Sasando, alat musik all in one

sasando
Pak Jeremiah menjelaskan arti lagu yang dia dendangkan sembari merakit Sasando.

Mereka bilang Sasando itu asalnya dari Rote.

Mereka bilang Sasando itu buah mimpi seorang masyarakat lokal Rote yang tidur karena kelelahan di bawah pohon. Begitu saja bagai mendapatkan wahyu.

“Wahai anak manusia, ini desain untuk membuat alat musik petik, ini bahannya, ini manual booknya.” mungkin begitu suara yang muncul di mimpi dia ya.

They said Sasando is from Rote.

They said, Sasando was given from someone’s dream. Just like that. It’s just like there’s a voice inside his dream that tells about how to make music instrument from bamboo with strings.

Singkat cerita, gue pengen mengunjungi lokasi pembuatannya, mumpung lagi surftrip ke Rote. Percaya atau nggak.. saya SUSAH MENEMUKANNYA. Dari informasi yang diterima dari warga lokal sih mereka bilang di Kupang ada ahlinya. Loh kok malah Kupang ya..

I want to see the maker during my transit for a surf trip in Rote. But believe it or not, it’s so hard to find. The local said, I can find him in Kupang, the city in main island of Timor. Hmm..

Berbekal informasi warga pula, sampailah gue di desa Oebelo. Nama daerah dengan awalan ‘Oe’ di Timor ini sama lumrahnya dengan awalan ‘Ci’ di Jawa Barat, yang artinya juga ternyata sama : air. Lokasinya nggak jauh dari Kupang. Kira-kira 40 menit dari Kupang ke arah So’E. Lokasinya pun mudah ditemukan karena berada di tepi jalan.

Oebelo village is where the Sasando maker lives, just 40 minutes from Kupang. Very easy, only one way to So’E and they put big plang just beside the main road. Oe means water in timor language. And many areas name begins¬†with ‘Oe’.

Tanpa disangka tanpa dinyana, sambutan yang ada ternyata lebih dari yang diharapkan. Pak Jeremiah Pah, sang maestro, keluar menyambut, lengkap menggunakan baju daerah dan topi Ti’ilangga. Ini yang namanya profesional.

Jeremiah Pah, the old man that makes the Sasando is very professional. He greet me with his tradisional costume, also wearing Ti’ilangga, the traditional hat.

“Saya sudah mempelajari Sasando ini turun temurun dari orang tua, naah ini anak ke sepuluh, sudah jago juga main Sasandonya.” Sejenak benak saya sibuk mencerna kata-kata anak ke-10. Maaak banyak bener anaknya!! Tapi memang si anak mahir banget memainkan jari-jarinya di atas batang bambu yang menjadi tambatan senar-senar yang terlihat ribet itu.

“I learned it from my parents, it passed through generations in our family. My tenth son also plays well.” I tried to focus on the ‘tenth’ word. Wow.. so many kids he has! The kids play very good. He seems to had no trouble to pick the strings that looks so complicated.

Bahan-bahan pembuatnya pun sederhana. Haik atau tutupan di depannya yang melengkung seksi itu terbuat dari daun lontar tua yang telah dijemur kering. Berfungsi sebagai media resonansi untuk memperkuat suara. Sebilah bambu ditanam di tengahnya, beserta para senar-senarnya yang bisa berjumlah hingga 52 itu. Kok banyak? Ternyata bukan hanya sekedar melody, tapi juga bagian bas juga masuk. Makanya disebut all in one.

The material also very simple. “Haik” or the cover, made from old Lontar leaves that already dried in the sun, and has function to resonance the sound. A piece of bamboo was put in the middle as tether for the strings. Not just melody that played, but also the chords. All in one.

Lagu yang sempat pak Jeremiah mainkan namanya Ai La Do. Bercerita tentang seorang lelaki yang meyebrangi lautan untuk bertemu dengan kekasihnya. Gue langsung membayangkan sang lelaki itu yang melepas lelah di tengah laut sembari memetik Sasandonya, melepas kangen pada kekasihnya. LDR pastinya yaa diaa….

Jerimah Pah plays Ai La Do song, the song from Rote folklore. The story is about a man who crossing the ocean to see his lover. Well it must be a very long distance relationship than….

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *