Surf off season? Why not :)

“Sepi banget Oom Mus, ga ada tamu lain ya?” tanya saya sembari celingak celinguk saat kunjungan terakhir ke Rote dan seperti biasa, langsung ngedon di Anugerah .
“Iya soalnya lagi off season, jadi resort lain juga tutup. Tamu sedikit banget yang datang kalau bulan-bulan begini” Jelasnya sembari melayangkan pandangan ke laut yang terlihat tenang.

Off season memang merupakan istilah yang umum dipakai saat bulan-bulan sepi yang biasanya melanda surf camp tertentu termasuk Nembrala yang berada di Rote ini. Bulan sepi ini bisa disebabkan karena berubahnya arah angin. Sementara seperti yang diketahui para kalangan surfer, ombak yang bagus itu kalau anginnya off shore, atau bertiup dari darat ke laut, sehingga ombak yang terbentuk mendapatkan tahanan dari angin tersebut, dan tidak akan pecah atau menutup terlalu cepat. Hasilnya sih pastinya ombak mulus sexy yang menggoda para surfer.

Sebaliknya, jika angin bertiup dari laut meuju darat, ini dinamakan kondisi on shore, kondisi yang sangat disebelin karena ombak menjadi lebih cepat menutup, tidak memberikan jalan bagi surfer untuk melakukan manuver. Jadi susah kan kalau mau pamer-pamer cut back atau snap #gapenting

Beberapa lokasi bagus saat musim hujan dan sebaliknya ada yang bagus saat musim kemarau. Inilah kelebihan Indonesia yang ombaknya bisa dipakai sepanjang tahun, tinggal disesuaikan saja lokasinya and off you go for surf trip!!

“Tapi ombak bagus Oom Mus, tu nggak ada angin, size juga oke-oke aja kelihatannya, tidak flat mesikupun juga nggak besar.”
“Iya memang, saat ini lagi bagus, tapi kemarin-kemarin memang hujan badai, dan kapal dari Kupang sempat tidak jalan.”

Jika beruntung memang kondisi saat off season pun bisa sangat bagus. Sesiangan itu hujan memang turun tanpa henti, memaksa saya bengong sambil nyemil kopi dan mie instant tanpa henti ( cari pembenaran nyemil ), dan ketika hari beranjak sore dimana air laut semakin surut, anginpun turut berhenti, memberikan kesempatan pada ombak Nembrala menampilkan kecantikan bentuknya.

Hanya ada satu masalah. Tidak ada perahu. Kenapa tidak ada perahu saja jadi masalah? Emangnya surfing pakai perahu? Nah, jarak point dimana ombak terbentuk itu memang hanya 300 meter, tapiii…. kita harus melewati batu-batu diantara karang-karang yang terbentang luas, diselingi ladang rumput laut penduduk yang juga terbentang sepanjang itu.

Rumput laut memang merupakan salah satu mata pencaharian pokok disana. Melewati tali temali dan patok-patok rumput laut sembari menggotong surfboard, dan yang paling parah… tidak punya sepatu karang itu adalah siksaan bagaikan terpaksa naik busway di jam pulang kantor, keliing Jakarta 3 kali, harus berdiri serta AC nya mati. Meneror mental.

Di hari pertama memang cuma saya sendiri yang surfing. Rasanya sungguh aneh, apalagi saya tidak pernah menyarankan pada siapapun untuk surfing sendiri. Meski begitu saya sangat mengenali kondisi yang ada, apalagi ombak tidak terlalu besar, dan Pinneng berdiri di gugusan karang sebagai patokan saya. Meski pada akhirnya ialah yang panik melihat saya terbawa arus jauh saat mencari posisi yang pas.

Hari berikutnya Mike, si dive guide akhirnya ikut menemani. 




Beberpa lokasi di Indonesia yang mengalami off season juga banyak, seperti Nias, G land di Jawa Timur, beberapa resort di Mentawai juga mengalaminya. Surf spot yang akrab dengan saya seperti Cimaja dan Batukaras sih memang tidak mengenal off season, tapi mereka tetap mengenal waktu-waktu dimana ombak sedang bagus-bagusnya.

Sebenarnya untuk beberapa lokasi yang most wanted seperti Nembrala dan Nias, saya lebih suka saat-saat sepi dengan beberapa alasan :

• Tidak perlu berebutan dengan surfer-surfer lain yang mayoritas cowo-cowo bule berotot dan memiliki paddle sekencang kapal cepat antar pulau.
• Biasanya ombak tidak terlalu besar. Tapi kecil untuk ukuran Nias itu aja artinya sama seperti besarnya Cimaja. Begitu juga Nembrala. Jadi saya nggak terlalu keberatan, justru senang dengan size yang tidak menyeramkan. Bisa surfing sambil ha ha hi hi.
• Suasana yang lebih santai, bisa lebih berkumpul dengan para lokal, karena mereka juga tidak terlalu sibuk jadinya dengan sedikitnya tamu.

Jadi… siapa yang mau nemenin saya surfing di musim ujan kali ini? 😀

9 Replies to “Surf off season? Why not :)”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *