Seger Emang Segar :D

Suasana Kuta nyaris tak berubah sejak kunjungan saya sebelumnya. Warung-warung makan non permanen yang meskipun sederhana tapi menyajikan pizza dan kawan-kawan di dalamnya, berjajar sebelum kami menyisiri jalan kecil di tepi pantai. Ah ada yang berubah, warung2 itu sekarang tidak lagi terletak di tepi pantai, sehingga pemandangan tak terhalang. Good!

“kalau di Kuta ini, sudah terkenal sebagai pusatnya surfing,mba… Naah di pantai sana itu” pak Made yang menjadi supir kami menjelaskan dengan semangat.
“Tanjung An ato Seger, pak?” tanya saya.
“Wah nggak tau namanya, pokoknya pusatnya disana. Ombaknya besar!” kok jadi seperti promo pusat jajanan yak..

Beberapa kendala promosi di daerah salah satunya ya seperti ini. Bagaimanapum juga praktisi lebih dalam untuk masalah informasi. Tapi pak Made ini memang jempolan soal pede, jawaban singkatnya ketika saya minta seorang surf guide adalah ” Wah nda usahlah surf guide segala, wong ada saya yang tau juga”. Dhueeeng…

Mul, nama surf guide yang bergabug bersama kami untuk proses syuting Trekker setelah dengan suksesnya saya mengindahkan pak Made, membawa kami ke Seger.

“Saat ini swell nggal terlalu besar, cuma Grupuk Outside dan Seger yang bisa dipakai.”
” Tapi bakal rame sama lokal.” Wadiuh.. Jurus kedip-kedip minta dikasih ombak kudu dikeluarkan dong niiih…

Seger sendiri adalah salah satu lokasi surfing di daerah Kuta, Lombok Tengah ini. Letaknya lumayan dekat, sebelum penyebrangan ke Grupuk. Dari pantai ini kita bisa melihat hotel Novotel nangkring manis dari kejauhan. Jalan masuk ke Seger ini menurut saya super eksotis, bisalah untuk jadi setting film Jurasic Park karena kesannya yang purba keren. Berbukit bukit karang tapi masih ditumbuhi rumput-rumput. Mungkin di musim panas akan menjadi sangat coklat.

Kita bisa naik ke salah satu bukitnya untuk mendapatkan sudut pandang yang berbeda saat menonton para surfer beraksi, belasan meter dibawah kita. Cuma dikit pe er pas naiknya aja. Dikiiiit. Harus mau ngos-ngosan buat naik, tapi begitu nyampe diatas pemandangannya bisa untuk ngebayar rasa capeknya, apalagi kalau keatas bawa singkong dan kopi,waaaah makin nikmat!

“Ada cewek loooh sekarang di Lombok, anak asli suku Sade.” Mul cerita dengan semangatnya.
” Berapa tahun umurnya?”
” Baru 14 tahun.” Waaah, bakal cepat bisa dan pasti bagus dia karena memulai sejak dini. Nggak kaya saya yang telat. Biar telat yang penting mencelat #halah. Seru banget nih kalau sampai ada generasi baru yang mulai surfing. Apalagi Lombok tidak pernah kekurangan ombak, pastinya dia akan bisa memilih sepuasnya jenis ombak di rumahnya ini. 

Sesuai perkiraan, saat kami akan paddle out, air memang telah pasang secukupnya, karena saya tidak membawa sepatu karang. Seger memang berdasar karang, dan karakternya ombaknya cukup cepat. Saat 4 feet keatas ombak ini akan cukup heavy dan serius. Beruntung saat saya disana ombaknya pas banget. Tidak terlalu besar.

Wooow, ternyata memang ramai sekali.  Kemampuan membaca ombak dan meninggalkan sifat mengalah harus ditingkatkan niiih. Sementara para lokal ini sudah hafal mati dengan lokasi take off, saya masih meraba-raba dan adaptasi dengan karakter ombaknya. Mana kamera sudah manteng pula. Mau nggak mau saya harus mendapatkan ombak sebanyak-banyaknya.

“Hai, kamu Lisa ya?”
” Iya kak, nama kakak siapa?” Ia balas menyapa dengan ramah.

Disela surfing, akhirnya saya bertemu dengan surfergirl lokal itu, Lisa. Gadis 14 tahun yang berani ini tampak higam legam, tapi tetap manis. Rupanya ia memang surfing setiap hari setelah usai sekolah. Nggak heran hitamnya mentok hahahaha.

” Siapa yang ajarin kamu surfing dulu? Kamu dikasih papan?”
” Teman-teman semua yang ajari saya. Papan ini dikasih salah satu teman saya yang sudah pulang ke Belanda. Tapi ukurannya besar sekali.” Wah rupanya kesupelannya membuat ia banyak teman. Karena banyak teman itu jugalah yang membuka kesempatannya untuk lebih mendalami surfing.

“Saya sudah coba ombak Mawi juga.” ujarnya saat ditanya point mana saja yang sudah dijajal. Kalau kata Mus sih, si Lisa ini berani, ombak besar juga dia sikat. Ombak kiri dan kanan tidak ada bedanya untuk dia. Wuih.. Mantap!

Lisa membantu ekonomi keluarganya dengan berjualan gelang layaknya anak-anak kecilnya lainnya di tempat surfing itu. Jika beruntung gelang mereka akan dibeli dengan harga 10.000-15.000 satunya. Dan biasanya memang tak susah untuk mereka meluruhkan hati para turis surfing yang ada disana dengan wajah dan mata yang polos.

Lombok memang seperti Bali 20 tahun yang lalu. Satu saat nanti scene surfing di Lombok akan lebih maju, sejalan dengan semakin tingginya kesadaran masyarakat Lombok untuk ikut menjaga kenyamanan dan keamanan para turis juga.. Satu hari..





One Reply to “Seger Emang Segar :D”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *