Sauna di Pembuatan Gong



Suasana dramatis langsung terasa. Ruangan di belakang rumah si empunya ini tampak remang-remang meskipun pada siang hari. Peralatan logam tergantung di langit-langit atau tergeletak pasrah begitusaja. Tampak para pekerja yang bergerak tiada henti, hanya sekilas menoleh pada kedatangan kami dan berhenti sejenak untuk memperhatikan. Suara logam dipukul terdengar di mana-mana. Desa wirun di Solo ini memang terkenal sebagai sentra kerajinan pembuat gong, yang telah menjadi warisan budaya selama berabad-abad.
Campuran timah dan tembaga merupakan bahan dasarnya, dilebur dengan cara dipanaskan menggunakan arang selama 1 jam. Mencoba berada di dekatnya selama 10 menit saja sudah hampir tak tertahankan panasnya, apalagi menjaga posisi timah dan tembaganya selama sejam. Larutan selanjutnya dicetak menjadi lempengan yang sangat berat. Lempengan itulah yang harus ditempa sehingga berbentuk gong. 

Disini terjawab, kenapa ruangan dibuat remang-remang sedemikian rupa. Rupanya mereka hanya bisa membentuk gong pada saat masih panas dan cetakan masih berwarna kemerahan. Ruangan yang gelap membantu mereka untuk melihat semburat kemerahan pada logam yang menjadi indikasi waktu untuk terus menempa atau memanaskan kembali cetakan. 

Itupun harus waspada dengan kemungkinan robek karena tekanan pukulan yang terlalu kuat. Gong yang telah benrbentuk pun masih harus melalui proses penyempurnaan. Masih harus diratakan dengan sangat berhati-hati dan setelah itu di stem nadanya layaknya gitar atau piano. Disinilah kepekaan rasa dari orang yang menyelaraskan nada sangat diperlukan. Gong berkali2 dicungkil untuk memdapatkan ketipisan yang sesuai, sehingga nada yang dihasilkan pun sesuai.


Proses panjang yang hanya dapat dipelajari dari pengalaman bertahun-tahun ini menunjukkan betapa kayanya budaya Indonesia, dan betapa berharganya untuk terus dipertahankan.

One Reply to “Sauna di Pembuatan Gong”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *