair.

Si Kerang Raksasa nampang, pic. Muljadi Pinneng Sulungbudi

dipasang tali juga buat penunjuk arah. pic. Muljadi Pinneng Sulungbudi. objek penderita : Riyanni

Halocline, pic. Muljadi Pinneng Sulungbudi

Melewati halocline, sampailah kita ke satu area yang cukup sempit dimana kita harus masuk satu persatu karena hanya selebar 1 meter. Nah dari sini sudah nggak jauh lagi dan kamipun naik ke permukaan. Ternyata saya berada di satu ruangan beratap sangat rendah, hanya sekitar 3 meter dengan beberapa stalagtit kecil menggantung. Terkadang ada beberapa kelelawar yang berkunjung, yang berarti ada jalan masuk walaupun kecil disana, menjamin terdapat pertukaran udara.

Setelah berhasil sampai di ujung, sisanya menjadi mudah, perjalanan kembali benar benar dapat saya nikmati, terlebih lagi terdapat fosil kerang raksasa, serta fosil kerang kerang kecil yang masih terbilang utuh tertanam di langit langit atau dinding goa. Amazing.. Penyelaman goa pertama saya sangat berkesan.

Di Kupang tiada hari tanpa wisata kuliner, yang sempet saya foto sih mie hitam, yang walaupun bentuknya meragukan ternyata enaaak banget! Makanan lain sih keburu habis sebelum difoto 😀

foto fav saya, hebat sekali semen ini pasti.. 😀

for more info pls visit www.divekupangdive.com