Sumbawa Horse Racing

Gemala 920_20141019_09_05_08_Pro__highres

Gemala 920_20141019_09_10_54_Pro__highres

Debu yang beterbangan serasa menyesaki tenggorokan dan rongga mulut, “kres..kres..” Bahkan gue bisa merasakannya diantara geligi! Sinar matahari yang terik menembus sela-sela dedaunan yang menaungi satu sisi lintasan Pacoa Jara, atau balap kuda ala Bima-Dompu.

Tampak beberapa bocah lelaki kecil yang hilir mudik diantara kuda-kuda ganteng bersurai panjang yang tertambat di dahan pepohonan yang memang banyak tersebar di lokasi parkir lintasan tersebut. Mereka keliatannya cuek aja ngegodain kuda-kuda yang besarnya berlipat kali ukuran tubuh mereka. Kadang di sambit dahan sambil lewat, kadang di tarik talinya, atau sekedar mengelus surai kuda.

Diantara mereka terlihat satu anak yang menonjol. Ia memakai baju kaos dan celana tangan panjang bermotif loreng, menggunakan topeng dan bertelanjang kaki. Tubuhnya termasuk kecil dibanding teman-temannya. Dengan bantuan seorang laki-laki yang gue duga adalah pemilik salah satu kuda pacu, anak berbaju loreng tersebut digendong hanya dengan satu tangan, dan diayunkan ke atas punggung kuda yang tidak memakai pelana. Tidak ada satupun kuda yang menggunakan pelana disini.

Muka-muka ceria para joki
Muka-muka ceria para joki
Si Loreng jagoan gue
Si Loreng jagoan gue

Tanpa ragu si loreng langsung melekatkan dirinya di punggung kuda itu. Kakinya kuat menjepit dan salah satu tangannya menjambak surai panjang kuda tersebut. Tangan yang satu lagi menggenggam sebilah cambuk.

“Ni anak umur berapa sih?” tanya gue ke salah seorang penonton.

“Ooh, umur enam tahun dia.” Edan, emaknya kaga jantungan apa ya?

Tanpa terdengar aba-aba yang jelas, tiba-tiba empat ekor kuda dengan penunggang mungilnya melesat melewati kerumunan penonton yang bersorak. Debu tebal langsung beterbangan di belakang mereka, menyelimuti penonton yang seakan tak peduli. Mereka berteriak-teriak mengomentari kuda-kuda tersebut. Gue cuma bengong, terpana melihat cara bocah-bocah itu bertahan di atas kuda mereka. Seakan mereka direkatkan begitu saja. Mantap tak bergeser.

Si loreng tampak tertinggal di nomer ketiga. Ada dua kuda lainnya yang berderap kencang menghalanginya. Entah bagaimana caranya, setelah tikungan pertama, secara perlahan-lahan si loreng mulai mendahului yang lainnya. Posisi badannya yang rendah, sejajar punggung kuda dan tangannya yang melambai-lambai memecuti pantat kuda, bergerak tanpa henti mengikuti irama derap.

“Woaaahhh si Loreng menaaang…” tanpa sadar gue bersorak. Padahal kenal juga nggak, tapi entah kenapa gue seneng banget liat dia yang pertama memasuki garis finish .

IMAG0445_BURST005_1_1_1

Ternyata bukan cuma sekali saja mereka berpacu. Setelah digendong turun, akan segera menghampiri kuda lain yang harus mereka tunggangi. Rupanya memang begitu cara latihan mereka. Satu joki bisa menunggangi beberapa kuda yang berbeda-beda. Tidak harus punyanya pribadi. Waktu latihan mereka yang hanya seminggu sekali rupanya digunakan secara maksimal. Berpacu nonstop! Tapi tidak tampak kelelahan di muka anak-anak tersebut.

Gue nggak bisa membayangkan bagaimana perasaan para emak-emaknya, yang memang tak terlihat disana saat itu. Hanya ada bapak-bapaknya saja. Pasti deg-degan setengah mati. Tidak jarang pula ada yang meninggal karena terjatuh.

“Hmmm.. anak kecil jadi aset sejak dini dong, apalagi anak kecil cowok.”

Benar-benar profesi unik yang berat dan berumur singkat. Bagaimana nggak singkat, begitu mencapai usia 11 tahun, mereka harus melepas profesi joki karena sudah terlalu besar dan berat. But Hei.. Dimana lagi kamu bisa liat olah raga sekaligus budaya unik seperti ini? 😀

pic by @g_hanafiah, @sukmadede

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *