Explore Sabah part3 : Mount Kinabalu

Kalau misalnya ada ngajak untuk naik gunung Kinabalu, apa yang pertama melintas di pikiran?

“Wuih keren!”

“Hah? Kan tinggi banget, bisa nggak ya gw?”

“Mau .. tapi…”

“Lo yakin gw bisa?”

kalo itu semua yang melintas di kepalamu.. TOSS! Sama dong.

kinabalu_mountain_2
the whole Sabah Skwat : Mario, Gemala, Abex, Satyawinnie, Anggey Her_Journey, RIvan Hanggarai, Koh Billy, Rizal, Wahyu Demang dan Pinneng. Masih pada seger mukanya hehehe..

Meskipun penuh keraguan tapi gw tau kalau gw akan MENYESAL kalau nggak nyoba. Kinabalu itu merupakan gunung tertinggi di Sabah, Malaysia bagian Borneo dan juga tertinggi di Malaysia.

Pengalaman mendaki gw sangat minim. Yang tertinggi itu Rinjani, gw daki beberapa abad yang lalu (hiperbola dikit biar seru). Nah, Kinabalu ini lebih tinggi daripada Rinjani di 4.095 mdpl.

Nah, mendaki Kinabalu, meskipun tingginya ga main-main, tapi nggak perlu jadi seven summiter dulu yang pengalamannya udah bertahun-tahun. Pendaki pemula yang doyan pantai macam saya ini pun bisa ternyata.

Tapi ya itu tadi, memang ada hal-hal yang harus dipersiapkan terlebih dahulu supaya pendakian lancar jaya tanpa hambatan berarti. Berikut tips-tips dan info dasaranya yaaa :

 

  • Berlatih fisik dari sebulan sebelumnya.

Nggak perlu yang heboh-heboh sampai jungkir balik dan angkat beban, tapi cobalah untuk jogging secara teratur karena otot jantung yang baik benar-benar menolong saat trekking di ketinggian. Selain itu juga otot paha dan betis yang baik juga diperlukan. Nah, jogging bisa memnuhi semua kebutuhan ini.

  • Daftar pendakian jauh-jauh hari.

Beda dengan gunung-gunung di Indonesia, Kinabalu membutuhkan ijin untuk mendakinya, karena memang hanya dibatasi 135 pendaki saja perhari. Semua ini karena keterbatasan tempat menginap di check point sebelum summit, juga untuk memudahkan pengawasan (mereka ketat banget masalah waktu untuk melewati gate-gate yang udah ditentukan), dan pastinya juga dengan membatasi jumlah pendaki mereka bisa lebih menjaga kebersihan dan keindahan alamnya. Jadi jangan buang sampah sembarangnan yaa.. Sebaiknya menggunakan jasa travel yang terpercaya seperti Basecamp Adventure yang bisa membantu mengurus semua perijinan dan lain-lain.

  • Bawaan yang simple.

Enaknya mendaki gunung Kinabalu, bawaan kita nggak perlu heboh seperti membawa tenda, kompor atau sleeping bag yang biasanya lumayan menghabiskan volume dan bikin sakit pinggang. Mereka juga menyediakan porter yang biayanya tergantung berapa berat beban tas yang akan dibawa ( kemarin karena kita menghabiskan 2 malam di Laban rata harga porternya 13 RM per kilogram). Nah backpack yang kita bawa sendiri juga sebaiknya nggak lebih dari 6 kilo, berisi kebutuhan pribadi seperti jaket tambahan, windbreaker, jas ujan, makanan kecil dan tempat minum.

  • Free refill water

Ini dia yang lumayan bikin kaget : kita bisa mengisi ulang bekal minum kita di tiap pos yang jaraknya nggak terlalu jauh (paling jauh kayanya sekitar 900 an meter- 1000 m aja) dan isi ulang itu dari keran yang biasanya terletak di samping wc. Oya, kamar kecil juga tak perlu dikawatirkan karena tiap pos memiliki wc dengan air yang selalu tersedia. Jadi sediakan botol isi ulang yaaa.. bisa mengurangi sampah botol plastic juga jadinnya kan?

  • Be on time

Jaga pace jalan dengan stabil. Tak perlu cepat, yang penting tetap melangkah. Istirahat jangan terlalu lama, karena akan mendinginkan suhu tubuh dan untuk memulai lagi mendapatkan ritme bergerak yang stabil akan memakan waktu dan usaha lagi. Usahakan sampai di Laban Rata sebelum jam 7 malam sebelum resto tutup.

  • Persiapkan peralatan dengan baik

Sepatu.

Meskipun jalurnya sudah disediakan dengan baik, dibuatkan jalan dan tangga, bukan berarti kita bisa mendaki menggunakan sandal. Gunakanlah sepatu mendaki yang ringan dan juga tahan air. Sendal gunungnya nanti saja dipakai saat berada di guest house sebelum summit.

kinabalu_mountain_4
jalurnya beragam, mulai dari jalan tanah, tangga hingga batu-batu. Makanya penting untuk pakai sepatu yang nyaman.

Trekking pole

Yang gw tau dari Abex, jangan malu pake trekking pole kalau masih mau mendaki sampai 25 tahun kedepan. Kenapa? Karena tekanan pada lutut itu luar biasa besar, apalagi saat turun. Jangan takut dibilang kaya nenek-nenek naik gunung. Dan setelah gw ngalamin dan rasain sendiri saat menggunakan trekking pole, emang ngebantu banget! Plus nggak perlu malu karena sebagian besar turis pendaki yang mendaki disana juga menggunakan trekking pole (sstt.. kalo pake dua katanya bisa cepet ngurusin badan looh)

Head lamp

Head lamp ini akan menolong banget saat mendaki menjelang summit, dimana kedua tangan akan dibutuhkan untuk menggenggam tali. Yes, ada nada tali yang menolong para pendaki untuk mejaga keseimbangan diatara terpaan angin kencang.

penting! Guide yang bertanggung jawab untuk group kita bisa melarang kita meneruskan pendakian atau menyuruh kita turun apabila dilihat kurang persiapan atau sakit. 

kinabalu_mountain_1
penampakan rest house di Laban Rata, tempat kita ngaso sebelum muncak. Ada resto dan tempat tidur loooooh

Ok, tips2 nya sampai disini dulu. Posting blog berikutnya lebih ngebahas saat akan muncak di Kinabalu.

Enjoy videonya juga guys (english)

bersambung

Ombak Negri Sebrang

pose di gerbang depan istana raja Terengganu w/ Jeremy

Hutan neon 😀

berbagai macam nasi, ga ada yg ga enak

saya nyerah disini 😀 too much!

jus jagung

sate ikan

nasi grabu, warnanya menarik 🙂

ini yang buat temen2 hadir mulu di restoran cina

saat ombak lagi lucu2nya

saat ombaknya mulai sok lucu

Ferisha (mly)-Aynn (mly)-me-Ivy (Taiwan)

pemandangan dari balkon hotel

kapan lagi sampe bandara dikalungin bunga?

Travel budget!! Yak satu lagi keuntungan surfer, dibayar untuk melancong dan mencoba bermacam macam ombak, walaupun kali inipun dalam rangka kompetisi seri ASC ( Asian Surfing Champ ) tapi tak mengapa laah, mana mungkin ditolak.

Seperti biasa, saya harus berangkat sendiri dari Jakarta, sementara tim yang lain berangkat dari Bali, resiko anomali domisili bagi seorang surfer. Berangkat sendiri apalagi diharuskan pindah terminal saat transit selalu memberikan perasaan deg degan bagi saya, termasuk yang ini, ternyataa saat transit di Kuala Lumpur pun saya harus nyebrang perkebunan sawit untuk mencapai terminal KLIA dimana penerbangan domestik non AA berada. Tapi begitu bergabung dengan tim Quiksilver yang lain… legaaa.

Terengganu merupakan tujuan kami,  tepatnya Batu Burok beach, dimana Quiksilver Terengganu Best Event akan dilaksanakan. Well, ombaknya terlihat jauh lebih baik dari Desaru yang sama sama mengandalkan angin di musim moonsoon untuk membentuk ombaknya, bahkan hampir menyerupai Cimaja, solid dan bertenaga, walaupun tetaap yaa yang namanya beach break pasti close out pada akhirnya.

Jujur saya kaget juga setelah mengetahui Terengganu ternyata besar, bukannya merendahkan, di Indonesia kan super jarang tuh yang namanya kota dipinggir pantai yang punya spot surfing, selain Bali dan Padang ya.. kebanyakan hanya pedesaan atau memang daerah wisata yang terbentuk karena ditemukannya ombak terlebih dahulu. Dan lebih kaget juga, ternyata bir tidak dijual bebas disini! Walhasil kami bela belain makan di Chinesse food melulu demi bir dingin, ahh.. kapan saya coba masakan lokalnya dong?

Lumayan keras peraturan disini, nggak boleh sembarangan pakai bikini di pantai, bahkan boss saya yang surfing berbikini pun kena tegur, disuruh pakai kaos, saya pun ikutan melipir mencari kaos hehehe.. Nggak ada bioskop juga, dan poster poster bergambar kawula muda berdugem dengan wajah di blur disertai tulisan ‘Jauhi pergaulan bebas’ bertebaran dimana mana.. hmmmm sedikit mengingatkan saya pada Aceh, kampung halaman alm ayah.

Tapi pemdanya mendukung banget event ini, mereka melihat bahwa surfing sangat berpotensi untuk meningkatkan pariwisata di Terengganu, makanya hadiah kontes kali ini dobel, dari Quiksilver dan dari pemerintah daerah Terengganu, ah buat ngiler.. 😀

Pada hari hari kompetisi berlangsung tidak banyak yang bisa saya ceritakan selain kesan pada hari terakhir, hari dimana final semua divisi berlangsung, ombak naik sehingga pantai Batu Burok yang tadinya lucu menyenangkan berubah menjadi medan tempur yang berat! Ombak ombak dengan tinggi diatas kepala plius interval yang pendek pendek bukan hal yang menyenangkan untuk disamperin dan dimainkan.

Akhirnya, jam jam bebas saya pun tiba! Dengan hati bahagia saya pun minta diantar keliling keliling kota layaknya turis, mencoba berbagai masakan lokal, yang akhirnya kesampaian. Nasi dagang ( sejenis nasi uduk ), nasi minyak ( nasi dan kari ayam ) serta nasi kuning ( mirip banget nasi kuning biasa tapi lebih pekat peliket ) kami pesan semua dan saya coba semua. Bahkan nambah hehehe.. tak ketinggalan dua porsi kerupuk goreng dan jus jagung! hmmmm… Pusing pusing di kota walaupun di malam haripun tak mengapa, Jeremy dan Iddin bener bener menjadi tour guide yang baik. Bahkan saya dibelikan durian dan disuruh menghabiskan sendiri, nah ini baru nyerah!

link event:

http://www.youtube.com/watch?v=drXHQAA-Prk
http://www.youtube.com/watch?v=L6K-ZE28X9A
http://www.youtube.com/watch?v=0grwv4wOEls

Overseas Competition




Overseas Competition

Sepertinya ini kali pertama lagi bagi saya untuk melakukan perjalanan keluar Indonesia setelah sekian lama, coba diingat.. sekitar 14 tahun jaraknya. Dan dulu sepertinya tidak susah, saya selalu dibantu orang dewasa dan didampingi. Kali ini, saya harus melakukannya sendiri dengan undangan dari teman Singapore saya untuk melakukan perjalanan ke Sing dan Malaysia seorang diri dalam rangka menghadiri salah satu kontes surfing di Cherating, Malaysia.
I was so exited yet so nervous, ibu saya sudah mengingatkan untuk mengecek tanggal berlaku passport saya agar tidak kurang dari 6 bulan saat mengadakan perjalanan. Karena kelalaian saya lupa mengeceknya dan ketika tiba waktunya, sudah terlambat. Passport saya kurang dari 6 bulan, 4 bulan tepatnya! Dengan perasaan tak menentu, saya tetap nekad ke bandara.
Benar saja, mereka mempertanyakannya. Saya harus menandatangani surat pernyataan yang berisi bahwa saya tidak akan menuntut airlines yang bersangkutan apabila ternyata saya dideportasi sesampainya di Negara tujuan. Rintangan pertama selesai. Selanjutnya, ternyata nomor wajib pajak saya tidak sesusai dengan nama yang tertera di kartu NPWP. Alamat harus membayar 2 juta rupiah. Untungnya petugas yang memeriksa berbaik hati untuk membantu mencari di database dan hasilnya saya terdaftar sebagai pembayar pajak yang baik dengan nomor yang berbeda.
Begitu juga sesampainya di Singapore, saya memilih petugas imigrasi yang kelihatannya baik. Akhirnya saya lolos dan bisa masuk dengan sukses.Wah, saat itu rasanya senaang sekali! Teman saya sudah menunggu dengan sigap. Segera saja dia memandu saya menuju ke rumahnya untuk menaruh berbagai bawaan saya. Dan perjalanan ke rumahnya pun membuat saya terperangah, kita menggunakan trem, wow.. kok bisa ya bersih begini? Semua terasa seperti mainan, teratur dan sangat bersih.
Lingkungan dimana teman saya tinggal pun tidak kalah bersihnya, menurutnya ini cuma government flat, hmmm.. gimana yang privat flat ya? Singkat cerita kami berjalan jalan sepanjang orchad road yang terkenal itu, menghabiskan waktu malam itu sebelum berangkat menuju Malaysia keesokan harinya.
Tidak terlalu pagi lagi ketika kami meninggalkan Singapore keesokan harinya. Lagi lagi yang membuat saya takjub, terminal bisnya sangat jauh dari bayangan saya. Bersih! Oke, paling nggak saya senang tidak ada orang iseng yang sering kita temui di Jakarta. Perjalanan yang memakan waktu 7 jam benar benar tak terasa. Tapi halangan tiba pada saat harus berhadapan lagi dengan petugas imigrasi Malaysia, dengan passport saya yang bermasalah. Dengan trik menenteng nenteng papan surfing plus alasan kuat saya harus mengikuti kompetisi di Cherating, serta dijamin bakal pulang kembali ke Indonesia setelah semua selesa,i akhirnya berhasil juga saya menembusnya.
Setelah 7 jam perjalanan ditemani gossip dan ipod, kami tiba di Cherating! Akhirnya, sudah lama saya penasaran ingin melihat spot surfing di Malaysia ini yang katanya merupakan kebalikan dari Batu Karas. Setelah menaruh bawaan kami, tanpa menunggu lebih lama lagi kami langsung menyiapkan peralatan surfing dan menikmati sesi surfing sore hari.
Kondisi sangat memprihatinkan sore itu, ombak kecil dan sangat berangin. Tapi herannya kenapa yang surfing sangat banyak? Oya, ini menjelang kompetisi, pastinya mereka tetap berlatih dalam kondisi apapun. Saya bertemu dengan beberapa surfer girl local juga, calon kompetitor di kompetisi nanti. One of them is pretty good thou.. sepertinya saya mendapat lawan yang lumayan.
Kondisi pantai Cherating sendiri benar benar seperti Batu Karas, Jawa Barat. Dengan dasar pasir dan ombak yang lumayan mellow. Hanya saja point ini kiri. Hanya ada satu jalan utama dan di kiri kanan jalan berderet deret warung makan atau cottage, diselingin pepohonan kelapa. Suasana sangat menyenangkan disini.
Bangun dengan hati yang berdebar keesokan harinya, karena hari ini kompetisi resmi dimulai. Rupanya karena ombak yang masih terlalu kecil, woman division,belum akan mulai hari ini. Jadi sepanjang hari saya bisa sibuk mengambil foto foto kelas yang yang sudah mulai berkompetisi, seperti grommet dan men’s open. Wow, dengan kondisi seperti ini saya nggak bisa membayangkan para kontestan men’s open itu masih bisa menghasilkan beberapa spray, sepertinya hanya grommet yang bisa menikmatinya
Kompetisi Occy Grom Comp ini disponsori oleh Billabong, serunya eks surfer pro Occy juga hadir di kompetisi ini, memancing semua orang untuk berfoto dengannya.
Setelah air pasang sepenuhnya, kompetisi dihentikan. Maka kami bisa menikmati sesi free surf. Mengingat kondisi ombak yang sangat kecil saya dan teman saya memutuskan menggunakan longboard. Spertinya kami membuat iri semua orang sore itu, karena hanya kami yang bisa leluasa bolak balik mengambil ombak. Malam itu beberapa teman dari Singapore menyusul ke Cherating.
Akhirnya tibalah hari H itu. Hari ini woman’s division dimulai. Total kontestan yang mengikuti adalah 7 orang, lebih banyak 2 orang dari yang semula terdaftar. Baguslah, jadi kami bisa berkompetisi dalam 2 heat. Heat pertama terdiri dari 4 orang, salah satunya teman kami juga dari Singapore. Pertandingan terlihat tidak berimbang karena teman kami ini tampak menonjol dibandingkan dengan kontestan yang lain. Alhasil dia berhasil keluar menjadi pemenang dalam heatnya dan berhak maju ke final bersama satu orang surfer girl lain dari Malaysia.
Tibalah saatnya saya bertanding dalam heat kedua ini. Heat saya cuma berisi 3 orang, 1 orang local Cherating dan satu lagi surfer girl yang masih terbilang grommet. Satu hal yang saya khawatirkan. Lawan saya ini seorang goofy footer, dalam kata lain dia surfing mengadap ombak, yang memudahkan dia menentukan posisi dan melakukan trik. Lagi pula ia seorang local yang selalu surfing di point ini. Sementara saya seorang regular footer yang baru pertama berkompetisi di ombak kiri yang berarti saya harus membelakangi ombak. Well, apapun yang terjadi , saya memegang nasihat teman saya ini, ambil basic score sebanyak mungkin, ride sepanjang mungkin kemudian barulah cari set yang besar. Jangan lupa lots of drama, make some spray, at least try to make some spray ☺
Dan itulah yang saya lakukan. Setelah mengambil kurang lebih 5 ombak, heat saya pun berakhir. Menunggu dengan tegang, tapi saya yakin pasti bisa masuk ke final, karena surfer girl grommet itu bisa dibilang baru belajar. Ternyata, saya mendapat peringkat pertama di heat saya tadi. Yeah…
Makan malam hari ini pun berlangsung ramai dengan hadirnya teman teman dari Sing. Sebenarnya saya sedikit banyak bingung juga dengan dialek mereka, seperti bahasa inggris yang dicampur dengan logat cina, butuh usaha ekstra untuk mengartikannya. Tapi saya sangat menikmati trip ini, semua makanannya enak, local yang baik, teman teman yang bersemangat.Tapi malam itu saya mengalami heat stroke, terlalu banyak tersengat matahari. Sementara para kontestan ber party ria, saya harus menelan 2 butir obat penahan rasa sakit dan langsung tidur, sungguh rugi..
Untungnya saat bangun keesokan harinya, badan saya sangat segar karena jam tidur yang lumayan lama. Dibuka dengan menonton para kontestan pria berlaga serta sedikit deg degan, akhirnya tibalah giliran kami untuk maju di babak final. Dalam hati saya berjanji, saya harus merasa senang dan bersemangat di heat saya nanti, agar merasa seperti free surf dan tidak tegang.
Set tidak terlalu sering, saya tidak berani mengambil resiko untuk menunggu yang terbesar karena terbatas waktu. Berusaha mengambil ombak sebanyak mungkin dan sepanjang mungkin serta bermain sebersih mungkin, dalam artian saya berusaha tidak sneaking, drop in, blocking dan hal hal lain yang mengganggu. Saat itu terasa adanya arus yang membuat paddle balik ke posisi point terasa lebih berat. Sepertinya semua surfer girl melakukan yang terbaik, local Malaysia mendapatkan set terbesar, dan dia cukup charging. Teman saya dari Sing juga mendapatkan set yang bagus dan melakukan ride yang panjang. Semua bagus.
Berusaha tidak terlalu perduli dengan hasil dari heat tadi, saya bergabung dengan teman teman dan mengobrol hingga tiba saat nya hasil dituliskan para juri di papan pengumuman. Tidak satupun dari surfer girl bergerak untuk melihat, maka teman saya mewakili kami untuk melihatnya. Dan hasilnya.. Saya berhasil mendapatkan posisi pertama! Wow, benar benar moment yang membahagiakan. Rasanya puas sekali setelah melakukan perjalanan sejauh ini, menghadapi sekian banyak masalah imigrasi, dan mendapatkan hasil terbaik, thanks God!
Lega terlepas dari semua ketegangan, kami memutuskan menyambangi Cendo, point lefthander di utara Cherating, berjarak sekitar 15 menit berkendara.Saat itu sudah lumayan pasang dan angin pun lumayan kencang. Kondisi ini tidak memungkinan point Cendo untuk membentuk ombak terbaiknya, tapi kami tetap mencobanya. Walaupun ombak tidak terlalu bagus, tapi saya terhibur dengan pemandangan alamnya. Point ini dihiasi batu batu besar yang ditutupi hutan rimbun di sisinya. Karena kondisi yang tidak terlalu bagus kami tidak berlama lama di tempat ini dan segera kembali ke Cherating untuk penyerahan hadiah.
Sepertinya memang inilah moment yang sangat membahagiakan, sayang saya tidak membawa bendera, sementara para pemenang dari Maldives sudah mempersiapkan bendera mereka.. Yah paling nggak mereka menyebutkan asal Negara saya. Hadiah yang didapat semua berupa produk atau barang, termasuk untuk para juara pertama: Papan surfing!
Malam itu juga kami kembali ke Singapore dengan menumpang mobil salah satu teman kami. Lelah, tapi puas ☺
Hari bebas keesokan harinya saya isi dengan mencoba flow rider, wahana ombak buatan di Sentosa Island. Pada bidang landai disemburkan air dengan tekanan yang tinggi sehingga bisa digunakan oleh para boardrider menggunkakan papan tanpa fin. Wah, sepertinya saya tidak bisa menikmati permainan ini, saya tidak bisa bertahan lebih dari 2 menit setelah tali dilepas oleh instrukturnya.
Seharian itu saya menikmati hari terakhir saya di Singapore, ditutup dengan makan malam bersama teman teman baru saya. Benar benar pengalaman yang mengesankan, menyisakan janji untuk kembali lagi di tahun yang mendatang. Big big thanks for all my Sing friends ☺