Susah-susah dahulu, Lubuk Bigau kemudian

2014-11-11-06-47-50_deco

Rerimbunan pepohonan mengelilingi dan menaungi setiap langkah saat menuju puncak bukit dimana air terjun sungai Batang Kapas berada. Semilir angin tak terasa tertahan rapatnya vegetasi yang terdapat di hutan yang berada tak jauh dari desa Lubuk Bigau, desa terdekat tempat para pengunjung dapat mempersiapkan diri sebelum melakukan penyusuran.

Udara segar serasa memenuhi setiap tarikan nafas, memberikan suntikan energi meskipun bahu dan punggung memikul beban tas ransel yang berisi keperluan pribadi seperti baju hangat, air minum, peralatan makan sederhana dan beberapa makanan kemasan.

Tapi sebelum mencapai lokasi ini, terlebih dahulu kami harus melewatidaerah dengan jalanan tanah berbatu yang bernama Lipat Kain, berjarak kurang lebih 4 sampai 5 jam. Lipat Kain sendiri berjarak kurang lebih 2 jam dari Pekanbaru. Mobil bergardan ganda sangat disarankan untuk melintasi daerah ini, terutama dengan ban yang sesuai.

Warga desa Lubuk Bigau sangat terbuka. Mereka menerima kami di rumah pak wali atau kepala desa, dimana kami dapat beristirahat dan besiap sebelum penelurusan. Beberapa anak muda yang berpengalaman menemani kami sebagai penunjuk jalan merangkap porter.

Tidak hanya sekedar jalan setapak, kami juga harus melewati beberapa anak sungai. Kadang air hanya setinggi betis, tapi ada juga yang setinggi paha. Titian kayu yang diletakkan warga setempat sebagai tempat menyebrang sangat membantu.

Perjalan memakan waktu sekitar 4-5 jam, terutama bagi yang tidak terbiasa trekking akan membutuhkan waktu berjalan yang lebih lama. Sebelum mencapai air terjun utama, kami menjumpai air terjun kecil dimana kami dapat beristirahat di dekatnya sembari mengisi kembali perbekalan air minum. Inilah enaknya berkunjung ke lokasi yang masih sangat alami. Air yang ada dapat dikonsumsi tanpa harus diproses terlebih dahulu. Lokasi beristirahat pun dinaungi semacam ceruk batu yang melindungi kami dari panas matahari serta hujan.

Semakin mendekati air terjun Lubuk Bigau, jalan setapak semakin terjal, bahkan harus melewati tangga kayu vertikal yang sengaja diletakkan untuk mempermudah proses memanjat. Semua usaha selama perjalanan terbayar saat mata memandang keindahan dan kemegahan air terjun yang terpampang di depan muka. Batu-batu besar bertebaran di dasar air terjun, selalu basah oleh percikannya yang tak pernah berhenti.

Saking tingginya, cukup sulit untuk melihat ujung dari air terjun setinggi 150 m ini. Tidak hanya sampai di kaki air terjun saja, kami melanjutkan penyusuran mendekati kaki tebing yang menjadi latar belakang curahan air tersebut. Tebing-tebing yang tinggi lurus 90 derajat ini sedikit banyak memang mengingatkan tebing di Lembah Harau.

Aliran air sungai ini sendiri bersumber dari Sumatera Barat, dan nama sungai sebelum membentuk air terjun yang berada di provinsi Riau ini adalah Sungai Pantau. Setelah menuruni tebing ini namanya menjadi Sungai Batang Kapas.

Kaki tebing juga merupakan lokasi favorit para pengunjung untuk mendirikan tenda dan bermalam. Ada beberapa ceruk yang dapat dipakai untuk berlindung, sehingga tenda dapat didirikan dengan aman, terbebas dari hembusan angin. Memang butuh usaha yang tidak sedikit untuk mencapai tempat ini, tapi apa yang dijumpai juga merupakan bayaran yang sesuai. Sebuah keagungan dari alam yang sulit dicari tandingannya.

IMG_20141112_053826

Untuk info lebih jauh / pemandu : Wali desa Lubuk Bigau 082391000559

6 Replies to “Susah-susah dahulu, Lubuk Bigau kemudian”

      1. Waaawww.. alhamdulillah Maret kemarin sampai sana.. pake sepeda motor.. kena hujan, off road luar biasa… hahah..
        O iya, saya juga mohon ijin pakai gambar di atas buat posting di blog, viewnya bagus. hehe. terimakasih banyak.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *