Surfing Bali – Airport right

g_hanafiah-748813505583032055_1474776

 Surfing Bali. Mungkin gw emang terlalu sering main surfing di Kuta. Mungkin gw emang sempet sebel banget gara-gara harus berebutan ombak bersama dengan 100 orang lainnya di Serangan. Mungkin gw emang keenakan surfing di Jawa Barat, lokasi terdekat dari domisili gw di Jakarta, dimana ombaknya memang reef break or point break kebanyakan dan surfer yang surfing pun tidak sebanyak di Bali.

Ternyata gw menemukan sesuatu yang berbeda pada saat trip kali ini. Lucky us.

Berbekal kenekatan dan kesebelan gara-gara beach break di Padma full arus dan ombak close out, kami memutuskan untuk mencari reef break yang ombaknya hanya pecah di satu titik saja. Maksudnya supaya mudah, maklum surfer manja bin males 😀

Saya pernah mencoba airport left sebelumnya, lokasinya memang di sebelah runway tempat pesawat landing atau take off. Sesuai namanya pula airport left merupakan ombak kiri yang panjang, dengan karakter mirip-mirip tanjung lesung or Loji di Banten dan Jawa Barat. Yang nggak tau kudu ngubek-ngubek cerita-cerita lama di blog gw nih hehehe. Nah kali ini saya penasaran dengan sisi yang lainnya dari runway tersebut. Airport right.

Bersama dengan beberapa teman juga, Bonne si surfer Nias yang sudah bertahun-tahun menetap di Bali dan langganan menjadi juara di Indonesia, si Nilbie yang baru datang beberapa hari dari Phillipine, dan Santi yang sedang liburan dari Prancis.

Jalan masuk yang paling diketahui orang banyak itu dari pantai Jerman namanya. Dimana itu? Wah gw sendiri belum pernah sampai kesana, karena oleh Don, teman kami yang udah jadi jin penjaga ombak Bali, jalan masuk yang ditunjukkan itu melalui Kedonganan. Patokannya memang tidak jauh dari airport, sedikit melewatinya ke arah Nusa Dua. Jalan-jalan kecil yang sedikit membingungkan menghantar kami memasuki sebuah desa nelayan kecil dimana perahu-perahu kayu mereka terparkir berjajar.

“Bisa sewa perahu dari sini?”

“Ombaknya sebelah mana?”

“Nanti barang dititip dimana?”

Dan masih banyak lagi pertanyaan-pertanyaan yang kontan kami lontarkan. Selidik punya selidik, tidak semua memang menyewakan perahunya untuk mengantar turis surfing. Sebagian besar menggunakan perahunya untuk menangkap ikan. Untunglah masih ada seorang bapak yang dengan senang hati mengantar kami. Barang-barang segera saja kami titipkan ke warung yang dijaga seorang ibu dan anaknya.

the gals are so ready!
the gals are so ready!

Kondisi terbaik untuk surfing di lokasi ini adalah saat air pasang, karena karang yang lumayan dangkal saat surut. Karakter ombaknya tergantung pada point yang kami pilih. Toro-toro, point pertama yang bisa dicapai dari darat, merupakan point ombak kanan yang tidak terlalu ‘keras.’ Mencoba surfing disini rasanya sangat menyenangkan! Apalagi ketika itu tidak terlalu banyak surfer yang menjajalnya.

berasa sedang balapan dengan Garuda Indonesia :)
berasa sedang balapan dengan Garuda Indonesia 🙂

Rasa penasaran membawa kami mencoba ombak lainnya yang berjarak sedikit lebih jauh dari Toro-toro hingga kami melewati ujung runway. Ternyata.. ombak ini maknyos banget!!

Saat kami tiba beberapa turis Jepang telah lebih dulu bercokol dengan style mereka yang unik. Di antara mereka terlihat beberapa lokal. Ada yang bodyboarder yang berdandan penuh dengan bulu mata paslu layaknya mau kondangan, ada juga yang menguningkan seluruh rambutnya, mengingatkan gw akan Naruto.

“Itu herder mereka, Al” kata salah seorang temen sembari menunjuk ke arah lokal-lokla tersebut.

“Kok herder namanya?”

“Iya, mereka dibayar oleh turis-turis Jepang itu untuk pasang badan, jadi tamunya bisa ambil ombak sebanyak-banyaknya. Termasuk ngedorongin juga kalau paddle nya kurang kenceng.” Astaga, ternyata ada juga bisnis seperti ini.

Tanpa banyak basa-basi kami langsung terjun dan paddle ke point tersebut.  Tidak perlu menunggu lama, gw langsung mendapatkan ombak pertama yang rasanya.. astaga-enak-banget-sekali-luar biasa. Ombak ini bener-bener pas! Take off nya tidak sulit tapi begitu sudah  berdiri, wall yang berdiri menunggu dengan setianya bak seorang kekasih yang selalu ada untukmu #lebay.

Wall  dinding atau dinding ombak ini enak banget untuk manuver cut back or snap. Dan saat gw melakukan manuver-manuver tersebut dengan hebohnya, para surfer Jepang itu melihat dan mengikuti semua gerakan gw. Duh jadi berasa jago.

Ternyata bukan itu, tapi gw ngedrop salah seorang temannya… ups

Jadilah gw nggak jadi bangga tapi malu. Meminta maaf kepada korban drop tadi karena sekilas memang gw melihat ia marah dan mengacungkan jari tengahnya. Pastnya sebel ombak sebagus itu harus direlakan karena gw drop. Untung semyuman berhasil meluluhkan rasa sebalnya. Niih, tips lagi, kalau nggak sengaja ngedrop, cepatlah minta maaf sembari memberikan senyuman terlebarmu.

Sisa siang itu kamu habiskan dengan mengambil ombak berkali-kali, sampai si bapak perahu ngomel-ngomel karena kami lupa waktu hingga surfing selama 2,5 jam. Abis gimana dong, Pak.. di Jakarta nggak ada yang beginian hehehe…

Nilbie, surfer dari Phillipine
Nilbie, surfer dari Phillipine
dengan rashvest yang berkibar-kibar, gw merasa seperti superwoman :D
dengan rashvest yang berkibar-kibar, gw merasa seperti superwoman 😀
look at our happy face :)
look at our happy face 🙂

all pics by Pinneng

5 Replies to “Surfing Bali – Airport right”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *