Beautiful Ling Al beach – Alor

Sesi diving kami telah selesai. Beberpa hari diving di Alor, dan sekarang waktunya menikmati hari ‘libur’ sebelum kembali ke kota masing-masing esok hari.

Ling Al

Nama ini sudah saya dengar berkali-kali sejak tiba di Alor. Penasaran? Tentu saja. Maka sekaranglah waktunya untuk mengunjungi lokasi yang sedang naik daun ini.

Kapal kayu yang kami sewa berangkat pukul 8.30, dari pelabuhan di Alor Kecil, terlambat satu jam dari jadwal sebelumnya. Terik matahari menaungi perjalanan kami. Setelah melewati selat antara Alor kecil dan pulau Pura, daratan secara konsisten berada disebelah kiri kami, pertanda kami menuju kearah selatan teluk Kalabahi.

IMG_5525

IMG_5412

Perjalanan hanya memakan waktu sekitar 1-1,5 jam saja. Tidak terasa. Dan mendadak kami semua telah sampai di teluk pantai LingAl yang luar biasa indah. Dari jauh telah terlihat bentangan pasir putih sejauh 3 kilometer.

Mendekati daratan, air laut berubah warna menjadi biru muda, bergradasi semakin muda hingga menjadi putih sempurna saat kaki kami menginjak daratan. Luar biasa!

Pose wajib yang harus dilakukan di pantai LingAl ini justru berada diatas bukit. Harus sedikit rela untuk trekking selama kurang lebih 20-30 menit. Tergantung kecepatan berjalan masing-masing. Tapi hasilnya dijamin tidak akan mengecewakan.
IMG_5557 (1)Kebingungan sempat dirasakan para teman-teman diver yang sudah terlebih dahulu terbius keindahan alam bawah laut Alor yang luar biasa,

“trus nanti kita ngapain aja? Masa cuma di pantai doang?”

“Bisa snorkling nggak?”

Rupanya kekawatiran itu nggak berasalan, kami nggak kehabisa kegiatan disini. Selain berfoto-foto, kami juga beruntung dapat meminjam sebuah perahu kayu milik anak-anak setempat. Mereka juga dengan senang hati bermain-main bersama kami.

IMG_5560

IMG_5559


IMG_5580

IMG_5577

Well, para diver maupun non-diver yang berkunjung ke Alor, sempatkan main ke pantai LingAl yaaahh.

Tips

• Bawalah makanan dan minuman sendiri, karena tidak ada warung ataupun rumah penduduk di area pantai ini.

• Alat snorkling wajib juga untuk dibawa serta. Pada satu bagian pantai yang  tepat berada di bawah tebing, dasar laut dihiasi karang-karang. Terdapat juga ikan-ikan beraneka ragam. Perlu diingat jangan snorkling terlalu dekat karang karena surge (gerakan mengayun akibat gelombang) yang lumayan terasa ketika berada didekat karang-karang tersebut.

• Jangan membiasakan diri untuk memberikan uang pada anak-anak kecil yang ikut bermain, lebih baik berikan makanan atau alat tulis / buku. Selain lebih bermanfaat juga sebaiknya tidak mendidik mereka untuk meminta uang pada turis.

• bawalah kembali sampah, jangan ditinggalkan di pantai atau dibuang ke laut.

Info 

Pelabuhan Alor Kecil berjarak kurang lebih 14 kilo dari kota Kalabahi.

Harga sewa perahu dihitung 100.000 /  perorang atau kalau harga menyesuaikan jika penumpang lebih sedikit.

Tiap hari sabtu ada saja relawan yang berkunjung ke LIngAl untuk bermain dan belajar bersama anak-anak setempat. Feel free to join ya.

Lokasi

lingal

Untuk informasi jam keberangkatan perahu hubungi Facebok Page Zoom ALor

Never miss any interesting story by following this blog

<a class=”wordpress-follow-button” href=”http://en.blog.wordpress.com” data-blog=”http://en.blog.wordpress.com” data-lang=”en”>Follow WordPress.com News on WordPress.com</a>
(function(d){var f = d.getElementsByTagName(‘SCRIPT’)[0], p = d.createElement(‘SCRIPT’);p.type = ‘text/javascript’;p.async = true;p.src = ‘//widgets.wp.com/platform.js’;f.parentNode.insertBefore(p,f);}(document));

The Mission in Alor

It is a mission

… A book.

A book with beautiful Alor underwater scenery and creatures. Yup, kali ini tim Wet Traveler mendapat tugas mulia untuk menyebarkan keindahan Alor pada dunia luar.

Alor, kepulauan yang terletak di utara pulau Timor, bisa dicapai hanya dengan 40 menit terbang dari Kupang. Beberapa tahun terakhir ini memang cukup naik daun dan rame dikunjungi para diver baik dari luar maupun domestik. Visibilitynya yang setali tiga uang dengan aquariumlah, selain juga warna-warni coralnya yang bikin kalap, menjadi kemewahan yang selalu dapat dinikmati disini.

Beberapa kali mengunjungi Alor dan sempet share cerita juga disini dan disini, kali ini gue kabagian jadi model untuk para fotografer dan juga megang kamera. Hal yang paling sulit dilakukan setelah semua ini usai : memilih footage untuk video hahahaha.. soalnya semua terlihat bagus! Nggak kebayang sih bagian penyortiran foto untuk bukunya, pasti lebih pusing lagi ( baca : Pinneng )

Well, cerita selanjutnya silakan dinikmati dalam bentuk audio visual dalam Wet Traveler #GoDiscover Alor yaah :

Bubu Seksi

pi by William Tan
pic by William Tan

“Belum diving di Alor kalau belum liat Bubu, trus potoan ama Bubu..”

“If you diving in Alor, Bubu is amust to see.. and also take picture with it.”

Sampai segitunya ke-beken-an sang Bubu yang memang banyak dijumpai di Alor, Nusa Tenggara Timur. Benda bundar yang dijalin dari rotan ini akirnya berubah fungsi di mata para diver, tempat foto-foto dan juga objek foto unik khas daerah Timur Indonesia.

Bubu is very famous and easy to find in Alor, Nusa Tenggara Timur. This round object made by rattan, has another function for divers. An object to get captured with also favorite object for photographers.

Apalagi dibarengi dengan air super bening bin visibility mantap yang merupakan hal standar yang biasa aja di Alor, karena sepanjang tahun ya begitu itu kondisinya. Bubu sendiri merupakan traditional fishtrap yang telah digunakan masyarakat Alor sejak dulu. Lubang kecil di tengahnya, memungkinkan seekor ikan karang untuk menyelinap masuk dengan manjanya, tapi ruang luas di dalamnya membuat sang ikan tersebut susah menemukan lubang keluar yang sempit tersebut. Jadilah mereka hanya berenang berputar-putar di dalam Bubu sampai seorang nelayan mengangkatnya.

The super clear water with high visibility in Alor is a normal. All year. Bubu is a traditional fishtrap that had been used for years by Alor people. The small hole in the middle let fishes slip easily, but the big room inside makes them swim around and hard to find the way out.

Terletak di kedalaman yang berbeda-beda dari yang cuma 5 meter hingga 20 an meter memungkinan mereka memanen ikan yang berbeda-beda sesuai selera. Tapi nih yaa, kerennya para nelayan tersebut hanya mengambil ikan sesuai kebutuhan mereka saja. Kalau lebih atau ada ikan yang tidak akan dikonsusmi? Mereka dilepas kembali ke laut. Salut!

Located in some different depth from 5 to 20’s meter, makes the fishermans can catch a various kind of reef fish that suit to their need. How about if they catch too much or get something that they can’t e at? The released it back to the ocean.

Hal ini juga yang membuat Alor tetap terjaga keasriannya selama bertahun-tahun. Kalian diving disini hari ini atau sepuluh tahun yang lalu, kondisinya sama-sama bagus karena semua masyaraktnya menyadari pentignya mereka menjaga terumbu karang yang merupakan rumah para ikan. Jadi mencari ikan tidak perlu jauh-jauh, Kakaaak.. di depan rumah sa 😀

It also makes Alor can keep it sustainability for years. You dive here now or ten years before, the condition is not change. Alor people realize that they need to keep the coral reef in good condition, and this make them easy to catch fishes.

Tapi bukan berarti kita para turis diver boleh seenaknya ngutak-ngutik Bubu dan karang disekitar mereka yaaa. Yang punya hak istimewa itu hanyalah para warga lokal yang berkepentingan. Kita? Nikmati dan manjakanlah mata kita dengan Bubu yang keren dan seksi kalau difoto itu.

Doesn’t mean we, the tourist, can touch or replacs the Bubu and reefs besides it. Let it become local people’s privilege. Our job is only to enjoy and indulge our eyes with the beauty and uniqueness of the Bubu.

Seorang bapak yang setelah mengajar pada pagi harinya, memanen hasil Bubu untuk makan keluarganya. Pic by Pinneng.
Seorang bapak yang setelah mengajar pada pagi harinya, memanen hasil Bubu untuk makan keluarganya. Pic by Pinneng.
bubu_2
Pose disamping Bubu is a must! pic by Dewi Wilaisono

Al in Alor part2 – bagian ke 2

<!– /* Font Definitions */ @font-face {font-family:Wingdings; panose-1:5 2 1 2 1 8 4 8 7 8; mso-font-charset:2; mso-generic-font-family:auto; mso-font-pitch:variable; mso-font-signature:0 0 65536 0 -2147483648 0;} @font-face {font-family:Cambria; panose-1:2 4 5 3 5 4 6 3 2 4; mso-font-charset:0; mso-generic-font-family:auto; mso-font-pitch:variable; mso-font-signature:3 0 0 0 1 0;} /* Style Definitions */ p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal {mso-style-parent:""; margin:0in; margin-bottom:.0001pt; mso-pagination:widow-orphan; font-size:12.0pt; font-family:"Times New Roman"; mso-ascii-font-family:Cambria; mso-ascii-theme-font:minor-latin; mso-fareast-font-family:Cambria; mso-fareast-theme-font:minor-latin; mso-hansi-font-family:Cambria; mso-hansi-theme-font:minor-latin; mso-bidi-font-family:"Times New Roman"; mso-bidi-theme-font:minor-bidi;} @page Section1 {size:8.5in 11.0in; margin:1.0in 1.25in 1.0in 1.25in; mso-header-margin:.5in; mso-footer-margin:.5in; mso-paper-source:0;} div.Section1 {page:Section1;} –>

all pic. by Pinneng
Bagi yang belum baca Bagian 1

Berasa baca cerpen nggak sih 😀
Berasa masih pagi buta ketika Pak Dono ( panggilan sayang Donovan) membangunkan kami semua dengan gedoran mesranya yang stereo pada pintu kamar. Dengan mata masih kriyep-kriyep saya bersiap untuk diving trip hari ini. Kacamata hitam dan sunblock pasti dibawa, hmmmm.. kamera? Ah teman-teman banyak yang membawa kamera plus housing underwater plus lagi strobe, amaaann ( pikiran narsis bekerja)
Usai sarapan perjalanan dimulai, paling nggak membutuhkan waktu satu jam untuk sampai pada titik penyelaman yang pertama di hari kedua ini, Fish Bowl. Setelah pengecekan arus dilakukan, Dono menyuruh kami semua untuk bersiap siap. Entah kenapa saya selalu merasa tegang setiap persiapan dive yang pertama, dan takut kalau airnya dingin, maklumlah… gadis tropis J

Fish Bowl merupakan slope, dan pada hari ini sepertinya lumayan berarus. Saya merasa lumayan kesulitan dengan buoyancy kali ini, apa karena pakai wetsuit double? Yang pasti selama penyelaman kali ini, gaya nungging merupakan gaya andalan saya. Gimana nggak? Sekalinya saya memutarkan kepala, yang ada bawaannya mau naik ke permukaan terus, kan rugi….
Selain ngebut drifting, kami juga ketemu dengan Triggerfish yang demen kejar-kejaran dengan diver, tapi kalaupun kali ini ngejar, saya yakin, dengan bantuan turbo dari arus, kabur dipastikan bisa super cepat J
Penyelaman kedua, kami dibawa ke salah satu dari Top Five versi Dono, Kal’s Dream. Jeng jeeeng… yang saya tau disini arusnya heboooh. Daaan, diliat dari posisinya yang terbuka di tengah begini, darat terasa jauh serta ada arus yang terlihat menggelegak, saya benar-benar ngerasa sakit perut. Ketika semua bersiap siap turun pun, saya memutuskan untuk menambah pemberat satu kilo lagi. Nggak mau ambil resiko harus nungging-nungging di Cal’s Dream
Briefing menegangkan pun dimulai, singkat saja: bersiap merangkak kalau dibutuhkan… Glek.
Turunlah kami semua, dan… memang merangkak, mencari pegangan di celah karang langsung dibutuhkan. Memilah milih tempat berpegangan sambil menarik tubuh untuk maju, seru juga ternyata.. Ternyata pegangan itu tidak lama dibutuhkan, karena saat berikutnya arus menghilang dan kami dapat menikmatinya tanpa berjuang.
Coral padat berwarna warni, ikan ikan yang sibuk berseliweran kesana kemari, sampai berasa di pasar. Kami menyelam sampai di kedalaman 32m, tapi sayangnya ketika itu kami tidak bertemu dengan ikan tuna sepanjang 2 meter yang katanya sering terlihat disana. Hmmmm… alasan untuk kembali lagi rupanya.
Sebagai gantinya kami sempat melihat seekor penyu yang dengan santainya melayang-layang dari kedalaman, menuju hampir lurus kearah saya tapi kenapa dia harus berbelok? Padahal sudah ge-er mau disamperin penyu.
Saat naik untuk melakukan safety stop, kami harus berpegangan pada seutas tali karena dibagian tersebut arus cukup kencang. Kalau sampai lolos mengincar tali tersebut… wah, bakalan harus berjuang sekuat kaki mengayuh untuk kembali pada tali itu. Tapi teteeeup, wlaupun harus fokus berpengan pada tali saat safety stop, acara foto-foto tetap nggak ketinggalan.
Penyelaman ketiga pada hari kedua inipun dilakukan di titik yang menurut Dono, termasuk Top Five pilihan dia.  Mike’s Delight. Yang seru kami dibawa melewati dua batu besar pada kedalaman 20-an meter, daaaan kami juga melihat reef shark dari kejauhan, sepertinya black tip. Dia nggak ada niat untuk mendekati kami sama sekali, yak saya yakin kami nggak terlihat lezat baginya J Selain itu terlihat juga penyu dan dan Barracuda ketika kami menuju tempat yang lebih dangkal. Dan ketika waktunya untuk safety stop kami disuguhi schooling Surgeon Fish yang dapat didekati tanpa membuat mereka bubar.
Seakan moment berikutnya sudah diatur, seorang bapak nelayan setempat dengan kacamata kayunya ikut berenang dan menyelam bersama saya saat saya akan menyudahi sesi penyelaman terakhir hari ini. Wow!! Benar benar moment yang menyenangkan, sang bapak mau diajak berfoto bersama, ternyata jiwa narsis kami nyambung hahahahaha…
Hari berikutnya datang dengan cepat, istirahat semalam seakan tak cukup lama selama dive trip di Alor dengan segudang jadwal divingnya. Hari ini kami menuju daerah yang terletak lebih ke selatan, lebih terekspose arus dingin dari bawah. Jeng jeng… inilah ketakutan saya selama ini, air dingiiinnn!!!
Satu persatu turun, dan saya berusaha memperhatikan mimik muka mereka, seberapa kedinginankah mereka. Dan ketika tiba waktunya teman yang saya lupa asalnya, tapi yang pasti Negara Eropa yang harusnya sudah terbiasa dengan suhu dingin, mengerutkan muka karena kedinginan, saya benar-benar pasrah…
Berbekal wetsuit dobuble, akhirnya saya memberanikan diri turun di Slab City. Saat itu benar benar tenang, tidak berarus, dan suasana dibawah berasa di aquarium dengan beragam coral dan ikan ikan kecil berwarna warni berseliweran ceria. Damai sekali. Saking damainya, tidak perlu banyak bergerak mempertahankan posisi, sehingga air dingin makin terasa. Entah berapa kali saya pipis di dalam wetsuit ( sssst.. jangan bilang-bilang).
Hal menarik pertama yang kami temukan adalah Sea Apple, binatang laut yang masih saudara dengan timun laut, berbentuk bundar menggemaskan dengan tentakel di kepalanya yang berfungsi menangkap plankton dari air di sekelilingnya dan membawanya ke mulut yang terletak tepat di tengah atasnya.
Berikutnya kami melihat tiga ekor eagle ray bermain di kejauhan, saling mengitari dan segera menjauh begitu melihat grup kami.  Tidak lama kemudian, giliran Sea Snake yang kami temukan, Warnanya yang belang-belang hitam putih demikian mencolok, mustahil untuk melewatkannya. Meskipun bisa nya mematikan, tapi sea snake ini pemalu serta lumayan imut mukanya dengan ukuran mulutnya yang kecil. Tetap ya, nggak dianjurkan untuk mengganggunya.. kalau dia sensi kan gawat.
Semua memuji site dive ini, semua setuju kalau melakukan penyelaman disini rasanya seperti didalam aquarium versi raksasa. Saya setuju banget, diluar kulit keriput yang kedinginan tentunya..
Penyelaman selanjutnya adalah Cathedral. Dono benar benar serius dalam briefnya kali ini, semua harus berkumpul dulu, masuk pada saat yang bersamaan, kapal tidak bisa terlalu dekat dengan titik penyelaman yang sangat mepet tebing. Karena dari sinilah kami akan turun kedalam gua dengan kedalaman 18 meter, dan keluar lagi di pintu lain di 24 meter. Terdengar menyenangkan, dan inilah kami semua berkumpul sebelum bersama sama turun..
Saya sempat kaget karena ada pemberat yang tiba-tiba melayang. Belum habis rasa kaget itu, pemberat lain kembali jatuh, tepat disamping kepala saya. Wah gawat, seseorang kehilangan dua pemberatnya, dan benar saja, begitu saya melihat keatas, seseorang sedang  jungkir balik bersama Dono. Singkat cerita kami semua berhasil turun dengan selamat.
Langsung menuju mulut gua, cukup terang sehingga tidak perlu membawa senter, saya melihat seekor reef shark, seekor white tip, merasa terganggu tidur siangnya dengan kehadiran kami. Ia terlihat gelisah dan mondar mandir di pojok ‘kamar’nya mencari celah untuk kabur, yang cukup sulit rupanya dengan jumlah penyelam demikian banyak. Tapi begitu ia mendapatkan kesempatan itu, pada celah yang kecil sekalipun, dan celah itu terletak diatas kepala teman kami yang cuma bisa tercengang dengan kamera di tangan saat sang hiu melesat.
Di pintu keluar, rombongan sweet lips sudah menunggu dan mondar mandir, tapi segera bubar begitu kami keluar. Mengitari pintu gua menuju wall yang sangat indah, bergantungan elephant ears dimana mana, bisa ditebak sendirilah dari namanya bagaimana bentuknya. Tapi dari sekian banyak elephant ears, ada satu yang saya perhatikan, karena di yang satu terdapat Hermit crab berjalan pelan ke ujungnya. Saya penasaran apa yang terjadi kalau sang crab tetap berjalan, apakah ia akan terjun bebas ke dasar jurang dibawah saya? Akhirnya ia mencapai ujung elephant ear, dan…. Ia berbalik saudara-saudara!!! Tontonan selesai..
Sisa penyelaman hari itu tentu saja banyak kami habiskan pula dengan foto foto, di bawah air. Dengan jari telunjuk dan ibu jari disatukan, sementara schooling ikan ikan kecil diatas kepala kami menjadi background yang pas!
Tamat – untuk saat ini hehehehe…

AL in ALor part 2

 

 

bagian pertama
Dendam terbalaskan, saya kembali ke Alor membawa sejuta harapan untuk akhirnya bisa diving setelah kunjungan pertama gagal total nyebur, dan hanya bisa dipuaskan dengan celup celup badan. Dalam tiga hari kedepan, saya nggak mau setengah setengah menikmatinya, banzaaaiii!!!
Hari pertama kami cek dive di Sebanjar, saya sudah siap siap dengan reputasi dingin di Alor, mengenakan wetsuit atasan setebal 1mm dilapis wetsuit full 3mm, hmm Robocop is in da houseee 😀 Ternyata begitu nyebur, tidak separah yang saya duga. Sebanjar ini merupakan slope, dan ketika itu kita sedikit melakukan drift dive, ngikut arus biar nggak cape.
Tanpa disadari dive pertama saya ini juga merupakan dive terdalam saya, 40m!! Konon katanya, di Alor ini memang suka nggak kerasa kalau kita dive lumayan dalam, karena visibility nya yang super jauh, matahari tembus hingga jauh pula. Yang tadinya saya bergidik kalau dengar cerita orang dive dalem dalem, sekarang bisa dialami sendiriiii  😀 Pada dive pertama di hari pertama ini, saya menemukan coral berbentuk brokoli berwarna pink, namanya Spiky soft coral yang mengingatkan saya akan tumis brokoli bawang, tapi nge-punk
Dive kedua saya melepaskan satu lapisan wetsuit 1mm ( belagu mentang mentang nggak terlalu dingin ). It’s Babylon time!! Saya yakin nama Babylon ini didapatkan karena bentuknya yang mirip taman gantung di Babylon. Nggak salah wall yang ber-trap2 ini memang indah banget, seafan dengan mudah dapat ditemukan dimana mana.
Dengan berakhirnya sesi dive kedua ini, berarti waktu makan siang telah tiba, salah satu moment favorit saya setelah kedinginan dibawah. Belum habis makanan di piring, ratusan dolphin memanggil manggil dari kejauhan! Ratusan Dolphin bermain dalam beberapa kelompok, dan seakan akan tau sedang ditonton, beberapa yang centil melakukan loncatan loncatan, yang memang membuat kami teriak teriak gemas. Apalagi kalau moment tersebut telat tertangkap kamera, teriakannya semakin keras…. “Yaaaaaaahhhh!!!”
Dive berikutnya,Mirror Image, saya melakukan sedikit kegilaan, dive hanya dengan kostum bikini saja..
Kontan semua peserta yang lain bengong “Are you serious?” “Only wearing bikini?”pertanyaan pertanyaan yang buat ngeri juga sih, apalagi saya termasuk masih kurang berpengalaman soal selam menyelam ini. Tapi demi kepentingan dapat foto unik, hayolah! 😀
Brrrrr….. dingin juga yaa.. untung perasaan itu hanya bertahan beberapa saat saja, dan pada menit menit berikutnya saya sangat menikmati kulit yang terkekspose terkena belaian air laut, saya merasa ringan, bebas, dan pastinya sexy! Cuma yang harus diingat, hati hati kalau harus berpose dekat dengan karang atau tumbuhan laut, salah salah malah tersengat dan gatal gatal.
Slope berganti menjadi wall yang cantik di kanan saya, seliweran diantara diver yang berpakaian lengkap seru rasanya. Malahan ketika saya menyudahi sesi diving ketiga ini, setelah menaruh tabung dan teman temannya, saya kembali melakukan freedive, masih dengan bikini belaka, menyamperi fotografer yang sedang safety stop di 5 meter. Narsis yang tak terbendung J
Perjalanan kembali menuju teluk Kalabahi diisi dengan leyeh leyeh menambah tingkat kegelapan kulit diatas dek ( maaf ya pak kapten, selamat bertugas 😀 ) Rencananya malam ini kami akan melakukan nite dive. Okey.. heeei, apa kabar saya si bontot yang masih open water ini? Rupanya para dive master tidak merasa ada masalah dengan segala kemampuan yang saya kerahkan sekuat tenaga, OK! Saya boleh ikutan.
Begitu matahari terbenam, kami bersiap siap. Bohong kalau saya nggak merasa tegang, walaupun saya nggak punya masalah ruang sempit, tapi tetap menegangkan juga, selain saya takut kedinginan. Pertamina Pier, tempat yang dipilih untuk melakukan nite dive kali ini. Kami harus menyusur dari kedalaman 5m sampai ujung dermaga sekitar 17 m, dan kemudian naik kembali. Terdengar mudah. Ternyata di dalam, saya benar benar bingung dan buta arah. Hanya mengikuti lampu senter yang lain.
Alangkah banyaknya yang saya temui dibawah sana, mulai dari si pemalu Thorny seahorse, kemudian dikagetkan oleh Flounder Fish atau ikan sebelah yang saya kira pasir belaka karena seluruh badannya kecuali matanya tertutup pasir. Mendekati tiang tiang dermaga, semakin banyak yang bisa dilihat, Udang udang berwarna merah, yang berwarna kuning orange sedikit lebih lincah dan berlompatan, Big Cowry yang berbulu menggemaskan, serta nudie bongsor Pleurobranchus Forskali yang berukuran sekitar 10 cm, jauh lebih besar dari nudi yang saya kenal selama ini selalu lekat dengan kesan imut. Bergeser ke pasir, menemukan baby Crocodile Fish dan Pipe Fish. Uniknya Pipe Fish ini benar benar rombongan sekampung, dan semuanya tampil diatas batu. Saking banyaknya, beberapa tergeser jatuh tersenggol arus atau Pipe Fish lainnya.

Walaupun sisa udara masih ada, rasa dingin juga yang mengharuskan saya naik menyudahi hari ini, apalagi terbanyang coklat panas menanti diatas boat. Jadilah saya naik dengan badan yang mengigil nyaris tak terkendali tapi hati bahagia, dinaungi bintang langit Timur Indonesia,  hari pertama di Alor pun berakhir J

bersambung ke bagian ke-2

Al in Alor

Biasanya kalau dapet jadwal penerbangan pertama berasa dihukum bangun subuh, tapi kali ini bahkan sebelum alarm bunyi juga udah loncat duluan. Masalahnya destinasi kali ini adalah ke Alor, yang namanya sudah saya dengar bertahun belakangan karena keseriusan bupatinya mengembangkan segi pariwisatanya, belum lagi ‘mitos’ di kalangan diver yang heboh dengan visibility nya.

Setelah transit di Kupang, penerbangan dilanjutkan ke Alor, dan dari atas saya bisa melihat garis pantainya yang tanpa pasir, kebanyakan tebing tebing, membuat saya membayangkan wall yang ada dibawahnya.

Mendarat di Bandara Mali, kami langsung disambut angkot super meriah dengan stiker stiker ‘mengigit’ serta sound system super heboh. Rata rata di bagian Timur ini memang seperti itu, semakin heboh semakin gaul 🙂 mengingatkan saya pada angkot di Manado juga…

makin rame makin asoy 😀

Mas Dono, panggilan sayang buat Donovan yang jadi emak kita semua disana, udah menyiapkan segalanya, mulai dari penginapan sampai ke makanan besar dan kecil, serta semua trip diving selama di Alor.

Hari pertama meluncur kelaut, saya benar benar harus berusaha menjaga mimik muka, kampungannya jadi mendesak muncul kalau melihat pemandangan super bagus, maunya rahang terbuka terus… Memang susah untuk nggak kagum dengan apa yang terpapar di muka ini, lautan tenang di dalam teluk Kalabahi, dataran yang sayup sayup tertutup kabut pagi, matahari bersinar dengan cerahnya.. yang kau butuhkan adalah handuk alas berjemur dan sun block 🙂

kabut pagi masih menggantung

cant ask for more..

blue water, blue sky
Aiiih.. oom2 ini kok chating tapi seblah2an 😀

Ketika tiba saatnya kami semua bersiap di dive site pertama, terjadilah musibah yang membuat saya nggak bisa meneruskan kegiatan diving dan harus puas cuma bertemu mantri rumah sakit untuk menuntaskan 4  jahitan di kepala, sakitnya nggak seberapa, tapi sedih karena batal divingnya jauh lebih perih daripada jahitan itu ( mulai dangdut mode on )

Rupanya dengan tidak bisanya saya nyelup ke air untuk sementara, memberikan kesempatan lain untuk menyambangi pasar lokal yang beken dengan jagung tembaknya ( mengingatkan pada kompor meleduknya Benyamin ). Biji jagung dimasukkan kedalam tempat besi yang berbentuk seperti meriam kecil, dipanaskan sampai pegas di belakangnya menunjukkan tekanan tertentu, karung disiapkan di depannya, setelah diputar terbuka tutupnya,  meledaklah brodong jagung kedalamnya disertai bunyi mengejutkan. Mereka biasa menjualnya antara 1/2 kilo dan 1 kilo yang artinya.. banyak sekali buat menemani nonton dvd serial tv 3 season.

Selain itu Mama Mama dengan suara bersemangat menawarkan daun pepaya dan cabe kerdil super pedas, beberapa dagangan yang tidak lazim. Sayangnya bulan2 ini belum musim mangga kelapa, yang dari namanya aja kita bisa membayangkan ukuran buah mangga tersebut. Tapi memang saya kagum banget dengan semangat para ibu ibu yang jualan di pasar ini, mereka punnya power suara yang bisa menggetarkan hati 😉

Rupanya bukan Ibu2 saja yang bersemangat, penduduk lokalnya baik anak-anak maupun remajanya sangat spontan menyapa atau berekspresi, terasa saat saya menjelajah menyusuri garis pantai, panggilan mister ( seperti mengucapkan mister yang berarti penggaris ) sapaan khas yang nggak mengenal jenis kelamin, baik cowo atau cewe hajar dengan ‘mister’ semua 🙂

Urusan makanan, bagian favorit sepanjang masa, didominasi oleh ikan ikanan, ditemani sambal Lu’at yang membuatku megap megap kepedesan tapi nggak berhenti nambah terus sambelnya. Belum kopinya yang super hitam, serasa baru menadah oli yang sekian bulan nggak diganti, tapi rasanya nikmat..

walaupun saya harus menutup cerita tentang Alor disini, tapi tugas belum selesai, karena saya belum diving disana, saya harus balik lagi supaya bisa cerita lebih lengkap mengenai dive site yang berjumlah puluhan itu.. #kode ;))

si hitam manis 🙂
the whole crew.. berasa liliput, salah posisi -__-