6 things to do in Mentawai for non-surfer

Mentawai Surfing

Pasti deh kata itu yang langsung terpikir ya kalau denger kata Mentawai. Padahal nih ya, nggak selamanya di Mentawai itu kegiatannya kudu surfing belaka. Buktinya waktu terakhir gue kesana, cuma sempet surfng 3 kali doang gara-gara nggak ada ombak. Trus jadinya ngapain aja?

_MPS9221

• Sun Bathing

Mentawai punya pantai-pantai yang super indah. Pulau Awera yang gue kunjungi kemarin itu pasirnya super putih dan airnya bening. Seger banget deh untuk nyelup-nyelup imut sambil foto-foto. Jangan lupa pakai pelindung yaaa.. maksudnya pakai sunscreen dan kacamata hitam biar makin heiiits.

GOPR7117-1

• Snorkling

Kata siapa Mentawai cuma punya ombak. Nih gue dah buktiin sendiri kalau spot snorklingnya juga oke. Yang harus diperhatikan adalah arusnya, karena memang dengan ombak-ombaknya yang besar, beberapa spot lumayan berarus. Lumayan buat latihan otot paha.

_MPS9005-1

 

• Membaca

Taruh gadget kamu, dan nikmati ‘me time’ dengan membaca di hammock yang bisa dipasang dimanapun. Akhirnya buku yang udah dibeli bulan lalu bisa dibaca juga heheh.. jangan lupa juga bawa Ocean Melody mu 😀

_MPS9019-1

• Yoga

Sekarang ini udah banyak temen-temen yang nyari lokasi alami untuk beryoga di alam terbuka, selingan yang menyenangkan untuk yang biasanya yoga di indoor. Rasanya lebih menyatu dengan alam. Kebayang nggak tuh waktu lagi pernapasan mejemin mata, kulit terbelai angin sepoi-sepoi dan telinga dimanjakan dengan suara deburan air. Damai.

GOPR6975-1

• Mancing

Siap-siap deh bawa joran, atau paling nggak benang pancing dan kailnya. Lumayan kan kalau bisa makan malam dengan hasil jerih payah sendiri 😀

_MPS9071-1

GOPR6997-1

• Kuliner lokal

Semakin aneh semakin seru. Kemarin gue sempet melihat pembuatan Cubet, makanan lokal yang katanya sih udah semakin jarang ditemukan. Pembuatannya cukup sederhana :

  • Pisang dan tales dikupas dan direbus hingga lunak.
  • Setelah itu keduanya diulek dengan ulekan guedeee yang terbuat dari kayu atau batang kelapa yang disebut lulak.
  • Untuk memberikan rasa gurih ditambahkan parutan daging kelapa, ditempelkan ke seluruh badan cubet yang telah dibentuk menjadi bola-bola kecil.

Katanya sih dinikmati dengan gulai juga enak loh, tapi kemarin gue hanya menikmatinya dengan segelas kopi hangat, dan matahari terbenam yang super indah 🙂

Thanks to Villa Toska yang udah ngundang kita main-main kesana

All pic from @pinneng

more info ttg lokasi ini cek aja IG @binu_octa

7 small things you need to pack with you

WP_20150126_16_22_03_Pro
doodle by me 🙂

Kadang benda kecil yang terlihat remeh, ternyata mempunyai peranan yang sangat penting. Kadang pula benda-benda itu membuat kita tak perlu membawa benda yang mempunyai fungsi sejenis dengan ukuran yang jauh lebih besar, meskipun lebih familiar.

Seringkali trip-trip surfing atau kerjaan saya mengharuskan saya membawa benda-benda yang kadang nggak terpikirkan, tapi selaras dengan jam terbang, pengalaman  mengajari saya apa yang penting untuk disertakan. Benda-benda ini mungkin memang nggak akan berguna bagi orang lain , tapi siapa tau aja yang tadinya nggak kepikiran jadi mendapatkan solusi dari tulisan ini.

Sometimes small things help alot during trips. However it’s better to bring something smalll with similar function than same stuff with bigger volume.

My surf trips or any work trips allow me to record all the experience during the trip, so I can share it later in my blog or my webisode. These small things really helps.

• Lakban
Fungsi utama bagi saya adalah pertolongan pertama pada surfboard yang rusak/robek. Saat hanya membawa satu surfboard atau tidak ada ding repair, lakban ini sangat menolong untuk mencegah masuknya air laut lebih lanjut, sehingga surfboard tersebut masih bisa dipergunakan.

Fungsi berikutnya, untuk merekatkan apa saja yang sekiranya butuh pengaman lebih. Misal : merekatkan tali pengaman go pro pada board, merekatkan restleting travel bag saat lupa membawa gembok atau cable ties. Memang mudah dijebol tapi melakukan itu seakan-akan mengklaim wilayah privasi kita.

• Duct tape
For me, the main function is to cover all surfboard dings, epsecially when I bring only one board or there is no any ding repair around.
The other function is to attach anything that need high secure priority. Ex : To hold the go pro rope to the surfboard, or to wrap together my travel bags zipper head when I forget to bring the lock, I know it’s not totally secure but I do this just to keep my privacy borders.

• Perpanjangan kabel
Saat bepergian, biasanya di kamar hotel/penginapan itu hanya ada satu colokan, sementara gadget sudah menggunung dan semua membutuhkan asupan energi. Membawa sendiri perpanjangan kabel dengan beberapa lubang akan sangat menolong.

• Power cable extension
During trip, mostly the room only have one power outlet, with a buch of gadgets needed to be charged, power extension with extra outlets will help.

• Media Transmitter
Ada saatnya pada trip-trip pendek kita males membawa laptop yang memang lebih beresiko. Tapi selalu ada aja moment dimana teman yang membawa kamera bisa mengshare foto-foto/video seru yang bisa kita ambil. Nah media transmitter yang dapat mentransfer file pada memory card / flash disk ke memory card / flash disk / smartphone kita melalui wifi yang hanya sebesar hape, bisa melakukannya dengan mudah. Cukup mengisntall apps yang diperlukan pada smartphone/tab, dan pindah-pindah/memilih data dapat dilakukan dengan mudah.

• Media transmitter
In short trip, bring a portable comp sometimes cost to much space, and it’s heavy too. But we don’t want to miss any of cool photographs from our friends gadget. Media transmitter will allows you to transmit the file between flash disk/sd card throough your smartphone/tab and vice versa by wifi connection. Just install the apps to your gadget to operate.

• Media penyimpanan data
bisa berupa portable external hardisk yang kecil dan ringkas, flash disk atau SD Card. Jangan sampai memory di kamera kita habis sementara trip belum berakhir. Atau footage keren dari temen nggak bisa hijrah ke kita, jadinya kalau share kudu pake #throwback doong.

• Data storage
It can be a portable hardisk, flash disk or SD card. Don’t let lack of memory bother your pleasure during the trip. Also no excuse that you cant get some cool footages from friend.

• Keyboard
Saya bukan orang yang selalu menulis saat trip, tapi ada saatnya pula kita akan kelebihan waktu dan dapat memanfaatkannya dengan menulis (apalagi kalau kehabisa bacaan). Jika memang nggak bawa laptop, bawa saja wireless keyboard, yang dapat terhubung pada smartphone / tab, sehingga nulis dimana pun nggak masalah jadinya. Ringan.

I’m not an always-writing-person during trip, but there’s time when you have too much time without noting to do and writing clould be a perfect choice ( especially if you already finished all your books). Wireless keyboard that connected to your tab or smartphone will helps you writing in proper.

• Waterproof cam / smartphone housing.
Main air kan kudu ada buktinya juga 😀

Playing in the water always fun to shoot.

• Token internet banking
Percayalah.. ini ada aja kok gunanya, paling nggak.. nggak akan kelewatan bayar listrik.

When you are away from home, and there’s financial thing to take care, this internet banking token can be a perfect solution ( or just install the mobile banking apps).

7 tips mendaki gunung

IMG_8914
pic by Atre

Kenapa pula anak (yang yang biasanya ke) pantai ini ikut-ikutan mendaki gunung? Jangan sirik jangan sebel kalau saya tiba-tiba diajak naik gunung Tambora (Yak betul!! Tambora!) bareng Gilang, Atre, Giri dan bang Dede dalam rangka memproduksi film ‘Tambora, Trail of Ancestor’ yang sering woro wiri di sosial media dengan hesteg #TamboraToA.

Ini kedua kalnya gue naik gunung, Sebagai pendaki amatir, gue punya daftar pendakian yang ‘gaya’ deh. GImana nggak gaya coba, gunung pertama gue itu Rinjani. Kata orang-orang sih Rinjadi itu susah, capek, punya banyak bukit penyesalan pulak, tapi indah banget sih.

Tapi gue gagal muncak. Hiks. Lupakanlah.

Jadi, kabar baiknya, karena ini proses pembuatan film, naik gunungnya juga bisa di-setting. Maksudnya, nggak perlu beneran jalan dari gerbang bawah Doroncanga, berjam-jam di bawah terik matahari, di tengah sengatan angin dingin, tapi bisa pakai mobil 4X4 sampai di pos terakhir. Curang? ya nggak juga, bintang pelm nya bisa keburu lemes nggak bisa akting doong begitu nyampe di puncak hehehe.. #alesan.

Dengan sumringah gue melewati trek panjang selama kurang lebih 3 jam dari gerbang, melewati pos 1, pos 2, hingga ke pos 3, lokasi dimana kami dapat mendirikan tenda di sebelah sebuah bale-bale yang dibangun… hanya dengan pegal pantat dan punggung karena desak-desakan di dalam mobil. Sembari sedikit-sedikit menggigil diterpa angin semriwing.. Enteng, nggak terlalu dingin.

Sejam kemudian, gue harus menarik kata-kata ‘enteng-nggak-dingin’ tadi, digantikan dengan empat lapis baju hangat! Sekilas kayanya penampilan gue udah mirip maskot ban Mischelin deh. Mau gerak susah, mau ngambil gelas kaku karena seluruh jari-jari gue rapi terbungkus sarung tangan. Mau dengerin orang ngobrol juga susah karena kuping gue tertutup rapat pake kupluk. Pokoknya udah nggak ketebak wujudnya.

Begitu selesai makan malam dan tenda berdiri dengan doyongnya ditengah hembusan angin kecang yang tak ada habisnya, gue dengan sukacita merangkak masuk, membungkus diri dengan sleeping bag gue yang dulu kata bokap isinya tuh bulu angsa. Enyaaakk..

Niatan muncak pukul 2 subuh bergeser jadi pukul 7 pagi. Horeeeee…

Baru saja kaki melangkah beberapa meter, napas sudah ngos-ngosan. Jangan kira karena biasa main di laut, kegulung ombak, terus jadi jagoan naik gunungnya. Beda cerita itu. #ngeles.

Intinya banyak pelajaran yang bisa dibagian menjadi beberapa tips penting yang harus diketahui saat naik gunung. Nih:

Gemala 920_20141017_17_20_13_Pro__highres
mobil ajaib kami. Nisa manjat-manjat batu, yang banyak bertebaran sepanjang pos1 hingga 3.

• Jangan pakai celana jeans. Berasa keren sih iya, tapi selain kelihatan ‘bukan anak gunung’-nya, jeans juga harus dihindari karena beberapa alasan: berat dan kalau basah ya makin berat dan susak kering. Terus kan pastinya celana jeansnya yang model terkini doong, dengan potongan yang lumayan ngepas ( masa iya pake baggy) naah, jadi mudah lecet tuh.

• Gunakan otot besar saat melangkah. Ini penting banget ternyata untuk menghindari keluhan ‘Aduh lututku..’ Ini sih nggak terbatas usia loh yaa. Mentang-mentang masih muda terus semena-mena dengan lutut. Lagian otot yang menahan lutut itu lebih kecil. Coba saat berjalan atau saat akan melangkah ke bidang yang lebih tinggi, bayangkan pakai otot paha dan pantat. Anggap saja lagi latihan squat. Cewe-cewe pasti doyan nih, bisa membentuk bokong jadi sexy 😀

• Bawa cemilan. Lupakan diet! Tubuh perlu energi. Snack, kopi, teh bakalan nikmat banget kalau dinikmati di atas. Saat kehabisan makanan juga tenaga, cobalah mengulum sesendok gula. It’s help!

• Perlengkapan bagus dan benar sangat menolong. Pilih ransel yang memang diperuntukkan untuk outdoor, biasanya titik beratnya pas banget tuh, nggak ngeberatin satu titik secara berlebihan

• Nggak usah gengsi untuk minta berhenti beristirahat. Toh nggak dikejar debt collector kan?

• Minum secukupnya saja untuk menghapus rasa kering di tenggorokan. Kalau kepenuhan males jalan nanti.

• Nikmati pemandangan, dan isi paru-paru sepuas mungkin!

IMG_9012
Kalau istirahatnya begini, pasti malas untuk lanjut lagi. Pemandangannya terlalu indah sih.

Gemala 920_20141018_08_03_13_Pro__highres

IMG_9136
Tips terakhir : Jangan lupa selfie kalo nggak ada yang bisa bantu foto. Kalo ada yang fotoin sih, duduk manis aja. Cheers!

Perempuan Keren Trans TV

Program yang membahas kesuksesan para perempuan modern Indonesia dan inspiratif. Selain sukses secara pribadi, para perempuan ini juga peduli pada sesama. Kesuksesan mereka bisa menjadi inspirasi bagi seluruh perempuan di Indonesia untuk berani bermimpi besar dan bekerja keras dalam mewujudkan mimpinya. Program ini akan dipandu oleh Irgi Fahrezi selama 30 menit dan meliput kegiatan dan prestasi dari para perempuan keren Indonesia.

Ocean Melody – tentang cerita di atas ombak

Screen Shot 2014-11-15 at 11.09.24 AM

Penulis: Gemala Hanafiah

Ukuran: 14 x 20 cm
Tebal: 282 hlm
Penerbit: GagasMedia
ISBN: 979-780-756-8
Harga: Rp53.000,-

“Liburan semester nanti kita mau ngapain, nih?” tanya Ganis.
“Iya, nih, jangan hunting foto lagi, ah. Jangan melakukan hal yang bisa kita lakukan di saat weekend biasa,” sahut saya.
“Gimana kalau kita belajar surfing!” tiba-tiba Eci melontarkan usulnya.
Kami saling pandang. Surfing benar-benar jauh dari bayangan kami saat itu.
“Emang siapa yang sudah pernah belajar surfing? Ada yang yang tahu surfing di mana?” Dengan penuh keraguan saya bertanya.
“Nggak ada! Makanya, yuk, kita coba!”
“Yuk!” Semangat itu langsung menular.
Saya tidak pernah menyangka hidup saya akan berubah hanya karena percakapan singkat tadi. Percakapan yang membawa saya pada sebuah perjalanan. Perjalanan yang membuat saya semakin jatuh cinta pada keindahan Indonesia. Perjalanan yang akhirnya membuat saya berkata, Thank God, I Surf!

==

Gemala Hanafiah telah menjuarai berbagai kompetisi surfing di antaranya 1st Occy’s Grom Comp Malaysia 2010, 3rd Indonesia Surfing Competition 2010, dan 3rd Asian Surfing Competition 2013. Lewat Ocean Melody, Gemala mengajak kita bertualang menikmati pantai dari ujung barat hingga timur Indonesia yang sungguh menakjubkan.

“Ini adalah cerita proses seorang manusia menemukan jati dirinya melalui alam, bukan proses instan sekadar terlihat keren. Dan mimpi adalah kenyataan yang harus diperjuangkan.”
—Riyanni Djangkaru, editor in Chief Divemag Indonesia & host Jejak Petualang.

“Ocean Melody sukses bikin gue mau menjadi seorang pemburu ombak!
—Petra Jebraw, host Jalan-Jalan Men.

Untuk pemesanan online:

• Akun @republikfiski

• www.bukabuku.com

I Surf Lakey

Pic by @atre7 and me

“Ada pantai yang ombaknya terpanjang di Indonesia tadi Oma nonton di berita.. namanya, sebentar Oma lupa.. Lakey. Kamu sudah kesana?”

“Itu di Sumbawa, Nusa Tenggara Barat ya..” Wuih Oma gue jagoan. Kalo dipuji jawabannya :

“Kan diajarkan di sekolah Belanda dulu..” Iya deh ..

Pertanyaan favorit dari seorang Oma yang doyan banget nonton berita itu selalu dilemparkannya setiap kali gue main ke rumahnya. Oma sekarang sudah nggak ada. Tapi pertanyaannya itu terus hidup di alam pikiran gue.

Teriknya sengatan matahari dan bau garam segera saja mengepung setelah gue turun dari mobil. Pantai Lakey terbentang di depan mata. Teman-teman dari tim Tambora Trail of Ancestor sih udah pada ngacir ngadem kabeh.

“Oh ini pantai yang Oma selalu ceritakan itu.” Antara takjub dan terharu, siapa sangka gue bakal bisa menginjakkan kaki ke pantai ini. Meskipun kunjungan ini bagian dari pekerjaan, rasa haru tetap bertahan.

Ombak peak yang berarti pecahnya ke dua arah, kiri dan kanan terus bergulung di depan menara yang sengaja dibangun sebagai tower juri saat dilaksanakannya pertandingan surfing. Lakey memang langganan menjadi tuan rumah berbagai pertandingan bertaraf nasional maupun internasional.

Sepanjang mata memandang pasir coklat muda diselingi bebatuan atau karang tampak menyebar disana sini. Deretan surf camp tempat para turis surfer menginap berjajar eksotis di sepanjang bibir pantainya, menyelak diantara pepohonan kelapa.

Semua orang harus rela berjalan cukup jauh sebelum dapat mencapai point dimana ombak pecah. Saat yang paling tepatpun antara mid-high tide. Surut is a big no no for this site. Apalagi ombak kanannya yang lebih dangkal notabene lebih keras bahkan di saat air pasang sekalipun.

It’s time to surf.

Paddle dan duduk memandang gulungan ombak yang dating tanpa hentipun memberikan sensasi menggelitik tersendiri. Bagi gue, point yang baru pertama kali gue surfing-I selalu menyisakan rasa takut dan penasaran yang pembagian persennya tidak pasti. Kadang lebih pada rasa takut, kadang penasaran. Dalam hal ini karena penampakan ombaknya cukup massive gue lebih ke takut. Apalagi belum tau kekuatannya.

Surfer yang terlihat tidak banyak. Hanya berkisar 5-6 orang saja. Semua tampak tangguh dan paddle lumayan jauh di depan gue. Menunggu set-set besar. Ah.. gue coba yang sedeng-sedeng dulu aja deh. Yang gede-gede kabur manis-manja-gemulai dulu.

Ombak kiri pertama yang gue ambil setelah mengumpulkan keberanian dan kecuekan masuk ke dalam impact zone berjalan mulus meskipun rasanya tidak terlalu panjang. Cepat kempes nih alias wallnya nggak terlalu berdiri.

Saya memutuskan mencoba sisi sebelah kanan. Wuih seru banget ya bisa mondar mandir coba dua arah dengan mudanya. Ombak kanan lebih terlihat melengkung dengan dasar yang juga lebih dangkal. Lebih cepat juga pastinya. Gue berusaha memposisikan diri sebaik mungkin, Karena tampaknya akan sulit untuk take off kalau terlalu dalam posisinya. Hingga saatnya ombak yang pas dating, gue segera mengambil posisi paddle dan mengayuh sekuat tenaga. Hmmm.. latihan TRX yang belakang gue lakuin ternyata oke juga ya. Paddle jadi kuat nih.

Saat dorongan itu terasa.. POP! Gue langsung loncat berdiri dan wooooww… I love this wave! Meskipun tidak terlalu panjang tapi gue suka tenaga dan speed ombak ini! Ulang lagi aaaaahh….

Eh ternyata.. niat hanyalah tinggal niat semata. Kok baliknya susah banget yaaaah? Ini tiap kali duckdive dan paddle bukannya makin ke depan tapi malah makin mundur… hadooohhhh.. ternyata arusnya lumayan sodara-sodara! Harus rela melipir manis ke pinggir dulu baru mencoba lagi paddle masuk lewat sebelah kanan tower, lokasi dimana ombak kiri berada. Yo mas.. oke deh.

Pulang-pulang kaki gue penuh dengan baret-baret batu dan karang mati, tapi hati gue mengembang bahagia. Meski hanya 1 jam saja #tsah.

lovely sunset at Lakey peak
lovely sunset at Lakey peak
IMG_9242
“All talent standby… camera roll, action!”
IMG_9245
ucup, gue dan Yan si lokal Lakey lagi pose
panas ya bang? :D
panas ya bang? 😀
IMG_9277
Can you spot the tower i told you?
pengarahan dari sang sutradara sebelum kami direlakan masuk ke air
pengarahan dari sang sutradara sebelum kami direlakan masuk ke air

i’m in a playgound

Panaitan journey part 1

Panaitan journey part 2

“Lah ombaknya serem semua dong?”

“Nggak juga sih, meskipun sebagian besar emang serius.” Ini jawaban yang gw ingat waktu bertanya-tanya dulu tentang ombak Panaitan. Besar dan barrel, itu dulu imej saya tentang ombak-ombak yang ada, pokoknya serba mengerikan apalagi untuk kami-kami yang selalu merindukan ombak lembut yang bisa membelai, bukannya menggerus.

Tapi ternyata tidak begitu saudara-saudara.. mari kita bahas satu-satu ombak yang ada.

One Palm Point

Diberi nama One Palm atau Kalapa Satu, karena dulu di depan point terdapat pohon kelapa sebiji berdiri gagah, yang belakangan hanya terlihat batangnya saja. Kemana daunnya? entah..

Ombak ini yang paling mashyur di Panaitan. Paling rajin hadir di majalah-majalah surfing mancanegara karena bentuknya yang sempurna. Barrel besar ke arah kiri, dengan dasar karang yang dangkal. Untuk gw sih deskripsi ini membuat bulu kuduk berdiri. Beberapa video yang gw tonton memperlihatkan surfer yang berada di dalam barrel, dan mereka PUMPING! bahkan saking cepatnya ombak ini di dalam terowongan air itupun kudu ngejar speed. wiwiwiwi.. Walhasil pada trip kali ini hanya Kang Dede Suryana dan Leo Hermawan sajalah yang nyemplung dan menjajal ombak beken ini. oiya, dan guide kami si Cenglus dari Carita yang notabene lokal Panaitan. Sisanya? sibuk berteriak-teriak seru setiap kali mereka berhasil keluar dari barrel sembari berfoto-foto dengan tongsis.

barrel

tongsis

Napalm

Bergeser sedikit ke arah dalam, adiknya One Palm point ini sama-sama keren dan sangarnya. Tapi lagi-lagi mang Dede membuatnya tampak seperti playground. Bolak-balik mengambil ombak dan main rumah-rumahan di dalam barrel. Leo dan David juga tak mau ketinggalan. Mereka segera menyusul Dede, dan lagi-lagi kami harus menahan napas melihat late take off yang disengaja dari Dede. Ombak begini kok dibuat main-main… edian.

Screen Shot 2014-06-16 at 9.08.56 PM

 

Pussy

Waaaks!! Nama macam apa ini?

Bukan salah gw kalo dari pertama kali ke Panaitan, spot ini sudah bernama kingky begini. Entah apa yang memicu si pemberi nama, tapi ombak Pussy atau Inside Left emang jadi favorit anak-anak Jakarta. Ombak kiri panjang sexy yang rasanya eunaaaak banget ini memang jarang mengecewakan, dengan catatan arah angin dan ukuran swell harus pas. Seperti One Palm dan Napalm, Pussy juga bagus di dry season.

Take off nya mudah, bahunya cukup berdiri. Bahu apaan? Ya bahu ombak pastinyaaaa.. Nah kalau belum tau artinya kudu belajar anatomi ombak lagi. Satu lagi di point ini, kondisi dasarnya cukup dalam. Tidak perlu takut mencium karang saat wipe out.

Inget banget waktu Race, salah seorang temen dari Jakarta yang teriak-teriak setelah selesai mengambil ombak pertamanya di Pussy ” Enaaakkk… enaaakkk!!” Nah begitulah gambaran ke-enakannya.

Panaitan2
bawa kamera sendiri sambil surfing, siap2 rahang pegel kerena bawanya digigit 😀

 

_MPS4917-2

 

Selesai dengan genk ombak kiri kami bergeser ke sisi teluk yang berada di seberangnya. Sisi yang satu ini dipenuhi dengan ombak kanan, arah yang berlawanan. Musim yang bagus pun sebenarnya berlawanan juga ,yaitu wet season. Kali ini hanya satu point yang kami coba:

Indicator

Karena musim yang kurang pas, maka saat kami menjajalnya pun keadaan rada-rada chopy atau goyang. Ombak kanan yang menyenangnkan sebenarnya, kalau kata mang Dede mirip-mirip Canggu right atau Keramas tapi tidak terlalu berat dan barrel. Sekali lagi, menyaksikan ia mengambil semua set-set besar semudah memutuskan beli jajanan ke sebrang jalan itu bener-bener bikin sirik dan mupeng.

Set-set berdatangan, dan membuat kami sedikit galau antara menghindari buihnya karena keburu close out, dan kembali memposisikan diri ke bagian dalam untuk menyambut set-set medium berikutnya.Satu ombak yang berhasil gw bawa menghantar secara langsung ke jajaran karang datar di depannyak karena telat dibuang.Walhasil gw bediri dengan air hanya sedengkul sementara buih-buih terus berdatangan.

Nggak.. gw nggak mau injek karang, selain nggak boleh juga sakit kaleeee…!

_MPS4681
Yak ini dia yang namanya 3 in 1

bersambung.

More info

jakarta – Tanjung Lesung atau Sumur melewati tol Merak

Untuk penyewaan perahu bisa menghubungi Jahri 081910895538,

rate perhari 1.500.000 ideal untuk jumlah penumpang max 6 orang.

Makanan yang bisa dibeikan oleh ABK :beras, minyak, aqua. Selebihnya senbaiknya belanja sendiri sesuai kebutuhan. Mereka bisa memasak untuk kita.

Jika mampunyai sleeping bag atau matras tipis ada baiknya dibawa karena tidak semua orang akan kebagian tidur di dalam kabin, harus siap untuk tidur di luar juga.

How to manage your fear

go big, it's fun..
go big, it’s fun..

Hari pertama kembali surfing setelah sekitar 1,5 bulan ‘cuti’ ombak, selalu membuat exciting sekaligus juga sedikit deg-degan.

” gede loh, Al ombaknya..”

” wah iya.. ” cuma jawaban itu yang bisa keluar dari mulut saya, tercengang melihat ukuran dari ombak Nembrala yang sebentar lagi akan saya surfing-i. Hari pertama dan kebetulan swell besar. Mau gimana lagi. Saya nggak punya banyak waktu untuk surfing karena tinggal di Jakarta.

‘Lo punya rasa takut ga? Gimana cara mengatasinya?” ini pertanyaan yang sering saya terima saat interview atau ngobrol dengan orang lain yang baru tau kalau saya ketagihan surfing.

Bukan berarti mentang-mentang saya seorang surfer dan sudah nggak punya rasa takut lagi. Kalau kata orang-orang, rasa takut adakah mekanisme menjaga diri yang alami, alias rem alami yang sudah built ini pada diri manusia yang berfungsi untuk menjaganya dari tindakan berbahaya yang dapat merugikan individu tersebut.

Saya juga pernah sampai tidak bisa tidur karena harus melakukan cave dive keesokan harinya, dan untuk mengakuinya rasanya gengsi banget! Padahal gengsi itu tidak perlu. Sebaiknya memang kita jujur dan mengutarakan ketakutan kita pada partner jalan atau orang yang akan bertanggung jawab pada keselamatan kita, demi kebaikan diri sendiri juga.

Saat mengalamai rasa takut itu, ada beberapa cara yang biasanya saya coba:

• Terlebih dahulu berusaha mengenali medan, baik itu lokasi surfing maupun lokasi diving dengan cara bertanya pada orang yang memang telah terbiasa berada di lokasi tersebut. Mereka tentunya lebih kenal kondisi lapangan.

• Perkirakan kemampuan kita untuk menghadapi kondisi tersebut. Untuk urusan surfing, banyak hal bisa kita antisipasi sebelumnya, mulai dari membaca tinggi ombak di internet, mengetahui kondisi saat pasang surut, arah arus dll. Karena pada satu lokasi sekalipun, jika elemen-elemen tadi berubah, kondisinya juga akan sangat berbeda. Begitu juga diving dan olah raga lainnya.

• Kalau kondisi sudah sesuai dengan kemampuan, bukan mustahil rasa takut langsung hilang. Pastinya masih tersisa, apalagi jika kondisi yang harus dihadapi terpampang di depan mata. Langkah berikutnya adalah coba berbicara pada diri sendiri. ” Gila, gue beruntung banget bisa alami ini.” ” Thanks God, ini indah banget.” atau ” Time to have some fun!” adalah beberapa kalimat yang sering saya pikirkan untuk membangkitkan semangat dan rasa syukur. Dengan merasa senang dan bersemangat, rasa takut biasanya perlahan akan hilang.

• Rasakan dulu hal yang terburuk. Setelah wipe out sekali di ombak besar, biasanya kita akan menjadi lebih berani, karena toh kita telah berhasil selamat melewati hal yang terburuk yg kita takuti. Asal hati-hati juga jangan sampe terlalu ceroboh dan menghajar karang misalnya. Itu sih pasti langsung balik ke pantai 🙂

• Bernyanyi dalam hati. Ini juga sering saya lakukan, terutama saat diving dalam atau masuk goa, karena saya nggak terlalu nyaman dengan kondisi gelap. Rasanya seperti makin tak berdaya. Tapi dengan mendendangkan lagu-lagu yang saya suka, suasana hati juga biasanya ikut berubah.

Rasa takut itu perlu, tapi jangan juga sampai menghalangi kita, sadari dan gunakan sebijaksana mungkin, serta nikmati kondisi menantang yang ada di depan mata.

So, accept your fear, its a good thing

via WordPress for Phone http://goo.gl/j6Fzhf