Sangihe part 2 – Keunikan kultur

Melipir-melipir di darat saat malam hari untuk menemukan hal-hal yang unik di Sangir ini sempet juga saya lakukan. Malam itu saya diajak berkunjung ke salah satu aula disamping gereja. Wuiihh isinya cowo-cowo semuaa… mulai dari Oom-Oom sampai anak sekolah. Rupanya mereka sedang berlatih salah satu alat tiup khas Sangir. Bentuknya sih mirip dengan alat musik tiup yang kita kenal, yang membedakan adalah bahannya yang terbuat dari bambu.

Sejak tahun 1961 mereka sudah membentuk group pertama yang memainkan alat musik unik ini. Bahkan hingga kinipun para pendirinya masih eksis melatih. Mereka membuat alat musik tiup lengkap dari trombone, flut sampai suling.  Dan memang semua dari bambu batik. Alasan pemilihan jenis bambu ini pun karena lebih padat dan mudah dibentuk.

Begitu sang dirigen membuka not yang harus dimainkan, bengong tingkat lanjutlah saya. Rumit sekali kelihatannya. Rupanya memang dibuat untuk sekitar 18 alat music tiup yang berbeda. Alasan membuat demikian banyak karena range nada yang tidak terlalu jauh. Dan begitu mereka memainkan satu lagu dari Queen, wow… these guys raawk!! 


Mereka memang sudah sampai mentas di Jakarta segala. Rupanya karena bisa mentas kemana-mana, ramailah peminatnya, dari anak muda hingga ke bapak-bapak. Menurut ketua grup, profesi para pemainnya sangat beragam. Ada yang guru, nelayan, buruh, murid sekolah. Mereka berlatih seminggu tiga kali.

Alat music bamboo ini harus di-stem setiap beberapa bulan sekali karena masih menyusut. Bambu mengandung air, nah secara bertahap kadar air di dalam alat musik akan berkurang. Baru pada tahun ke 3, alat musik bambu sudah dapat dikatakan stabil. Daan.. malam itu kami mendengarkan hampir seluruh lagu Queen dimainkan dengan megah, menggunakan alat music yang telah mereka pelihara selama turun-temurun..

Masih membahas soal kultur, kali ini saya berkesempatan menyaksikan upacara tahunan Tulude. Saking hebohnya bahkan kepulangan terpaksa diundur demi menyaksikan upacara ini.

Masyarakat Sangihe atau Sangir sendiri masih sangat kuat adat istiadatnya. Meskipun sebagian besar dari mereka telah memeluk agama Kristen, mereka masih mempercayai yang disebut dengan ‘kekuatan jahat’. Sekilas cerita-cerita dari warga setempat, dulunya upacara Tulude ini dipenuhi dengan hal-hal mistis, namun dengan masuknya agama ditengah mereka, lambat laun hal mistis tersebut menghilang, berganti dengan upacara pengucapan rasa syukur serta suguhan tari-tarian rakyat.

Namun makna sebenarnya dari upaara Tulude ini tidak semudah itu diketahui. Percaya atau tidak, beberapa orang lokal yang saya temui tidak mengetahui arti sebenarnya dari upacara Tulude ini. Saking tua-nya perayaan ini, semua orang menganggap ini adalah sesuatu yang memang sudah harus dilakukan secara turun-temurun.

Selain mengungkapkan rasa syukur, ternyata ada makna lain dibalik upacara ini. Tulude atau Menulude yang berasal dari bahasa Sangihe, berarti menolak, tolak, atau mendorong. Secara luas arti ‘Tulude’ adalah menolak untuk terus berpatokan pada tahun yang lampau dan siap menyongsong tahun baru.

Ternyata upacara ini dihelat melewati beberapa tahapan. Dua minggu sebelum digelar, seorang tetua adat menyelam ke dalam lorong bawah laut yang berada di Gunung Banua Wuhu. Tetua adat ini membawa sepiring nasi putih dan emas yang dipersembahkan kepada Banua Wuhu yang bersemayam di lorong tersebut. Usai menggelar ritual penyelaman tersebut, dimulailah rangkaian perhelatan upcara Tulude yang diawali dengan pembuatan kue adat Tamo di rumah salah seorang tetua adat, sehari sebelum pelaksanaan.

Upacara Tulude dilaksanakan pada malam hari, dengan persiapan yang dimulai sejak sore hari. Lokasi diadakannya pun berpindah-pindah. Ramainya masyarakat yang hendak menyaksikan datang dari berbagai pejuru kampung. Rumah-rumah pun dihias sepanjang jalan sejak beberapa hari sebelumnya. Lipatan-lipatan daun kelapa kering terlihat bergantungan di kiri dan kanan jalan. Konon suasana semarak yang tercipta bahkan mengalahkan kemeriahan Natal dan Tahun Baru sekalipun.


Setiap kampung mengirim both perwakilannya yang berisi masakan khas tiap kampung, serunya makanan ini bebas dicicipi tanpa bayar sepeserpun. Mulai dari kue-kue tradisional hingga masakan laut. Tak ketinggalan sagu sebagai teman makan yang beda. 

Puncak dari upacara Tulude adalah saat keluarnya kue dodol berhiaskan cabe, udang, dan aneka hiasan lainnya berbentuk kerucut yang mengingatkan saya akan kue tumpeng saat selametan. Kue inilah yang dinamakan Tamo. Saat itu saya tidak bisa membayangkan bagaimana rasanya memakan dodol yang dikenal manis dengan udang dan cabe. Tapi rupanya hiasan-hiasan tersebut memang tidak dikonsumsi.

Diiringi dengan tarian dari tetua adat, serta ucapan-ucapan syukur perlahan-lahan Tamo dihantarkan ke hadapan para petinggi Sangihe. Semetara itu, potongan-potongan dodol juga dibagikan untuk para tamu, melambangkan kebersamaan, pastinya tanpa potongan udang dan cabe.

Dan layaknya segala keramaian yang ada dimana-mana, pasti tidak akan jauh dari makanan. Segala masakan khas disajikan sebelum akhirnya kami menikmati suguhan tari-tarian yang dibawakan oleh masyarakat Sangihe malam itu. 






All pic. by Pinneng





3 Replies to “Sangihe part 2 – Keunikan kultur”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *