Surfing Aceh

Gue, Yudi dan temen2 surfer lokal Aceh sesaat sblm basah :D
Gue, Yudi dan temen2 surfer lokal Aceh sesaat sblm basah 😀

Semua yang nanggung itu cuma bikin penasaran.

Dan ini yang gw rasakan selama 6 tahun! Astaga, nggak kerasa ya. Sudah 6 tahun yang lalu sejak kunjungan terakhir gw ke Aceh, tepatnya ke Lhoknga untuk surfing yang itupun hanya dibatasi 2 jam! Nggak lebih, atau mbak reporter pasang muka masam, semasam ketek gue yang nggak mandi 2 jam (buset dah). Dan kamu tau kaan, kalo surfing cuma 2 jam mah boro-boro puas.. yang ada malah tambah penasaran.

Tapi siang itu, gw kembali berdiri dengan gagahnya di atas boat yang mengantar gw dan teman-teman lokal menuju point left. emmm.. berdirinya nggak pake tangan terbentang ala-ala Titanic sih. Tapi perasaannya seromantis itu pasti, melihat ombak bergulung sempurna dari jauh.

Ombak Left
Ombak Left

Point pertama yang dicoba itu : Left

Hmmmm, ini yang kasih nama bener-bener nggak mau susah deh. Emang ombaknya ngarah ke kiri sih. Dan karena gw mainnya pas lagi surut, jadilah ombaknya barrel-barrel sepanjang masa. Para lokal bolak balik keluar masuk terowongan, bikin sirik. Sampai satu saat gw bener-bener penasaran pengen nyobain barrel juga disini, dan pada saat ombak datang dengan sekuat tenaga dan sepenuh jiwa raga gw paddle dengan maksud hati mau coba pose keren di terowongan ombak seperti mereka, e tapi…. begitu take off, sok-sok grab rail (memegang bagian samping papan agar stabil) sembari menekukkan salah satu kaki dengan muka serius dan pastinya sedikit monyong…

..dan langsung kegulung. Sekian.

Tapi untuk yang suka ombak cepat dan barrel, left ini tempatnya. Inget yaa.. saat surut. Pada saat pasang karakter ombak berubah jadi rada mellow dan menyenangkan.

kata siapa di laut kaga bisa selfie :D
kata siapa di laut kaga bisa selfie 😀

Lokasi kedua yang dicoba adalah : A Frame

Bukan… bukan seperti bingkai lukisan gitu.. tapi karena ombaknya bisa dipakai ke kiri dan kanan, jadinya seperti huruf A. Naaah, ini lebih keras nih karakternya. Boro-boro gue berani main saat surut. Tau diri lah. Jadi dengan senang hari gw nunggu sampe rada pasang. Dan ambil yang ke arah kanan. Meskipun nggak terlalu panjang, tapi nikmeh tiada tara! Indah!

Nigh tips-tips untuk surfing di Aceh:

1. Musim yang cuco adalah saat musim hujan sampai menjelang bulan Mei. Anginnya offshore.

2. Semua surfer lokal dan tamu-tamu disini super ramah. Karena itu jangan ngelujak dan jadi greedy ya! Tetap hargai dan junjung tinggi etika main surfingmu. Jangan ngedrop dan ambil ombak terus-terusan tanpa peduli giliran orang lain,

3. Jangan surfing hanya dengan bikini aja ( Iyaaa.. ini tips buat, chewed, surfer cowo ga usah ge er deh), dulu sih gw ga boleh juga pake celana yang terlalu pendek, tapi sekarang mereka udah lebih nyante kok. toh polisi syariah nggak sampe tengah laut hehehe.

4. Jangan lupa pesen kopi Aceh! Wajib itu hukumnya.

5. Buat para diver, sok atuh mangga nyobain divingnya ke Weh or Sabang yaaa.

6. Dari Banda Aceh ke Lhoknga itu cuma 30 menitan, deket banget, Bisa sewa mobil untuk nganter, dan nantinya bisa sewa motor untuk muter2.

7. Penginapan yang rekomended itu di Yudi’s Place so lo bisa tanya2 kapan saat2 yang bagus.

And thanks to Garuda Indonesia for make it all happened :)))

tulisan gue tentang Surfing Lhoknga juga bisa diliat disini dan video surfing Lhoknga bakal masuk di serial Wet Traveler.. uhuuyyy!!!!

_MPS7032
sunset di pantai Lhoknga

Kopi Kaus Kaki

Kopi sareng, bisa dinikmati panas atau dingin
Kopi sareng, bisa dinikmati panas atau dingin

English version scroll down

Jangan protes!

Hehehe, entah kenapa kopi saring Aceh itu dalam benak gue selalu kecampur dengan image kaos kaki. Saringannya yang super panjang itu membuat kopi Aceh nggak cuma nikmat dinikamti saja, tapi seru untuk ditonton pembuatannya.

Warung kopi di Aceh itu udah menjadi bagian dari budaya mereka. Sebelum kerja, ngupi.. jam istirahat, ngupi.. abis makan, ngupi.. meeting mulai dari yang bahas proyek milyaran, ngomongin batu akik sampai bahas harga terasi juga sambil nongkrong di warung kopi. Nggak heran kalo warung kopi menjamur di Aceh.

Kopi digodok terus menerus dan baru akan disaring saat ada pemesan, membuat kopi Aceh kaya akan rasa. Favorit gue namanya kopi sareng, yaitu kopi hitam yang dicampur sedikit susu. Nama bekennya sih kopi susu.

Tapi tau nggak nama sareng itu berasal dari mana? Ternyata ada singkatannya : Sama-sama ngerti. Nah lo.. kok bisa ya? Ternyata jaman dulunya (meskipun nggak dulu-dulu amat sih), para mahasiswa yang nongkrong di warung kopi ini pengen menikmati sesuatu yang lebih bergizi, maka mereka minta si penjual kopi menyampur kopinya dengan susu.

Supaya nggak rugi, susu yang dicampur hanya sedikit, kira-kira 1/8 gelas. tapi itu sudah cukup. Pas malah! dengan masih dominannya rasa kopi, masih ada pait2 nya justru bikin kopi Sareng ini makin ngangenin! Buktinya sambil nulis ini aja gue sambil ngiler-ngiler pengen kopi sareng lagi… glek.

tried to hold the sieve, it was heavy!
tried to hold the sieve, it was heavy!

English

For me, Aceh coffee always remind me of sock! the sieve they used to filter the coffee powder makes Aceh coffee not just perfect to enjoy but also fun to watch the making.

Warung kopi (traditional coffee shop) in Aceh are part of their culture since years ago. They go to warung kopi before work, during rest time, meeting for project, or just gossiping around. No wonder there’re thousand of warung kopi in Aceh. You can order one small glass of coffee and sits for hours.

Coffee was boiled continuously, and get sieved when somebody ordered the coffee. That’s the reason Aceh coffee is so rich of flavour. My fav one is kopi Sareng, the black one mixed with small amount of milk. Can be enjoyed cold or hot.

Sareng is a short from : Sama-sama ngerti (understand each other). This unique name come from the students who want to order something different. So they ask the shopman to mix the coffee with milk. To make it cheap, the shopman only pour milk 1/8 part of the glass. But apparently, this make the taste even better. It still has a bitter but also sweet.

Once you tried kopi sanger, you will never forget it! 

pic  capturde from video from Pinneng during production of Wet Traveler documentary .

Incredible diving Sabang

aceh1

Kalau kamu suka kopi dan diving, Aceh cocok berarti. Terutama Sabang.

Di hari-hari pertama saya kembali mengunjungi Aceh, 3 warung kopi langsung saya lalap habis! Suasananya yang gaduh, obrolan ringan soal sekolah, politik hingga gosipin harga batu akik terdengar riuh di telinga.  Rasa dan  kekentalan kopi sareng yang menemani saya saat itu.. Ah.. semuanya saya suka.

Begitu pula dengan divingnya. Ujung terbarat Indonesia ini memang menawarkan keindahan bawah laut yang sudah nggak perlu diragukan lagi. Sabang.

If you love coffee and diving, Aceh is just perfect, espesially Sabang. 

On my fist day in Aceh, I visited 3 coffe shops! I love the atmosphere, chats among students, politics reviews or just talking bullshit about gems’ quality and price ( the gem stones are very hip now in Indonesia). I love them all.

So is the diving. The most west dive spot in Indonesia offering the beauty of underwater, no doubt about it.

IMG_1999
Kopi sareng, my fav!
Screen Shot 2015-03-30 at 9.05.24 PM
I tried to hold the ‘saring’ but… it was so heavy!! They have this unique way to make the coffee, the higher you hold the ‘saring’, the better is the result.

Sabang sendiri udah punya julukan beken : SAntai BANGet, yup suasana disini emang pas banget buat leyeh-leyeh. Malahan terdapat kampung bule di pantai Iboih yang beken diantara backpacker. Makanya nggak semua yang datang kemari adalah diver, karena tanpa diving pun kita bisa menikmati alamnya.

Nggak sendiri, saya menyambangi Sabang bareng Pinneng yang memang sudah lama bercita-cita melengkapi koleksi foto underwaternya dari ke-empat pejuru mata angin Indonesia. Karena keterbatasan waktu, kami harus memilih titik penyelaman. Pilihan pertama jatuh pada :

Sabang itself has a nickname from the abbreviation of its name: “SAntai BANGet”, in English it means : Very Relaxing.  There’s a village just for backpacker, and it’s favourit for all tourists who seek for a budget trip. Not all who came here are divers. The non-diver visitors can also enjoy the beauty of the beach in this place.

I didn’t came alone to Sabang. Pinneng, the professional underwater photographer also come along. He wanted to complete his circle, as he already took photographs from the very east, south and north of Indonesia. It’s the most west side turn. Because of the time limit, we needed to choose a limited dive spots to dive. The ones on the top of the list are :

Canyon.

Sesuai namanya, yang unik dari Canyon ini adalah retakan yang terjadi di bawah sana, membentuk dinding karang yang mengapit diver. Pastinya akan menarik untuk difoto. Pada kedalaman 30 meter-nya terdapat banyak sekali seafan besar, yang sayangnya tidak sempat kami kunjungi karena arus dan juga telah tertahan acara foto-foto di retakan.

The unique thing from Canyon is, there is  a crack of rocks, forming swim trough walls . For sure it’s looks good in photograph. In 30 m depth, we can find so many giant seafan, but too bad we can’t see them as we hold by the current and busy taking picture in the crack. Need to go back again someday.

aceh4
i just love to see the giant seafan

Pilihan kedua jatuh pada:

Seulako Cave

Terletak di kedalaman 18 meter, meskipun mungil, dan menurut saya lebih pas disebut sebagai ceruk, tapi uniknya terdapat banyak sekali ikan-ikan kecil yang sibuk hilir mudik di dalamnya. Nggak cuma ikan-ikan aja, terlihat juga blue moray eel yang bermoncong kuning terang, berusaha menggapai-gapai para ikan yang lalu lalang. Menggemaskan sekali.

The second choice goes to:

Seulako Cave

Located in 18 meters depth, the cave looks so small, and to me it looks more like a niche, but covered with small fish and they keep stay in there! Not just fishes, we find a blue moray eel with bright yellow snoot, trying to reach the fishes. So adorable.

aceh2 aceh3

Tips

  • Musim yang pas untuk diving di Aceh ini adalah saat musim penghujan oktober hingga Mei.
  • Kapal cepat banda Aceh – Sabang dari dermaga Ulee Leuhe setiap hari pk. 09.30 WIB
  • Kapal cepat Sabang-Banda Aceh setiap hari di dermaga Balohan pk. 07.30 WIB
  • Sunbathing dengan bikini sangat mungkin untuk dilakukan, tapi hanya di tengah laut 😀
  • Bersiap dengan arus yang tak terduga.
  • The best season to dive Sabang is in wet season ( October – May )
  • Fast boat every day from Banda Aceh-Sabang from Ulee Leuhe harbor at 9.30 am
  • Fast boat everyday from Sabang – Banda Aceh from Balohan harbor at 7.30 am
  • Sunbathing with bikini is allowed.. only in the middle of the sea 😀
  • be prepared for unpredictable current.

All photograph by Pinneng

Susah-susah dahulu, Lubuk Bigau kemudian

2014-11-11-06-47-50_deco

Rerimbunan pepohonan mengelilingi dan menaungi setiap langkah saat menuju puncak bukit dimana air terjun sungai Batang Kapas berada. Semilir angin tak terasa tertahan rapatnya vegetasi yang terdapat di hutan yang berada tak jauh dari desa Lubuk Bigau, desa terdekat tempat para pengunjung dapat mempersiapkan diri sebelum melakukan penyusuran.

Udara segar serasa memenuhi setiap tarikan nafas, memberikan suntikan energi meskipun bahu dan punggung memikul beban tas ransel yang berisi keperluan pribadi seperti baju hangat, air minum, peralatan makan sederhana dan beberapa makanan kemasan.

Tapi sebelum mencapai lokasi ini, terlebih dahulu kami harus melewatidaerah dengan jalanan tanah berbatu yang bernama Lipat Kain, berjarak kurang lebih 4 sampai 5 jam. Lipat Kain sendiri berjarak kurang lebih 2 jam dari Pekanbaru. Mobil bergardan ganda sangat disarankan untuk melintasi daerah ini, terutama dengan ban yang sesuai.

Warga desa Lubuk Bigau sangat terbuka. Mereka menerima kami di rumah pak wali atau kepala desa, dimana kami dapat beristirahat dan besiap sebelum penelurusan. Beberapa anak muda yang berpengalaman menemani kami sebagai penunjuk jalan merangkap porter.

Tidak hanya sekedar jalan setapak, kami juga harus melewati beberapa anak sungai. Kadang air hanya setinggi betis, tapi ada juga yang setinggi paha. Titian kayu yang diletakkan warga setempat sebagai tempat menyebrang sangat membantu.

Perjalan memakan waktu sekitar 4-5 jam, terutama bagi yang tidak terbiasa trekking akan membutuhkan waktu berjalan yang lebih lama. Sebelum mencapai air terjun utama, kami menjumpai air terjun kecil dimana kami dapat beristirahat di dekatnya sembari mengisi kembali perbekalan air minum. Inilah enaknya berkunjung ke lokasi yang masih sangat alami. Air yang ada dapat dikonsumsi tanpa harus diproses terlebih dahulu. Lokasi beristirahat pun dinaungi semacam ceruk batu yang melindungi kami dari panas matahari serta hujan.

Semakin mendekati air terjun Lubuk Bigau, jalan setapak semakin terjal, bahkan harus melewati tangga kayu vertikal yang sengaja diletakkan untuk mempermudah proses memanjat. Semua usaha selama perjalanan terbayar saat mata memandang keindahan dan kemegahan air terjun yang terpampang di depan muka. Batu-batu besar bertebaran di dasar air terjun, selalu basah oleh percikannya yang tak pernah berhenti.

Saking tingginya, cukup sulit untuk melihat ujung dari air terjun setinggi 150 m ini. Tidak hanya sampai di kaki air terjun saja, kami melanjutkan penyusuran mendekati kaki tebing yang menjadi latar belakang curahan air tersebut. Tebing-tebing yang tinggi lurus 90 derajat ini sedikit banyak memang mengingatkan tebing di Lembah Harau.

Aliran air sungai ini sendiri bersumber dari Sumatera Barat, dan nama sungai sebelum membentuk air terjun yang berada di provinsi Riau ini adalah Sungai Pantau. Setelah menuruni tebing ini namanya menjadi Sungai Batang Kapas.

Kaki tebing juga merupakan lokasi favorit para pengunjung untuk mendirikan tenda dan bermalam. Ada beberapa ceruk yang dapat dipakai untuk berlindung, sehingga tenda dapat didirikan dengan aman, terbebas dari hembusan angin. Memang butuh usaha yang tidak sedikit untuk mencapai tempat ini, tapi apa yang dijumpai juga merupakan bayaran yang sesuai. Sebuah keagungan dari alam yang sulit dicari tandingannya.

IMG_20141112_053826

Untuk info lebih jauh / pemandu : Wali desa Lubuk Bigau 082391000559

Aceh Addict

Selain surfing, Aceh memang dikenal sebagai surganya diving dari dulu. Tawaran ke Weh kali ini langsung saya sambar berhubung memang belum pernah kesana, lagipula.. kopi Aceh selalu memberikan rasa kangen, yang membuat saya selalu ingin kembali ke Aceh.

Rute Jakarta-Banda Aceh memakan waktu 3 jam, disambung dengan kapal cepat dari pelabuhan. Setelah sebelumnya menyempatkan diri berkunjung ke museum tsunami. Saya menemukan nama keluarga saya juga di sumur doa, yang walaupun saya tau merupakan nama yang umum di Aceh, tak ayal kembali mengingatkan saya pada almarhum ayah yang memang berasal dari Aceh.

Ternyata Weh, atau yang sering disebut juga dengan kota kabupatennya, Sabang, memang sesuai sekali dengan julukannya : Sabang, singkatan dari Santai Banget hehehehe.. Suasana disana benar benar mengendurkan urat saraf yang sehari hari digempur tekanan ibukota. Dan tetap warung kopilah tempat favorit untuk menghabiskan waktu, juga jika waktu sudah mepet sekalipun 😀

Sebelum penyelaman, saya berkesempatan mengitari pulau Rubiyah dengan perahu kayu yang bisa disewa. Bagi yang nggak bisa snorkling atau diving, rupanya ini merupakan pilihan yang tepat karena terdapat box kaca didasar perahnya, sehingga kita bebas melihat pemandangan bawah laut yang nggak terlalu dalam, hanya sekitar 5-6m. Yang menarik bagi saya justru terdapat banyak sekali fosil pohon yang terbawa waktu taunami tahun 2006 lalu, bercampur karang yang mulai pulih kembali.

Setelah ini baru giliran diving tiba, bersama salah satu dive center di pantai Gapang, Lumba Lumba Dive Center, saya pun segera memilih dive gear sesuai ukuran. Peraturan disini sangat ketat jadi pastikan Anda membawa diving license Anda.

Site dive yang dipilih adalah Batte Tokong, yang dalam bahasa Indonesia berarti Batu Kuat, disebut demikian karena posisinya yang nongol sendiri diluar gari pantai Pulau Rubiyah. Site ini mempunyai kontur berupa dinding sedalam 20 m yang kemudian melandai menjadi slope slope sampai kedalaman 60m. Setelah bersiap serta briefing singkat, tanpa banyak ba bi bu saya dan Danang beserta guide kami masing masing langsung terjun.

Benar benar titik penyelaman yang menarik, hampir tiap menolehkan kepala saya melihat Moray Eel di lubang lubang dindingnya, mengintip malu malu. Yang biru.. yang putih, semua ada. Sempet juga ngeliat antene lobster, yang waktu di intip ternyata dia berwarna biru!

Kalau lion fish jangan ditanya, geolan sexy nya terlihat dimana mana, cantik tapi jangan dipegang yaaa…belum lagi mata octopus yang terlihat kotak dengan gulungan badannya yang kenyal..

Saat menuju naik kembali kami berputar di area dangkal sambil sedikit bermain main dengan arus, ditemani si bibir sexy Sweets dan Parrot fish yang sibuk menggerogoti karang. Schooling  juga sering menutupi pandangan mata. Walaupun visibity cuma 6-7m tapi saya bisa menikmatinya 🙂

Kembali ke darat paling bener emang ngomongin soal makanan. Yang seru disini, warung nasi di pinggir jalannya super enak, memaksa saya untuk menahan diri nggak tambah tiga kali!! Hmmmm isi bumbu makanannya apa yaaa…

Sepertinya kalau musim angin barat di Aceh sudah lewat, saya wajib mengunjunginya lagi *wink!